
Tak terasa Tiara dan Viona semakin akrab, rasa rindu kepada ponakannya terobati dengan hadirnya adik Ahmad. Keduanya memiliki rasa kesepian. Tiara kesepian tidak memiliki teman bermain di rumah, sementara Viona merasa sepi karena tidak ada teman cerita. Sedangkan Ibu Heti, semenjak Viona jatuh sakit saat itu, ia sudah memutuskan untuk menggantikan Viona di butik dan kebetulan sudah ada karyawan baru yaitu Ina.
Ahmad selama seminggu ini, setiap jam makan siang mengirim makanan di rumah Viona.
"Kak, kakak Tiara sudah kirim makanan atau belum?" Tanya Tiara sembari memegang remote TV.
"Sepertinya belum dek" Jawaban Viona dengan nada lemah, "cacing kakak pada konser nih" lanjutnya sembari mengusap perut dengan pandangan mata ke layar TV. Ternyata yang menunggu makan siang dari Ahmad bukan hanya Tiara.
"Apa Tiara telepon kak Ahmad?"
"Ehh jangan dek, mungkin sudah OTW sedikit bersabar."
Viona melarang Tiara untuk menelpon Ahmad, tapi setelah dipikir-pikir ada benarnya juga kalau Ahmad harus ditelepon hanya untuk memastikan.
"Kakak telepon Ahmad ya" Ujar Viona setelah menimbang-nimbang beberapa menit sembari menempelkan ponsel ditelinganya.
"Assalamualaikum Mad, Tiara udah lapar ini" Adu Viona dalam telepon.
Ahmad hanya senyum diseberang telepon, "wa'alaikumussalam, ok" Jawab Ahmad lalu memutuskan sambungan telepon.
Ahmad langsung menyuruh karyawannya untuk menyiapkan beberapa kotak makanan.
Disisi lain, Ray sudah seminggu tidak balik rumah ada setitik rasa kecewa dalam hati mengingat keputusan orang tuanya. Ia sering mabuk di klub malam karena pikirannya yang kacau, ia seperti kehilangan arah saat ini.
"Ra, kamu gak balik rumah dulu?" Tanya Alan sambil menyisir rambutnya.
"Memang aku ganteng, tapi sayang belum punya kekasih" Alan mengagumi dirinya sendiri meskipun diakhir kalimatnya sedikit miris sembari bercermin.
"Ra!" panggil Alan.
"Nanti Gladis teror aku lagi, kalian memiliki hubungan dengan wanita itu sampai segitunya?" Tanya Alan, karena melihat Ray tidak biasanya mengindari Gladis dan orang tuanya.
"Diam, aku pusing. Kepalaku sudah mau pecah" Ujar Ray dengan mata masih tertutup.
"Aku ini bingung lihat kamu, Ra. Dulu tidak menghindari masalah."
Ray bangkit dari tidur dengan wajah kurang semangat, menguap beberapa kali tanda masih kantuk.
"Bengkel lu bagaimana?" Tanya Alan lagi.
"Ada orang kepercayaan, aku tidur dulu" Ray kembali membanting badan diatas tempat tidur dan seketika deru napas Ray terdengar teratur.
"Buset. Awas aja ya kalau Gladis menelfon"
Alan pergi menuju dapur sambil ngomel karena dapurnya berantakan. Piring kotor dan lantai yang basah gara-gara Ray membasuh kepalanya dengan air di dapur.
"Astaghfirullah, ada ya manusia seperti ini" Gumamnya lalu menghela napas. Akhirnya ia mengepel dengan pakaian yang sudah siap ke restoran.
"Lan, ngapain?" Tanya Ray dengan muka tidak bersalah.
"Gara-gara lu, baru pura-pura tanya" Kesal Alan, "aku mau ke resto, awas kalau mabuk siang ini" Ancam Alan.
Ray menaikkan sebelah alisnya, "nanti diliat."
Alan tidak menyangka jika sahabatnya akan seperti ini, dulu minuman yang beralkohol sangat tidak suka bahkan munta, sekarang malah bisa dibilang pelariannya.
"Sudah-sudah mabok Ra, gak ingat Viona, hmm?"
