
Jarum jam begitu cepat berputar, tau-taunya sudah sore. Viona sibuk mencari baju yang ia kenakan untuk bertemu dengan orang tua Ray.
Kemeja putih itu pilihan Viona sore ini dengan pakai celana jeans dan sling bag. Viona keluar dengan santai sambil memegang kunci mobil mengarah ke garasi Mobil.
Bunda Heti melihat anaknya yang menurutnya gayanya sangat tidak karuan.
"Vio, mau ke mana dengan gaya seperti itu?" Tanyanya.
"Ketemu teman bun" jawab Viona sambil membuka kunci mobilnya menggunakan remote mobil.
"Ganti baju, gak nyambung itu. Sling bag lebih cocok pakai dress" protes Bunda Heti.
"Bun, ini udah mepet waktunya. Gak bisa" Tolak Viona lagi.
"Anak gadis kok begini, ganti dress Viona gak bagus"
Viona mengalah, "iya, aku keluar dari mobil nih. Mau ganti sesuai maunya bunda"
Viona kembali masuk kamar dan saat itu Ainun keluar dari kamarnya.
"Bibi buru-buru?" Tanya Ainun.
"Iya sayang, bibi mau keluar tapi nenek Ainun suruh bibi ganti baju" Ucap Viona sambil jalan melewati Ainun.
Ainun pun pergi mencari neneknya sambil bergumam, "bibi seperti penjual sayur di pasar".
Untung ucapan Ainun itu tidak ada yang dengar jadi Viona aman dari bahan ejekan.
10 menit kemudian Viona keluar kamar dan menuju garasi lagi.
Viona langsung pamit kepada bundanya untuk menghindari penilaian dari dress yang ia kenakan tapi bukan bunda Heti kalau tidak memerhatikan anaknya.
"Bagus, dress hitam cocok dengan kulit kamu rambut diikat dan sling bag senada dengan sepatu, nice" Puji bunda Heti sambil melihat anaknya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Cantik, gak kayak penjual sayur" Puji Ainun meskipun kalimat terakhir membuat Bunda Heti tersenyum lucu.
"Cantik-cantik gini dibilang penjual sayur, Viona pergi yaa, assalamualaikum" Ucapnya lalu pergi setelah ibunya dan ponakan menjawab salamnya.
🌺
Viona masuk restoran dan sekali-kali melihat ponselnya berharap Ray memberitahu nomor meja mereka berada.
"Ini Ray, kenapa gak chat nomor mejanya" Gumam Viona sambil jalan lebih jauh masuk dalam restoran. Viona celingak-celinguk mencari keberadaan Ray tapi nihil yang ia lihat hanya sepasang pasutri yang sedang duduk santai.
"Ray kemana sih?" Batin Viona lagi, "duduk aja dulu" sambungnya dalam hati memutuskan untuk duduk sejenak menunggu chat dari Ray.
10 menit kemudian, ada seorang waiters menghampiri Viona.
"Maaf, nona Viona?" Tanyanya.
"Iya, Viona saja gak usah pakai nona" Jawab Viona.
"Mari Viona, saya antar sudah ditunggu" Ucap waiters itu lagi dengan sopan dan lembut.
"Baik" Jawab Viona singkat dan mengikuti waiters itu.
Tempat itu agak sedikit privat tampak dari depan. Dilihat dari mejanya hanya beberapa saja.
"Silahkan duduk" Ucap waiters cowok itu.
"Terima kasih" Ucap Viona dan waiters itu mengangguk sembari menjawab, "sama-sama" lalu pergi.
Viona duduk dan sekali-kali mengarahkan matanya kearah pintu masuk tapi tidak ada tanda-tanda orang datang. Viona suntuk dan capek rasanya menunggu tidak jelas. Ia pun memutuskan untuk menelpon Ray.
Handphone Ray aktif tapi tidak dijawab, Viona pun mengirimkan pesan tapi lagi-lagi tidak dibaca.
Ternyata Ray sengaja disuruh oleh orang tuanya kembali ambil ponsel Maminya yang sengaja ia simpan dirumah dan berdalih pada anaknya bahwa dia lupa.
Keberadaan Viona saat ini tidak lain ulah kedua orang tua Ray, ingin menguji kesabaran Viona. Seperti yang dilakukan pada Gladis.
