
Ray berada di bengkel sejak kemarin, ia memutuskan untuk tidur dibengkel untuk menghindari mantannya yang selalu mencari keberadaannya.
"Pagi bos" Ucap karyawannya.
"Pagi juga, kalau ada perempuan yang tanyakan saya bilang saja tidak ada" Ucap Ray memberitahu karyawannya itu.
"Siapapun bos?" Tanyanya memastikan.
"Iya, siapapun itu" Jawab Ray lalu kembali masuk disalah satu ruangan yang di sediakan dalam bengkelnya.
Ray sibuk dengan mengurus tiket pesawatnya untuk keberangkatannya pagi ini.
"Hallo Mi, iya Mi, baru mau pesan tiket nih abis itu ke bandara" Percakapan Ray lewat telepon dengan Maminya..
"Mami.. Mami gak sabar banget" Ucap Ray seorang diri sambil mengambil jaket dan kunci motornya.
"Jaga bengkel ya, beberapa hari kedepan saya tidak disini" Ucap Ray lalu ia pergi dengan mengendarai motornya menuju rumah.
Sesampai di rumah ia mandi dan memasukkan motornya di garasi mobil dan menelfon taksi online yang mengantarnya ke bandara.
Disisi lain, Alan yang mengendarai motornya menuju bengkel dan baru saja sampai bengkel ingin menemui sahabatnya. Karyawan kepercayaannya Ray menghampiri Alan dan mengatakan kalau bosnya itu balik rumah. Akhirnya, Alan ke rumah Ray. Ternyata benar, Ray duduk teras rumah sambil menunggu taksi online.
"Udah rapi, mau kemana luh?" Tanya Alan kepada Ray.
"Korea" Jawab Ray singkat.
"Ngapain?" Tanya Alan dan kepikiran tentang ucapan Viona, "Ra, kenal Viona?" Tanyanya.
"Viona siapa?" Tanya balik Ray. Ray mengabaikan pertanyaan sahabatnya yang pertama, ia fokus kepada sebuah nama yang sahabatnya sebut.
"Yang ke bengkel kamu kemarin" Ujar Alan lagi.
"Oh aku ingat, memang kenapa?" Tanya Ray penasaran.
"Aku ketemu dia di taman kemarin. Orangnya itu meskipun pendiam tapi menyenangkan" Puji Alan.
"Hee, gak cocok sifat buaya daratmu mendapatkan cewek sebaik dia" Ucap Ray kepada Alan.
Meskipun Ray dan Viona belum terlalu saling mengenal, tapi Ray tidak terima kalau Alan memuji Viona di depannya.
"Kalau aku berubah jadi lebih baik pasti cocok. Setelah dipikir-pikir Ra, aku sudah menemukan orang yang bisa membuatku jatuh cinta lagi" Ucap Alan sembari senyum dan pandangannya ke depan.
"Jiwa play boy mu memang tidak diragukan, baru kemarin mabuk dan mengatakan kalau patah hati sekarang sudah jatuh cinta lagi"
"Heee, Ra. Dukung dong sahabat mu ini, bukan malah berkata seperti itu. Kalau gadis itu yang dapat menyembuhkan patah hati yang aku rasa. Why not?" Ucap Alan sambil menaik turunkan alisnya kepada Ray.
"Bukan seperti itu, tapi sembuhkan luka mu baru jatuh cinta. Jangan jadikan anak orang sebatas obat" nasehat Ray lagi kepada sahabatnya itu.
"Obat untuk penyakit yang sudah kronis Ra, jadi sudah ketergantungan.. Ingat ketergantungan" Jawab Alan lalu ia duduk disamping Ray.
Dengan menarik napas Alan menghadap kearah Ray, "Aku yakin jodoh itu memang tak kemana" Ucapnya lagi sembari senyum.
"Iihhh, makin ngawur ucapanmu.. Gak salah minum obatkan tadi malam?" Tanya Ray.
"Aku menunggu obat cinta dari sang bidadari ku Viona, hehehe" jawab Alan diakhiri dengan suara tawa. "Tau gak Ra, baru kali ini aku sejatuh-jatuhnya sama perempuan" sambungnya dengan bersandar dikursi tempat duduknya.
Ray mendengar itu langsung menoleh kearah Alan dengan menggelengkan kepala melihat sahabatnya itu sedang bersandar sambil memejamkan mata dengan sudut bibir terukir senyum.
"Lan, jangan terlalu mencintai. Nanti sakit hati lagi" Ray mencoba mengingatkan sahabatnya itu, "Dan ingat yaa, aku gak mau masuk club lagi" Sambungnya dengan menaikkan jari telunjuknya mengingatkan Alan.
