
Dikediaman Gladis. Malam ini mereka pesta ria sambil minum minuman beralkohol, tidak heran jika Gebi dan Gladis bicara ngawur. Sedangkan Edwan dan Hendra tepar diatas sofa. Kesadaran mereka dibawah pengaruh alkohol.
"Dis, aku suka seseorang" Ujar Gebi.
"Siapa?"
"Namanya.. " Jawabnya ia tidak selesaikan langsung tertidur.
"Namanya?" Tanya Gladis lagi, "Tidur rupanya" lanjutnya.
Beberapa saat mereka diam, tiba-tiba Gladis teringat dengan Edwan yang babak belur.
"Wan, badannya masih sakit gak?" Tanya Gladis.
Edwan membuka mata yang hampir terpejam, ia bangun dan bersandar di sofa.
"Sedikit, hanya butuh sentuhan langsung sembuh" Jawabnya.
Gladis langsung tertawa lucu mendengar kalimat dari Edwan.
"Kenapa?" Tanya Edwan, "Bukan ini tujuannya diundang kesini?" Tanyanya lagi.
"Kata siapa?, Aku undang hanya untuk menanyakan keadaanmu."
"Bohong, mana bisa seperti itu" Edwan tidak terima, ia sudah babak belur ternyata hanya dipermainkan oleh Gladis.
"Gaji aku dibawah Gebi, karena aku tau ada bonus lain" Lanjut Edwan.
"Edwan.. Edwan.. Jangan diambil hati dong hal yang seperti itu. Aku mau ke kamar, bangunin tuh Gebi sudah tengah malam ini" Ujar Gladis dan bangkit dari duduknya dengan sempoyongan.
Edwan melihat Gladis oleng, seketika berdiri hendak membantu Gladis dengan memegang lengannya.
Gladis menepis tangan Edwan sembari berkata, "Gak perlu, jauhkan tanganmu"
"Waow, jijik dengan tanganku tapi menikmati sentuhanku" Ujar Edwan dengan senyum merendahkan. Kalimat terakhir dari Gladis membuatnya sakit hati.
"Aku masih mampu mencerna setiap kalimatmu meskipun aku mabuk" Lanjutnya.
Gladis membalikkan badan, lalu menunjuk Edwan.
"Jaga omonganmu Edwan."
Edwan hanya menaikkan sebelah alisnya lalu menjauh dari Gladis. Edwan memilih untuk membangunkan Gebi dan Hendra lalu mereka pulang.
Sementara Gladis, setelah sampai kamar langsung membuang diri begitu saja tanpa bersih-bersih terlebih dahulu.
"Ra.. aku cinta kamu, Ra" Gumamnya lalu ia tertidur.
🌺
Jam 1 Siang
Viona kali ini sudah mulai tenang berada di butiknya setelah kejadian Tono dan Iwan memukul seorang laki-laki yang tidak dikenal, tapi yang anehnya Gebi pun ikut hilang begitu saja. Bagai ditelan bumi. Viona melayani pembeli tanpa rasa takut lagi.
"Maaf mbak Viona, gimana udah ada calon apa belum nih?" Tanya ibu tersebut.
Viona senyum terlebih dahulu, "mmm.. gimana ya bu. Tidak tau jawab apa."
"Gampang, tinggal jawab sudah ada atau belum" Ujarnya lagi sembari memilih gamis.
"Ada sih sebenernya, tapi.." Jawaban Viona tiba-tiba dipotong ibu tersebut.
"Cocok dengan anak ibu" Ujarnya sembari bertepuk tangan, "Menang anak muda sekarang jawabannya suka aneh" Sambungnya sembari geleng kepala.
Viona mendengar itu bingung dan lucu campur jadi satu, ia ikut geleng kepala melihat tingkah ibu-ibu yang suka menanyakan dirinya tentang jodoh.
__ADS_1
"Memang agak aneh juga ibu-ibu sekarang" Batinnya.
"Nak Viona, ibu mau ambil ini tapi warna putih" Tunjuknya jatuh kepada abaya warna putih.
"Pilihan ibu memang tidak pernah salah, cantik ini" Puji Viona.
