Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
104. Coblos duluan


__ADS_3

Ibu Alan dan Mami Ray serta Gladis sampai penginapan Nusa, turun dari mobil dan disana terparkir mobil Alan juga.


"Astaghfirullah, bikin panik ternyata disini semalam" Ujar ibu Nisa melewati mobil anaknya.


Ketiganya masuk dalam gedung tersebut, kedua bu ibu itu ingin bertanya ke resepsionis atas nama putra mereka tapi Gladis melarang.


"Mi, bu, aku tau nomor kamarnya" Ujar Gladis lagi, dengan senyum merekah bangga dengan dirinya, bahwa tidak akan lama lagi mertuanya akan makin sayang padanya.


"Ini kamarnya" tunjuk Gladis setelah sampai dilantai 3 tepat depan pintu kamar Ray dan Alan.


"Tapi mungkin dikunci" Ujar Mami Ray.


Gladis mendekat dan memegang gagang pintu kamar, "gak dikunci" ujarnya lagi sembari menoleh kebelakang dimana ibu Alan dan Mami Ray.


"Kita masuk" Timpal ibu Nisa.


Mereka masuk, betapa kaget melihat Ray yang tidur telungkup disisi ranjang dengan kaki ia juntaikan, sedangkan Alan tidur di sofa dengan memeluk bantal.


Ibu Nisa dan Mami Ray bertolak pinggang, lalu mendekati putra mereka. Mami Ray langsung membangunkan Ray begitupun dengan ibu Nisa. Setelah keduanya bangun, dengan wajah kusut dan pakaian sedikit kotor.


"Duduk disamping Alan" perintah Mami Ray kepada Ray.


Ray nurut dengan jalan sempoyongan menuju sofa dimana Alan berada.


"Kenapa tidur disini?" tanya Mami Ray.


"Iya, kalau tidur diluar setidaknya kabari orang rumah supaya tidak panik" Timpal ibu Nisa.


"Gini bu.." Alan mencoba untuk cerita kejadian yang menimpanya dan Ray tadi malam.


"Aduh, aduh.. perut aku kenapa tiba-tiba mules ya" Ujar Gladis seketika sembari memegang perutnya.


Awalnya fokus mendengarkan cerita Alan, sekarang teralihkan kepada Gladis.


"Kita ke rumah sakit" Ujar Mami Ray dengan panik, "Lex, cari mobil dulu" sambungnya.


"Aduh gimana ini?" Tanya Mami Ray lagi dalam kepanikan


Dahi Gladis sudah berkeringat mendengar rumah sakit, Gladis mengangkat satu tangannya.


"Jangan panik, Mi. Ini udah mendingan kok" Kilahnya.


"Kita periksa saja dulu, sekaligus USG saya pengen liat jenis kelamin anak saya" Timpal Ray yang sudah berdiri.


"Haaa" Alan, ibu Nisa dan Mami Ray kaget mendengar kalimat Ray.


"Emang sudah bisa ditau jenis kelaminnya?" Tanya Alan tidak percaya.


Ray menjawab tanpa berpikir panjang sembari melirik Gladis yang tengah baring diatas tempat tidur.


"Kan kalau mencoblos duluan gitu bro."


"Maksudnya?, emang berapa minggu usia kandungan sudah bisa ditau jenis kelamin bayi itu?" Tanya Alan lagi penuh tanda tanya.

__ADS_1


Alan masih menunggu jawaban dari sahabatnya, sebenarnya bagi Alan siapapun bisa menjawab pertanyaannya, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban. Ia ingin sekali bertanya untuk kedua kalinya, tapi ia urungkan niatnya setelah melihat ibu sahabatnya, memanggil namanya dengan penekanan.


"Alex" Panggil Maminya dengan penuh penekanan.


Ibu Nisa langsung menatap putranya sembari memainkan bola matanya dengan kepala ia goyangkan sedikit. Itu bukan ranah mereka hanya saja Alan terlalu penasaran, membungkam mulut Alan sangat tidak enak hati.


