Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
36. Foto


__ADS_3

Sudah seminggu Ray berkunjung ke rumah Viona. Hari ini memutuskan pergi ke suatu tempat yang tenang agar bisa berpikir jernih. Bengkelnya ia kembali titipkan kepada orang kepercayaannya yang kerja disana. Motor yang ia bawa melaju pelan sambil memikirkan tempat yang cocok dengan suasana hatinya saat ini.


Taman sudah banyak ia lewati, tapi ia merasa akan banyak kebisingan pendatang.


"Mungkin pantai, agar bisa tenang" Batin Ray.


Ray mengarahkan motornya ke pantai, tidak membutuhkan waktu lama ia sampai ditujuan. Sengaja duduk di gazebo paling ujung, agar ia tidak terganggu dengan suara pengunjung lainnya.


Menatap ombak di laut dengan suara deburan ombak membuat hati Ray tenang.


"Ternyata benar, jika punya masalah yang runyam maka ke pantai solusinya untuk menenangkan pikiran" Gumam Ray.


Ia memutuskan untuk seharian di pantai seorang diri.


Sedangkan, sahabatnya Alan ketar ketir mengurus usahanya yang sementara ia rintis, ditambah Ray tidak ada dibengkel dan dihubungi pun susah.


Alan kesana kemari mengurus bangunan restorannya.


"Apa desainnya sudah cocok dengan gaya anak muda?" Gumam Alan sambil melihat sekeliling interior restorannya.


"Ray kemana coba, dihubungi minta pendapat saja susah" Batin Alan lagi.


"Pak, intinya gaya anak muda ya desainnya, aku serahkan saja ke bapak" Ujar Alan kepada bos pekerja bangunan restorannya itu.


"Siap pak, semoga suka nanti dengan hasilnya" Jawabnya.


"Ok, saya harus pergi sekarang, assalamualaikum" Pamit Alan.


"Wa'alaikumussalam" Jawab bos pekerja tersebut, "Ayo kerja-kerja" Sambungnya lagi.


Alan kembali ke apartemennya terlebih dahulu ganti pakaian lalu ke rumah Ray.


Tiba di rumah sahabatnya itu, ternyata Ray tidak ada. Sejak pagi ia keluar belum pulang.


"Apa mungkin ke rumah Viona lagi, wah gercep betul itu anak" Gumam Alan dan kembali mengendarai mobilnya membelah jalanan kota kembali ke apartemennya.


Disisi lain yaitu Gladis, sudah kembali ke negeri zamrud khatulistiwa. Setelah penjelajahannya di negeri ginseng.


Indonesia diberi julukan zamrud khatulistiwa karena berdasarkan pada keberadaannya tepat di bawah garis Khatulistiwa, dan alamnya yang sangat hijau. Batu zamrud sendiri adalah salah satu batu mulia dengan warna hijau yang indah.


Gladis rindu dengan suasana rumahnya. Ia merebahkan badan dikamar sejenak lalu keluar mencari makanan yang selama ini ia rindukan.


Gado-gado dan rujak pilihannya. Ia minta dibungkus dan membawanya pulang dirumah. Sampai rumah langsung Gladis makan sambil nonton TV.


"Apa gak ada siaran yang berfaedah gitu" Ujar Gladis seorang diri sambil mengganti channel TV.


"Ahh, bosan juga kalau seperti ini" Ujarnya lagi lalu ia matikan TV.


Beralih ke ponselnya sambil makan rujak kali ini, "hmmm, foto dengan Mami Ra ada nih, upload ig dulu" Ucapnya lagi sembari senyum-senyum.


Teruplod foto yang ia unggah, "Selesai, tinggal tunggu komentar kalau fyp kan lumayan tanpa aku ceritakan kepada si Viona itu bakal tau sendiri nanti" Ujarnya lagi kesenangan.


"Memang media sosial memudahkan, hmmm tunggu reaksi" Gumamnya dan ternyata benar tidak lama ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk.


"Ra, apa aku gak salah lihat nih" Ujarnya lalu mencubit pipinya sendiri, "aoww sakit berarti gak mimpi" Sambungnya sambil memperbaiki posisi duduknya diatas sofa dan berdehem terlebih dahulu sebelum menjawab telepon.


"Halo Ra" Ucap Gladis dengan manja ditelepon.


