Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
105. Mulai Mencari Kebenaran


__ADS_3

Pagi seperti biasa, Viona siap-siap ke butik, sesampainya ia langsung periksa pakaian butiknya sembari masukkan dalam list jika ada yang habis stoknya. Kesibukan dibutik itu membuat Viona lupa dengan masa lalu yang membuatnya galau.


"Vio, apa kabar, lama tidak bertemu?" Tanyanya dibelakang Viona.


Viona mendengar suaranya sudah tau kalau itu Ray, menghela napas lalu ia hembuskan dengan kasar, membalikkan badan dengan tatapan dingin.


"Baik, ada apa?" Tanya balik Viona.


Ray menatap Viona lama, "kamu berubah."


Viona seketika melipat tangan didepan dada, "kamu datang hanya mau katakan itu?"


"Viona, aku serius."


Viona senyum mengejek, "Serius dalam hal?"


Ray menghembuskan napas dengan kasar, "Kamu ngerti gak keadaanku?"


Viona membalikkan badan meninggalkan Ray yang tengah bertanya, "ngerti, maka dari itu pergi dari sini sebelum istrimu mengamuk dan menuduh saya yang bukan-bukan" Tegas Viona, "saya sibuk" Lanjutnya lalu melangkah pergi.


Ray menatap punggung Viona dengan diam. Ia dengan terpaksa membawa dirinya dipintu keluar butik dengan menunduk, ia tidak bersemangat. Melangkah pelan menuju motornya, seakan kakinya berat untuk meninggalkan butik tersebut.


Pikiran Ray kalut dengan perubahan Viona, ia seperti orang yang baru dikenal.


"Aakhh" Ray frustasi sambil menjabak rambutnya, seketika air matanya luruh begitu saja.


"Aku gak bisa kayak gini" Gumamnya lalu kembali mengendarai motornya balik rumah.


Tidak cukup setengah jam, motor Ray sudah parkir kembali. Gladis mendengar bunyi motor Ray langsung keluar, ia ingin menyambut Ray dari pintu.


"Ko buru-buru, ada apa?" Tanya Mami Ray melihat menantunya buru-buru keluar dari kamar.


"Ra, udah sampai Mi. Mau sambut Ra dipintu" Jawab Gladis.


Mami Ray begitu bahagia mendengarnya, senyum tidak luntur dari sudut bibirnya sambil mengikuti menantunya dari arah belakang. Ia tidak ingin kehilangan momen romantis anaknya, karena ia tau selama ini sangat dingin terhadap Gladis.


"Ra, udah pulang?" Tanya Gladis dengan senang, sembari satu tangannya meraih lengan Ray.


"Ngapain?" Tanya Ray sembari mundur selangkah dibelakang.


"Mau gandeng kamu" Jawab Gladis sembari senyum, "ayo" Lanjut Gladis dengan maju selangkah depan Ray.


"Minggir, jangan pernah sentuh aku, sudah baik memberikan tempat tidurku demi anakmu" Kalimat Ray yang keluar seperti sebilah pisau menusuk-nusuk hati Gladis. Ia diam sejenak lalu mundur memberi jalan untuk Ray.

__ADS_1


"Silahkan" Ujar Gladis sembari menghapus air matanya.


Ray melangkah masuk dalam rumah tanpa memperdulikan Gladis yang masih berdiri mematung.


"Mami pasti akan memarahimu, liat saja nanti" Batin Gladis lalu masuk dalam rumah dengan wajah sedih.


Baru beberapa kali melangkah, terdengar suara Mami Ray marah-marah.


"Istrimu begitu baik, kurang apa Gladis, haaa?, Sepertinya Mami terlalu memanjakanmu selama ini."


Ray menatap Maminya dengan penuh tidak percaya, semenjak bertemu Gladis Maminya makin aneh.


"Mami sadar, semenjak ada dia" tunjuk Ray kepada Gladis yang berdiri dimuka pintu masuk ruang tv, "rumah ini seperti neraka" Lanjutnya dengan mata memerah.


"Mami, lebih mementingkan perasaan dia ketimbang perasaan Alex sendiri, sebenarnya anak Mami itu aku atau dia?" Lanjut Ray lagi dan kembali menunjuk Gladis.


"Alex, kenapa bicara seperti itu?" Bentak Mami Ray, "Mami hanya ingin rumah tangga kalian bahagia, itu saja gak lebih" Lanjut Maminya mulai melembut.


"Diawali dengan kebohongan, maka kebohongan itu tetap berlanjut untuk menutupi kebohongan selanjutnya" Jawab Ray dengan tegas.


Ray memilih duduk, emosinya meluap-luap saat ini. Ia mencengkram sisi sofa untuk menyalurkan emosinya.


