
1 Minggu Kemudian
Cuaca hari ini tidak mendukung, langit gelap dan kadang gemuruh dipanggil terdengar jelas. Hujan seketika turun, tidak deras namun mampu membuat orang malas untuk beraktivitas.
Viona duduk butik menghadap diluar melihat orang yang lalu lalang semakin sedikit lewat kaca butiknya itu. Kadang kala senyum bahagia dan kadang juga senyum itu seketika hilang. Ada apa sebenarnya dengan Viona.
"Apa sih cinta itu? Katanya cinta membuat orang jadi lebih baik, tapi kenapa aku jadi bingung seperti ini, ada apa dengan cinta" Batin Viona.
Ia sangat senang kala ia mengingat kebersamaannya bersama Ray. Ray yang begitu peduli padanya meskipun Ahmad melakukan hal yang sama bahkan lebih dari Ray, tapi Viona merasa hatinya berbeda, sangat bahagia jika Ray yang lakukan.
"Ada apa dengan aku?" Tanya Viona dalam hati.
"Serumit itukah jatuh cinta?" Tanyanya dengan nada lirih.
"Tidak, yang memperumit itu pikiran kita sendiri" Sahutan dari arah belakang membuatnya sang empu menoleh perlahan.
"Ray, sejak kapan disitu?"
"Baru" Jawabnya singkat dan berdiri tidak jauh dari Viona, "gimana hari ini kita makan direstoran?" Lanjutnya, ia tiba-tiba ingat janjinya dulu.
"Maaf Ahmad, buka aku yang masuk dalam hubungan kalian, tapi kamu yang masuk dalam hubunganku dan Viona" Batin Ray.
"Sekarang?" Tanya Viona seakan tidak percaya.
"Iya, aku udah janji ajak kamu makan direstoran" Ujar Ray membuat Viona menghela napas, tiba-tiba hatinya kecewa mendengar alasan Ray.
"Kirain niat, nyatanya hanya memenuhi janji" Serunya dengan malas.
"Tapi butik aku?" Lanjut Viona.
"Gampang, yang penting itu mau gak ke restoran sekarang?"
"Mau, janji kan utang"
"Ok."
Ray langsung menelepon seseorang dan menyuruhnya datang dibutik Viona. 5 menit kemudian orang tersebut datang.
"Tugas apa pak?" Tanyanya pada Ray.
"Jaga butik selama aku dan Viona pergi" Jelas Ray, "Kalau banyak yang datang belanja, panggil temanmu untuk membantu.. hmmm 5 orang mungkin" lanjut Ray lagi.
"Bukan itu terlalu banyak?" Tanyanya kepada Ray lagi.
"Tergantung kamu, kamu yang urus"
"Baik pak" Jawabnya dan Ray langsung menunjuk kursi kasir Viona.
"Duduk disana sampai kami pulang, telepon teman-temanmu untuk membantumu disini"
Ray mengarahkan karyawannya dibengkel sembari menunggu Viona. Viona menuju ruangan tempat dimana tasnya biasa ia
simpan.
"Lho, kenapa pada kesini?" Tanya Viona sambil menunjuk orang-orang yang kerja dibengkel Ray.
Mata Viona beralih ke Ray, "kamu yang suruh mereka? Banyak lagi"
"Supaya mereka tidak kewalahan melayani pembeli" Jelas Ray.
Viona memilih untuk mengalah dari pada debat yang tidak akan selesai, lagian hanya buang-buang waktu. Ray tidak akan menyuruh karyawannya balik bengkel.
"Kita pergi sekarang, supaya cepat pulang" Ujar Viona sembari jalan menuju pintu keluar.
🌺
Makanan yang dipesan Ray sudah datang, Viona bak putri raja hanya duduk dan makan. Semua Ray yang urus.
"Selamat makan" Ucap Viona senang melihat makanan yang begitu banyak diatas meja.
"Berdoa dulu" Ray mengingatkan Viona.
"Sudah pasti" Jawab Viona sembari senyum.
Keduanya berdoa sesuai kepercayaan masing-masing, lalu makan.
"Mau sambal gak?" Tanya Ray.
"Mau dong, minta tolong ambilkan. Nampaknya sambal ini tidak terlalu pedis, lebih pedis omongan tetangga" Jujur Viona sambil menyendok sambal tersebut menaruhnya di piring.
Ray hanya menanggapi dengan senyum.
"Menurut kamu, salah kalau kita egois?"
"Hmmm, tergantung sih. Egois apa dulu nih?" Tanya balik Viona, "dalam hal mencintai ya?" Lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Mungkin" Jawab Ray lalu menyuapkan makanan dalam mulutnya.
