
Hari-hari Viona begitu bahagia, bahkan senyum disudut bibirnya selalu mekar setiap orang datang di butiknya. Suatu rezeki dari Tuhan usahanya lancar. Viona membuka galeri ponselnya melihat setiap gambar yang geser dilayar. Ia terhenti sebuah foto anak kecil pegang gulali ditemani laki-laki.
"Aku rindu kalian" Batin Viona sambil zoom foto itu.
"Ekhem"
Tatapan fokus Viona dilayar ponselnya dibuyarkan oleh deheman seseorang yang Viona sendiri tidak kenal.
"Ini untuk kamu" bunga mawar merah dari laki-laki tersebut.
Viona ragu untuk menerima bunga tersebut, "untuk aku?" Tanya Viona memastikan.
"Iya, untuk siapa lagi" Jawabnya sembari senyum dengan tangan mencoba meraih tangan Viona.
"Ehh" Viona mengibas tangan laki-laki itu.
"Mau apa sih kamu?" Tanya Viona dengan nada marah. Seketika orang-orang dalam butik menghampiri Viona.
"Kenapa mbak?" Tanya salah satu ibu-ibu sembari menghampiri Viona.
"Orang itu" Tunjuk Viona yang sudah pergi sedikit lari menjauh dari butik, tapi karena butik penuh kaca polos jadi orang dalam butik pun bisa melihat laki-laki tersebut.
"Tandai mukanya gak mbak?" Tanya yang lain.
Viona menjawab sambil menggelengkan kepala, "Tidak, aku aja kaget tiba-tiba bawa bunga"
"Wahh, untung cepat pergi" Timpal salah satu perempuan yang dilihat dari cara jalan kayak laki-laki, baju kaos biasa, jam tangan cowok dan celana jogger.
"Kita semua perempuan mbak, mana bisa lawan laki-laki" Ujar Viona.
"Itulah perempuan harus belajar bela diri, setidaknya untuk melindungi diri" nasehatnya.
"Hati-hati ya mbak, siapa namanya?" Tanyanya lagi.
"Viona, panggil saja Vio" Jawab Viona memperkenalkan diri kepada orang tersebut.
"Ok Vio, aku pergi dulu" Pamitnya sambil lalu pergi begitu saja.
Viona hanya menatap orang itu dari jauh, mau kejar untuk berterima kasih dia sudah hilang entah kemana, begitu cepat perginya perempuan tersebut.
Sekitar setengah jam melayani pembeli, akhirnya bisa bernapas lega juga. Melihat butik sepi, ia menelfon kakak iparnya istri Rifal.
"Assalamualaikum kak Lea, Hamzah" Panggil Viona lewat video call.
Hamzah langsung tertawa, entah ketawa karena dipanggil namanya atau karena melihat orang dilayar ponselnya itu, hanya Hamzah yang tau.
"Wa'alaikumussalam dek, apa kabar nih?" Tanya Marcellea.
"Alhamdulillah kak, ada kejadian aneh di butik tadi"
"Kejadian apa?" Tanya Marcellea dengan wajah serius.
"Ada cowok tiba-tiba datang memberi Viona bunga"
"Terus"
"Habis itu mencoba meraih tangan aku, tapi seketika aku mengibas tangannya sembari bersuara besar dan anehnya lagi kak muncul perempuan tomboi berada di butik"
"Pelanggan baru?"
"Mungkin, soalnya baru Vio lihat"
"Tau namanya?" Tanya Marcellea.
Viona menggelengkan kepala, "tidak kak, mau ucapkan terima kasih aja tidak sempat ke buru pergi"
Pembicaraan berlangsung lama sembari curhat dan meluahkan kerinduannya kepada ponakannya itu. Panggilan berakhir setelah Hamzah menangis. Memang kalau sudah punya bayi, pekerjaan apapun akan disimpan jika bayi sudah mulai tidak nyaman atau menangis.
Beberapa menit yang lalu Viona mengakhiri obrolan dengan kakak iparnya, tiba-tiba Gebi datang dengan santai dan seramah mungkin menghampiri Viona.
"Vio, putik sendiri nih?" Sapaannya berakhir pertanyaan.
"Alhamdulillah Geb. Kemana aja selama ini?" Tanya balik Viona. Ia sudah lama tidak bertemu Gebi.