Ray seketika senyum perih jika mengingat Viona. Apa kabar dengan orang yang dicinta. Seketika Ray diam dan memilih kearah jendela.
"Lan, punya rokok gak?" Tanya Ray diluar dugaan Alan.
"What, sejak kapan?" Tanya balik Alan dengan ekspresi kaget, dan lagi-lagi tidak percaya dengan perubahan sahabatnya.
__ADS_1
"Tidak semua yang kita lakukan butuh alasan Lan"
"Tapi, setiap yang dilakukan pasti punya alasan, apa alasan lu?"
Alan masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat saat ini.
Ray membalikkan badan dengan melipat tangan didepan, "Demi semuanya."
"Maksudnya?" Lagi-lagi Alan tertarik dengan jawaban Ray, tertarik untuk bertanya lebih lanjut.
"Semuanya yang dimaksud ini siapa?, Coba kalau bicara itu jelas, sejelas-jelasnya" Lanjut Alan.
"Katanya ke restoran? Aku mau balik rumah dulu" Ujar Ray, ia mengambil jaket yang sudah di pakai selama seminggu itu dan kunci motornya.
"Thanks ya bro" Ray menepuk pundak Alan lalu pergi meninggalkan apartemen yang ia tinggali selama seminggu itu.
🌺
Tiara dan Viona sudah menunggu Ahmad dihalaman rumah. Baru dengar bunyi klakson mobil keduanya langsung lari menuju gerbang rumah. Gerbang rumah didorong oleh keduanya. Setelah gerbang terbuka, Ahmad pertama lihat senyum Tiara dan Viona mengembang. Disana ada harapan dari yang ditunggu.
"Kenapa kamu hadir dalam wujud sahabat, Vio" Batinnya, seakan janjinya goyah.
"Ehh gak boleh" Gumamnya.
"Mad, kenapa diam? Masuk" Teriak Viona yang berada di gerbang rumahnya.
Ahmad langsung memasukkan mobilnya di halaman rumah. Baru berhenti, Tiara sudah menunggu diluar tepat pintu keluar sang kakak dari mobil.
"Gak bisa buka pintu ini dek" Ujar Ahmad karena terhalang oleh Tiara.
Tiara bergeser kesamping, "Sudah, nasinya mana?"
"Gak bawa nasi dek, hanya..." Kalimatnya dipotong oleh Viona yang baru saja menghampiri keduanya.
"Berarti kita perlu masak dong, hmmm terus bawa apa?" Tanya Viona sambil melihat paper bag yang dipegang Ahmad.
Tiara dan Viona menatap Ahmad dengan kesal, keduanya memutar bola mata baru saling mengajak masuk dalam rumah, meninggalkan Ahmad sendiri diluar.
Akhirnya Ahmad mengikuti belakang Viona dan sang adik, dari belakang mendengar celotehan keduanya yang membuatnya ingin ketawa ngakak.
"Dek, pernah dengar orang Indonesia makan roti langsung kenyang?" Tanya Viona. Keduanya bergandengan tangan masuk dalam rumah.
"Haaaa" Keduanya membuang napas pas duduk di sofa ruang tamu.
"Nasib kali ya kak?" Tanya Tiara.
Ahmad yang duduk disitu pun diabaikan begitu saja.
"Sepertinya" Timpal Viona, "ehh tapi pertanyaan kakak tadi belum dijawab" lanjutnya.
"Iya" Jawab Tiara lalu menolehkan kepalanya kearah Viona bagian kanan.
"Dari kecil kak" Tiara mulai bernostalgia, "Tiara tu tidak pernah dikasih makan roti saja pasti makan nasi" Lanjutnya sembari melirik Ahmad, "apalagi kalau makan siang kayak gini." Sindirnya lagi.
"Sama, kakak juga. Nasib kita lah dek berharap sama orang, seharusnya kita masak aja tadi pagi" Viona mulai menyesali perbuatannya, sejak tadi pagi ibunya mewanti-wanti Viona untuk masak atau pesan makanan tapi ia tidak lakukan. Terlalu berharap sama Ahmad.
"Jadi solusi kak?, Tiara sudah lapar."
"Kita gofood aja" Viona bangkit dari sandaran sofa dengan malas.
