
Viona dan Tiara nurut saja apa yang dilakukan Ahmad, bukan berarti nurutnya sampai hati melainkan terpaksa karena sudah tidak ada tenaga untuk protes.
"Mau makan apa?" Tanya Ahmad sembari melihat daftar menu restoran tersebut.
Viona dan Tiara bertopang dagu dihadapan Ahmad, dengan nada pelan keduanya jawab,
"Terserah."
"Ok, steak saja kalau begitu, minumannya?" Tanya Ahmad lagi.
"Aku teh pekat saja, sepekat hatiku saat ini" Jawab asal Viona.
Seketika Ahmad melihat Viona dan menempelkan tangannya di dahi Viona.
"Gak demam kok."
"Apa sih" Viona menjauhkan tangan Ahmad di dahinya.
"Aneh saja, aku baru dengar kata-kata itu, belajar dari mana?" Ahmad penasaran.
"Tiba-tiba muncul saja, mungkin efek lapar" Jawab Viona, "Udah pesan atau belum Mad?, Sepertinya disini dekat dengan rumah sakit juga" Sambungnya sambil melihat dari arah luar lewat jendela, karena kebetulan meja mereka dekat jendela.
"Kak aku gak mau steak" Tiara ikut menimpali setelah diam beberapa menit.
"Ganti apa dek?" Ahmad bertanya dengan serius kepada adiknya.
"Diganti dengan balik rumah saja kak, capek menunggu terlalu lama" Tiara mulai mengeluh kepada Ahmad.
"Ok"
Ahmad langsung memanggil waiter dan pesan makanan. Saking buru-burunya, pesan makanan tanpa minta persetujuan dari Viona dan Tiara.
Berbeda jauh dengan Ray, ia saat ini disibukkan dengan rencana orang tuanya yang serba mendadak. Sesampainya dirumah ia langsung membersihkan badan dan ingin istirahat sejenak, ia rindu dengan suasana kamarnya.
Ray awalnya lega masuk dalam rumah tidak melihat sosok gadis yang sudah dilamarkan untuknya. Namun, semua itu sirna seketika setelah Gladis dengan lancang masuk dalam kamarnya tanpa ketuk pintu terlebih dahulu.
"Ra" Panggilnya.
"Kamu" Tunjuk Ray dengan ekspresi kaget, "Ngapain disini?" Lanjut Ray dan bangkit dari duduknya jalan menuju pintu kamar.
"Silahkan keluar!" Dengan nada tegas.
"Ra, aku disuruh juga" Gladis membela diri, meskipun itu inisiatifnya sendiri karena ia tau Ray tidak mungkin mempertanyakan siapa yang menyuruhnya.
"Ok, sekarang keluar!" Nada tegas Ray dan akhirnya Gladis keluar dari kamar itu sembari menghentak-hentakkan kakinya.
Sampai diambang pintu Gladis membalikkan badan.
"Apalagi?" Tanya Ray sudah tidak tahan dengan tingkah laku Gladis.
"Cepat siap-siap" Tutur Gladis lalu pergi.
Beberapa menit kemudian, Ray sudah siap dengan pakaian baju kaos biasa.
"Ya ampun Lex, kok pakaiannya seperti itu sih" protes Maminya.
"Bagus kok Tan" Bela Gladis.
Ray mendengar itu hanya memutar bola matanya malas.
"Kita kemana ni?" Tanyanya, ia ingin sekali secepatnya pergi agar cepat pulang.
"Ayo, kalau gitu" Timpal Papinya.
Mereka keluar menggunakan mobil, seperti yang direncanakan Mami Ray. Gladis dengan Ray dan dia dengan sang suami. Dalam perjalanan, Ray tidak mengeluarkan satu pata kata dalam mobil.
"Ra, setelah putus. Kamu pacaran lagi?" Tanya Gladis.
"Kenapa tanyakan hal itu?" Tanya balik Ray yang masih fokus mengendarai mobil.
"Penasaran saja"
"Oh" Jawaban singkat dari Ray membuat Gladis kesal dibuatnya.