"Aku keluar kota, ini baru pulang" Jawab Gebi asal.
"Oh ya, tau dari siapa butik aku disini?"
"Kebetulan lewat sini dan melihat butik baru, aku singgah dan diluar ibu-ibu bilang barang-barang disini bagus. Ternyata benar!" Puji Gebi penuh dengan tipu muslihat.
"Kamu mujinya berlebihan, barang disini biasa kok" Viona merendah mendengar pujian Gebi.
"Selalu seperti itu.. Ehh ngomong-ngomong kamu disini sampai jam berapa?"
"Sekitar jam 10an, kenapa Geb?, Bahaya ya untuk perempuan jam segitu masih diluar?"
"Gak kok, hanya tanya saja. Kamu apa-apa kepikiran, bawa santai aja. Wajarlah orang kerja pulang malam" Jawab Gebi sembari mengirim pesan kepada teman-temannya.
"Jam 10 malam, ok fix" batin Gebi lalu ia senyum kepada Viona dengan ramah.
Masih asyik ngobrol santai ada pengunjung datang, Viona langsung menyambutnya sembari senyum ramah.
"Mau gamis yang seperti apa bu, nanti saya bantu" Viona menawarkan diri.
"Gamis dengan kain gradasi ada?"
__ADS_1
"Iya, ada disebelah sini tapi tinggal beberapa warna" jawab Viona sembari mengantar ibu tersebut ke bagian gamis.
Gebi mengikuti Viona hanya untuk pamit.
"Vio, aku pamit ya. By" Ujar Gebi sambil melambaikan tangan dan Viona membalas lambaian tangan Gebi itu.
🌺
Viona menutup butiknya dan ia pastikan sudah terkunci semua pintu dalam butik termasuk pintu utama gedung butiknya. Meskipun ada satpam komplek itu tapi bagi Viona jaga-jaga dari hal buruk itu penting.
"Ehh pak" tegur Viona pada satpam yang jaga di gedung sebelah.
"Mbak Viona sudah mau pulang?" Tanya kepada Viona.
"Iya pak, mari ya pak" Pamit Viona lalu pergi meninggalkan butiknya.
Satpam tersebut baru saja ingin memberitahu Viona sesuatu hal, tapi Viona keburu pergi.
"Semoga dia baik-baik saja" lirih satpam tersebut lalu lanjut jalan ketempat kerjanya.
Viona membawa motornya dengan santai sambil dengar musik lewat earphonenya. Kadang kala ia mengikuti lagunya.
Malam yang berbeda dari biasanya, entah kenapa kendaraan tidak begitu ramai dan motor pun yang lalu lalang sedikit.
Viona tidak mempermasalahkan hal itu, ia lebih memilih menikmati lagu diatas motor.
Dari arah belakang, ada mobil yang mengikutinya tanpa ia sadari. Orang dalam mobil itu, menggunakan hoodie hitam dan masker dengan ditelinganya menggunakan handsfree.
"Gimana?" Tanya wanita disampingnya tersebut dengan pakaian yang sama.
"Kita buat dia cedera" Ujar laki-laki itu setelah melakukan panggilan telepon beberapa menit.
"Caranya?"
"Seperti ini" Jawab laki-laki tersebut dan menancap gas, dengan kecepatan tinggi ia selip Viona.
Viona kaget dan motornya oleng.
"Aahhhh,, aduh aduh" Viona jatuh dari motor.
Kaki dan sikunya luka karena terkena sisi aspal jalan. Ia melihat sikunya lalu ke kakinya.
"Gak boleh nangis dan tahan rasa sakitnya" Viona menguatkan dirinya. Perlahan-lahan ia kembali mengendarai motornya dengan luka yang ia biarkan begitu saja.
"Gimana?" Tanya wanita dalam mobil yang sengaja menyelip Viona tadi.
"Lihat tu" Tunjuk laki-laki tersebut lewat kaca spion mobil.
"Lho, dia gak apa-apa"
"Bilang aja gagal, gak usah bilang baru mulai"
"Kita buat dia gak nyaman ditempat kerja dan dijalan" Jawabnya lagi membuat wanita tersebut senyum seketika.
"Ternyata otak lu encer juga ya"
"Demi Gladis" Jawabnya.
Seketika suara tawa pecah dalam mobil, membuat laki-laki tersebut memegang setir mobil satu tangan dan satunya menutup telinganya.