Viona memanggil waiters yang tidak jauh dari tempatnya pesan jus alpukat untuk ia minum menghilangkan rasa haus dan jenuh juga.
Tidak jauh dari situ orang tua Ray memantau, "Ujian dari kita berhasil Pi"
"Termasuk hebat lho" Puji Papi Ray.
Waiters datang dengan segelas jus alpukatnya dan seketika Mami Ray melambaikan tangan memanggil waiters itu.
Waiters merespon dengan menunjuk dirinya dan Mami Ray seketika mengangguk sambil meletakkan jari didepan bibirnya.
Waiters pun datang menghampiri Mami Ray.
"Ada yang bisa dibantu bu?" Tanyanya dengan sopan.
"Ganti jus ini dengan rasa apel" Ucap Mami Ray lagi.
"Heee, Mi?" Panggil Papi Ray dengan sedikit berbisik.
"Maaf bu, ini pesanan perempuan itu" Jawab waiters itu sambil menunjuk kearah dimana Viona duduk.
"Ikuti saja, itu putri saya" Jawab Mami Ray dan seketika mulut waiters itu membentuk huruf O.
"Baik bu, saya ganti segera" Ucapnya lalu ia jalan dengan cepat.
Setelah waiters itu pergi langsung Papi Ray bertanya kepada istrinya.
"Kenapa harus ganti, kasian Viona"
"Papi gimana sih?, Ini sebagian dari rencana" jawabnya dengan enteng.
"Papi angkat tangan yaa, jangan sampai Alex datang tiba-tiba dan melihat pacarnya diganggu seperti itu, pasti dia kesal nanti" jelas lagi.
__ADS_1
"Aku yakin Ray tidak akan marah. Ehh, lihat tuh waiters membawa jus apel" Ucap Mami Ray sambil nunjuk kearah waiters yang sedang menaruh gelas tersebut.
Sementara Viona melihat pesanannya tidak seperti yang ia pesan langsung mengerutkan keningnya.
"Maaf ya, ini bukan pesanan saya" ujar Viona.
"Ini sudah pesanan mbak."
"Saya pesan tadi jus alpukat bukan jus apel" Jelas Viona lagi.
"Tapi..." Ucap waiters itu seketika diam karena melihat Mami Ray yang sedang menempelkan jarinya kembali didepan bibir dan datang menghampiri mereka berdua.
"Tapi.." ulang Viona menunggu kelanjutan ucapan waiters itu.
"Gimana sih pesan alpukat yang datang malah apel, gak apa deh dari pada gak minum" monolog Viona lagi.
"Jadi gimana mbak, mau diganti dengan alpukat?" Tanyanya
"Ini saja, suka juga kok apel. Maaf ya sudah membuat menunggu" Ucap Viona dan waiters itu pergi.
Mami dan Papi Ray memutuskan untuk menemui Viona. Mereka tau karena sengaja pesan meja yang sedikit privat untuk mengetahui sosok Viona tanpa bertemu terlebih dahulu.
"Ekhem" Mami Ray berdehem.
Viona mendongak melihat orang yang berdehem didepannya dan saat itu dia lagi minum jusnya. Ia langsung melepas sedotan dari bibirnya dan senyum.
"Maaf bu, ini meja ibu?" Tanya Viona sopan setelah ia berdiri dari duduknya.
"Iya" jawab Papi Ray.
"Oh silahkan duduk pak bu" Viona mempersiapkan lalu mengambil tasnya yang berada dikursi samping dimana ia duduk tadi.
Mami dan Papi Ray suka dengan tutur katanya, tingkah laku saat mempersilahkan duduk dan cara berpakaiannya sopan. Pokoknya Viona merupakan paket komplit dimata orang tua Ray.
"Ini pasti menghargai orang tua, gak salah pilih nih Alex" Batin Mami Ray.
"Silahkan duduk pak, bu" Ulang Viona tidak enak karena sudah duduk di meja orang lain.
"Dimana sih ini Ray, diarahkan kesini tapi mejanya orang lain" Batin Viona sebelum tersadar kalau tadi waiters yang arah kan dia untuk kesini.
Mami dan Papi Ray duduk, sementara Viona masih berdiri. Dengan berat hati campur malu karena ia pikir salah duduk mencoba untuk bertanya.
