
Gladis ngos-ngosan mengejar Ray sampai diparkiran motor.
"Ra, kenapa tinggalkan aku di gazebo?" Tanyanya.
"Buktinya, kamu ada disini. Berarti tidak di gazebo" Jawab Ray dingin.
"Bukan begitu maksud aku, Ra. Kenapa kamu berubah seperti ini?" Tanya Gladis lagi.
"Mau pulang atau tidak?" Tanya balik Ray.
"Jawab Ra, kamu sungguh berubah Ra" Ucap Gladis lalu naik diatas motor.
Ray tidak menghiraukan ucapan Gladis, ia membawa motor dengan kecepatan tinggi.
Gladis hanya mampu menutup mata saking takutnya melihat Ray membawa motor.
Gladis mulai memukul bahu Ray perlahan, "Ra, jangan terlalu ngebut. Bahaya"
"Diam" Ucap Ray final.
"Tapi aku masih sayang nyawa aku, Ra" Ucap Gladis sedikit teriak agar Ray bisa dengar.
Ray bukan menjawab tapi malah menambah kecepatan laju motornya dan Gladis terus menerus menepuk pundak Ray.
"Turunkan aku Ra" Gladis sudah tidak sanggup lagi menghadapi Ray. Ia sengaja ucapan mengancam agar Ray mengurangi laju motornya.
Ray langsung mengurangi kecepatan laju motornya dan seketika Gladis tersenyum.
"Ternyata Ra masih peduli dengan keselamatan ku" monolog Gladis.
"Ehh, kenapa berhenti?" Tanya Gladis bingung.
"Turun" Ucap Ray yang sudah berhenti didepan halte.
"Ngapain?" Tanya balik Gladis.
"Tadi kamu bilang minta diturunin, aku carikan tempat yang aman" Ucap Ray.
"Aman dari mana?" Tanya Gladis sambil melihat kiri kanan yang menunggu bus lewat.
"Dari hujan" Ujar Ray lalu pergi.
Gladis menghentakkan kakinya, "Hisss, hujan dari mana, cerah seperti ini" Ucap Gladis sambil mendongakkan kepala ke atas.
Gladis menunggu bus yang lewat bersama yang lain sedangkan Ray kembali di bengkelnya.
🌺
Viona mengendarai motor kakaknya dengan santai menuju rumah.
"Untung motor butut ini mogok ada orang baik tadi, kalau tidak masih dijalan kau Viona" Ucap Viona diatas motor.
"Sekarang kau aman motor butut" Ucapnya lagi sambil membawa motor dengan kecepatan 80/km.
"Enak juga yaa bawa motor kayak gini" monolog Viona sembari senyum.
Viona membawa motor tidak hanya serta merta melihat kearah depan, ia sekali-kali melihat kiri kanan.
"Ehh, taman. Singgah dulu" ucapnya lalu menyalakan lampu sen tanda ia belok.
Viona sudah masuk taman, menyusuri taman seorang diri baginya menyenangkan. Ia memutuskan menghabiskan waktunya di sore hari di taman.
Viona pun merasa haus, ia menuju penjual air minum.
"Pak satu botol aqua ya" Ucap Viona.
Alan yang mendengar dipanggil pak langsung menoleh dan bertanya.
"Aku?" Tanyanya sambil menunjuk diri sendiri.
"Iya, jualan bapak kan?" Tanya Viona lagi dengan menunjuk botol aqua yang tersimpan diatas meja khusus jualan.
"Aku bukan penjual, bapak yang jaga lagi pergi menukar uang" Jawab Alan.
"Oh gitu, maaf sudah mengira penjual air minum di taman ini" Jawab Viona dengan mengatupkan kedua tangannya.
"It's oke" Jawab Alan yang sedang duduk di kursi taman tepat disamping penjual minuman tersebut.
"Duduk saja dulu, mungkin bapaknya sedang menukar uang saat ini" Ucap Alan lagi.
Viona hanya senyum terpaksa, ia memilih untuk berdiri ketimbang duduk satu kursi dengan orang tersebut.
Alan terus menatap Viona, ia merasa pernah melihat wanita itu tapi dimana.
"Maaf, kayaknya aku pernah lihat kamu" Ucap Alan dengan hati-hati.
"Masa sih" Ujar Viona tidak percaya
"Iya, aku pernah melihatmu disebuah butik" Ulang Alan lagi.
Viona mengerutkan kening sambil berpikir, "memang benar sih aku kebutik temanin kak Rifal, tapi itu mungkin bukan aku" monolognya.