Alan menoleh, "Bro, demi dia aku akan berubah" Jawabnya santai, tapi itu membuat Ray takut.
Karena Ray pun sejujurnya, suka pada Viona tapi ia tidak tau apakah perasaan itu hanya karena tidak memiliki teman perempuan selain sepupunya atau perasaan cinta seperti dulu jatuh cinta pada Gladis.
"Lan, lu serius?" Tanya Ray.
"Iya, aku serius Ra. Aku juga sudah tau alamat rumahnya" Ucap Alan lagi.
"Tau dari mana?" Tanya Ray membuat dirinya gelisah mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Aku ikuti dari taman sampai belok masuk halaman rumahnya" Jelas Alan lagi.
"Lan, apa gak ada cewek lain selain Viona?" Tanya Ray lagi.
Alan langsung menatap wajah Ray setelah menyebut nama Viona, ada hal aneh yang Alan rasa dari sahabatnya Ray.
"Hati gak bisa memilih Ra kepada siapa ia jatuh cinta" Ucap Alan lagi.
"Aku tau, tapi perasaan itu bisa kita kontrol Lan" Ucap Ray lagi.
"Benar, tapi kamu kenal dimana Viona?" Tanya balik Alan.
"Aku pernah mengantarnya pulang waktu resepsi sepupu aku" Jawab Ray lagi.
"Hanya antar too, hmm bagus dong gak perlu lagi memperkenalkannya padamu nanti" Ucap Alan, "Ehh kapan ke bandara? Aku antar" Sambungnya dengan menawarkan diri.
"Gak jadi Lan"
"Gak jadi, maksudnya?" Tanya Alan.
"Gak jadi ke Korea.. Tunda untuk beberapa hari" Ucap Ray.
"Ohh, lagi menghindar dari wanita yang mampu menggetarkan hatimu" Ucap Alan dan menarik tangan Ray membawanya paksa ke arah motor.
"Apaan sih" jawab Ray malas, "terus kenapa main tarik-tarik kayak aku perempuan, aneh Lan. Coba.. ya sudah lah" Sambungnya karena Alan sudah menyalakan mesin motornya.
Alan dan Ray pun kembali di bengkel dan ternyata disana Gladis sudah duduk cantik.
"Perempuan itu sudah ada lagi disana Lan" Lirih Ray, ia paling malas ketemu dengan Gladis hari ini.
"Temui saja Ra, biar bagaimanapun dia mantan terindah lu, hehehehe" Ucap Alan lalu ia ketawa menertawai Ray.
"Iya, iya" Ray mengalah.
__ADS_1
Mereka pun melangkah menghampiri Gladis. Gladis menyambut mereka dengan senyum termanisnya.
"Manisnya senyum Gladis tu" puji Alan.
"Untuk kamu saja, lupakan Viona" Ucap Ray tidak sengaja membuat Alan sedikit memicingkan mata.
"Halo bro, gak ada tuh ceritanya permata didepan mata malah memilih batu akik. Itu ibaratnya Viona permata dan mantanmu itu batu akik" Jelas Alan membuat Ray malas untuk mendengarkannya.
"Itu tau" Jawab Ray, "bikin pusing saja" sambungnya.
Disisi lain, Viona sengaja singgah di bengkel hanya untuk berterima kasih kepada Ray. Viona memarkirkan motornya tepat depan bengkel dan masuk dalam bengkel tersebut.
"Maaf, apa ada bos kalian?" Tanyanya pada salah satu karyawan.
"Waduh itu gak tau mbak" jawabnya sesuai apa yang dipesankan oleh Ray.
"Gitu yaa, kira-kira kapan bos kalian datang?" Tanya viona lagi.
"Gak menentu mbak" jawabnya lagi.
"Oh gitu. Hmmmm, minta tolong kalau bosnya datang hubungi saya. Ini nomor hp saya" Ucap Viona sembari memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor hp nya.
"Baik mbak" Ucap karyawan yang sedang memperbaiki motor itu.
"Terima kasih" ucap Viona lalu pergi.
Karena Gladis duduk di dalam bengkel jadi tidak kelihatan dari luar.
Viona kembali membawa motornya untuk memasukkan berkas lamaran kerjanya disebuah perusahaan.
Sedangkan di bengkel Ray dan Alan lagi berurusan dengan Gladis. Bukan Gladis kalau tidak ngeyel dan tidak mau terima kalau Ray sudah tidak mau kembali padanya.
"Gladis, perempuan itu harus punya harga diri. Dimana harga dirimu seorang perempuan memohon-mohon cinta sama laki-laki" Ucap Alan mencoba menyadarkan Gladis.
