
"Kok tega sama aku Mad?" Tanya Viona.
Viona jengkel sama Ahmad, kenapa harus ketahuan baru minta maaf. Selama ini sangat percaya pada temannya itu, tapi kenapa ia bohong tentang restorannya.
"Jadi pelayan selama ini?, Jujur aku jengkel sama kamu Mad" Ujar Viona lagi.
"Tunggu dulu Ahmad dong dia jelaskan" Ucap ibu Heti kepada anaknya itu.
Viona membuang muka disamping.
"Lanjut" Ujar Viona.
Ahmad melihat Viona sekilas lalu melanjutkan kalimatnya.
"Tidak ada niat mau berbohong sebenarnya.." Ujar Ahmad yang dipotong langsung oleh Viona.
"Tapi bohong kan akhirnya?, Sudah lah mam, dia minta maaf karena ketahuan sama mama" Potong Viona panjang lebar seakan tidak bernapas.
"Viona, jangan potong dulu ucapan Ahmad biarkan dia jelaskan semuanya" Ibu Heti mengingatkan anaknya itu.
"Iya mam" Jawab Viona melembut.
Ahmad pun lanjut cerita lagi.
"Kenapa aku tidak mengaku pemilik restoran ini, karena Viona kalau makan pasti bayar" Ujar Ahmad.
"Hehehe, Mad dimana-mana makan direstoran pasti bayar lah, emang kamu beli bahan-bahan makanan pakai daun" Jelas Viona lagi.
"Vio, istighfar" Ibu Heti kembali mengingatkan putrinya itu.
Viona langsung memejamkan mata sembari dalam hati istighfar.
"Lanjut nak" Ujar Ibu Heti kepada Ahmad.
"Jujur tan tidak ada niat untuk berbohong, hanya saja saya ingin Viona datang makan eskrim direstoran ini dengan gratis"
"Mad, biar apa? Aku masih mampu bayar, karena aku belum kerja?, Tenang Mad, makan diluar berarti aku mampu. Aku tidak suka dikasihani" Jujur Viona.
Ahmad merasa Viona salah paham saat ini, sedangkan dia tidak tau kalau Viona belum kerja saat ini.
"Tidak ada pikiran aku seperti itu Viona, karena kamu teman aku, makanya sengaja aku gratisin. Itu saja gak lebih" Jelas Ahmad lagi mencoba meyakinkan Viona.
"Mama mengerti, mama juga dulu suka ditraktir sama teman sendiri" Ujar ibu Heti mencoba mencairkan suasana.
"Tante juga kayak gitu. Hanya Viona yang marah tan kalau punya teman yang suka traktir" Ujar Ahmad lagi sembari senyum.
"Tapi itu menurut aku aneh Mad, pakai diundi segala lagi, tau gak aku semangat makan eskrim kadang karena ingat nomor aku akan diundi, ternyata kamu yang atur semua" Jelas Viona, "mana nomor undian aku itu saya kasih ke kamu lagi" Sambungnya membuat Viona makin kesal karena merasa dibohongi.
"Bagus dong" Timpal ibu Heti.
"Bisa sajakan yang punya nomor undian itu, hanya nomorku saja" Jelas Viona lagi.
"Emang" Jawab Ahmad dengan cepat.
"Benar kan, kenapa sih Mad?" Tanya Viona lagi setelah mendengar pengakuan kedua.
"Karena saya ingin kamu datang tiap hari ke restoran ini" Jawab Ahmad.
Ahmad sudah malas pusing dengan penilaian ibu Heti padanya, toh ujung-ujungnya akan ditau juga.
Viona tertawa lucu, "hahaha, Mad tadi membuat saya kesal dan sangat kesal. Sekarang ingin ngelawak supaya aku tertawa?"
"Vio" panggil Ibu Heti lagi.
"Kenapa malah aku yang mengerti dibandingkan anak ini" Batin Ibu Heti.
"Bukan seperti itu" Ujar Ahmad lagi, ia pun bingung cara menjelaskannya.
"Sudah Mad, aku sudah tau ini restoran mu dan aku tidak mau ada pelayanan yang berlebihan, satu lagi undian. Nomor undian itu buang saja" Ujar Viona malas memperpanjang masalah.
Ahmad hanya diam mendengar ucapan Viona, ia rasa pelayanannya selama ini masih dalam hal wajar meskipun ada sedikit berbeda dengan yang lain, tapi itu menurutnya tidak masalah.
__ADS_1
"Maaf nih Tante dan Viona" Ucap Ahmad sambil mengatupkan kedua tangannya.