"Butik, mungkin salah lihat" Jawab Viona.
"Lamanya penjual aqua ini" Gumam Viona lagi sambil mengipas wajahnya menggunakan tangannya.
Alan merasa kasihan, ia pun berinisiatif menawarkan Aquanya untuk Viona.
"Ini, ambil aqua aku saja" Ucapnya sambil menyodorkan satu botol aqua tersebut.
"Tidak usah, terima kasih" tolak Viona dengan sopan.
"Ambil saja. Jangan sampai penjual Aqua lama baru datang" Ucap Alan lagi.
Viona mendengar itu sebenarnya sedikit tertarik karena sudah beberapa menit menunggu penjual aqua belum muncul-muncul juga.
Viona menoleh kembali melihat botol Aqua yang berada ditangan Alan itu.
__ADS_1
Alan menyadari itu, ia merasa lucu dengan tingkah Viona.
"Anggap saja aqua ini dari sahabat sendiri" Ujar Alan lagi.
"Sahabat" ulang Viona spontan, "maaf" Sambungnya.
"Iya, sahabat seperjuangan menunggu penjual demi sebotol Aqua" Jelas Alan lagi.
"Oke kalau gitu" Viona menerima aqua tersebut. "Boleh aku duduk?" Tanya Viona lagi.
"Oh, silahkan" Jawab Alan dan menggeser posisi duduknya sehingga berada diujung kursi begitupun dengan Viona duduk berada diujung kursi juga.
Viona pun duduk dan minum Aqua dari Alan itu. Setelah selesai minum Viona melihat jam di tangannya.
"What, sudah jam 5 sore" Gumam Viona lagi.
Gumaman itu didengar samar-samar oleh Alan.
"Mau pulang?" Tanya Alan dan Viona langsung melihat Alan.
"Iya sebenarnya, tapi bapak-bapak ini belum datang" Jawab Viona lagi.
"Anggap saja ini traktiran dari saya, jadi kalau mau pulang tidak apa-apa" Ucap Alan dengan ramah.
"Aku bayarnya sama kamu aja, apa bisa?" Tanya Viona lagi.
"Masalahnya aku juga tidak tau harga Aqua itu" Kilah Alan.
Sebenarnya Alan tau harga Aqua tersebut karena penjual aqua pergi karena menukar uang Alan.
"Gimana ya" Viona bingung.
"Aku gak mau punya utang sebenarnya" Monolog Viona lagi.
"Aku tunggu saja" Ucap Viona.
Alan dan Viona menunggu dalam diam. Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara keduanya.
Alan terpaksa memulai pembicaraan, "kamu suka ke taman ini?"
"Baru kali ini, kamu?" Tanya balik Viona.
"Sama, aku juga baru kali ini" Jawab Alan juga. "Tinggal disekitar sini?" Tanyanya lagi.
"Lumayan jauh dari sini, kalau kamu sendiri tinggal di dekat sini?" Tanya balik Viona.
"Tidak, saya kebetulan lewat dari bengkel teman" Jawab Alan.
"Oh, bengkel yang tidak jauh dari taman ini?, Aku tau, tadi dari bengkel itu, motor aku mogok" Jelas Viona dan seketika melambat, "tapi aku belum sempat mengucapkan terima kasih ehh pemiliknya sudah pergi" sambungnya.
"Untuk?" Alan tertarik dengan ucapan terakhir Viona, "ehh kita belum saling mengenal, aku Alan, kamu?" Tanya Alan.
"Aku Viona" Jawab Viona singkat
"Berterima kasih untuk apa pada pemilik bengkel itu?" Tanya Alan penasaran.
"Penjualnya mana yaa?" Monolog Viona lagi sambil celingak-celinguk sudah tidak betah menunggu lebih lama lagi.
"Sudah bertemu dengan pemilik bengkel itu?" Tanya Alan.
"Kenapa dengan pemilik bengkel?" Tanya balik Viona karena ia tidak fokus dengan pembicaraan semula mereka berdua sejak mata Viona tertuju pada bapak-bapak yang datang dari kejauhan dengan buru-buru , "itu mungkin bapaknya" Sambungnya sambil menunjuk bapak-bapak yang datang kearah mereka.
"Iya, itu orangnya" Alan membenarkan ucapan Viona.
"Alhamdulillah ya Allah" Gumam Viona lagi sembari bangkit dari kursi itu begitupun dengan Alan.
"Maaf ya mbak dan mas, sudah menunggu lama" Ucap bapak tersebut.
