Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
40. Kenapa Kita Berbeda?


__ADS_3

2 Minggu kemudian


Sesuai yang diucapkan ibu Heti di rumah sakit, ia akan ke restoran dimana anaknya sering makan eskrim gratis. Ia ingin membuktikannya sendiri.


Ibu Heti datang bersama temannya 4 orang ibu-ibu. Mereka masuk dan seketika waiter datang.


"Maaf hanya ingin memastikan, katanya disini ada eskrim gratis dengan syarat bawa anak kecil?" Tanya Ibu Heti.


Waiter yang datang melayani ibu Heti dan teman-temannya itu berbeda dengan orang yang selalu layani Viona. Ia bingung mendengar pertanyaan seperti itu. Karena selama ini belum pernah dengar tentang eskrim gratis. Karena restoran seafood jadi biasa minumannya aqua dan minuman yang ada esnya.


"Maaf bu sebelumnya, disini tidak ada eskrim" Jelasnya dengan sopan yang membuat Ibu Heti melihat waiter tersebut sambil mengerutkan keningnya tidak percaya.


"Oh gitu, bisa gak mbak panggilkan pelayan atas nama Ahmad" Minta ibu Heti lagi.


"Maaf bu, kalau waiter disini tidak ada yang namanya Ahmad, itu nama bos kami atau pemilik restoran ini" Jelasnya lagi.


"Masalahnya Ahmad itu bukan bos tapi seperti mbak juga" Jawab ibu Heti dan ke empat ibu-ibu teman ibu Heti hanya diam menyaksikan itu.


"Padahal tujuan makan eskrim" Ujar teman-teman ibu Heti yang membuat Ibu Heti merasa tidak enak kepada teman-temannya.


"Apa ada restoran seafood selain disini mbak?" Tanya Ibu Heti lagi, ia pikir mungkin salah masuk restoran.


"Ada tapi jauh dari sini bu, bisa ibu liat di google maps" Jawabnya lagi.


"Makasih ya mbak, udah mau jawab dari pertanyaan emak-emak ini, hehehe" Ujar ibu Heti lagi dengan tawa diakhir kalimatnya.


"Menu spesial aja ya mbak, ini sudah termasuk dengan minumannya?" Tanya Ibu Heti lagi.


"Iya bu, minumannya bisa request, minumannya apa aja?" Tanya waiter dengan menyediakan selembar kertas dan pulpen untuk menulis.


"Es jeruk nipis saja, samain semua" jawab Ibu Heti lagi, "ada yang tidak makan seafood?" Tanyanya kepada teman-temannya.


"Selesai makan ibu Heti, tenang saja. Dari sini kita cari restoran gratis eskrim, lumayan lho kebetulan saya juga suka eskrim" Jelas salah satu teman ibu Heti.


"Baik kami akan siapkan" Ujar waiter lalu pergi.


Ibu Heti dan keempat temannya itu berbagi cerita sambil menunggu pesanan mereka.


"Ibu, bagaimana keadaan Viona sekarang?" Tanyanya diantar sahabat ibu Heti.


"Alhamdulillah, sudah di rumah tinggal kontrol dan latihan jalan saja agar kakinya tidak kaku" Jelas ibu Heti.


"Kok sampai separah itu bu?" Tanya lagi yang satunya.


"Iya, tapi alhamdulillah gak parah bu. Aku itu kalau anak pergi tidak tenang dirumah sampai mereka balik" Jelas ibu satunya lagi.


"Sama bu, Viona itu aku larang ke kampung halaman ayahnya sendiri, tapi dia kekeh ingin pergi. Rencana mau temanin, tapi mantu saya hamil besar tidak mungkin saya tinggalkan, kasian anak pertama jadi masih takut dan bingung pastinya" Jelas Ibu Heti yang diangguki paham dan mengerti.


"Permisi, ini makanya ya bu, maaf kalau lama dan untuk si kecil eskrimnya akan menyusul. Pemilik restoran ini yang pesan" Jelas waiters yang datang membawa makanan dan minuman.


Dan benar saja satu waiter menyusul dengan membawa eskrim.

__ADS_1


"Silahkan dicoba semoga suka" Ucapnya setelah memberikan eskrim tersebut kepada anak yang dibawa oleh 4 orang teman ibu Heti.


"Bilang apa nak?" Tanya ibu Heti kepada anak teman-temannya itu.


"Terima kasih Om" Ucap mereka berempat. Untungnya 4 bocah itu duduk anteng saja sejak tadi, tidak merepotkan Ibunya.


"Sama-sama" Jawabnya sedangkan waiters yang lain sudah pergi setelah mengantar pesanan.


Waiter membalikkan badan untuk pergi, tapi namanya ibu-ibu, salah satu teman ibu Heti langsung bertanya.


"Mau pesan eskrim ya, untuk kami berlima" Ucapnya.


Waiter tersebut diam sejenak, bukannya tidak mau tapi ini ibu-ibu bukan anak muda yang suka makan eskrim. Ibu-ibu lebih mengarah ke jaga pola makan dan biasa minum teh bukan eskrim. Dan masalah utamanya adalah eskrim tersebut memang dibuat khusus dengan mix seperti selera Viona. Entah apa maksud Ahmad membuat eskrim seperti itu dan eskrim itu sebenarnya tidak dijual, dan eskrim tersebut hanya berada di kulkas khusus Ahmad di restoran.


"Maaf ya bu eskrim tersebut memang terbatas" Jelas waiter itu lagi.


"Susah juga ya, makasih mas" Ucap Ibu Heti malas untuk membahas tentang eskrim.


Mereka pun makan sampai selesai dan anak teman ibu Heti pun mengatakan kalau eskrim tersebut benar-benar enak.