"Mmm.. Gimana ya, soalnya kadang aku juga kayak gitu, hehehe"
Jawaban itu membuat Ray mengerutkan kening, ia tidak menyangka jika jawaban yang keluar dari Viona seperti itu.
"Maksudnya?" Ray masih mencoba untuk menggali lebih dalam dari jawaban Viona itu.
"Kadang kita terlalu mementingkan perasaan orang lain, menjaga hati mereka tapi mereka belum tentu melakukan hal yang sama untuk kita. Benar gak?"
"Yapp.. terlalu sibuk membahagiakan orang lain sampai lupa kebahagiaan diri sendiri" Ray melanjutkan.
"Aku setuju tuh, so.." Ujar Viona sembari menunggu Ray melanjutkan kalimatnya.
"So.." ulang Ray tidak mengerti.
"So.. kita berhak bahagia"
"Egois sedikit gak masalah" lanjut Ray lagi.
"Karena kita berhak bahagia" Ulang Viona membuat Ray ketawa.
"Kenapa diulang?" Ucapnya dalam tawa.
"Kapan lagi Ray, selagi ada kesempatan. Kadang aku juga berpikir kayak kamu" Jelas Viona dengan serius sampai ia berhenti makan sejenak.
"Kadang ingin memilih egois demi kebahagiaanku sendiri, tapi ada hati yang kita lukai itu sakit juga. Apalagi jika orang itu adalah orang yang sangat berharga dalam hidup kita" Lanjutnya.
Viona tertawa miris, menertawai dirinya sendiri begitu sulit memilih untuk kebahagiaan dirinya.
Ray tau jika yang ia maksud itu adalah ibunya.
"Jadi gimana?" Tanya Ray.
"Yaahh mau gimana lagi" Jawaban pasrah seketika keluar dari Viona.
"Semangat bro, kita itu pemenang sejak dulu"
Ray menyalurkan energi untuk Viona.
"Benar tu, kita pemenang mutlak. Bayangkan kita mampu mengalahkan 500 juta sel ****** lainnya untuk menjadi yang pertama mencapai sel telur. Katanya yaa, saat pembuahan itu setara dengan berlari sejauh 87 km dalam 24 jam. Tapi... Ray"
"Tapi apa, kurangi volume suara mu. Satu restoran nyimak lho ini, aduh Viona" Ray menepuk jidatnya, pusing dengan kepolosan Viona yang mendadak kumat dan berujung memalukan seperti saat ini.
"Stop bahas itu Vio, kita jadi pusat perhatian"
"Tapi aku masih ingin bahas Ray, jarang aku bahas kayak gini dan nyambung" Ucapan jujur Viona membuat Ray menghela napas sambil memikirkan cara untuk menghentikannya.
"Kita makan dulu, baru lanjut tapi butik aja. Ok" Ray berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Ray.. emang pemenang mutlak itu harus kuat" Ujarnya lagi.
Kali ini Ray langsung menempelkan jari didepan bibinya.
"Kenapa?"
"Diam tandanya Vio" Jelas Ray.
"Aku juga tau kok" Jawab Viona sembari tertawa, "Aku sudah selesai makan" Lanjutnya lalu menjilat ujung jari-jari tangannya.
"Viona, dicuci saja tangannya" Tegur Ray.
Ray benar-benar malu dengan tingkah Viona. Ia menegur Viona sembari menutup wajahnya sebelah.
"Oh Tuhan, kenapa dia seperti ini" Ray menjerit dalam hati. Malu bukan main.
Disisi lain, Gladis merekam beberapa aktivitas Ray dan Viona lalu ia kirim di ponsel Mami Ray.
"Enakkan masih menikmati momen, tiba-tiba diganggu" Senyum jahat terukir indah disudut bibir Gladis.
Gladis masih memantau dan tidak lupa menelfon sahabatnya Gebi.
"Halo Geb, datang disini dengan si banteng" Ucapnya dalam telepon dengan nada berbisik lalu ia matikan sambungan telepon.
Agar tidak dicurigai, Gladis keluar cepat dari restoran itu dan memilih memantau dari gedung sebelah yang tidak lain restoran yang memiliki teras depan sehingga pengunjung bisa duduk santai disana.
"Perlahan dan pasti aku lakukan, dan kamu tidak akan tau kalau itu semua rencana aku" Gumamnya sambil tertawa kecil melihat ponselnya. Disana ada gambar Viona, ia sengaja simpan dalam ponselnya, bukan karena suka foto tersebut hanya untuk melancarkan aksinya.
Tidak lama mobil berhenti dihalaman restoran tersebut, yang tidak lain mobil Mami Ray.
"Mana Alex dan Viona?" Tanya Mami Ray pada Gladis dengan menggebu-gebu seakan menahan emosi.
