
Satu minggu yang lalu makan malam, sampai sekarang Ahmad cuek sama Viona. Balas pesan Viona pun seadanya, tidak ada embel-embel bercanda.
"Ya ampun Mad, sensian banget sih jadi orang, hehehe" Gumam Viona menatap layar ponselnya yang memunculkan nomor ponsel Ahmad.
"Chat balas seadanya, telepon gak angkat. Betul-betul" Ujar Viona lagi seorang diri dalam kamarnya.
Viona membuka buku agendanya agar tidak lupa apa yang ia kerjakan hari ini.
"Cek lokasi" Ucapnya lagi sambil manggut-manggut.
Waktu yang terus berputar tidak terasa sudah sore. Ia siap-siap terlebih dahulu sebelum memanggil ibunya untuk cek lokasi.
Pakai gamis perpaduan putih biru dengan tas selempang kecil tempat ponsel sehingga terlihat cocok dan lebih cantik.
"Kak Yesi, mama mana?" Tanya Viona.
"Di kamar, emang kalian mau kemana?" Tanya balik Yesi.
"Cek lokasi"
"Lokasi apa?"
"Untuk menjual, mau buka butik"
"Dimana?"
"Mama yang tau, makanya aku tunggu mama nih" Jawab Viona dan menunggu ibu Heti diruang tengah bersama kakaknya.
10 menit kemudian ibu Heti baru keluar dari kamar, dengan santai melihat anaknya duduk diruang tengah langsung ikut gabung.
Viona menatap ibunya sambil geleng kepala. Ibu Heti tidak mengerti langsung bertanya.
"Kenapa Vio, ini mau kemana?" Tanya ibu Heti.
"Mam, ini hari jadwal untuk pergi cek lokasi" Viona mengingatkan.
"Masa sih?"
"Ya elah mam, jadi apa gak nih?" Tanya Viona lagi.
"Tunggu" Ujar Ibu Heti sembari mengangkat telepon.
"Wa'alaikumussalam nak, ada apa?" Tanya ibu Heti dengan lembut.
Yesi dan Viona mendengar itu langsung saling melihat.
"Siapa?" Tanya Yesi penasaran dan ibu Heti hanya mengangkat tangan tanda melarang Yesi bertanya.
"Kak Rifal?" Tanya Viona dan Ibu Heti melakukan hal yang sama.
"Oh iya, terima kasih. Mama tunggu ya. Wa'alaikumussalam" Ucap ibu Heti lagi ditelepon.
"Nak Ahmad yang menemanimu kesana, jadi mama tinggal tunggu hasilnya, semangat yang lagi rintis usaha" Ujar Ibu Heti kepada putrinya.
"Kok gitu mam, Ahmad itu marah sama aku. Aku yakin Ahmad gak akan ajak Vio bicara dalam mobil" Ungkap Viona.
"Astaghfirullah, sama calon suami kok gitu" Tegur Yesi.
"Tapi memang seperti itu kak, Viona itu selalu dikerjain Ahmad" Adu Viona.
"Hmm, kalau gitu aman dong" Timpal ibu Heti.
"Mam, aman apanya?" Tanya Viona penasaran.
Tok tok (suara ketukan pintu)
"Siapa sih?" Kesal Viona karena terpotong oleh suara ketukan pintu.
"Ahmad pasti" tebak ibu Heti, "siap-siap" lanjutnya sembari melintasi Viona.
"Kayak Ahmad aja anaknya" Kesal Viona lalu bangkit dari kursi mengikuti Ibunya.
Ibu Heti membuka pintu dan menawarkan Ahmad untuk masuk.
"Masuk dulu nak biar sebentar"
Viona yang sudah dibelakang ibunya langsung buka suara.
"Aku mau jalan sekarang, yang punya gedung itu sudah disana" Ucap Viona sengaja dan menyalami ibu dan pergi menuju halaman rumah.
"Mam, pakai mobil siapa nih?" Tanya Viona lagi dengan nada sedikit besar agar didengar Ahmad dan ibunya.
Ibu Heti istighfar melihat tingkah Viona.
"Astaghfirullah, itu anak"
"Gak apa-apa tan, saya pamit. Assalamualaikum" Pamit Ahmad dan sedikit lari menuju mobil dan membuka pintu mobil bagian depan.
Viona masuk dan mobil kembali jalan membela jalan kota menuju lokasi yang dituju.
Viona memakai sistem diam sedangkan Ahmad pasang mode kesal. Keduanya hanya saling lirik tanpa bicara sedikit pun.
__ADS_1
"Ahmad kayak perempuan, pakai mode diam" Batin Viona.
