
Rasa khawatir ibu Heti setelah Viona jatuh dan luka bagian siku dan kaki sehingga muncul pikiran untuk segera mempercepat pernikahan tanpa tunangan terlebih dahulu.
Ibu Heti sudah menunggu anaknya dimeja makan untuk sarapan pagi sebelum ke butik. Ia sudah membulatkan niatnya untuk menyampaikan rencananya itu kepada Viona.
"Mam, sudah lama nunggu?" Tanya Viona sambil menaruh tas samping lalu menyendok nasi goreng buatan ibunya itu.
Viona mengangkat piring nasi gorengnya dan mencium baunya, "buatan nasi goreng mama itu enak banget, baunya bikin Viona ingin makan dan makan. Pakai resep apa sih mam?" Puji Viona diakhiri dengan pertanyaan.
Ibu heti mendengar itu membuat hatinya bahagia. Salah satu kebahagiaan orang tua saat anaknya memuji masakannya.
"Mama, gak ada rencana ke butik?" Tanya Viona lagi sambil memasukkan nasi goreng dalam mulutnya.
"Rencana ada tapi nanti dilihat" Jawab ibu Heti.
"Oh" Jawaban Viona bersamaan dengan menganggukkan kepala tanda ia mengerti.
Viona kembali menatap ibunya itu. Ia rasa ibunya seperti ada yang ingin dia sampaikan.
"Mama mau bicara apa sama Viona?" Tanya Viona untuk kesekian kalinya.
"Boleh gak mama minta satu permintaan?" Tanya balik ibu Heti.
Viona menaikkan sebelah alisnya, dengan santai menjawab, "boleh dong mam, mau minta apa sama Vio?" Tanya Viona dengan serius kali ini.
"Mama minta segera menikah dengan Ahmad"
Degg...
"Mama bercanda kan?"
Viona tidak percaya dengan permintaan ibunya pagi ini. Ia menggeser piring nasi gorengnya ke samping dan minum tanda mengakhiri sarapannya.
"Mam, Viona baru saja punya butik dan baru juga menikmati namanya orang kerja" Ujar Viona dengan menatap ibunya itu.
"Tapi mama khawatir Vio, apa luka siku dan kakimu karena jatuh itu sudah sembuh?"
Viona senyum sembari menggelengkan kepala.
"Lagian kenapa gak hati-hati dijalan, sampai jatuh lagi. Untung ada Ahmad yang tolong"
Viona diam mendengar ucapan ibunya kali. Ia sengaja tidak cerita kepada ibunya kejadian yang sebenarnya agar ibunya tidak khawatir ternyata malah niat untuk dinikahkan cepat.
"Viona akan lebih hati-hati kok sekarang" jawab Viona dengan pelan.
"Mama ingat omonganmu, kalau jatuh lagi mama langsung telfon Ahmad"
"Untuk?"
Viona bingung dengan ucapan ibunya.
"Lamar kamu, biar ke butik nanti Ahmad antar jemput"
"Dia sibuk mam, jadi mana mungkin. Orang sibuk mam, contohnya saja mau dijodohkan, itu tandanya tidak ada waktu cari calon istri" Jelas Viona dengan penuh percaya diri.
"Sudah tanya Ahmad kalau dia tidak cari calon istri sebelumnya?"
"Nanti aku tanya mam, yang penting sekarang aku ke butik. Assalamualaikum" pamit Viona lal cium tangan ibunya.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati" Ibu Heti mewanti-wanti putri bungsunya.
"Iya" Jawab Viona.
Perjalanan dari rumah ke butik seperti biasanya Viona membawa motornya dengan santai. Ia berinisiatif untuk ke bengkel Ray terlebih dahulu sebelum ke butik. Tidak membutuhkan waktu lama, Viona sampai bengkel Ray.
Standar motor dan masuk dalam bengkel. Viona langsung disapa oleh karyawan bengkel Ray itu dengan hangat.
"Mbak Viona tumben kesini, ada apa?" Tanya orang kepercayaan Ray.
"Datang saja pak, emang gak boleh ya?" Tanya balik Viona lagi.
"Boleh mbak. Bos kami tidak melarang mbak datang disini, jadi kami tidak punya hak melarang mbak Viona" Jelasnya diangguki paham oleh Viona sembari ia senyum.
"Terima kasih ya" Ucap Viona dengan tulus.
"Silahkan duduk mbak" Karyawan lain mempersilahkan Viona untuk duduk.
"Iya"
Viona duduk dikursi depan sambil melihat orang yang memperbaiki motor. ia terus melihat mereka, membuatnya lupa dengan butik sendiri.
"Bos kalian gak pernah datang?" Tanya Viona penasaran, karena sudah lama tidak melihat Ray dan nomornya pun tidak aktif.
Dengan santai Gladis masuk dan ikut nimbrung yang entah kapan sampai, tidak ada yang menyadari kedatangannya.
"Maaf ya, saya hanya menyampaikan sesuatu hal tentang bos kalian, ini" Ungkap Gladis.