"Fatal itu bro, kalau mencoblos sebelum pemilihan tidak terhitung" Alan kembali bersuara, membuat Ibu Nisa geram dengan Alan.


"Alan, diam!" Ujarnya dengan tegas.


Mendengar kalimat itu, Gladis menelan ludahnya dengan susah payah. Ia tersindir dengan kalimat Ray dan Alan.


"Emang gak penasaran dengan jenis kelamin cucu Mami, siapa tau kembar kan?. Jadi langsung dapat dua sekaligus" Jelas Ray lagi.


"Mmm, gak usah repot-repot Mi, gak apa-apa. Lain kali saja ke rumah sakitnya" Ujar Gladis dengan senyum seadanya kepada ibu mertuanya.


"Maafkan Alex" Ujar Maminya lagi dengan lembut sembari memegang tangan Gladis, "Mami baru ingat, ternyata kita bawa mobil" Sambungnya sembari geleng kepala, saking paniknya sampai lupa kalau mereka bawa mobil dan pak supir pun masih setia menunggu diparkiran.


🌺


Berbeda dengan yang jauh disana, siapa lagi kalau bukan Ahmad. Ia hanya menanyakan keadaan Viona lewat telepon restorannya. Bukan tanpa alasan, ia hanya ingin menyembuhkan luka yang pernah ada. Ia ingin melupakan Viona untuk selama-lamanya tanpa ada sisa sedikitpun dihatinya. Namun, semakin melupakannya semakin bertambah rasa itu.


Helaan napas panjang terdengar jelas, Tiara yang duduk disampaikannya merasa aneh kepada kakaknya. Ia ingin memberitahu hal ini kepada ibunya tapi Ahmad selalu melarang.


"Kenapa sih kakak, gak pernah kasih tau ibu kalau kakak sakit?" Tanya Tiara.


Keduanya duduk diteras villa menghadap laut.


"Kakak sehat" Jawab Ahmad.


Ahmad memukul pelan jari adiknya, dengan sedikit menyunggingkan senyum, "sok tau kamu, dek."


Seketika Tiara kembali ke kursinya sambil menengadahkan tangan keatas, "terima kasih ya Allah, kakak Tiara udah senyum lagi" Lalu mengusap wajahnya.


Ahmad mendengar kalimat adiknya hanya geleng kepala, lalu ia bangkit dari kursinya meninggalkan adiknya. Ia memilih masuk kamar.


"Lho ke kamar, apa dia kurung diri?. Oh gak bisa atau jangan-jangan kak Ahmad mau gantung diri lagi didalam" Pikiran Tiara sudah kemana-mana, ia segera lari sesampainya langsung menggedor pintu kamar sang kakak.


"Kakak buka, mau tinggalin Tiara sendiri didunia ini" Ujarnya.


Ahmad yang baru saja mau telepon seseorang, langsung ia urungkan niatnya. Ia buka pintu dan melihat adiknya berdiri dengan mata berkaca-kaca. Ahmad panik, langsung menuntun adiknya masuk dalam dan mendudukkannya diatas tempat tidur.


"Kamu kenapa, kok menangis?".


"Kakak mau tinggalkan Tiara kan?".


"Haaa, siapa yang tinggalkan kamu?".


"Ihh, ditanya malah tanya balik" Tiara kesal sambil menghapus air matanya.


"Jujur saja sama Tiara, kakak mau bunuh diri kan tadi makanya masuk kamar buru-buru" Lanjut Tiara lagi.


"Astaghfirullahuladzim dek, ini perbuatan yang Allah tidak suka" Ahmad kaget dengan pemikiran adiknya.

__ADS_1


"Terus tadi kenapa buru-buru masuk kamar kalau tidak mau bunuh diri?"


Ahmad seketika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sudah pusing ditambah lagi dengan Tiara.