"Bicara dong Vio, bibir ini gatal kalau gak bicara sejam" Batin Ahmad.
Keduanya memasang gengsi yang tinggi.
20 menit kemudian sampa di lokasi yang yang dituju. Menurut Viona tempat itu sangat strategis dan tidak salah ibunya memilih tempat tersebut untuk butiknya. Keliling dan melihat bagian dalam gedung membuatnya jatuh cinta.
Viona ingin minta pendapat tapi gengsi karena sedang tidak komunikasi dengan Ahmad sementara Ahmad hanya sibuk dengan ponselnya dari tadi, tidak ada sumbangsih sedikit pun untuk Viona meskipun sekedar saran.
"Apa gunanya sih Ahmad antar ke sini kalau gak bisa kasih saran, sama aja datang sendiri" Batinnya.
Viona keluar dari gedung itu, sedikit jalan untuk tau lingkungan sekitar butiknya nanti.
"Lho itu.." Tunjuk Viona dengan senang hati.
Viona langsung jalan menuju bengkel Ray, ternyata bengkel dan butiknya tidak terlalu jauh.
"Ya ampun, dengan banget lagi fix ambil saja gedung itu, ada orang yang macam-macam ada yang bantu nanti" Gumam Viona sembari jalan menuju bengkel.
Sesampainya disana Viona langsung disapa oleh para karyawan disitu.
"Eh mbak Viona, ada bos diatas" Ujarnya.
Viona senang mendengar itu, "benar?" Tanya Viona dan orang tersebut mengangguk.
"Ok, aku temui dulu bosnya kalian, by" Ujar Viona lalu jalan menuju ruangan Ray.
Berbeda dengan Ahmad, ia baru sadar ternyata sudah tidak ada Viona di gedung itu. Panik sudah tentu. Ia telpon-telpon Viona tapi tidak angkat, kirim pesan pun tidak balas.
"Apa dia pulang ya gara-gara aku gak ajak bicara" Gumam Ahmad.
"Aduh Mad, bodoh-bodoh sudah ketemu dikasih kesempatan berdua gak mau juga ajal dia bicara" Ahmad menggerutui dirinya sendiri.
Ahmad terpaksa mencari Viona sebelum menelfon ibu Heti.
"Maaf mas, apa lihat perempuan ini?" Tanya Ahmad kepada pekerja disamping gedung yang nanti jadi lokasi butik Viona.
"Dia kesana mas" tunjuk salah satu pekerja disitu.
"Makasih mas" Ucap Ahmad lalu pergi mengikuti arah yang ditunjuk pekerja tadi.
Ahmad terus jalan dan mentok menurut Ahmad pasti disini Viona yaitu dibengkel Ray.
Ahmad masuk dan bertanya kepada orang-orang yang kerja dibengkel itu.
"Maaf ganggu, apa Viona ada disini?" Tanyanya Ahmad.
"Yang biasa datang disini mas" Jelas Ahmad lagi.
"Gak lihat mas" Jawabnya bohong karena ia sudah diberi tahu oleh kepercayaan Ray kalau ada yang tanyakan Viona dirahasiakan saja.
"Oh makasih mas" Ucap Ahmad lalu pergi meninggalkan bengkel tersebut.
Ahmad kembali ke mobil dan memutuskan untuk menunggu sampai Viona kembali. Ia pulang pun pasti akan ditanya oleh ibu Heti.
Sedangkan Viona masih berada di ruang Ray.
"Ngapain kesini?" Tanya Ray dengan cuek.
"Salah aku kesini?" Tanya balik Viona dengan hati-hati dan pelan.
"Aku kira kamu sudah menikah, mana suamimu?"
"Haa, suami!" Ulang Viona.
Tiba-tiba ponsel Viona layarnya menyala tanda ada panggilan masuk.
"Waduh Ahmad lagi yang menelfon" Batin Viona.
"Angkat, berdosa abaikan calon suami" Ujar Ray lagi.
"Aa...mmm, tapi.." Ucap Viona terpotong oleh ucapan Ray.
"Angkat, jangan buat aku terlihat jahat dimata suamimu"
"Tapi masih menganggapku teman kan?" Tanya Viona, karena saat ini yang terpenting adalah memastikan hubungan pertemanan mereka.
"Iya, kembalilah suamimu pasti sudah menunggu" Ujar Ray lagi.
"Ray bukan kita impas saat ini, kamu pun ke Korea pergi untuk menikah, kenapa sekarang seakan-akan kamu yang paling tersakiti" Batin Viona sembari jalan meninggalkan ruangan Ray itu.