Viona dengan ragu menerima sejenis amplop tapi bukan amplop, melainkan undangan.
"Oh" Viona kaget dan seketika mulutnya membentuk huruf O .
"Datang yaa" Ujar Gladis lagi.
__ADS_1
"Aku pasti datang, hari bahagia harus dirayakan" Ungkapan bibir Viona namun hatinya merasa perih.
Ia membuka isi undangan tersebut, penasaran ternyata undangan khusus dari orang tua Ray.
"Mami Ray yang undang?" Tanya Viona memastikan sambil memperlihatkan isi undangan tersebut.
"Seperti yang kamu baca, jadi dijemput atau gimana?" tanya Gladis lagi.
"Gak perlu, pasti aku datang" Jawab Viona.
"Ok" Ucap Gladis lagi, "Pekerjaannya sudah selesai semua, Ra menelfon akan datang cek bengkelnya" Lanjut Gladis kepada karyawan bengkel Ray.
"Maaf kalau boleh tau, Ray kapan kesini?" Tanya Viona dengan hati-hati.
"Gak ditelepon sama Ra?" Tanya Gladis kepada Viona.
"Gak, makanya aku tanya"
"Sepertinya Ra menjaga hati istrinya, jadi nanti aku kabari kalau Ra kesini, mau titip salam?, Soalnya aku akan pulang sekarang" Ujar Gladis.
"Salam sahabat aja"
Ucapan Viona hanya dibalas seulas senyum oleh Gladis, lalu ia pergi meninggalkan bengkel begitu saja.
Viona hanya menatap kepergian Gladis dengan wajah murung, ia merasa Ray begitu menghindarinya.
Viona duduk diam dikursi, sampai ada salah satu karyawan bengkel menyadarkan dari lamunannya.
"Mbak Viona jangan terlalu percaya dengan omongan mbak Gladis, dia suka ngasal mbak, hehehe" Ujarnya membuat Viona senyum terpaksa.
"Gak apa-apa" Jawabnya, "astaghfirullah butik" Sambungnya dalam hati.
"Makasih ya, aku pamit dulu" Viona pamit.
🌺
Ray dengan kedua orang tuanya baru sampai bandara. Sebagai sahabat yang baik maka Alan yang jemput mereka. Ray dengan kopernya begitupun Papi dan Maminya.
Alan melambaikan tangan setelah melihat sahabatnya.
"Ra" panggilnya dan menghampiri sahabatnya itu.
"Selamat datang kembali ke Indonesia om, Tante" lanjut Alan lalu berjabatan tangan dengan Mami dan Papi Ray.
"Mana mobil mu Lan?" Tanya Ray to the point.
"Diparkiran lah, masa masuk ruang tunggu bawa mobil" Jawaban Alan itu membuat Papi Ray tertawa.
"Benar jawabanmu anak muda" timpal Papi Ray.
Waktu yang ditempuh dari bandara ke rumah Ray cukup lama karena jarak rumahnya cukup jauh.
Mobil Alan pun terparkir indah dihalaman rumah Ray. Mereka turun dan membawa koper masuk dalam rumah, kali ini yang lalukan hanya Ray dan Alan.
Seperti biasa, yang rawat rumah orang tua Ray itu sudah menyediakan menu makan untuk majikannya itu.
Mereka memutuskan untuk makan dulu sebelum lanjut istrahat. Sedangkan Alan tidak ingin mengganggu waktu istirahat keluarga sahabatnya maka selesai makan langsung pamit pulang.
Ray setelah selesai makan, mereka memutuskan untuk bersantai dengan rencana beraktivitas kembali diesok hari.
Waktu yang terus berputar, semua penghuni bumi saat ini berada sudah dirumah masing-masing, berbeda dengan pengusaha belum tentu ada dirumah dengan waktu yang sama, terutama Viona seperti biasa pulang dari butik pukul 10 malam.
Ray yang berada dikediamannya di Indonesia pikirannya hanya seputar Viona.
"Bagaimana aku belajar melupakan jika kenangan-kenangannya itu ada disini" Batin Ray.
Sedangkan Alan, sebagai teman yang baik menelfon temannya.
"Halo Ra, apa kabar?" Tanya Alan dalam telepon itu.
"Baik, kenapa?" Tanya balik Ray dalam telepon.
"Udah beritahu Viona kalau sudah ada di Indonesia sekarang?"
"Untuk apa?"
Alan sedikit mengerutkan keningnya, ia tidak menyangka bahasa itu keluar dari mulut Ray.
"Pasti rindukan sama Viona?" Tanya Alan lagi.
"Gak, kata siapa? Jangan suka ngarang Lan. Besok kita ketemu di bengkel ya, by" Jawab Ray sekaligus menutup telepon.
Alan diseberang telepon hanya melihat layar hpnya, "dasar"
Alan merasa aneh dengan Ray yang begitu cuek membahas Viona.
"Apa mereka punya masalah, tapi masa iya?, Aku lihat biasa aja tuh mereka berdua" Gumam Alan.
Ray istrahat dikamar namun pikirannya melalang buana. Memikirkan Viona yang sampai saat ini belum biasa ia lupakan.