"Suka Gladis?"
"Gak tau lah Geb" Jawabnya lalu menarik napas dengan kasar, "apa Gladis akan suka aku juga?"
"Hahaha, sadar. Gladis terobsesi dengan mantannya, jadi ada baiknya jangan berharap lebih nanti sakit hati" Nasehat Gebi terdengar tidak adil ditelinga laki-laki itu.
"Aku tau, kamu kira aku benar-benar suka padanya. Aku hanya ingin senang-senang dengannya tidak lebih"
Gebi seketika memukul lengan sahabat laki-lakinya itu, ia tidak menyangka kalimat itu keluar dari bibinya.
"Maksudnya, kalian pernah tidur sekamar?"
"Memang aneh, ada masalah tidur sekamar yang penting gak ngapa-ngapain kan?"
"Munafik, aku tau kamu" Ujar Gebi tidak percaya dengan jawaban itu.
"Kamu yang munafik, sudah tau maksud aku tapi malah bertanya lagi, apa perlu aku jelaskan secara detail?"
"Gak perlu" Jawab Gebi dengan cepat, "jadi gimana dengan Viona?" Tanya balik Gebi lagi.
"Kita susun rencana baru lagi, liat Viona gak?" Tanya laki-laki tersebut lagi sambil melihat kaca spion untuk melihat kendaraan dibelakang.
Disana sudah tidak ada motor Viona.
"Gimana sih" Gebi menyalahkan temannya itu.
"Kamu ajak cerita" Jawabnya tidak mau disalahkan.
"Kita pulang saja dulu. Gladis hanya mengandalkan uangnya"
"Dia nekat orangnya, dan ingat uangnya sudah ditransfer jadi jangan coba-coba bangunin amarahnya mesin ATM kita, hehehe"
"Benar juga" Ujarnya.
🌺
__ADS_1
Viona singgah disalah satu warung makan yang sudah mau tutup, disitu hanya menunggu Ahmad. Rasa perih luka bagian siku dan kakinya sudah tidak mampu ia tahan lagi.
"Maaf mbak, warung makannya akan bapak tutup" Ujarnya dengan sopan kepada Viona.
"Sebentar lagi pak, kaki aku sakit kalau berdiri"
"Emang mbak dari mana jam segini dan sepertinya mbak kenapa musibah" Ujarnya lagi dengan sopan.
"Jatuh dari motor pak. Lagi tunggu teman saya untuk jemput disini, minta waktunya ya pak, jangan dulu pergi soalnya disini sedikit sunyi" Ujar Viona dengan jujur kepada bapak tersebut dan pemilik warung tersebut mengangguk setuju.
"Iya mbak, saya kedalam dulu ya kalau temannya sudah datang langsung pulang aja, gak apa-apa"
"Emang bapak mau kemana?"
"Mau cek bahan jualan untuk besok mbak, mari mbak" Ujarnya lalu pergi.
Viona kembali menunggu sendiri sambil membuka galeri ponselnya. Lembar-lembar foto dalam album tertata rapi sesuai tanggalnya. Jari Viona terhenti di foto Ray.
"Ray kamu curang menikah gak undang aku, setidaknya chat" Ujar Viona bicara dengan gambar Ray yang tertawa lepas.
"Aku gak tau jatuh cinta itu seperti apa Ray, tapi denganmu perasaanku begitu bahagia"
"Kalau itu cinta, kenapa sesakit itu? Jika memang sekedar sahabat kenapa menjauh begitu saja tanpa kabar?" Pertanyaan demi pertanyaan Viona lontarkan di gambar itu.
"Kamu curang Ray, tidak mau berbagi kebahagiaan denganku" Gumamnya sedikit pilu.
Viona tidak tau itu cinta atau hanya sekedar rindu sama sosok Ray yang selalu mengatakan cinta walau ia tidak balas dengan kalimat yang sama.
Viona menghela napas dan memasukkan kembali ponselnya dalam tas selempangnya.
"Ray tolong kembali, aku memilih butik itu karena aku rasa kamu ada disana dan mampu menjagaku" lirih Viona.
Ada sosok yang mendengar kalimat terakhir Viona itu, sakit rasanya. Rasa cemburu dan marah muncul seketika, tapi ia sadar Viona seutuhnya belum jadi miliknya.