"Iya, harus cantik dong, nanti proses lamaran rencana pakai ini" Jawaban itu membuat Viona seketika berhenti sejenak dari aktivitasnya.
"Lamaran" Ulang Viona lalu menoleh kesamping dimana ibu tersebut berada.
Ibu itu seketika mengusap lengan Viona layaknya seorang ibu. Dengan tatapan lembutnya berkata, "Iya, melamar nak Viona!."
"Ternyata, ibu suka juga bercanda"
Viona mengalihkan pembicaraan, meskipun ia kurang percaya tapi bahasa itu mengganggu pikirannya.
"Langsung saya bawa dikasir atau masih ada yang mau dibeli?, Mungkin kerudung yang cocok dengan Abayanya" Tawar Viona.
Ibu tersebut merespon dengan berlebihan, "Ya Allah nak Viona, perhatian banget baru melayani ibu beli baju belum jadi mantu."
Viona hanya menanggapi dengan senyum, bukan tidak mau menjawab tapi sang ibu makin jadi bahasanya.
"Jadi gimana bu?" Tanya Viona lagi.
"Terserah nak Viona saja" Jawabnya dengan santai, "Menurut nak Viona, sekaligus beli dengan kerudungnya atau Abaya saja dulu?" Sambungnya.
"Kalau menurut saya ya bu, beli dengan kerudung malah tambah senang" Jawaban polos Viona membuat ibu tersebut tertawa.
"Yang seperti ini, ibu cari." Tuturnya membuat Viona ingin kabur sejenak dari ibu tersebut.
"Ibu udah fix beli kerudung warna putih saja, ingin senada dengan abayanya" Tuturnya lalu menuju kasir.
Viona pun mengambilkan kerudung warna putih seperti yang ibu itu minta lalu ke kasir. Setelah melakukan transaksi ibu tersebut pergi.
"Alhamdulillah, ya Allah. Selamat aku" Gumam Viona sambil mengusap dada.
"Astaghfirullah, Mad. Bikin kaget deh. Ada apa?"
"Bisa bicara sebentar?" Tanya Ahmad dengan serius.
"Ini udah bicara Mad" Jawab Viona sembari merapikan meja kasirnya, "Mau bicara apa?"
"Maksud aku, kita duduk disana" Tunjuk Ahmad disebuah kursi panjang butik, "Bisa?"
Viona menatap mata Ahmad mencari candaan disana, tapi ia tidak menemukannya.
"Mmm.. Iya, duluan"
Ahmad jalan menuju kursi panjang diikuti oleh Viona. Keduanya duduk. Ahmad seketika gugup untuk mengeluarkan kata-katanya.
"Tapi jangan kaget yaa" Ujarnya setelah mampu meredam rasa gugupnya.
"In syaa allah. Makanya apa?, supaya aku gak deg-degan" Jawaban jujur Viona membuat Ahmad seketika tersenyum.
"Kamulah penyemangatku Vio" Batinnya.
Ahmad menghela napas dan menghembuskannya dengan pelan, Viona yang melihat itu langsung ketawa.
"Mad, ini bicaranya dengan aku, sahabatmu sendiri. Aneh kayak sidang skripsi saja" Ujar Viona diakhir kalimatnya ia pelankan karena campur ketawa.
"Saya izin datang di rumahmu minggu ini, bisa?" Tanya Ahmad penuh harap kalau jawabnya di iya kan.
"Bukan selama ini datang, tinggal datang saja. Kenapa sekarang harus minta izin?"
Viona masih belum konek maksud dari kata-kata Ahmad itu.
__ADS_1
"Aku datang bukan sebagai sahabat, tapi sebagai calon suamimu" Ujar Ahmad membuat Viona yang mendengar itu langsung berdiri dari duduknya.
"Mad, bukannya kita ini.." Ucapan itu Viona tidak lanjutkan dengan tatapan berkaca-kaca, "sahabat" Lanjutnya.
"Vio, izinkan aku melangkah menuju mu lebih dari sahabat" Pinta Ahmad.
Viona diam sejenak dan menghapus air matanya.