"Ra, cuek banget sama aku, kayak kulkas 10 pintu" ujarnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Ray diam tidak merespon apapun selain fokus nyetir.
🌺
Masih menikmati makanan, tiba-tiba pasutri itu lewat disamping meja Viona dan duduk tidak jauh dari mereka.
Viona yang awalnya tidak memperhatikan ibu itu, tapi tiba-tiba melihat sekilas senyum ibu tersebut mengingatkan pada Gladis mantan Ray.
"Mad, lihat ibu itu gak?" Tanya Viona sembari sedikit menunjuk kearah ibu tersebut menggunakan pisau potongan steak.
"Lihat, emang kenapa?" Tanya balik Ahmad. Seketika Ahmad berhenti sejenak makan.
"Mirip dengan Gladis, pernah lihat Gladis?"
__ADS_1
"Mungkin, gak tau Vio, lupa."
"Pernah atau tidak?" Tanya Viona dengan sedikit tegas.
"Tidak" Jawab Tiara cepat lalu ia senyum.
"Kita teman, seharusnya saling membantu" Viona mengingatkan Tiara adik Ahmad itu.
"Kak Ahmad, kakak aku kak" Jawaban Tiara itu membuat Viona sadar kalau kakak ataupun adik pasti akan membela saudaranya.
"Lanjut makan aja ya, susah debat dengan anak kecil" Tutur Viona sambil memotong daging diatas piringnya.
Berbeda dengan Ahmad dan Tiara, keduanya malah tos karena berhasil membuat Viona kesal.
"Kakak kesal ya?" Tanya Tiara memastikan.
"Gak, gak marah nanti setan senang" Jawab Viona.
Tiara langsung menoleh perlahan kearah kakaknya dengan mulut sedikit terbuka, ia tidak menyangka ada jawaban seperti itu.
"Kakak setannya" Ujar Tiara dengan muka tanpa ekspresi.
Ahmad langsung tertawa melihat ekspresi adiknya, sedangkan Viona kembali menatap orang-orang yang duduk tidak jauh dari mejanya.
"Ray, ada Gladis dan orang tuanya juga" batin Viona.
Viona kembali fokus di piringnya, ia makan tanpa henti.
"Belum selesai, berarti aku cepat" Ujar Viona setelah melihat piring Ahmad dan Tiara masih ada makanannya.
"Kakak, makannya kayak ikut lomba" Seru Tiara, "kakak buru-buru?" Sambungnya dengan pertanyaan.
"Enggak, hanya pengen makan cepat saja habis itu kita pulang" Jawabnya dan melihat jam tangannya, "kebetulan udah sore" Sambungnya dengan napas kadang ia keluarkan dengan kasar.
Ahmad menaruh kembali pisau dan sendoknya di piring dan menyuruh adiknya untuk pesan makanan untuk dibawa pulang. Sebenarnya bisa memanggil waiter untuk pesan, tapi karena Ahmad ingin Tiara tidak mendengar pembicaraannya dengan Viona, jadi terpaksa Tiara disuruh pergi pesan.
"Cepat" Ucap Ahmad.
"Kak, kakak punya restoran. Kenapa harus pesan disini?" Tanya Tiara dengan malas.
"Kakak pengen makan lagi tiba dirumah" Kilah Ahmad.
"Ok" Jawab Tiara dengan langkah malas menuju tempat pemesanan makanan.
Kepergian Tiara, Ahmad manfaatkan untuk bertanya tentang perubahan mendadak Viona.
"Kamu ok?, Jujur saja" Ujar Ahmad.
Ahmad mengikuti arah telunjuk Viona dan mentok di keluarga Gladis dan Ray dan disana ada keduanya juga.
"Kan mereka memang udah umumkan mau tunangan waktu acara keluarga Ray" Jelas Ahmad.
"Tapi Ray bilang tidak mau dijodohkan dengan Gladis dan dia minta aku untuk sabar menunggunya" Jelas Viona.
"Kok dia malah mempermainkan kata-katanya sendiri" Lanjutnya.
Ahmad sebenarnya paling malas membahas Ray, tapi demi Viona ia sampingkan egonya.