"Iya gak apa-apa, jadi berapa harganya kalau dua botol? Tanya Alan.
"10.000 mas, mbaknya mau beli apa?" Tanya mas tersebut.
"Gak jadi pak" Jawab Viona karena aqua yang ia minum sudah dibayar oleh Alan.
"Oh, ini pacar mas?" Tanya penjual Aqua tersebut.
"Bukan pak, kami baru kenal" Jawab Viona sembari senyum.
"Iya pak, jangan kayak netizen suka jodoh-jodohin orang pak..hehehe" Canda Alan.
"Benar mas, tapi kalau jodoh tidak ada yang tau kan mas?" Ujarnya lagi dengan nada bertanya
"Benar pak, jodoh gak ada yang tau" Ucap Alan lagi. Dalam hati mengaminkan, meskipun baru kali ini bertemu Viona tapi hati Alan percaya kalau gadis disampingnya saat ini cocok dengan dirinya.
Viona mencoba untuk pamit diantara pembicaraan Alan dengan bapak tersebut, bukan tidak sopan tapi melihat waktu saat ini semakin sore.
"Maaf pak, Alan sudah memotong pembicaraan, saya pamit dulu ya.. assalamualaikum" pamit Viona lalu pergi.
Alan pun dengan buru-buru pamit, "pak pamit dulu, assalamualaikum"
Alan dengan cepat menyusul Viona yang berada di parkiran dan ternyata motor Viona dan mobil Alan area parkirnya tidak jauh.
Viona setelah membayar biaya parkir kembali menyusuri jalan kota menuju rumahnya yang diikuti oleh Alan dari belakang.
"Ohh, daerah sini rumahnya" Ucap Alan lalu ia melajukan mobilnya melewati motor Viona yang sudah menyalakan lampu sen tanda Viona akan belok ke rumahnya.
🌺
Viona lagi main ponsel di kamarnya. Bukan tidak mau gabung dengan keluarga tapi saat ini ia begitu lelah seharian memasukkan berkas di perusahaan yang sedang menerima karyawan baru dengan harapan kali ini bisa ke terima kerja.
Viona memiliki grup teman kampus, disana ramai membahas tentang pekerjaan masing-masing tinggal dirinya yang belum memiliki pekerjaan.
"Tinggal Vio yang belum kerja di grup ini" Gumamnya sambil mengotak atik hp nya yang ia sendiri bingung cari apa dalam hpnya itu.
Tok tok ( bunyi ketukan pintu kamar Viona)
"Siapa?" Tanya Viona.
__ADS_1
"Bibi buka pintunya" teriak Ainun.
"Bibi lagi istrahat sayang" jawab Viona dalam kamar. Ia malas membuka pintu. Ia rasa badannya pegal semua.
"Bibi" panggil Ainun.
"Kak Yesi dimana sih, gak urus Ainun" Gumam Viona lalu bangkit dari atas tempat tidur dengan terpaksa untuk membuat pintu kamarnya.
Viona membuka pintu sembari berkata, "mama mana sayang?"
"Mama keluar dengan ayah" jawaban polos dari sang mungil Ainun.
"Masuk sayang, bibi telepon mama dulu ya" Ucap Viona lagi menuntun ponakannya itu sampai diatas tempat tidur.
"Ainun mau bobo dengan bibi saja" Ucap Ainun dengan tangan menutup mulutnya karena menguap.
"Wah Ainun pintar, siapa yang ajar sayang kalau menguap tutup mulut?" Tanya Viona sambil menunggu kakaknya mengangkat telepon.
"Mama" Jawab Ainun dengan memperbaiki posisi tidurnya.
"Oke. Ainun bobo saja dulu yaa, bibi mau bicara dengan mama" Ucap Viona lalu meninggalkan ponakannya dalam kamar.
"Assalamualaikum kak" Ucap Viona dalam telepon sambil menutup pintu kamar dengan pelan.
"Wa'alaikumussalam, kenapa Vio?" Tanya Yesi diseberang telepon.
"Kakak dimana, Ainun tidur dikamar aku" Ucap Viona ditelepon dengan harapan kakaknya akan mengerti.
"Bagus dong dek, sekalian belajar jaga anak sebelum menikah. Kakak gak pulang malam ini, bermalam diluar dengan ayah Ainun. Titip Ainun ya dek. Assalamualaikum" Ucap Yesi lalu mematikan sambungan telepon.