"Mari kita USG, setelah lahir tes DNA" Ujar Ray lagi.


"Apa-apaan kamu ini Lex, anak sendiri mau tes DNA. Satu lagi USG, sekarang belum bisa ditentukan jenis kelaminnya. Coba jangan ngawur kayak gini" Pinta Mami Ray, ia dibuat emosi dan pusing seketika.


"Papi kemana?" Tanya Ray lagi. Ia lebih baik saat ini mengalihkan dulu pembicaraan, melihat Maminya yang sedikit pusing mendengar kalimat yang keluar darinya.


"Keluar, katanya ketemu teman lama."


Ray hanya mengangguk kepala dengan bibir membentuk huruf O. Amarahnya meredam melihat Maminya memijit pelipisnya.


"Alex mau ke kamar dulu" Pamit Ray lalu pergi setelah Maminya mengangguk iya.


Sedangkan Gladis dikamar, gelisah bukan main. Mondar-mandir dalam kamar sambil menggigit ujung kukunya.


"Berpikir Dis, bagaimana jika Ra tidak main-main dengan ucapannya" Batin Gladis.


"Kenapa, takut?" Tanya Ray, entah kapan masuk kamar.


Gladis menoleh kearah Ray, "bercanda kan tadi?" Tanya Gladis dengan senyum, ia percaya Ray tidak sejahat itu.


"Tidak, secepatnya aku akan memulangkanmu dirumah orang tuamu" Kalimat itu membuat mata Gladis membulat, ia meraih tangan Ray.

__ADS_1


"Aku mohon jangan Ra, ayah pasti sudah tidak mau menerimaku lagi" Mata Gladis mulai berkaca-kaca.


Ray menghela napas, ia hampir lupa kalau orang tua Gladis sudah memutuskan hubungan dengan Gladis, karena Gladis kekeh tidak mau pisah dengan Ray.


"Aku tau Ra, hatimu lembut dan baik, maka izinkan aku untuk selalu disini selamanya."


"Kamu gila, rumah ini hanya untuk orang-orang yang aku cintai dan sayangi" jawab Ray dengan tegas, "ingat, kamu disini bukan siapa-siapa. Kalau bukan karena kehamilan mu itu, mana mungkin aku mau menikah dengan kamu. Lagian anak itu bukan anak aku."


Gladis mendengar kata-kata Ray yang sangat menyakitkan, ia langsung teriak.


"Cukuuuup.. Cukup, tidak adakah belas kasihan sedikit padaku?"


"Kamu perusak hidupku, Dis. Aku sudah kembali mau menata hidup, tapi kenapa kamu malah muncul tiba-tiba, haaa?" Ray kembali marah.


Ia tidak bisa lupa perlakuan Gladis kepadanya dulu yang meninggalkannya.


"Kenapa kamu muncul dengan membawa dua muka?" Tanya Ray lagi.


Gladis mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti maksud dari ucapan Ray.


"Gara-gara kamu kan, Mami membenci Viona?" Tanya Ray.


"Apa maksudmu?, bukan kamu juga tau, Mami dan Papi tidak suka Viona karena kalian tidak seiman."


"Aku tidak sebodoh itu, aku akan cari bukti. Yang terjadi saat ini semua ulahmu" Tegas Ray lalu melempar sembarang arah jaketnya dan pergi meninggalkan kamar.


Gladis melihat Ray kembali pergi badannya gemetar karena menangis, ditambah mood ibu hamil mudah berubah-ubah membuatnya tidak bisa kontrol diri. Ia duduk diatas tempat tidur sembari teriak. Ia tidak pusing mertuanya dengar atau tidak, yang terpenting baginya mengeluarkan beban yang tertahan dalam hatinya.


"Kamu jahat Ra, kamu jahaaat" Teriaknya dan seketika matanya mengabur dan tidak sadarkan diri. Ia pingsan.


Mami Ray, rasa pusing di kepalanya belum hilang, tiba-tiba Ray kembali muncul dihadapannya.


"Mi, Alex mau pergi dulu" Pamitnya.


"Mau kemana Lex?, Setengah hari ini sudah dua kali keluar rumah" Heran Mami Ray.


"Ke restoran Alan."


"Ngapain?"


"Ada perlu Mi, by Mi" Ujar Ray lalu pergi.


"Gladis?" Tanya Mami Ray dengan sedikit teriak.

__ADS_1


"Dikamar, menantu kesayangan Mami" Jawab Ray tanpa menghentikan langkahnya.


Ray tau sudah tidak sopan kepada orang tuanya, ia hanya ingin mencari kebenaran. Tidak ada lagi teman yang bisa membantunya selain Alan.


__ADS_2