🌺


Dirumah Viona tengah asyik cerita dengan iparnya yaitu Marcelea.


"Gimana kakinya?" Tanya Marcelea setelah duduk di kursi samping Viona.


"Alhamdulillah kak, gak sabar nih sembuh. Sudah kangen dengan eskrim di restoran tempat kerja Ahmad" Jawab Viona dengan sedikit curhat.


Viona langsung mengangkat jempol tangan kirinya menandakan memuji eskrim tersebut.


"Di mix lho kak didalam, itu yang buat enak" Puji Viona sembari membayangkan eskrim tersebut membuatnya ingin sekali makan.


"Jadi pengen, hehehe" Sambungnya lagi.


"Tapi bisa kok makan eskrim, yang sakit tangan dan kakinya bukan didalam kan?" Tanya Marcelea memastikan.


"Benar banget kak, aku chat Ahmad, dia salah satu waiter disana" Ujar Viona sembari mengetik di ponselnya.


"Mad boleh gak aku pesan eskrimnya?" Tanya Viona lewat pesan.


Setelah mengirim pesan, Viona dan Marcelea lanjut cerita.


"Udah berapa bulan kak, aku rasa makin besar" Tutur Viona sembari memegang perut buncit Marcelea.


"Sudah 9 bulan, tinggal tunggu hati" Jawabnya sembari senyum lebar.


"Yang benar kak?" Tanya Viona tidak percaya.


Marcelea menganggukkan kepala.


"Pasti kakak tidak sabar kan menunggu momen itu?" Tanya Viona lagi.

__ADS_1


"Pasti, semua ibu pasti seperti itu Vio tapi sedikit takut juga sih" Jelasnya, "Ehh, boleh kakak bertanya?" Sambungnya.


"Tanya aja kali kak" Jawab Viona dengan santai, "ehh bentar kak ada pesan masuk mudah-mudahan eskrim" sambungnya senang.


Senyum Viona seketika luntur setelah membaca pesan dari Ahmad.


"Kenapa dek?" Tanya Marcelea setelah melihat ekspresi wajah Viona yang murung.


"Kata Ahmad stok eskrim habis hari ini jadi gak bisa deh" Jelas Viona kepada iparnya, "tanya apa kak?" Sambung Viona penasaran karena baru kali ini iparnya bicara sampai minta izin terlebih dahulu.


"Pacaran dengan Alex?" Tanya Marcelea.


"Ray pernah nembak, tapi aku gak mau kak, dalam Islam dilarang pacaran" Jelas Viona.


"Dan Ray bilang dia ingin serius, tapi kakak tau sendiri kami berdua itu berbeda" Tuturnya lagi.


"Menurutmu, jika ada laki-laki yang serius seperti itu tapi tidak seiman, bagaimana?" Tanya Marcelea memancing Viona karena dari sepupunya sudah tau jawabannya.


"Gak ada solusi kalau bukan seperti Ummu Sulaim dan Abu Thalhah kak" Jawab Viona lagi dengan tatapan kedepan.


"Hmm, kakak paham. Tapi bagaimana jika tidak seperti Abu Thalhah, apa kamu masih mau melanjutkan hubungan itu?" Tanya Marcelea lagi.


Viona sedikit menarik napas kasar lalu menundukkan kepala.


"Bagaimana bisa menukarkan cintaku kepada Tuhan ku hanya karena manusia kak" Jawabnya dengan sendu.


"Aku yakin Allah sedang menguji cintaku saat ini, ingin melihat kualitas cinta dalam diriku. Bukankah Allah sangat cemburu jika hambanya lebih cinta pada ciptaannya ketimbang penciptanya? Dan jika demikian, aku tidak mau melakukan hal itu"


"Jujur aku masih awam dalam dunia percintaan kak, tapi tidak buta dengan cinta yang sesungguhnya. Bukankah wanita yang terjaga untuk laki-laki yang terjaga, begitupun sebaliknya. Aku percaya jodoh itu cerminan diri kita sendiri bukan dilihat dari lahiriah melainkan batiniahnya" Ungkap Viona lagi.


"Gimana kalau dia pernah pacaran?" Tanyanya Marcelea lagi.


"Setidaknya sudah bertobat kak. Allah saja maha pemaaf masa kita sesama tidak" Tutur Viona lagi.


"Benar juga, jika dia terus memaksa tapi tidak mau seiman dengan kita misalnya dan jika tidak diturutin akan pergi untuk selamanya?" Tanya Marcelea lagi.


"Aku lebih memilih kehilangan dia karena Allah dari pada kehilangan Allah karena dia" Jawab Viona lagi.


"Kakak faham maksudmu" Ujar Marcelea sembari senyum.


"Kakak doakan semoga mendapat imam yang mampu mendekatkan diri lagi kepada Allah dan bersama sampai surganya Allah" Marcelea mendoakan adik iparnya itu.


Viona senyum terpaksa mendengar itu, tergambar jelas jika ia juga mencintai Ray.


Marcelea menatap Viona, "aku tau dek, kalian saling mencintai kan?" Tanyanya lagi.


Viona tersenyum getir, "Percuma kak jika tidak satu tujuan" Jawabnya membuat Marcelea diam seketika.


Marcelea membenarkan ucapan Viona makanya ia memilih diam.


Dari interaksi Viona dan Marcelea tersebut, ternyata Ray mendengar semuanya. Bukan bermaksud menguping hanya saja pas lewat ingin menuju pintu rumah, samar-samar terdengar suara dari arah samping rumah, ia memutuskan mendekat ke sumber suara dan mendengar semuanya.

__ADS_1


"Kenapa kita harus berbeda Viona, sedangkan aku takut kehilangan untuk kedua kalinya" Batinnya dan tanpa sadar ia menjatuhkan air matanya.


__ADS_2