Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
35. Terhalang keyakinan


__ADS_3

Ray mulai tidak tenang di bengkel setelah mendapat telepon dari sahabatnya. Ia mencoba mencerna kalimat demi kalimat dari sahabatnya itu.


"Halalkan atau ikhlaskan" Ulangnya.


Seketika matanya membulat, ia tau maksud dari kalimat itu.


"Maksud Alan hubunganku dengan Viona" Ungkapnya lagi.


Ray sudah tau maksud dari sahabatnya itu.


"Jadi apa yang aku harus lakukan?, berpikir Ray" Gumamnya dengan mondar-mandir dalam ruangannya itu.


"Temui Viona.. Kunci motor mana?" ujarnya lagi seorang diri. Mengambil kunci motor dan meraih jaketnya lalu ia keluar dari ruangannya itu.


Dengan buru-buru Ray langsung mengarahkan motornya ke rumah orang tua Viona.


Sedikit macet membuat Ray ke sorean dijalan, tetapi niatnya untuk kesana ia tidak urungkan. Sedikit ngebut itu yang Ray lakukan.


Sedangkan di rumah Viona saat ini, ada tamu yaitu Ahmad. Ahmad tidak ada rencana untuk berkunjung ke rumah temannya itu, tapi karena melihat belanjaan Viona yang begitu banyak dan menurutnya setengah mati jika dibawa menggunakan motor, maka ia membantu Viona meskipun ada sedikit perdebatan terlebih dahulu karena Viona tidak mau merepotkan orang termasuk sahabatnya sendiri.


"Ayo di minum teh nya" Ujar ibu Heti mempersilahkan Ahmad dan Ahmad menanggapinya dengan anggukan dan senyum seadanya.


"Terima kasih tante" Ucap Ahmad sembari mengangkat cangkir tehnya itu dan meminumnya.


"Iya, sama-sama" Jawab ibu Heti lagi.


Dari dalam rumah datang kakak pertama Viona yaitu Yesi. Yesi duduk tepat samping ibunya.


"Ada tamu, teman mu dek?" Tanya Yesi pura-pura baru tau, padahal ibunya sudah memberi tahukannya dan bahkan yang buat teh dirinya sendiri.


Viona mengerutkan keningnya sambil melihat kakaknya, ia tidak percaya kalau kakaknya baru tau kalau temannya datang.


"Saya teman Viona, nama saya Ahmad. Tadi kebetulan ketemu Viona di Hypermart belanjaannya lumayan banyak dan kemungkinan kalau dibawa pakai motor setengah mati" Jelas Ahmad.


Yesi mengangguk paham, "hmmm, berarti tadi pulangnya sama-sama?" Tanya Yesi lagi.


"Iya, Viona pakai motor saya menggunakan mobil" Jawab Ahmad lagi.


"Belanja apa sih dek, sehingga tidak bisa menggunakan motor itu?" Tanya Yesi kepada adiknya.


"Tanya ibu negara, hehehe" Jawab Viona dengan bercanda lalu ia ketawa.


Yesi melihat ibunya, "iseng kok tadi ternyata Vio belanja benaran" Jawabnya santai.


Viona langsung melihat ibunya dengan mulut menganga dan seketika mengingat yang uang bulanan yang ia kumpul selama ini.


"Mam, bercanda kan?" Tanya Viona memastikan.


"Gak, kapan mama bercanda Vio?" Jawab ibu Heti dengan nada bertanya.


"Jadi uang bulanan Vio gak diganti mam?" Tanya Viona lagi dengan memelas.


"Itu mama gak tau" Jawabnya lagi.


"Astaghfirullah mam, menjerit nanti dompetku karena lapar" Ujarnya lagi membuat Yesi, Ahmad dan Ibu Heti seketika tertawa.


Viona tidak senyum sedikit pun, ia memikirkan uang bulanannya yang habis karena belanja tadi.


"Senyum dong dek" Ujar Yesi membuat Viona cemberut.


Ahmad yang berada disitu hanya menyimak, ia rindu keluarganya di rumah.


"Maaf ya Ahmad" Ucap Ibu Heti setelah sadar diantara mereka ada tamu.