"Iya, hapus foto Mami aku di akun Instagrammu itu" Minta Ray kepada Gladis.


"Why?" Tanya Gladis, ia kira Ray meneleponnya karena rindu ternyata hanya menyuruhnya untuk menghapus postingannya di Instagram.


"Aku hanya tidak suka" Jawab Ray singkat dan padat ditelepon dengan pandangan mata ke arah laut.


Gladis samar-samar mendengar suara deburan ombak dan suara anak kecil yang sedang tertawa.


"Ra, kamu di pantai?" Tanya Gladis penasaran.


"Iya, tolong hapus postingan itu" Ulang Ray lagi.


"Pantai mana?" Tanya Gladis, ia tidak menghiraukan permintaan Ray tadi tentang foto.


"Seperti biasa" Jawab Ray keceplosan. Ia seketika memaki dirinya sendiri.


"Ray, kenapa berkata seperti itu, bodoh-bodoh" Batinnya.


Gladis terdengar senang dengan ucapan Ray itu, "Serius?, Ra kenapa harus menyembunyikan perasaanmu kepadaku?" Tanyanya.


"Tolong hapus foto Mami saya di akun Instagrammu, kalau tidak.." Ucapnya Ray sengaja ia gantung kalimatnya sebagai tanda ancaman.


"Tidak apa?" Tanya Gladis lagi.


"Aku akan menyuruh orang untuk hack akun Instagram mu, ingat itu!" Ancam Ray dan berharap Gladis takut dengan ancamannya.


"Oh iya, setidaknya aku sudah tau kalau akunku di hack berarti pelakunya kamu dan aku tinggal klarifikasi kalau yang hack akunku adalah mantan pacar aku" Jelas Gladis dengan santai lewat telepon.


"Dasar perempuan aneh, bisa-bisanya tidak takut dengan ancamanku" Batin Ray.


"Terserah kamu, yang terpenting hapus postinganmu itu" Ujar Ray dengan tegas lalu mematikan sambungan telepon sepihak.


Gladis bahagia karena menang kali ini dari Ray.


"Emang kamu saja" Batin Gladis lalu membawa piring tempat rujak ke dapur.

__ADS_1


Gladis kembali depan TV sambil memantau postingannya, sudah ada beberapa yang komentar dan ratusan like.


"Hahaha, Ra pasti panas ini" Ujarnya seorang diri dengan hati bahagia.


"Kira-kira kapan ya sampai sama yang namanya Viona itu?" Gladis bertanya-tanya seorang diri.


Gladis sibuk di dunia sosmednya, sampai sepupunya menelepon ia abaikan.


"Jangan dulu nelpon, masih sibuk nih" Isi pesan Gladis untuk sepupunya.


"Aku hanya mau mastiin postingan di Instagram itu" Balasan dari sepupunya.


"Itu benar?" Tanya sepupunya lagi lewat pesan.


"Iya" balas Gladis.


Setelah membalas pesan, ia kembali memantau akun instagramnya.


"Ternyata seru juga nih, hahaha. Terhibur aku kayak gini" Gumam Gladis lagi, "kasih panas dulu"


Gladis makin menjadi melihat komentar di postingannya.


"Doakan ya" balasnya sembari ketawa.


"Hahaha, kering tenggorokan kalau ketawa terus, ohh minum dulu kali ya" Ujarnya lagi menuju kulkas untuk ambil minuman sambil membalas komentar orang-orang.


"O o Ra komentar" Ucap Gladis jalan menuju sofa sambil minum jus.


"Aku balas ah atau telepon" Gladis menimbang-nimbang, "telepon aja ah" sambungnya sambil mencari kontak Ray dalam ponselnya.


"Halo Ra, tumben perhatian dengan postingan aku. Ada apa?" Gladis pura-pura bertanya ditelepon setelah Ray mengangkat teleponnya.


"Bedakan perhatian dengan teguran, berpendidikan kan?" Tanya Ray to the point.


Ray benar-benar pusing ditambah dengan pertanyaan-pertanyaan di grup WhatsApp, ditelepon langsung dan pesan singkat karena postingan di instagram Gladis.


"Dengar atau tidak?" Tanya Ray lagi ditelepon.


"By" Ucap Gladis lalu mematikan sambungan telepon.


"Aakkhh, kenapa sih gak pernah dihargai pengorbanan aku, hiks hiks" Gladis menangis.