"Mad" panggil Viona.
"Gak apa kalau belum siap. Gimana butiknya?"
Ahmad mengalihkan pembicaraan, ia bangkit dari kursinya.
"Terlalu empuk kursi panjangnya" Kilah Ahmad dan keliling butik.
Sejujurnya saat ini hatinya sedikit kecewa setelah melihat ekspresi Viona, bukan senang malah menangis. Meskipun menangisnya seorang perempuan kadang tanda bahagia dan kadang kala juga sedih. Namun kenyataanya, air mata Viona jauh dari bahagia melainkan hasil ekspresi kaget dari dalam dirinya.
🌺
Sementara Ray dirumah seharian, ia sedang disidang oleh orang tuanya.
"Mi, apa gak bisa hari ini ke bengkel?" Tanya Ray sudah mulai pasrah.
"Gak bisa, kalau masih ketemu Viona. Bengkel itu harus dijual" Tegas Mami Ray.
"Mam, gak bisa kayak gitu. Aku bangun dengan susah paya, setelah itu aku jual. Bagaimana nasib karyawan aku, Alex sudah menganggap mereka keluarga sendiri" Ray mengeluarkan suara ketidak setujuannya.
"Mami mu hanya tidak ingin kamu sering bertemu dengan Viona, sudah-sudah berhubungan dengan Viona" Timpal Papi Ray, meskipun disampaikan dengan lembut tapi mampu menusuk hati Ray.
Ray menghela napas, tidak ada solusi dan malah tambah runyam.
"Mami ingin segera kamu menikah dengan Gladis" Ujar Maminya.
"Mi, aku tidak cinta sama Gladis, setelah penghianatan yang dia lakukan" Ray tidak terima kalau harus kembali pada mantan kekasihnya itu.
"Itu dulu bukan sekarang, Mami rasa Gladis itu sudah berubah"
"Kata siapa Mi?, Alex gak yakin" Ujar Ray lagi kepada Maminya.
"Lex, Mami itu hanya menginginkan yang terbaik untuk hidupmu" Timpal Papi Ray.
"Tapi bukan dengan cara dijodohkan dengan wanita yang Alex tidak suka, Mi" Jelas Alex, "Maaf, bukan tidak nurut sama Mami dan Papi tapi ini masalah kebahagiaan Alex sendiri dimana yang tau itu diri Alex sendiri" Lanjutnya.
Mami Ray yang awalnya duduk di kursi sekarang berdiri sambil bertolak pinggang.
"Sekarang kamu sudah berubah, semenjak berteman dengan Viona. Dia bukan wanita baik-baik, Alex"
"Mi, dulu dipuji-puji" Ray mencoba mengingatkan ibunya itu. Ia tidak menyangka Maminya akan berkata seperti itu.
"Benar apa yang diucapkan oleh Mami, Ray. Mamimu gak mungkin bilang seperti itu kalau tidak lihat secara langsung" Pungkasnya.
"Pokoknya, Mami akan telepon orang tua Gladis untuk menyampaikan niat baik ini, sebelum ke Korea" Ucapan itu lalu pergi menuju kamar mengambil gadgetnya.
Ray langsung memohon kepada Papinya, minta bantuan.
"Pi, aku gak tau lagi harus gimana menghadapi Mami. Tolong Alex, Pi"
Papi Ray menepuk pundak putranya, "Kami bukan tidak sayang, hanya Papi dan Mami tidak ingin kamu salah pilih. Semoga kamu mengerti nak" Ujarnya lalu pergi.
"Lex, satu lagi Papi minta. Hargai keputusan Mami ya" Lanjutnya.
Seketika Alex menunduk sambil meremas tangannya dengan kuat. Marah, tapi tidak mungkin sama kedua orang tuanya.
"Akh" Meluahkan emosinya dan melayangkan tinjunya dibantal sofa.
__ADS_1
Ia meriah kunci motor yang berada diatas meja dan menyambar jaketnya yang berada disandaran sofa. Memutuskan untuk keluar mencari angin segar, salah satu cara menenangkan pikiran bagi Ray.