"Gak apa-apa tante, senang lihatnya" Respon Ahmad.


"Apa kamu Ahmad yang kerja di restoran?" Tanya Yesi kepada Ahmad.


"Iya, saya yang kerja di restoran itu" Jawab Ahmad sembari tersenyum.

__ADS_1


"Oh gitu, udah lama kerja disana?" Tanya Ibu Heti penasaran.


"Lumayan tante, sekitar dua tahunan" Jawab Ahmad.


Ahmad tidak mengaku kalau dirinya yang punya restoran melainkan pegawai biasa, tapi kalau restorannya memang dibangun sekitar dua tahun yang lalu.


Masih tengah cerita, tiba-tiba bel rumah bunyi tanda ada tamu yang datang. Viona langsung bangkit dari kursinya.


"Biar Vio yang buka gerbang" Ujarnya lalu pergi.


Mereka bertiga lanjut cerita sedangkan Viona membuka gerbang rumahnya yang tidak dikunci.


"Ray" Viona kaget melihat Ray yang sekarang sudah berdiri depan gerbangnya, "Mau ketemu kak Lea?" Tanya Viona lagi.


"Bisa masuk gak?" Tanya Ray kepada Viona.


"Oh bisa, masuk Ray" Viona mempersilahkan Ray masuk dan kembali menutup pagar rumahnya lagi.


Viona dan Ray masuk bersamaan dalam rumah tidak lupa Viona memberi salam.


"Assalamualaikum" Ucap Viona sembari masuk diikuti oleh Ray.


"Wa'alaikumussalam" Jawab mereka bersamaan sembari menoleh kearah Viona dan Ray.


"Ada tamu?" Tanyanya kepada Viona.


Viona menoleh kearah Ray, "silahkan duduk Ray" Viona mempersilahkan Ray.


Sebelum Ray duduk terlebih dahulu salaman kepada orang-orang yang ada disitu. Namun, setelah menjabat tangan Ahmad, tatapan dan senyumnya tidak bersahabat.


"Teman Viona juga?" Tanya Ahmad sembari senyum.


"Iya" Jawab Ray lalu ia duduk.


Tidak lama kemudian Viona kembali dengan segelas cangkir tehnya. Ia menaruhnya diatas meja tepat depan Ray.


"Terima kasih" Ujar Ray.


"Nak Ray mau ketemu Lea?, sayang sekali dia gak ada. Lea lagi ke dokter kontrol" Jelas ibu Heti.


Ray hanya mengangguk sebagai respon, "kira-kira masih lama bu?" Tanya Ray.


"Mungkin sekitar setengah jam lagi pulang" Jawab Ibu Heti dan menoleh kearah Viona, "Coba telepon kakakmu, bilang ada sepupunya disini" Sambungnya.


Viona bangkit dari duduknya hendak ke kamar mau mengambil ponsel untuk menelpon kakaknya Rifal.


"Saya tunggu saja, ada yang saya mau bicarakan dengan Viona bu, kak" Izinnya kepada Yesi dan ibu Heti.


Yesi menoleh kearah ibunya lalu melihat Viona dan beralih ke Ray.


"Oh, silahkan" Yesi mempersilahkan.


Ahmad yang mendengar itu langsung senyum kepada Viona, sedangkan Viona melihat Ahmad seperti itu hanya menyipitkan mata.


Viona melihat ibu dan kakaknya tanda minta izin. Yesi dan ibu Heti mengerti dengan maksud Viona langsung mengangguk kepala.


"Iya, kita kesana" Tunjuk Viona kursi yang tidak jauh dari tempat duduk mereka saat ini.


Viona dan Ray pun duduk berhadapan, dengan wajah serius Viona bertanya pada Ray.


"Bicara apa?" Tanya Viona.


"Santai aja kali, kayaknya tegang amat" Jawab santai Ray.


"Isshh, tanya serius malah main-main" Ujar Viona lagi dengan nada malas.


"Aku ingin datang melamarmu" Ucap Ray dengan cepat dan sekali tarikan napas.


"Haaa" Respon Viona.

__ADS_1


"Haaa, saja?" Tanya Ray heran dengan respon Viona.