"Maaf nih bu, apa ibunya Ray?" Tanya Viona dengan hati-hati.
"Ray, Ray siapa?" Tanya Mami Ray dengan bingung
"Mungkin Alex yang kamu maksud?" Timpal balik Papi Ray.
"Bukan bu, Ray. Sepertinya saya salah duduk. Permisi ya bu pak" Ucap Viona lalu membalikkan badan dan melangkah pergi.
"Tunggu.." Ucap Papi Ray.
Viona membalikkan badan, "iya pak" jawab Viona dengan bingung.
"Duduk dulu, kamu Viana kan?" Tanya Mami Ray.
"Haaa" jawab Viona gelagapan mendengar namanya disebut.
"Viona bu, bukan Viana" Jelas Viona lagi.
"Ray ini benar-benar ngerjain aku atau gimana?" Batinnya masih berdiri.
"Duduk dulu, aku Maminya Alex dan ini Papinya" Ujar Mami Ray memperkenalkan diri dan suami.
Viona duduk tepat di depan orang tua Ray. Mami Ray melihat Viona dengan detail membuat Viona tidak nyaman.
"Sudah lama kenal dengan alex?" Tanyanya.
"Saya tidak kenal nama Alex bu, sepertinya saya salah duduk disini" Jawab Viona tidak enak.
"Waiters yang arahkan kesini?" Tanya Papi Ray.
"Benar pak" Jawab Viona lagi.
"Mi, coba telepon Alex. Dia sudah dimana sekarang" Ujar Papi Ray lagi.
"Oke" Jawab Mami Ray dan mengambil benda pipihnya itu dalam tas dan saat itu juga Viona pamit ingin ke toilet.
"Saya ke toilet dulu ya pak, bu" Pamitnya setelah diangguki oleh Papi dan Mami Ray.
"Silahkan"
Viona pergi dengan berjalan cepat dan setelah jauh menelpon Ray tapi nomornya sibuk.
"Ray jadi apa gak datang sih?" Gumamnya lalu lanjut jalan menuju toilet sebagai ala-ala kalau dia dari sana.
Viona masuk membasahi tangannya di wastafel dan lab menggunakan tisu yang sudah disediakan, lalu ia kembali.
Viona jalan menunduk saking capeknya ia rasa sore ini, tepatnya capek menunggu. Dari jauh Viona melangkah Ray sudah melihatnya.
Anggun, itu dimata Ray saat ini. Dengan dress hitam panjang sampai betis menurut Ray sangat cocok di badan Viona.
Viona pun membangunkan wajahnya setelah dekat dengan kursi, spontan Viona menunjuk Ray.
"Lho, kamu disini juga. Orang tua kamu mana?" Tanya Viona rada-rada bleng.
"Aku duduk disini, berarti ini orang tua saya" Jawab Ray sambil menunjuk menggunakan ibu jari sementara orang tuanya hanya senyum.
"Gitu, aku gak tau kalau bapak dan ibu orang tua Ray" Ucap Viona lalu menyalami keduanya membuat Ray sendiri hanya bengong dan diam.
Kaget, karena ia baru lihat wanita yang menyalami orang tuanya. Selama pacaran dengan Gladis sampai mereka putus pun tidak pernah melakukan hal seperti yang Viona lakukan.
__ADS_1
"Pilihan mu Lex, gak salah kali ini" Ucap Mami. Meskipun Maminya suka dengan Gladis tapi perempuan yang tertutup dan lebih sopan menurutnya memiliki nilai plus.
"Maksudnya bu?" Tanya Viona lalu menoleh melihat Ray.
"Duduk" Ujar Ray dan Viona pun langsung duduk sembari senyum.
"Gimana kalau pesan makan dulu?" Tanya Papi Ray itu.
"Iya, hampir aku lupa" Ucap Ray lalu ia melambaikan tangan memanggil waiters.
Waiters datang dan mereka mulai memilih menu makanan yang akan dipesan.
"Kalian pesan apa?" Tanya Mami Ray sambil lihat menu yang ia sendiri sebenarnya bingung mau makan apa.
"Saya mau minum saja" Ucap Papi Ray.
"Viana dan kamu Lex?" Tanya Mami Ray lagi.
"Lex" Ulang Viona dengan nada bingung.