Ada rasa kecewa dalam hati Ahmad mendengar ucapan Viona tentang undian, jika memang tidak suka apa tidak ada kalimat yang lebih menghargai selain kata buang.
"Iya, nanti aku buang nomor undian itu" Ujar Ahmad lagi sembari senyum terpaksa.
"Gitu dong Mad, teman baikku" Puji Viona yang direspon senyum terpaksa oleh Ahmad.
Ahmad bertahan ditempat itu hanya karena menghargai Ibu Heti dan Viona sebagai teman lamanya.
"Nak Ahmad, eskrimnya enak lho. Apa gak ada cabangnya?" Tanya Ibu Heti, ia ingin tidak membahas lagi tentang restoran.
"Belum kepikiran, lagian itu hanya coba-coba saja" Jawab asal Ahmad lagi. Ia pun kepikiran tidak akan ada lagi eskrim di restorannya mulai hari ini.
"Kok coba-cobanya enak Mad, parah enak banget" Puji Viona.
"Nanti dipikirkan" Jawab Ahmad lagi, "hmm, sepertinya aku harus pergi, ada urusan" Sambungnya sembari melihat jam tangannya.
"Assalamualaikum" Ujar Ahmad lagi.
"Wa'alaikumussalam" Jawab Viona dan ibunya bersamaan.
Setelah Ahmad pergi, Viona pun mengajak ibunya untuk pulang juga.
"Mam kita pulang, udah lama juga disini" Ujar Viona.
"Ok" Jawaban singkat dari ibunya.
Mereka ke kasir sebelum keluar dari restoran itu.
"Berapa mbak semuanya?" Tanya Viona, karena ia sudah tau selama ini hanya akal-akalan Ahmad, makanya sekarang tanpa tunggu waiter datang ia langsung ke kasir.
"Katanya pak Ahmad, tidak perlu mbak. Ucapan terima kasih pak Ahmad sudah datang di restorannya lagi setelah lama tidak datang" Penjelasan kasir itu membuat ia tidak enak kepada Ahmad.
"Terima kasih kalau begitupun, permisi" Ujar Viona dan pergi menghampiri ibunya dan pulang.
🌺
"Allah.. Allah.. Allah" Itu yang selalu terngiang-ngiang di kepala Ray.
"Apa Alan dapat membantu ku" batinnya.
Ray menghubungi Alan.
"Hallo bro, apa kabar?" Tanya Ray dalam telepon.
Alan yang memantau kinerja karyawan di restorannya itu mendengar pertanyaan sahabatnya langsung ketawa terlebih dahulu.
"Baik bro. Kamu apa kabar? Datang di restoran ku nanti aku kasih harga miring" Ujar Alan ditelepon itu.
"Kirain gratis ternyata hanya miring" Ucap Ray lagi, "ehh Alan aku tanya, siapa Allah?" Tanya Ray membuat Alan seketika terhenti ketawanya dalam telepon.
"Aku duduk dulu" Ucap Alan dalam telepon itu dan terdengar suara tarikan kursi.
"Allah itu yang menciptakan dunia dan seisinya, emang kenapa?, Tumben bertanya seperti itu, gak biasanya" Terdengar jelas kalau Alan heran dengan sahabatnya ini.
"Gak tau, itu selalu muncul di kepalaku lan" Jawaban jujur dari Ray itu dianggap bercanda oleh Alan.
"Bilang aja, diam-diam belajar islam" Ucap Alan lagi dalam telepon.
"Tidak ada niat sedikit pun, aku juga punya Tuhan Lan" Ray membela dirinya.
"Hmm, bro kalau mau login berkabar saja, hehehe bercanda bro jangan diambil hati" Ujar Alan lagi kepada sahabatnya itu.
"Lan, kenapa tidak pernah bilang kalau diagamamu dilarang pacaran?" Tanya Ray lagi.
"Bro, aneh saja aku berkoar-koar melarang orang pacaran tapi aku sendiri menjalaninya" Jelas Alan lagi ditelepon itu.
"Jangan pacaran, cinta Allah tapi melakukan hal yang tidak disukainya" Ucap Ray membuat Alan diam seketika.
Kalimat Ray kali ini membuat Alan yang banyak bicara langsung diam tidak berkutik.
__ADS_1
"Sebenarnya Ray" Jawab Alan singkat.
"Kalau mabuk?" Tanya Ray lagi.
Alan kembali diam, ia sudah tau menjelaskan bagaimana pun tetap kena dirinya.