"Kakak mau telepon pegawai restoran untuk pastikan perkembangan resto, itu saja" Jelas Ahmad kepada adiknya lalu ia diam, "Tiara mau gak bantuin kakak?" Tanyanya.


Tiara mengangguk dengan cepat, "mau..mau, bantuin apa?" Tanya Tiara penasaran.


Ahmad berpikir sejenak, apakah Tiara bisa amanah tapi kalau bukan Tiara siapa lagi orang yang bisa membantunya. Diam dan diam membuat Tiara penasaran.


Tiara memukul bahu sang kakak, "mau dibantuin apa kak?".


"Kembali dirumah, supaya kepala kakak ini tidak pusing" Ucap Ahmad.


"Aku itu lagi liburan, kalau liburan sudah usai pasti balik rumah, by" Tiara pergi dengan mulut komat-kamit.


"Udah ditungguin, eh malah disuruh pulang. Enak saja" Gumam Tiara kembali ditempat duduknya teras villa.


Ahmad menemani adiknya yang sedang berlibur. Ia awalnya tidak ada niat untuk kepantai tapi setelah ia pikir-pikir dengan masalah yang ia hadapi saat ini lebih baik merefleksikan diri di pantai.


Ia bingung kepada siapa membagikan masalahnya saat ini. Sang ibu yang selalu memberikan solusi jika ada masalah sekarang malah justru bermasalah dengannya. Bingung harus bagaimana, tapi Ahmad berpegang teguh dengan kalimat ADA MASALAH PASTI ADA SOLUSI.


Masih dalam mode merenung, ponselnya bergetar. Ia langsung menggeser gambar hijau yang muncul dilayar ponselnya.


"Wa'alaikumussalam bu" Jawab Ahmad ditelepon.


Diseberang telepon langsung bertanya, "kapan balik Mad?"


Ahmad diam sejenak, "tunggu waktunya."


"Waktu apa? Mending balik ibu carikan pasangan yang cocok dengan kamu"


"Ibu, Ahmad belum kepikiran sampai disitu"


"Belum kepikiran atau masih ingat Viona?. Ingat nak, perempuan yang sudah dijodohkan tapi masih memikirkan laki-laki lain itu bukan perempuan baik" Ibunya mengingatkan putranya.


"Lantas bu, apa bedanya dengan aku?, kelak menikah dan memiliki istri tapi dalam pikiranku perempuan lain"


Ibu Ahmad diam sejenak diseberang telepon, ia tidak menyangka kalau putranya belum melupakan Viona sampai saat ini.


"Ibu sudah bilang, belajar lupakan dia. Viona bukan yang terbaik untuk kamu"


"Ahmad juga berusaha bu, tapi sampai saat ini belum berhasil" Jawabnya dalam telepon.


"Ibu dengar kamu menelfon direstoran dan bicara dengan Viona. Kalau memang ingin benar-benar melupakannya putuskan semua akses yang berhubungan dengan Viona" Jelas ibu Ahmad panjang lebar, ia hanya ingin anaknya bahagia.


"Itu kebetulan bu."


"Sepertinya, apa yang ibu katakan selama ini, tidak ada yang tersimpan. Jadi terserah kamu, kamu yang jalanin kan bukan ibu?. Assalamualaikum."


"Ibu marah?"


"Tidak, lakukan yang menurutmu baik. Ibu matiin telepon, kalau urusan sudah selesai kembali dirumah. Assalamualaikum"

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam" Jawab Ahmad dengan bahagia. Ia tidak lagi mendapatkan penekanan dari ibunya.


Ahmad senang, apakah harus ia rayakan kebahagiaan ini?, tapi bagaimana jika ibunya katakan hanya emosi sesaat karena selama ini ia sudah menyuruhnya melupakan Viona tapi tidak berhasil. Ahmad kembali diam, ia khawatir dengan penafsirannya terhadap perkataan ibunya tadi.


__ADS_2