Ia memendam rasa sukanya pada Viona dan ia tidak tau saat itu sampai kapan. Entah kabar baik darimana bibinya memiliki niat untuk menjodohkannya dengan anak sahabatnya sendiri, dan lebih mengagetkan ternyata perempuan yang dijodohkan dengannya itu adalah Viona, tanpa berpikir panjang menerima perjodohan.
Ahmad mematung dibelakang Viona, ia bingung memulai ucapan hanya untuk menyadarkan viona kalau dirinya sudah sampai.
"Ahmad ini lama banget sih. Ini starnya dari Hongkong kenapa sampai sekarang belum nyampe" Viona mulai mengomel lagi.
Isi pikirannya saat ini ganti topik, dari Ray sekarang Ahmad.
"Awas aja nanti ya, kalau luka siku aku parah gara-gara terlambat diobati gak akan aku maafkan" Viona sudah mulai kesal.
"Ya Allah, hidayah dari mana sih mama jodohkan aku dengan makhluk bumi seperti Ahmad itu" Ujarnya lagi sambil menatap sikunya yang luka.
"Ini Ahmad gak kasihan apa sama sahabatnya sendiri, kesal juga aku lama-lama kayak gini" Lirihnya sambil mengambil ponselnya dalam tas dan ia telepon Ahmad.
Viona begitu kaget mendengar nada dering ponsel Ahmad tepat dibelakangnya. Ia menoleh kebelakang dengan ponsel masih menempel ditelinganya yang berbalut jilbab.
"Gimana, sudah siap pulang?" Tanya Ahmad.
Viona menatap Ahmad sembari menyipitkan matanya.
"Sengaja ya?" Tanyanya sambil menunjuk Ahmad.
"Sengaja gimana?, aku sampai disini sedang kamu merindukan yang sosok yang abstrak" Ujarnya membuat Viona membulatkan matanya.
"Emangnya aku rindukan siapa, hmmm?" Tanyanya seakan menantang hanya untuk menyembunyikan kebenaran yang ada.
"Yang aku dengar tadi merindukan hantu kan?, Bisa jalan saya tunggu di mobil dan motor kamu dijual saja" Ujar Ahmad lagi sambil jalan.
"Ehhh,, enak saja" Teriak Viona, "kadang hijrahku gagal gara-gara kamu Mad" Sambungnya sambil menatap Ahmad dengan tajam.
"Oh iya. Setidaknya aku tau, nanti aku bantu proses hijrahmu" Ujarnya setelah membukakan pintu mobil untuk Viona.
Viona masuk dalam mobil dan memperbaiki posisinya sedangkan Ahmad berputar melewati depan mobilnya dan masuk dibagian kemudi.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Tanya Ahmad heran.
"Bahasa buaya darat dari negeri mana tuh tadi?"
"Haa, bahasa buaya" Sejenak Ahmad mencerna kata-kata Viona, "oh itu, bahasa buaya dekat rumahmu" Sambungnya setelah mengerti maksud Viona.
"Ohh sudah buat rawa-rawa sendiri dekat rumahku untuk tempat tinggalmu?"
"Oh dia mau main-main" batin Ahmad.
"Kita cerita sambil jalan yaa" Ujar Ahmad dengan lembut.
"Aku tau Mad, jawab aja" ujar Viona sudah tidak sabar untuk mendengar jawaban Ahmad.
"Hmmm, setelah dipikir-pikir, aku rasa gak perlu buat rawa-rawa atau sungai sekalipun karena dia tinggal di darat bukan di air"
"Mana bisa, buaya kan di air"
"Tapi yang kita bahas buaya darat bukan buaya air, fokus dong"
"Ihh Mad, kamu nyebelin banget sih" Viona jadi kesal sendiri.
"Santai" Ujar Ahmad lagi dengan tatapan fokus depan.
"Gak mau dengar, aku mau tidur, bangunin aku kalau sudah sampai rumah" Ujar Viona lalu menutup matanya.
Ahmad hanya senyum mendengar penuturan terakhir dari Viona.
__ADS_1
"Andai orang yang kamu rindukan itu adalah aku, begitu bahagianya aku saat ini. Apakah kita seperti nabastala dan bentala, tidak saling memiliki, sedangkan bagiku kamu bukan insan efemeral melainkan abisatya dan anagata" Batin Ahmad.