"Wa'alaikumussalam. "Tut.. tut... Tut.. tut..(bunyi ponsel Viona setelah Yesi mematikan sambungan telepon)"
Viona melihat layar ponselnya itu, "enak benar kak Yesi ini. Pergi bulan madu ke dua, anaknya ditinggal di rumah"
Viona kembali ke kamar tapi sebelumnya ia ke kamar pengantin baru dan berkali-kali ketok pintu tidak ada yang respon.
"Masa iya sudah tidur" Gumam Viona lalu ia ke kamar mamanya.
"Mam, buka" ucap Viona dibalik pintu kamar.
"Vio kembali ke kamar, mama udah ngantuk harus bangun lagi untuk buka pintu" Jawab Ibu Heti.
"Aku kira kumpul-kumpul diruang keluarga ternyata pada tidur semua, masa iya jam segini sudah masuk kamar, tumben" Viona komat kamit sambil jalan menuju kamarnya.
Dikamar Viona tidur dengan ponakannya. Ini baru pertama kali tidur dengan anak kecil.
Ainun tidur dengan banyak gaya begitupun dengan Viona, jadi bisa ditau kalau gaya tidur Ainun turunan dari bibirnya.
"Aooww" Viona bersuara karena merasa hidungnya ditendang.
"Ya Allah" Ucap Viona setelah melihat posisi tidur ponakannya sudah berada di bibir ranjang sedikit bergerak akan jatuh.
Dengan mata mengantuk Viona memperbaiki posisi tidur Ainun begitupun dengan dirinya.
Baru Viona enak perasaannya tiba-tiba Ainun kembali mengganggu tidur Viona tapi kali ini bukan dengan tendangan melainkan suara.
"Bibi, buang air kecil" Ucap Ainun.
"Tahan aja dulu sayang sampai pagi, nanti bibi belikan es krim" Ucap Viona dengan mata tertutup.
"Gak bisa bibi" jawab Ainun sambil menggoyangkan lengan bibinya.
"Pasti bisa sayang, Ainun anak pintar" bujuk Viona lagi.
"Bibi, buang air kecil aja disini" ucapnya dan seketika Viona bangun dengan memegang kepalanya.
"Ayo sayang, bibi antar" Ucap Viona dan membawa Ainun dalam kamar mandi di kamarnya.
"Kak Yesi benar-benar membuat aku kerja siang malam, gak tau apa kalau pagi ini aku harus cari lowongan kerja lagi" Kesal Viona depan pintu kamar mandi.
"Bibi sudah" Ucap Ainun dibalik pintu.
Viona pun membuka pintu kamar mandi tersebut. Ia melihat ponakannya terlintas beberapa cara untuk balas pada Yesi.
"Ainun sayang, sayang bibi Viona gak?" Tanya Viona dengan lembut.
"Sayang" Jawab Ainun setelah mereka sudah kembali duduk diatas tempat tidur.
Keduanya sudah hilang rasa kantuk, jadi Viona memutuskan untuk cerita dengan ponakannya.
"Pagi ini Ainun masuk sekolah jam berapa?" Tanya Viona.
"Jam 7 bibi, mama bilang bibi yang antar Ainun di sekolah" Ucapnya dengan jujur.
"Enak sekali hidup kak Yesi ini, gak ingat aku harus cari kerja" Monolog Viona.
"Terus Ainun mau diantar bibi?" Tanya Viona penasaran dan Ainun mengangguk tanda setuju dengan ucapan mamanya.
"Tapi bibi hanya punya motor, gak punya mobil antar Ainun" Ucap Viona dan berharap Ainun menolak diantar pakai motor.
Ainun spontan mengangkat tangannya ke atas sembari berkata "hore, pasti asyik. Kata mama kalau naik motor bisa lihat pemandangan luar dengan jelas"
Ainun senang mendengar itu tergambar jelas diwajahnya.
"Niat banget kak Yesi. Ingin kenakan aku" monolog Viona lagi.
"Tapi Viona ngantuk sayang, gak bisa bonceng anak kecil nanti kita jatuh dijalan. Bahaya" jelas Viona.
"Jadi gak bisa ya bibi?" Tanya Viona.
"Hu..ummm" Jawab Viona manggut-manggut dan Ainun berpikir.
"Telepon mama saja kalau gitu, nanti mama yang antar" Ucap Ainun.
"Benar tu sayang, nanti bicara dengan mama yaa pakai ponsel bibi saja. Pokoknya kita kerja sama yaa" ajak Viona dan Ainun mengangguk mau
"Hahaha, kak Yesi tunggu pembalasan ku, anakmu berada di pihak ku" monolog Viona sambil memeluk ponakannya.
__ADS_1