"Sampai kapan Vio?" Tanya Ahmad lagi.
"Gak tau, itu tergantung Ray" Jawaban santai Viona namun hatinya sakit melihat kebersamaan keluarga yang berada disamping bagian depan mereka saat ini.
"Mad, apa yang harus aku lakukan?" Tanyanya lagi.
"Haa, ini kamu?, Jangan gegabah urusan cinta Viona."
Ahmad tidak menyangka jika Viona mencintai Ray begitu besar. Ia diam sembari berpikir sejenak, ia menimbang bahasa yang cocok untuk Viona saat ini.
"Apa Ray siap jadi muslim?" Tanya Ahmad.
"Gak tau Mad" Jawab Viona lagi sembari menyeka air matanya yang hampir jatuh.
Ahmad langsung mengepalkan tangannya melihat Viona yang menangis meskipun Viona sebaik mungkin.
"Tunggu disini sebentar" Ujar Ahmad lalu bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan Viona.
"Kau keterlaluan Ray, sudah membuat Viona menunggu dalam ketidak pastian" Batinnya.
"Ehhh" Viona melihat Ahmad sudah dekat dengan meja keluarga inti itu.
Disana Ray terkejut melihat Ahmad yang sudah berdiri didepannya. Viona sengaja fokus dengan ponselnya, tapi telinganya ia sengaja pasang baik-baik agar tidak ketinggalan pembasahan Ray dan Ahmad.
"Ahmad makan juga disini?" Tanya Ray dengan mencoba ramah.
"Iya, makan dengan sahabat aku juga. Boleh kita bicara sebentar?" Ujar Ahmad kepada Ray dengan tangan yang masih ia kepal.
Ray seketika mencari-cari meja Ahmad dan ia melihat gadis mungil yang sedang main ponsel ditemani seorang gadis cilik dengan umur sekitar belasan tahun.
"Viona, apa dia melihatku?" Ray bertanya-tanya dalam hatinya.
__ADS_1
Ia langsung bangkit dari kursinya dan mempersilahkan Ahmad untuk duluan jalan, dia tinggal ikut.
"Dimana?" Tanya Ray.
"Disana" Tunjuk Ahmad. Tangan Ahmad sudah gatal ingin sekali melayangkan pukulan kepada Ray saat ini juga, kalau ia tidak pikir ada orang tuanya disana.
Gladis melihat Ahmad dan Ray pergi, perasaannya tidak enak, ia pun pamit ke toilet. Sementara Viona, melihat Ray dan Ahmad, ia langsung ikuti diam-diam.
"Bug" Satu pukulan mendarat di perut Ray.
"Ahmad, apa sih kamu main pukul-pukul?" Ujar Ray sambil memegang perutnya, ia tidak ingin membalas karena ia lihat Ahmad sangat tersulut emosi.
"Dengar baik-baik, jangan pernah sakiti sahabat saya. Ingat itu!" bentak Ahmad sembari menunjuk Ray.
"Saya tidak mengerti maksud kamu apa?" Tanya Ray lagi.
"Jangan pura-pura bego Ray, kamu minta Viona menunggu tapi disatu sisi kamu diam-diam ketemu dengan keluarga mantanmu itu. Pasti kalian bicarakan acara tunangan kan?.. iya kan?"
"Dasar laki-laki bajingan kau Ray" lanjut Ahmad dan satu pukulan mendarat dibagian rahang Ray.
Ray jatuh akibat pukulan itu.
"Bangun, jangan jadi laki-laki pengumbar janji" tutur Ahmad lagi.
"Ok, aku akan jelaskan dan ingat satu hal saya tidak seburuk seperti apa yang kamu ucapkan. Aku disini hanya diajak makan tidak lebih" Jelas Ray setelah ia berdiri tegap dihadapan Ahmad.
"Oh ya, makan sambil bertemu keluarga kan?, Apa kamu gak kasihan sama Viona?" Tanya Ahmad lagi dan tanpa mereka sadari orang direstoran itu menyaksikan pertengkaran itu.