"Prak" Bunyi ponselnya ia banting.


"Kamu benar-benar jahat Ra" Teriak Gladis lagi.


"Kamu bisa seperti itu, maka akan aku buat orang yang kamu cintai seperti itu juga" Ujarnya seorang diri yang penuh emosi.


Sedangkan Ray kembali menelfon Alan.


"Lan, tolong klarifikasi di postingan Gladis?" Minta Ray kepada sahabatnya itu.


Alan tidak habis pikir dengan pemikiran Ray saat ini, yang di postingan foto Maminya tapi yang klarifikasi dirinya.


"Ra, aku tau kamu pusing tapi lebih pusing lagi kalau aku yang klarifikasi, kalau aku ditanya netizen gimana?" Tanya Alan yang sudah pusing dengan permintaan Ray.


Ray menarik napas, "soalnya aku malas buka instagram Lan" Jawab Ray memelas karena capek dengan masalahnya dan ulah Gladis.


"Abaikan saja Ra, kenapa harus pusing?" Tanya Alan lagi.


"Takutnya nanti Viona lihat" Ray mengeluarkan unek-uneknya lewat telepon kepada sahabatnya itu.


"Emang tau akun Instagram Viona, atau jangan-jangan Viona sudah tau. Iya Ra?" Tanya Alan sedikit panik.


"Belum Lan, makanya aku suruh klarifikasi" Ujar Ray lagi.


"Abaikan saja tuh si Gladis, kalau kamu respon dia akan tambah menjadi" Ujar Alan dengan sabar.


"Iya, nanti aku jelaskan ke Viona kalau dia bertanya" Ucap Ray ditelepon dan Alan diseberang telepon langsung menepuk jidat.


"Aduh, kok punya sahabat kayak gini. Jangan tunggu dia tanya Ra tapi jelaskan sebelum bertanya"


"Tapi tau sendiri kan, aku dan Viona hubungannya bukan seperti pacaran pada umumnya"


"Siapa bilang kamu pacaran Ra. Emang pernah nembak Viona gak?" Tanya Alan lagi.


"Pernah" Jawab Ray dengan cepat.


Alan yang dengar terkejut, selama ini ia kira sahabatnya itu mencintai Viona dalam diam.


"Serius Ra?" Tanya Alan seakan tidak percaya apa yang ia dengar dari sahabatnya itu.


"Iya, sudah dulu Lan, aku mau pulang" Ujar Ray dan hendak mematikan sambungan telepon.


"Tunggu-tunggu"


"Apa?"


"Kamu diluar?, Singgah di apertemen, ada hal yang aku tanyakan" Ucap Alan lagi ditelepon.


"Nanti Lan, by" Ucap Ray mematikan sambungan telepon.


🌺

__ADS_1


Berbeda dengan Viona yang super sibuk, sekarang malah disuruh oleh ibunya untuk menjemur cucian.


"Mam, udah. Aku pamit jalan-jalan ya" Izin Viona sedikit teriak.


"Vio, mama masih butuh jasa kamu nak" Jawab Ibu Heti dengan membawa keranjang cucian.


"Ini untuk dihanger" Ucap Ibu Heti lagi.


"Mam, Viona capek" Viona sudah mulai mengeluh dengan pekerjaan hari ini.


"Jadi ibu rumah tangga lebih capek Vio, makanya ibu latih kamu dari sekarang. Nih hangernya" Ujar Ibu Heti lagi sembari memberikan hanger pada anak bungsunya.


"Sudah habiskan ini?" Tanya Viona sembari menerima hanger dari ibunya.


"Iya, habis ini boleh istrahat" Jawabnya lalu pergi dan tidak lama ia kembali lagi.


"Mam!" Ucap Viona dengan nada memelas.


"Keranjangnya jangan lupa dibawa masuk dalam rumah" Ungkap Ibu Heti dan Viona hanya mengangguk paham.


10 menit kemudian, Viona sudah selesai jemur cucian dan ia kembali dalam rumah untuk istrahat.


"Ponsel aku taruh dimana ya tadi" Gumam Viona sembari mencari ponselnya yang entah dimana ia simpan.


"Kak Yesi lihat ponsel aku gak?" Tanya Viona yang baru dari kamarnya.


