Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
82. Berusaha menjadi sahabat lagi


__ADS_3

Tak ada kata sembuh jika tidak dibarengi dengan optimis yang ditanamkan dalam jiwa. Lelah mungkin iya, tapi larut dalam kelelahan merugikan. Otak perlu berpikir agar tidak beku dan badan perlu digerakkan agar tidak kaku.


Mengawali hari yang indah, seindah senyum bidadari mungkin hal yang mustahil karena bidadari tidak mungkin menebar senyum ke semua orang. Tapi, bagaimana kalau bidadari itu Viona, senyum dan tawanya bak bidadari dimata Ahmad dan Ray, meskipun untuk penikmat senyum yang abadi tidak tau siapa diantara keduanya.


Lelah rasanya bergelut dengan rasa yang tak terbalaskan. Rindu dan cinta yang menunggal memang menyedihkan.


Mulai pagi ini, Ahmad akan menjalankan janjinya kepada Viona, kembali seperti dulu layaknya sahabat tanpa perasaan. Memang sulit, rasa yang pernah dipupuk, namun harus pupus karena satu ikatan bernama sahabat.


Helaan napas menghirup udara segar lewat balkon rumah di pagi hari memang menenangkan.


"Kakak, ketemu kak Viona lagi" Ujar Tiara sembari menampilkan senyum manis kepada kakaknya.


"Viona lagi sakit"


"Ya udah, dijenguk aja tapi kita harus beli buah dulu" Tiara begitu antusias mau menjenguk Viona.


"Nanti ya, mungkin malam karena pagi ini kakak ke restoran"


Ahmad merespon adiknya itu tanpa menoleh sedikit padanya.


"Antar aja Tiara ke rumah kak Viona, temanin kak Viona dirumah" Ujarnya lagi, lalu ia maju lebih dekat kepada Ahmad sembari mengulurkan tangannya didepan seperti meminta.


Ahmad mengerutkan keningnya melihat tangan adiknya, "Kenapa?"


"Ponsel kakak, mau telepon kakak Viona."


Dengan merogoh tangannya dalam saku celana dan mengeluarkan ponselnya. Ponsel pun berpindah tangan.


Tiara tidak membuang-buang waktu langsung menelepon Viona. Berdering tapi tidak dijawab. Wajah Tiara seketika murung.


"Ini kak"


Tiara mengembalikan ponsel kakaknya. Ia ikut diam seperti yang Ahmad lakukan.


"Kenapa dek?" Tanya Ahmad.


"Ingat kak Viona, udah lama gak ketemu" Ujarnya. Ia menghela napas dengan susah.


"Serindu itu Tiara sama Viona" Batin Ahmad.


"Kalau gitu, siap-siap kakak antar ke rumah Viona dan kakak lanjut ke restoran, nanti siang kakak kirimkan makanan"


Tiara mendengar itu wajahnya seketika berubah jadi ceria, dan ia langsung memeluk pinggang kakaknya.


"Terima kasih kak, Tiara sayang kakak. Muaach" Tiara mencium pipi kakaknya.


"Tiara harus siap-siap dari sekarang" lanjutnya setelah melepas pelukan dari pinggang sang kakak.


"Ya Allah dek" Heran Ahmad.


Berbeda jauh dengan Ray yang berada di apartemen Alan, Ray tepar dan kepalanya masih sakit, sepertinya efek alkohol masih bereaksi.


"Lan basuhkan kepalaku" minta Ray.


Alan yang duduk sofa sambil memejamkan mata, rasa kantuknya masih ada.

__ADS_1


"Ra, tidur aja dulu"


Alan malas bergerak, kepalanya ikut sakit karena kurang tidur.


"Bilang saja malas" Ujar Ray sakit hati dengan jawaban sahabatnya.


Alan tidak menjawab, ia memilih untuk tidur di sofa. Pagi ini ia urungkan niatnya untuk ke restoran.


Keduanya kembali tidur, Ray tidur diatas tempat tidur sedangkan Alan di sofa. Alarm Alan bunyi tanda sudah pukul 9 pagi. Ray yang masih rasa sakit kepala mendengar bunyi dari jam beker langsung ia lembar pakai bantal, alhasil jam beker tersebut diam untuk selama-lamanya.


Bunyi jam beker jatuh dari atas meja samping tempat tidur Ray dapat membangunkan Alan yang tidur di sofa.


"Buset, benda apa tu yang jatuh?" Ujarnya sambil membuka mata dan melihat kearah sumber suara.


Pertama mata Alan melihat baterai jam bekernya menggelinding dilantai.


"Jam bekerku" teriak Alan lalu bangkit dari sofa memungut bagian-bagian jam bekernya yang terpisah-pisah.


"Astaga, maafkan aku Lea pemberianmu tidak bisa aku jaga dengan baik"


Alan sedih melihat jam beker pemberian dari mantan pacarnya rusak parah. Entah tenaga apa yang Ray keluarkan saat melempar jam beker itu dengan bantal, sehingga rusak dan tidak bisa perbaiki lagi.


Alan mau marah tapi melihat keadaan sahabatnya memprihatinkan karena mabuk. Masih dalam mode marah tiba-tiba ponselnya bunyi.


"Siapa yang menelfon sepagi ini" Gumam Alan, "nomor baru, apa orang resto" sambungnya.