"Didalam Tan, tapi jangan bilang aku yang kasih tau ya Tan" Pinta Gladis.
"Iya, Mami masuk dulu" Pamitnya lalu masuk dalam restoran.
__ADS_1
Mami celingukan kiri kanan mencari keberadaan Ray dan Viona, tapi tidak mendapatkan tanda-tanda keduanya.
"Mana itu anak" Batin Mami Ray.
"Kok gak ada, apa mereka sudah pulang?" Pertanyaan dalam hati Mami Ray itu ia bawa pulang karena dalam restoran tidak menemukan orang yang ia cari.
Mami Ray keluar dari restoran dan menemui Gladis. Seketika wajah Gladis senyum sumringah melihat Mami Ray keluar.
"Gimana tan?"
"Gak ada Viona dan Alex disana"
"Kok bisa Tan, padahal tadi aku liat dengan mata kepala aku sendiri, malah aku kirim videonya ke Tante, iya kan tan?"
"Mungkin mereka tau kalau Mami datang, makanya pergi sebelum saya tiba"
Mami Ray makin benci dengan Viona.
"Mami pulang" Pamitnya lalu pergi.
Gladis kembali masuk dalam restoran tersebut, dan benar saja meja Ray dan Viona sudah kosong. Ia tidak buang-buang waktu langsung bertanya yang berada disamping meja Ray dan Viona.
"Maaf mau tanya, orang yang duduk disini kemana ya?"
"Beberapa menit yang lalu pergi mbak"
"Berdua?" Tanyanya Gladis lagi.
"Gak, perempuan ada yang jemput dan cowoknya mendadak pergi" Jelasnya lagi.
"Kenapa sih mbak nanya mulu dari tadi?, Kami kapan makannya" Timpal salah satu temannya dimeja itu.
"Silahkan dinikmati, terima kasih infonya" Ucap Gladis lalu pergi meninggalkan restoran itu sembari mencari kontak Gebi.
Setelah tersambung, tanpa basa basi Gladis langsung to the point dengan marah.
"Geb, kamu dimana?, Udah nungguin dari tadi gak nongol- nongol. Tidak usah datang, langsung butik Viona saja. Kemungkinan Viona disana"
"Ok" Jawab Gebi diseberang telepon.
🌺
Gebi dan si julukan banteng yaitu teman cowok Gebi sampai depan butik Viona.
"Gimana nih?" Tanya cowok itu.
"Seperti biasa saja" Jelas Gebi sambil menyisir rambutnya menggunakan jari.
"Gila, Viona akan kabur duluan" Ujarnya.
"Itu kan yang kita inginkan, turun saja. Ribet banget sih" Kesal Gebi.
Si banteng itu pun keluar dari mobil dengan memegang setangkai mawar ditangannya. Ia masuk dalam butik tersebut dengan santai dan tidak lupa ia memakai kacamata.
Saat itu Viona sedang melayani pembeli, menjelaskan jenis kain yang pembeli tanyakan dan lain sebagainya.
Momen itu ia ambil si banteng untuk menghampiri Viona. Seketika mengulurkan tangannya dan memegang pinggang Viona.
Viona kaget dan istighfar.
"Astaghfirullah, siapa kamu?" Tanya Viona dengan panik dan mundur perlahan.
"Ini bunga untukmu" ucapnya dengan menyodorkan setangkai bunga mawar itu.
"Pergi dari sini, aku gak kenal kamu" Usir Viona sambil menunjuk pintu keluar.
"Kamu kenapa?, Aku sudah memberikan apa yang kamu mau dan sekarang jadi istirku malah usir.
Ibu-ibu itu awalnya iba pada Viona, tapi setelah mendengar kalimat ampuh dari si banteng langsung perlahan menjauh.
"Ibu jangan pergi dari sini, temani saya dulu" Minta Viona kepada calon pembelinya.
"Urus dulu rumah tangga mu baru kerja" Respon yang tak terduga kedua ibu-ibu itu.
"Iihhh" Timpal ibu satunya dengan tatapan tidak suka pada Viona, "ayo bu pulang" lanjutnya mengajak ibu yang lain.
Viona membalikkan badan menatap laki-laki itu, kali ini bukan rasa takut yang ada dalam dirinya melainkan rasa amarah. Ia menunjuk laki-laki itu yang sedikit tinggi darinya.
"Ada masalah apa dengan saya, sehingga dengan lancang tangan mu menyentuh saya?"
Laki-laki tersebut menatap Viona dengan enteng.
"Waow, sudah berani setelah saya datang ke dua kalinya ya. Hmmm.. menarik" Ucapnya lalu menatap Viona dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Heii, jaga matamu" Teriak laki-laki dari arah samping.
__ADS_1