"Kakak gak tau dek, baru dari kamar" Jawab Yesi, "masih ada jus gak dikulkas dek?" Sambungnya dengan pertanyaan.


"Masih kayaknya" Jawab Viona sembari bersandar di kursi.


"Mana ya ponsel aku" Batinnya.


Yesi jalan ke arah kulkas dan Viona memaksakan diri ke kamar untuk istirahat.


"Alhamdulillah ya Allah" Gumam Viona setelah merebahkan badannya diatas tempat tidurnya yang empuk itu.


"Itu ponsel taruh dimana" Ungkap Viona dan kembali bangkit dari tidurnya. Ia tidak bisa istrahat dengan tenang sebelum menemukan ponselnya.


Viona kembali mengobrak abrik kamarnya tapi hasilnya tetap nihil. Penuh keringat, capek, panas jadi satu.


"Mandi aja dulu kali ya" Batinnya sembari mengambil jubah mandi.


10 menit kemudian Viona baru selesai mandi, ia lama karena berendam untuk memanjakan diri dalam bathtub. Rambut dibaluti handuk dan sebelum keluar kamar mandi Viona sempatkan diri bercermin.


Pasti tidak akan lupa kalau perempuan tidak bisa jauh dari cermin. Viona melihat pantulan wajahnya di cermin.


"Kok kusam" Gumam Viona sembari melihat kedua pipinya dan dahi.


"Astaghfirullah" Viona terlonjak kaget mendengar ada yang bergetar rak samping cerminannya itu.


"Ponsel aku" Gumamnya dan ia ambil cepat.


Viona keluar dari kamar mandi menuju meja riasnya. Ia duduk disana lalu membuka handuk yang menutupi kepalanya. Viona mengeringkan rambutnya pakai hairdryer.


"Segarnya" Batinnya dan ia kembali melihat layar ponselnya, "apa ada pesan" Sambungnya asal.


"Oh Ahmad" Ujar Viona, dengan cepat membuka pesan dari Ahmad.


Ahmad mengirim pesan yang Viona sendiri tidak mengerti maksudnya.


Viona malas mengetik langsung menelpon Ahmad.


"Assalamualaikum Mad, ini maksudnya apa ya?" Tanya Viona tidak mengerti.


"Wa'alaikumussalam, buka instagram gak hari ini?" Tanya balik Ahmad yang membuat Viona mengerutkan keningnya diseberang telepon.


"Apa hubungannya?" Tanya Viona lagi.


"Coba lihat, gambar yang aku kirim" Ucap Ahmad ditelepon lagi.


"Tunggu ya, jadi kepo aku, hehehe" Jawab Viona dan membuka pesan WhatsApp dari Ahmad.


Seketika senyum Viona luntur seketika, disana terpampang jelas sebuah gambar Mami Ray dan Gladis saling merangkul dengan caption 'calon mertua'. Rasa sedih muncul seketika tapi lebih dominan ke kecewa pada Ray. Kalau memang Ray masih suka Gladis maka lepaskan dirinya, jangan datang di rumah dengan membawa kata-kata serius dan menikah.


Ahmad tidak ada respon dari Viona, ia kembali bertanya.


"Viona, kamu ok?" Tanya Ahmad, "maafkan aku Viona, tidak bermaksud menyakiti hatimu tapi aku harus sampaikan ini" Sambung Ahmad ditelepon itu dengan rasa bersalah.


"Terima kasih Mad" Ucap Viona setelah lama diam.


"Oke kan?" Tanya Ahmad lagi memastikan.


"Iya, aku biasa saja kok, tapi sudah dulu ya Mad nanti kita cerita-cerita lagi. Assalamualaikum" Ucap Viona sebelum mengakhiri teleponnya.


"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ok baik-baik ya temanku" Jawab Ahmad diakhiri dengan candaan.


"Apaan sih" Ucap Viona lagi lalu ia matikan sambungan telepon.


Ponselnya ia simpan diatas meja riasnya, memakai pelembab wajah tapi terbayang-bayang gambar Gladis dan Mami Ray.


Viona yang awalnya ingin keluar luar, ia urungkan niatnya. Ia setelah memakai cream wajah tanpa mengganti jubah mandinya dengan pakaian rumahan langsung membaringkan badan diatas tempat tidur.


"Apa aku harus percaya atau ragu dengan cinta Ray" Batinnya sambil menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2