"Itu pasti gara-gara perempuan" Ujar pengunjung.
"Iya, anak muda sekarang biasa kalau baku pukul soal perempuan" timpal ibu-ibu disampingnya lagi.
Viona yang berdiri tidak jauh dari tempat kerumunan itu hanya diam dan campur malu.
"Kak, kita tunggu kakak di mobil saja" Bisik Tiara sambil menarik-narik gamis Viona.
Sementara Gladis melangkah lebih mendekat kearah Viona. Sembari jalan menunjuk Viona.
"Semua ini gara-gara kamu, dasar wanita penggoda pacar orang" Ujar Gladis dengan suara sedikit keras.
Ibu-ibu yang memerhatikan Ray dan Ahmad jadi berbalik badan kearah Viona.
"Oh ini perempuannya?, Cantik sih tapi sayang kelakuannya tidak mencerminkan kepribadian yang baik" ibu-ibu itu seketika mengata-ngatai Viona.
"Pantas mereka bertengkar, ternyata orangnya cantik hanya aja kelakuannya nauzubillah"
"Buka aja tuh kerudungnya, percuma"
Hujatan demi hujatan Viona dengar membuatnya ingin kabur dari tempat itu saat itu juga. Tiara yang berada disitu merasa kasihan melihat Viona yang sudah berkaca-kaca.
Sementara Gladis, ia malah tersebut jahat. Begitu bahagia melihat Viona malu didepan banyak orang.
"Ada apa ini?, Kok rame-rame begini. Mana Alex?" Tanya Mami Ray.
"Sana Tan, Ra dipukul sama laki-laki itu" tunjuk Gladis.
"Ada apa sebenarnya dis" tanya Mama Gladis.
"Gara-gara dia ini ma, Ra sekarang bonyok" Adu Gladis lagi, ia memasang wajah khawatir.
"Kok bisa" Mama Gladis seakan tidak percaya dengan ucapan anaknya, "mana mungkin, dia seperti gadis baik-baik" sambungnya.
Gladis kesal mendengar ucapan mamanya itu, "ma, orang sekarang beda dengan zamannya mama, jadi jangan disamakan. Sekarang itu orang banyak yang bermuka dua" Jawab Gladis.
Gladis sengaja bersuara lantang untuk menyindir Viona. Alhasil, semua ibu-ibu disekitaran mereka membela Gladis.
"Benar bu, perempuan sekarang kadang bersembunyi dibalik kerudung mereka" timpal ibu-ibu lagi.
"Iya, makanya kita perlu hati-hati" timpal salah satu lagi.
Sementara Viona, memilih untuk pergi dari kerumunan orang-orang tersebut menuju parkiran restoran. Dengan langkah cepat sedikit lari diikuti oleh Tiara. Setelah masuk dalam mobil tangisannya pecah seketika. Ia sebenarnya tidak sanggup mendengar kalimat ibu-ibu tadi, tapi untuk membela diri serasa percuma karena semua orang sudah kemakan omongan Gladis.
"Ada tisu gak dek?" Tanya Viona kepada Tiara.
"Ada kak, ini" jawabnya sembari memberikan tisu kepada Viona. Tiara begitu gesit kali ini.
"Dek, jangan bilang sama Ahmad ya tentang ini."
"Kenapa?" Tiara penasaran, sedangkan menurutnya kakaknya wajib tau hal ini.
"Hmm, gak apa-apa."
"Kakak Ahmad harus tau, supaya kakak Ahmad bisa kasih pelajaran tu si tante-tante" Ujar Tiara lagi, disana terlihat kesal saat menyebut kata tante-tante.
Viona tersenyum lucu mendengar kalimat Tiara.
"Itu gak penting, sudah berlalu" Ujar Viona, "janji" sambungnya sambil menaikkan jari kelingking.
Tiara melihat Viona silih berganti dengan jarinya sendiri, ia ragu untuk berjanji.
__ADS_1
"Ayolah, sebelum kakakmu datang" Bujuk Viona.
"Ok deh" Tiara menautkan jari kelingkingnya di jari Viona, akhirnya ia nurut juga kepada Viona.