"Diam kau, urus saja kisah cintamu" Ucap Gladis dengan lantang.
Alan langsung melihat Ray dan menepuk pundak sahabatnya itu sembari berkata, "Tidak khilaf dulu pacaran dengan Gladis?" Tanya Alan dengan sedikit berbisik.
"Alan, jangan buat aku tambah pusing" tegur Ray.
"Ra, beri aku kesempatan" Gladis memohon.
"Gladis kamu cantik, banyak laki-laki diluaran sana yang mencintai kamu dengan tulus" Ucap Ray lagi.
"Gak" teriak Gladis, "Aku gak mau Ra" sambungnya dengan lembut.
"Gladis kamu belum berubah sama sekali, pergilah. Carilah laki-laki menerima kamu apa adanya, aku sudah tidak bisa seperti dulu" Tegas Ray.
"Jahat kamu Ra" Ucap Gladis lalu pergi sambil menyeka air matanya.
Kepergian Gladis merupakan angin segar bagi Alan dan Ray. Alan merasa lucu melihat Ray menghadapi Gladis.
"Hixhixhix, lucu ekspresi mu tadi bro" Ucap Alan.
"Gak, tapi aku salut sama kamu. Semangat Ra" Ucap Alan dan keluar dari ruangan Ray.
"Ada yang dibutuhkan?" Tanya Alan pada karyawan tersebut.
"Tidak pak, apa ada bos?" Tanyanya.
"Ada didalam" Jawab Alan, "Ada apa? Apa tu di kertas?"sambungnya.
"Oh ini nomor hp, permisi pak mau ketemu dulu dengan bos" Ucapnya lalu mengetuk pintu ruangan Ray.
Tok tok tok
"Siapa?" Tanya Ray dalam ruangannya.
"Saya bos" Jawabnya dibalik pintu.
"Masuk"
Karyawan kepercayaannya itu pun masuk dalam ruangan Ray.
"Ada apa?" Tanya Ray, "duduk dulu" sambungnya mempersilahkan karyawannya itu.
"Gini bos, tadi ada yang datang menanyakan bos. Katanya kalau ada bos minta ditelepon" Ucapnya.
"Siapa?" Tanya Ray, "Apa pernah datang disini sebelumnya?" Tanya Ray lagi. Ia sangat berharap kalau itu Viona datang kembali di bengkelnya.
"Kurang tau bos, apa bisa saya hubungi sekarang bos agar dia datang?" Tanyanya karena ia takut mengambil keputusan sendiri apalagi itu berurusan dengan bos.
"Silahkan, telepon disini saja" Ucap Ray dan tidan menunggu waktu lama karyawan tersebut menelfon Viona lewat telepon bengkel.
"Wa'alaikumussalam mbak, bisa datang sekarang mbak sudah ada bos saya, iya mbak" Ucapnya dalam telepon.
"Gimana?" Tanya Ray.
"Sudah bos" Jawabnya.
"Oke, nanti arahkan disini kalau sudah datang"
"Siap bos, saya pergi dulu bos" pamitnya dan keluar dari ruangan Ray itu.
Kepergian karyawannya itu membuat Ray penasaran dengan orang yang ingin menemuinya di bengkel karena selama ini belum pernah ada kejadian seperti ini.
"Apa karyawan saya melakukan kesalahan ya? Tapi biasa langsung komplen, ini berbeda" Ucapnya seorang diri sambil mondar-mandir dalam ruangannya.
"Telepon Alan" Gumamnya lalu mengambil ponsel dalam saku celananya.
"Lan ke ruangan saya sekarang" Ucap Ray ditelepon.
"Ngapain?" Tanya Alan dibalik telepon itu.
__ADS_1
"Sini dulu, penting nih" Ucap Ray lagi.
Alan menarik napas lalu menjawab, "iya, tunggu" Jawab Alan ditelepon lalu mematikan sambungan telepon.
Alan pun masuk diruangan Ray, karena saat Ray menelfon Alan masih melihat orang kerja.
"Ada apa?" Tanya Alan, "butuh bantuan apa?" Tanyanya.
"Sebentar, kita tunggu saja. Ada yang datang" Jawab Ray dengan santai.
"Oh itu saja"
Alan pun duduk dikursi dalam ruangan Ray. Alan dan Ray menunggu orang yang akan datang di bengkelnya siang ini.
10 menit sudah berlalu, tapi belum muncul juga orang yang ingin bertemu dengannya itu.
"Gak jadi mungkin Ra" Ucap Alan.