Ray duduk dikursi kebesarannya itu dengan wajah memerah menahan tangis diwajahnya.
"Menangislah.. air mata bukan tanda orang lemah" Ujar Gladis entah kapan ia sampai.
Ray kaget dengan mendengar suara Gladis dalam ruangannya.
"Sejak kapan kamu ada disitu?" Tanya Ray dengan wajah tidak bersahabat kepada Gladis.
"Ra, kenapa sih kamu seperti ini dulu kamu itu..."
__ADS_1
"Keluar, aku ingin sendiri" Potong Ray sembari menunjuk pintu ruangannya.
"Ok" Jawab Gladis dengan santai.
Dengan santai keluar dari ruangan itu, sambil berlenggak lenggok menuju parkiran mobilnya.
"Setidaknya Viona percaya kalau aku istri Ray" Ucapnya lalu masuk dalam mobil dengan senang.
Gladis kembali menelfon Gebi untuk merayakan kemenangan hari ini.
"Halo Geb, seperti biasa klub. Kita berhasil lagi" Ucap Gladis dalam telepon.
Diseberang telepon kegirangan mendengar itu, "Ok, ditunggu"
Gladis pulang dan terlebih dahulu singgah di toko tasnya terlebih dahulu. Untuk merayakan kebahagiaannya hari ini, ia langsung mengumumkan kalau lunch hari ini dia yang bayar.
Karyawannya semua senang, terutama orang kepercayaan Gladis terheran-heran dengan tingkah Gladis.
"Kenapa Gladis?" Tanyanya saking akrabnya dengan sang pemilik toko tas itu.
"Bu Tina, lagi berbagi kebahagiaan" Jawab Gladis sembari senyum, "para karyawan suka makan apa kalau siang?" Lanjutnya.
"Aku saja yang urus"
"Jangan bu" Larang Gladis, "pitza yaa" lanjutnya sembari izin.
"Ok" Jawab ibu Tina.
🌺
Tok tok
Viona mengetuk kaca mobil.
Ahmad bangun mendengar ketukan itu, perlahan ia buka matanya dan samar-samar melihat wajah takut Viona luar mobil.
"Astaga" Ujar Ahmad lalu keluar dari mobil.
Viona seketika luruh air matanya yang membuat Ahmad tambah panik.
Hiks hiks hiks..
"Vio kamu kenapa?" Tanya Ahmad dengan panik.
"Kamu jahat"
"Iya, aku minta maaf" Jawab Ahmad.
"Hua hua hua" Viona semakin menjadi karena ia tidak ingin Ahmad minta maaf.
"Masuk dalam mobil, boleh nangis kok kalau dalam mobil" Pinta Ahmad dengan lembut.
"Kenapa selembut itu" Batin Viona.
"Dilebarin" Mintanya pintu mobil dibuka lebih lebar lagi.
Ahmad menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat tingkah Viona, lucu dan menggemaskan. Viona tidak sadar kalau badannya itu mungil.
"Silahkan bidadari" Ujar Ahmad mencoba cairkan suasana.
"Gak suka" Ucapnya sambil menghentakkan kakinya.
Viona seketika sadar kalau tingkah lakunya seperti anak kecil, ia diam mengambil tisu dan lap air mata setelah berada dalam mobil.
"Ada air minum gak?" Tanya Viona.
Ahmad langsung mengambilkan satu botol Aqua yang berada di tempat duduk penumpang.
"Sudah?" Tanya Ahmad.
"Mad, apaan sih pakai suara lembut segala. Geli tuh aku dengarnya"
Ahmad langsung diam seketika, mendengar ucapan Viona.
"Aku antar pulang ya" Ujar Ahmad dan kembali diam.
"Ok" Jawab Viona. Ia belum sadar kalau Ahmad kembali memasang mode diam.
"Mad, gak ada niat apa ajak aku ke restoran makan eskrim?" Tanya Viona.
"Kurang tau stoknya masih ada atau sudah habis" Jawab Ahmad dengan malas.
"Gitu yaa, padahal aku pengen" Pancing Viona.
"Kan masih ada eskrim lain, selain direstoran"
"Kok gitu, gak biasanya nih kamu kayak gini. Mad masih marah sama aku?"
"Gak" Jawab Ahmad dengan memasang senyum terpaksa.
Pembicaraan keduanya berakhir sampai disitu, Viona maupun Ahmad dalam mobil kembali diam sampai rumah. Dirumah Viona, Ahmad bersuara saat pamit pulang kepada ibu Heti di gerbang rumah.
__ADS_1