Sementara Ahmad hanya duduk diam mainkan ponselnya. Bukan tidak memperhatikan keduanya, ia hanya pura-pura tidak peduli untuk melihat batas kesabaran perempuan didepannya saat ini.
Viona kembali dengan ponsel ditangan dengan wajah kurang semangat.
__ADS_1
"Kenapa kak?" Tanya Tiara.
"Kuota internet kakak habis" Viona mengangkat ponselnya, "kita masak aja ya" lanjutnya.
Tiara mengangguk dan bangkit dari duduknya. Keduanya menuju dapur sementara Ahmad tau keduanya tidak pintar masak.
Lima menit kemudian tanpa suara dari arah dapur, dan Ahmad masih berpikir positif.
"Pecah kak" Teriak Tiara menggema dari dapur.
Ahmad langsung lari menuju dapur, sedangkan Viona panik.
"Gimana dong?" Pertanyaan itu keluar dari bibir Viona melihat telur pecah. Keduanya bingung.
Ahmad kira apa yang terjadi sampai heboh ternyata telur.
"Itu tinggal buang cangkangnya dan dipel lantainya, selesai" Respon Ahmad dengan santai dan lagi-lagi paper bag tidak lepas ditangan.
"Makasih" Jawaban Viona dan Tiara dengan terpaksa.
Keduanya berlalu begitu saja, cuek kepada Ahmad.
"Dasar bocil-bocil" Gumam Ahmad, meskipun demikian ia merasa terhibur dengan tingkah cuek keduanya.
Viona dan Tiara mengepel dan setelah itu istrahat dikursi meja makan sembari menghapus keringat di dahi.
"Kalian capek juga?" Tanya Ahmad penasaran.
"Gak capek, kan masih mau memasak. Iya kan dek?" Menjawab dengan pertanyaan kepada Tiara.
Badan Viona baru saja sehat tapi hari ini sudah bergerak banyak. Ia lupa kalau dirinya baru sembuh dari sakit.
Viona mulai menggulung lengan bajunya, begitupun dengan Tiara.
"Kalian benar mau masak?" Tanya Ahmad tidak percaya.
"Iya, mau lanjutkan masakan tertunda tadi" Jelas Viona.
Ahmad berpikir sejenak, "Gimana kita makan diluar?" Tawar Ahmad tiba-tiba kepikiran, kebetulan juga mereka sudah jarang makan bersama seperti dulu.
"Hmmm, aku gak" Tolak Viona mentah-mentah.
"Jangan gitu kak, lapar ini" Timpal Tiara sudah tidak tahan dengan rasa laparnya.
"Ayo" Tiara menarik tangan Ahmad dam Viona.
"Oke.. Oke, ganti kerudung dulu" Akhirnya Viona mau makan direstoran. Sementara paper bag Ahmad simpan diatas meja makan.
Perjalanan yang lumayan lama menurut Viona dan Tiara, keduanya sudah tidak sanggup menahan lapar.
"Mad, kalau mau bunuh orang, bukan kayak gini caranya?" Ujar Viona, ia merasa perjalan mereka belum ada tanda-tanda restoran dalam jarak yang dekat.
Ahmad hanya ketawa mendengar kalimat Viona.
"Ternyata orang lapar itu sensitif ya?" Tanya Ahmad, ia tidak berharap kalau bahasanya direspon.
"Kakak ini sengaja mau buat kita mati kelaparan dalam mobil?" Tanya Tiara.
"Gak dek, depan sana ada restoran baru."
Ahmad sengaja membawa mereka ke restoran yang selama ini Viona dan Tiara belum pernah datangi. Meskipun punya restoran tapi tidak melulu makan direstoran sendiri, itulah Ahmad.
"Kenapa gak di restoranmu saja Mad?, Ribet banget. Kita ini udah lapar Mad. Ya Allah, ya Rabb" Viona sudah mulai kesal dengan tingkah Ahmad siang ini.
__ADS_1
"Sabar, kalau marah berteman dengan setan" Pancing Ahmad.
Viona dan Tiara tidak merespon sedikit pun, memilih diam seribu bahasa. Ahmad ibarat bicara dengan dirinya sendiri dalam mobil.