Ray pun membenarkan Maminya, "Viona Mi bukan Viana" Jelas Ray, "Coba Ray aja yang pilih, pasti Mami bingung kan?" Sambungnya diakhir kalimat.
"Iya, lagian milih restoran yang jarang Mami datangin"
"Menunya yang baru, tapi restoran yang disalahin. Disini ada makanan favorit Mami" Ucap Ray, "Kamu pesan apa?" Sambungnya kepada Viona.
"Seperti biasa" Jawab Viona sembari senyum karena lagi-lagi makan di restoran dimana ada makanan kesukaannya disini.
Ray hanya mengangguk dan Viona pun menarik sedikit daftar menu itu kearahnya agar ikut melihat daftar makanan itu.
Orang tua yang pernah merasakan jatuh cinta pasti mereka senyam senyum melihat anak muda di depannya.
"Mi, jadi ingat masa muda dulu" Ucap Papi Ray itu kepada istrinya.
"Iya Pi, keingat zaman kita dulu" Respon Mami Ray sembari senyum melihat anak muda didepannya.
"Kalau kayak gini gak bisa dibiarkan lama, saling suka kayak gini kok" Gumam Mami Ray yang masih bisa didengar oleh sang suami.
"Setuju Mi" Dukungan dari Papi Ray.
Percakapan itu tidak didengar oleh kedua insan muda yang sedang milih makanan.
"Gak jadi makanan berat, aku dessert aja" Ucap Viona lagi.
"Oke" Jawab Ray dan ia lanjut melihat orang tuanya, "Mami dan Papi?"
"Ikut saja selera anak muda" Jawab Mami Ray lalu mengarahkan pandangan ke Viona yang sibuk dengan milih menu.
Ray mengerutkan keningnya sehingga ujung alisnya bertemu, "maksud.." Ucap Ray terpotong karena ulang Viona.
"Bu, pasti suka dessert ini" Ucap Viona sembari memperlihatkan gambarnya.
"Dari gambar saja sudah kelihatan enak, pesan yang untuk Mami" Respon Mami Ray.
"Ini memang enak bu, aku juga ini" Ujar Viona lalu memberitahu waiters yang sudah menunggu sejak tadi.
"Mas, ini 2 ya.. pak dan Ray mau pesan apa?" Tanya Viona.
"Pesan dessert ini, ini.. ini..ini" Ucap Ray sambil menunjuk daftar menu itu.
"Itu saja pak?" Tanya waiters lagi.
"12 porsi dengan Mami dan....". Jawab Ray terjeda.
"Dan apa?" Tanya Papinya.
"Lupakan" Ucap Ray.
10 menit kemudian pesanan mereka pun datang. Makanan sudah tersaji diatas meja. Mereka pun berdoa sebelum makan.
Mereka makan sambil berbagi cerita.
"Ohh iya, Mami hampir lupa bertanya" Ucapnya.
"Maklum bu, efek umur. Hehehe" Canda Viona diakhiri dengan suara tawa.
"Betul, makanya umur segini tuh seharusnya Ray sudah ada yang urus" Ucap Mami Ray sambil melirik suaminya.
Ray mengerti maksud dari ucapan Maminya itu. Ia melihat Maminya melirik Papinya.
"Saya sudah besar Mi, Pi" Timpal Ray.
"Iya bu, pak. Ray itu sudah besar jadi bisa urus dirinya sendiri" Viona ikut menimpali.
"Ya ampun Pi, mereka tidak mengerti" Gumam Mami Ray lagi.
"Ekhem" Mami Ray berdehem terlebih dahulu.
"Maksud Mami itu..."
Ray langsung memotong ucapan Maminya itu, "Gimana kalau kita bahas masa depan?"
"Masa depan" Ulang Mami Ray, "Menarik juga, yang kayak gimana nih?" Sambungnya dengan menaikkan satu alisnya sambil melihat Ray dan Viona bergantian.
Viona yang belum mengerti arah pembicaraan itu, mencoba untuk menimpali.
"Kerjaan mungkin bu"
"Bosan, dikantor juga bahas pekerjaan" Jawab Papi Ray.
Viona menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan ketawa paksa, "hehehe, benar juga yaa"
__ADS_1
Ray menoleh kearah Viona sembari geleng kepala. Dan Viona melihat itu hanya senyum seadanya kepada Ray.
"Kenapa?" Tanya Viona.