"Gak boleh Ra" Jawab Alan singkat lagi dan ia diam takut Ray bertanya kembali.
"Mabuk gak boleh tapi kamu pernah mabuk dan masuk club juga" Ujar Ray lagi, ia masih ingat Alan masuk club dan ia minta dijemput di club tersebut.
"Tujuan menelepon sebenarnya apa Ra?" Tanya Alan. Ia sudah tidak ingin ditanya lagi.
"Muhammad siapa?" Tanya Ray lagi.
"Nabi kami, yaitu nabi Muhammad saw" Jawab Alan. Alan mengambil jalan pintas agar tidak ditanya lagi.
"Gini aja Ra dengar baik-baik ya" Ucap Alan ditelepon dengan serius, "dan ini tidak akan aku ulangi"
"Iya, cepat apa?" Tanya Ray penasaran dan siap mendengarkan apa yang disampaikan oleh sahabatnya itu.
"Tuhanku adalah Allah, nabiku itu nabi Muhamad saw, kitabku Al-Qur'an dan kiblatku Ka'bah, agamaku islam, saudaraku muslim" Jelas Alan lagi, "kok aku kayak ditanya malaikat mungkar dan nakir" sambungnya heran dengan dirinya sendiri.
Ray kembali penasaran, "malaikat mungkar dan nakir" ulang Ray yang terdengar jelas ditelinga Alan.
Alan mengusap kasar wajahnya, "gak kelar nih pertanyaan" Batinnya.
"Ra, aku sibuk. Kalau masih ada yang ditanyakan nanti aku antar diustadz aja ya takutnya aku salah menjelaskan bro" Ujar Alan dengan pelan, ia takut akan melukai hati sahabatnya itu karena ia sendiri tidak tau mungkin saja Ray membutuhkan jawaban setiap pertanyaan diseputar islam.
"Iya Lan, semangat kerja. Kapan-kapan datang dibengkel" Ucap Ray ditelepon itu.
"Pasti, assalamualaikum" Ucap Alan tidak sengaja, "ehh, maaf" Alan meralat ucapannya itu dengan cepat.
"Tidak masalah, aku tau jawabannya wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Ray yang membuat Alan kaget seketika.
"Lengkap pula jawabnya, belajar dari mana?" Tanya Alan penasaran dan curiga.
"Google, dan aku baru tau ternyata salam itu mendoakan orang Lan" Jawab Ray dengan penuh percaya diri.
"Iya, ternyata jiwa penasaranmu melebihi yang aku pikirkan Ra, by" Ucap Alan lalu mematikan sambungan telepon.
Setelah putus sambungan telepon keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Ray dibengkel dan Alan di restorannya.
Ray kesehariannya hanya dibengkel, memantau kinerja anak buahnya. Meskipun orang tuanya selalu memanggilnya ke Korea untuk melanjutkan bisnis Papinya tapi Ray selalu menolak.
Papinya tidak mau memaksakan kehendak sendiri untuk saat ini, karena sesuai perjanjian mereka setelah menikah siap atau tidak perusahaan Papinya akan Ray sendiri yang tangani.
Masih duduk di kursinya ponsel Ray kembali bergetar.
"Mami" Gumamnya.
"Halo Mi, apa kabar?" Tanya Ray ditelepon.
Mami Ray mendengar itu langsung senyum, "baik dong sayang, Mami mau ke indonesia bertemu dengan orang tua Viona" Ucapnya.
"Mi, gak bilang sama Alex sebelumnya"
"Kelamaan nunggu kamu" Jawab Mami Ray lagi ditelepon.
"Butuh proses Mi, aku sudah ke rumahnya kok" Ucap Ray memberitahu Maminya.
"Really sayang?, emang anak mami ini pemberani" puji Maminya diseberang telepon.
"Iya, masa boong sih" Jawab Ray lagi.
"Ok, gak jadi mami ke indo. Udah dulu ya sayang. Salam buat mantu Mami, Viona. By" Ucap Mami Ray lalu mematikan sambungan telepon.
Ray kembali dibingungkan dengan Maminya. Ia heran menelfon hanya untuk membahas Viona.
"Begitu penting Viona dalam hidup Mami, tapi Mami akan tetap menerima Viona jika ia tau kalau Viona muslim" Batin Ray.
Kepala Ray buntu jika sudah berkaitan dengan Mami dan Viona, keduanya tidak ingin dia lukai tapi perbedaan mereka membuatnya seperti ini.
__ADS_1