"Hahahaha, Ray itu bukan bahan lawakan, lucu kamu" Ujar Viona setelah ia ketawa.


"Sudah berapa kali aku bilang Viona, aku serius. Aku datang dirumah mu untuk melamar sebagai tanda keseriusanku kamu malah bilang ngelawak. Sebenarnya apa yang kamu mau, atau kamu memang tidak ingin menikah dengan saya?. Perjelas saja dari sekarang" Jelas Ray panjang lebar, "atau kamu sudah ada yang lain, yang lebih dari saya?" Sambungnya lagi.


Ahmad yang tidak jauh dari Viona dan Ray sekali-kali melirik, rasa penasaran itu ada tapi ia tau kalau dirinya hanya sebatas sahabat.


"Kenapa sih lihat Ahmad?, Dia teman saya" Jelas Viona.


"Karena teman itu kadang membuat kita nyaman Viona, bukan hanya perempuan yang nyaman dengan lawan jenisnya tapi laki-laki juga, karena kami normal Viona. Cobalah untuk mengerti" Jelas Ray dengan sedikit memohon.


Viona sejenak diam lalu menjawab "tapi aku dan Ahmad memang sekedar teman"


"Teman laki-laki dan perempuan itu tidak ada"


"Jangan suudzon, gak baik" Viona mengingatkan.


"Apa suudzon itu?" Tanya Ray.


"Berprasangka buruk" Jelas Viona.


"Oh" Respon Ray singkat.


"Vio kalau kamu izinkan, Mami dan Papi akan aku telepon agar mereka kembali ke Indonesia dalam waktu dekat" Jelas Ray lagi.


"Apa orang tua mu sudah tau kalau kita beda keyakinan?" Tanya Viona dan Ray mengangguk.


"Lalu bagaimana kamu datang dengan kata serius sedangkan kita berbeda?" Tanya Viona lagi.


"Selagi kita memiliki Tuhan maka kita mampu menjalaninya" Jelas Ray lagi.


Viona menghela napas, ada rasa tidak ingin mengecewakan orang yang berada didepannya saat ini tapi ini masalah keyakinan.


Dengan nada lembut dan sopan Viona terlebih dahulu menyebut nama Ray.


"Ray, mesjid dan katedral tidak mungkin memiliki pengunjung yang sama"


"Apakah tidak bisa saling menerima untuk hal ini?" Tanya Ray lagi.


Viona seketika menggelengkan kepalanya dengan tatapan sayu, ia tidak ingin menyakiti orang yang mencintainya.


"Ray aku wanita biasa, dan masih banyak diluaran sana yang lebih dari aku. Carilah sepemahaman mu"


Ray mendengar kata demi kata dari Viona, terasa hatinya terluka, perih dan sakit. Ray menunduk untuk mengontrol perasaannya.


"Apakah ini penolakan?" Tanya Ray dengan menatap Viona.


Viona memalingkan wajahnya, sungguh sulit baginya menatap wajah Ray saat ini. Dikala cinta menghampiri bukan restu orang tua yang dia perjuangkan melainkan pertanggung jawaban yang begitu berat di kemudian hari yaitu akhirat.


"Kita tidak sevisi Ray" Jawab Viona menunduk untuk menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Hehehe" Suara tawa Ray yang membuat Viona menatapnya bingung.


"Kenapa?"


"Ucapan mu sudah mulai ngawur Vio, aku akan kembali lagi" Ujar Ray lalu kembali bergabung dengan Ahmad, Yesi dan Ibu Heti.


Ikut gabung dengan sekali-kali Ray ikut menimpali dalam cerita sembari menunggu sepupunya.


Sedangkan Ahmad, ia merasa sudah lumayan lama maka ia pamit pulang.


"Aku balik dulu ya tan, kak, Ray dan Viona" ucapan Viona itu Ahmad seketika senyum.


Ray yang melihat itu, panas bukan main.


"Gak mau pamit dari tadi, bikin emosi saja. Mana senyumnya ke arah Viona saja, apa maksudnya coba" Ray ngedumel dalam hati.


Ketidak adaan Ahmad disitu, merupakan udara segar bagi Ray. Tidak ada lagi rasa kesal melihat wajah seseorang.

__ADS_1


__ADS_2