"Sadar, Viona itu sudah jadi istri orang lain" Batin Ray sambil merebahkan badannya berbantalkan lengannya sambil menatap keatas.
__ADS_1
Ray seakan betah dalam kamarnya, sampai yang ketuk pintu pun ia abaikan begitu saja. Ketukan pintu yang awalnya pelan sekarang malah lebih sering dan bunyinya makin keras.
"Siapa sih?"
Bangkit dari tempat tidur membuka pintu yang sengaja Ray kunci dari dalam.
Ekspresi Ray berubah jadi datar melihat Gladis dan Maminya didepan pintu kamarnya.
"Ada apa Mi?" Tanya Ray.
"Gladis bawa kue kesukaanmu, ayo makan dulu" Ajaknya.
Ray mengalihkan tatapannya kepada Gladis, tanpa ekspresi pun Ray menjawab dengan begitu menohok ditelinga.
"Aku gak minta bawa kue, lagian aku kenyang"
"Lex" panggil Maminya.
Ray menatap Maminya lagi, "Mi, Alex itu gak suka makan kue sekarang, lagi diet" Jawabnya asal lalu menutup pintu kamarnya.
"Eitss" Pintu itu ditahan oleh Maminya.
"Kasian dong Gladis udah jauh-jauh datang kesini, tapi kamu gak sambut"
Ray mendengar itu hanya tersenyum kecut sambil menaikkan alisnya.
"Mami yakin?" Tanya Ray lagi.
"Iya, sudahlah Lex Gladis itu sudah susah-susah buat kue untuk kamu tapi malah gak di hargai"
"Oh, mana kuenya" Jawab Ray dengan dingin dan pergi meninggalkan Mami dan gladis yang masih berada didepan pintu kamarnya.
"Gak sopan" gumam maminya.
Gladis mendengar itu langsung memanas-manasi Mami Ray.
"Kok Ra setelah mengenal Viona jadi gak sopan sama orang tuanya, aku rasa Ra berubah" Pancingnya.
Mami Ray mendengar itu, makin benci Viona. Ia tersenyum sinis tapi itu bukan untuk Gladis melainkan untuk Viona.
"Aku kira wanita baik-baik" Ujarnya.
"Tante orang yang terlihat baik belum tentu baik begitupun sebaliknya, kita gak boleh tertipu dengan apa yang kita lihat" Ujar Gladis.
"Benar kata kamu, apa udah undang orang-orang yang Mami minta?" Tanya Mami Ray lagi kepada Gladis.
"Beres Tan" Jawab Gladis dengan semangat dan senyum disudut bibirnya.
"Sebentar lagi kamu akan jadi milikku Ra, selamanya" Batin Gladis.
"Gimana?" Tanya Gladis kepada Ray setelah sampai meja dimana kue itu disajikan.
Ray dengan jujur menjawab pertanyaan itu, "benar buatan kamu?"
"Iya"
"Tidak buruk" Respon Ray dan pergi berlalu begitu saja.
Percakapan itu Gladis sengaja rekam untuk ia kirim kepada Viona nanti, meskipun ia belum memiliki nomornya tapi Gebi sudah memiliki nomor kontak Viona.
"Tan, sepertinya aku pulang dulu" Pamit Gladis lalu cupaki-cupiki dengan Mami Ray.
Respon Ray yang begitu dingin kepada Ray membuat Maminya marah kepada putranya itu. Namun, yang kena bukan hanya Ray melainkan Viona juga. Rupanya Mami Ray benar-benar sudah termakan omongan Gladis.
Mami Ray kembali mengetuk pintu kamar putranya itu.
"Mami ya?" Tanya Ray.
"Iya"
"Masuk Mi" Ujarnya mempersilahkan Maminya masuk dalam kamarnya.
Mami Ray masuk mendapati anaknya sedang baring-baring diatas tempat tidur. Maminya duduk dibibir ranjang.
"Lex, Mami pingin kamu menikah secepatnya" Ujarnya.
Ray yang awalnya memperhatikan hpnya langsung teralihkan dati ucapan Maminya itu.
"Mi, aku belum bisa janji saat ini"
"Mami udah ada calon untuk kamu"
"Seperti Viona gak?" Pancing Ray kali ini.
Seketika wajah maminya berubah, ada amarah disana tapi ia kontrol agar terlihat biasa.
"Sebaik apa Viona sehingga mampu mengalihkan pandanganmu kepada perempuan lain?, Mami makin penasaran dengan Viona yang sekarang sudah pakai kerudung itu" Ujarnya.
"Jangan salah mi, nanti pangling. Makin cantik" Puji Ray lagi.
"Bagi Mami, lebih cantik calon kamu. Kita lihat nanti, sepertinya Mami pengen istrahat" Ujarnya lalu ia pergi.
__ADS_1
Kalimat itu menyisakan tanda tanya dalam hati Ray. Ia bingung dengan maminya, selama ini ia rasa maminya tidak pernah membenci orang sedalam itu.
"Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" Ray bertanya-tanya dalam hati.