"Mungkin, ya sudah kita makan siang kebetulan sekarang sudah waktunya makan" Ucap Ray.
"Oke" Jawab Alan.
Ray pun menarik jaketnya begitupun dengan Alan hendak bangkit dari kursinya, tiba-tiba ada yang ketuk pintu.
"Siapa?" Tanya Ray.
"Saya bos" Jawab karyawan yang mengatakan kalau ada orang ingin menemuinya.
"Masuk" Ucap Ray.
Karyawan tersebut membuka pintu dan memperlihatkan seorang perempuan yang Ray dan Alan kenal bersama anak kecil yang berpakaian seragam sekolah, dari bajunya kalau itu anak yang masih sekolah di taman kanak-kanak.
"Viona" Ucap Alan dan Ray bersamaan.
"Boleh masuk?" Tanya Viona dengan sopan.
"Ohh.. silahkan" Ucap Alan cepat, membuat Ray baru saja buka mulut untuk mempersilahkan Viona.
Viona pun masuk dan Ray langsung mempersilahkan Viona duduk.
"Silahkan duduk" Ucap Ray agak canggung.
"Terima kasih" Ucap Viona, "Duduk sayang" Sambungnya kepada ponakannya.
Mereka duduk berempat dengan Ainun, tapi namanya anak kecil tidak hanya duduk diam. Ainun melihat isi ruangan Ray.
"Om, itu apa?" Tanya Ainun kepada Ray.
Ray langsung senyum mendengar pertanyaan dari Ainun, "Itu mainan om waktu kecil sayang" Jawab Ray, "suka?" Tanya Ray balik.
"I...iya" Jawab Ainun dengan malu-malu.
"Boleh pinjam kok kalau suka, tapi ada satu syarat" Ucap Ray lagi.
"Apa itu om?" Tanya Ainun.
"Setiap pulang sekolah singgah di bengkel om main bareng om, gimana?" Tanya Ray kepada Ainun dan Ainun senang mendengar itu.
"Yehh, Ainun punya teman" Ucap Ainun sambil loncat-loncat senang.
Sementara Viona, jangan ditanya lagi heran dan malu jadi satu saat ini. Heran karena Ainun tanpa malu memanggil Ray dengan sebutan Om dan malunya Viona ponakannya itu terlalu banyak yang ia lihat di ruangan Ray, seakan orang tuanya tidak pernah membelikan mainan. Padahal Yesi selalu ia belikan apa yang Ainun suka.
"Ekhem" Viona berdehem.
"Maaf, soalnya keasyikan main bersama Ainun" Ucap Ray, "ngomong-ngomong ada apa mau bertemu dengan saya?" Tanya Ray.
"Mau ucapkan terima kasih sudah membantu saya kemarin, itu saja" Ucap Viona, "maaf atas ponakan saya" sambungnya.
"Oh, ponakan aku kira..." Alan menggantungkan ucapannya.
"Kira apa?" Tanya Viona.
"Lupakan, apa punya nomor hp?" Tanya Alan lagi.
"Ada" Jawab Viona singkat.
"Bisa saya minta?" Tanya Alan lagi dan ia berharap kalau Viona memberikan nomor ponselnya.
"Gimana kalau kita makan siang" tawar Ray.
"Motong aja lu" Jawab Alan.
"Terima kasih, saya dan Ainun langsung pulang" Jawab Viona dengan sopan.
"Anggap ini balasan ucapan terima kasih kamu" Ucap Ray yang membuat Viona berpikir.
Memang aneh, masa iya ucapan terima kasih dibalas dengan makan siang. Tapi bagi Viona tidak nyaman kalau makan bersama orang-orang baru dalam hidupnya.
Viona senyum terlebih dahulu seramah mungkin, "maaf ya Ray, Alan. Ponakan aku harus cepat pulang sudah ditunggu oleh orang tuanya" kilah Viona.
Ray tidak mungkin melarang jika alasannya seperti itu, walaupun ia sangat berharap jika bisa makan siang bersama.
"Hmm, gimana diantar saja" tawar Ray.
"Motor aku gak mogok" Jawaban singkat Viona dapat membuat Ray diam seribu bahasa.
"Hati-hati peri kecil" Ucap Alan dan melambaikan tangan kepada Ainun.
"Iya Om" jawab Ainun sambil membalas lambaian tangan Alan.
"Om makasih ya mainannya, nanti Ainun sering ke sini" Ucap Ainun.
"Ditunggu ya" Ucap Ray kepada Ainun.
__ADS_1
Viona dan Ainun pun pulang sedangkan Ray dan Alan ke restoran untuk makan siang.