"Assalamualaikum.." baru Alan mengucapkan salam diseberang telepon langsung teriak seperti ditelan ular. Alan mengusap telinganya.


"Sebenernya Ra dulu menemukan Gladis dibelahan bumi mana sih?" Alan bertanya-tanya dalam hati lalu ia kembali mendekatkan ponsel ditelinganya.


"Apartemen kamu dimana?, aku tau kamu menyembunyikan Ra, kan?" Tanya Gladis dengan marah.


"Apa?" Tanya Alan sembari tertawa, "menyembunyikan?, Ra itu sudah besar, dia tau mana yang baik dan tidak untuk dirinya" Jelas Alan.


"Ok, aku gak mau berdebat pagi ini, tapi tolong kasih tau Ra balik rumah sekarang, aku tunggu"


Setelah menyampaikan itu, Gladis langsung memutuskan sambungan telepon.


Alan hanya bergidik ngeri dengan tingkah Gladis.


"Amit-amit perempuan seperti ini, nasib kau lah Ra"


Alan membangunkan Ray dengan pelan.


"Bangun.. heii bangun"


"Bro, si Gladis tu menunggumu di rumah. Bangun, nanti menelfon aku lagi."


Baru Alan bilang ponselnya kembali berdering dan itu Gladis lagi. Alan sengaja angkat telepon tersebut tidak lupa ia speaker dan menaruhnya dekat telinga Ray.


"Lan, udah kasih tau Ra atau belum?, Aku sudah capek menunggu, lambat banget jadi orang" Gladis marah-marah dalam telepon.


Ray terusik dengan teriakan Gladis dalam telepon itu, ia berusaha membuka mata meskipun berat.


"Siapa sih Lan yang teriak-teriak?, mengganggu tidurku saja"

__ADS_1


"Siapa lagi, tuu liat" Jawab Alan sambil menunjuk ponselnya, "liat siapa yang menelfon" Sambungnya lagi.


Ray melihat layar ponsel, "nomor baru."


Suara Ray terdengar oleh Gladis yang diseberang telepon. Bukan Gladis kalau tidak pintar sandiwara.


"Ra, kapan pulang? Aku udah tunggu lho di rumah" Ucapnya lembut membuat Alan ingin ketawa.


"Resiko berurusan dengan Gladis, kalau tidak repot berarti itu Viona" Ujar Alan dan seketika Ray melototkan matanya.


"Santai saja, gak mungkin nikung" Sambungnya Alan lagi.


🌺


Ahmad dirumah Viona bersama Tiara. Disambut baik oleh ibu Heti.


Ibu Heti membawa dua gelas air minum, satu teh dan satu susu.


"Kok susu tan, maunya teh juga" Protes Tiara.


"Eh dek, gak boleh kayak gitu" Tegur Ahmad dengan lembut, "maaf ya tan" sambungnya kepada ibu Heti.


"Gak apa-apalah Mad, namanya juga anak kecil" Bela Viona sembari ikut gabung duduk.


"Gimana keadaannya?" Tanya Ahmad kepada Viona. Tergambar jelas kalau perasaan Ahmad bukan hanya sekedar sahabat. Peduli melebihi seorang sahabat.


Viona senyum terlebih dahulu, "Alhamdulillah udah mendingan, perlahan sembuh juga, gak tau yaa obat yang dikirim dibutik itu sesuai resep dokter dan biasa juga obat yang aku minum saat demam."


"Kok bisa ya?" Viona heran dan menurutnya aneh.


"Yang penting sembuh kan minum obat itu?" Tanya Ahmad lagi, ia lupa kalau disitu ada sang adik yang bisa cerita ke ibunya dan ada ibu Heti selaku mama Viona yang menilai.


"Ekhem, serasa dunia milik berdua ya" Sindir ibu Heti, "sepertinya harus disegerakan ini" lanjutnya.


"Apa itu mam?" Tanya Viona.


"Ini otak Viona emang loading atau memang pura-pura tidak mengerti" Batin Ahmad.


"Menikah kak maksudnya" Timpal Tiara.


Ahmad melihat adiknya dengan penuh tidak percaya, karena bukan seusianya yang mengerti masalah pernikahan.


"Dek, tau juga yang seperti itu?" Tanya Viona tidak menyangka.


"Kata teman-teman Tiara disekolah, kalau laki-laki baik sama cewek itu tandanya laki-laki itu suka sama cewek" Jelasnya, "Dan, Tiara lihat kakak Tiara seperti itu juga, jadi saya mengerti deh" Lanjutnya membuat Ahmad jadi salah tingkah.


Viona mengerutkan keningnya lalu melihat Ahmad, "masa sih?"


"Iya benar!" Tegas Tiara.


"Tapi kami sahabat lho, bff" Viona memberitahu Tiara adik Ahmad, "Iya kan Mad?" Sambungnya.


"Sepertinya saya harus ke restoran, assalamualaikum" Ahmad buru-buru pergi.


"Gak asyik" Ucap Viona dan Tiara bersamaan. Lalu keduanya ketawa lucu dan itu samar-samar terdengar ditelinga Ahmad dari luar rumah. Senyum indah terukir dibibir Ahmad sebelum masuk mobil dan kembali mengendarai roda empatnya menuju restorannya.

__ADS_1


__ADS_2