
"Bukan seperti itu kak, Viona hanya mencari waktu yang pas untuk menceritakan semuanya" Jelas Viona dengan menatap wajah kakaknya itu.
"Seharusnya Ray jujur kepada orang tuanya" Ujar Yesi.
"Kakak ke kamar ya, Ainun sudah dikamar kayaknya" Lanjutnya lalu pamit pergi.
Viona menganggukkan kepala karena ia pun sudah tidak mendengar suara ponakannya diruangan tengah.
"Selamat malam ya kak" Ucap Viona dan dirinya pun ke kamarnya untuk istrahat.
Viona dibuat gelisah antara Ray dan ibunya. Ray mengatakan dirinya serius sedangkan ibunya entah serius atau main-main menjodohkan dirinya.
Viona merebahkan badannya ditengah tempat tidur dan menarik selimut menutupi setengah dari badannya.
"Apa aku perlu tanya Ray, tapi malu nanti dikira kebelet nikah lagi" Gumam Viona seorang diri.
Viona membalikkan badan menghadap dinding kamarnya.
"Apa aku minta pendapat Ahmad tentang perjodohan itu, biar bagaimanapun dia kan sahabat aku pasti lebih nyaman curhat sama dia ketimbang Ray" Batinnya sambil mempertimbangkan ucapannya itu.
"Fix telepon Ahmad" Ucap Viona dan bangkit dari tempat tidur mengambil ponselnya diatas nakas.
Mencari kontak Ahmad sambil duduk bersandar diatas tempat tidur.
"Assalamualaikum Mad, sibuk gak?" Tanya Viona kepada Ahmad.
"Wa'alaikumussalam, tidak. Kenapa?" Tanyanya balik Ahmad.
"Itu bunyi apa?" Tanya Viona dibalik telepon karena terdengar bunyi pintu terbuka.
"Oh, pintu rumah" Jawab Ahmad dengan santai sembari duduk dikursi dan membuka tali sepatunya dengan satu tangan.
"Kenapa?" Tanya Ahmad lagi. Ia tau Viona tidak pernah menelpon malam kalau tidak ada yang penting.
"Sibuk apa gak nih?" Tanya Viona lagi. Ia tidak percaya dengan jawaban sahabatnya itu.
"Baru nyampe rumah dari restoran" Jujur Ahmad, "Kalau ada yang penting nanti aku telepon balik, mau mandi dulu. Assalamualaikum" Ucap Ahmad lalu mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban salamnya.
"Wa'alaikum.. tut.." kalimat Viona terhenti setelah mendengar bunyi ponselnya tanda panggilan sudah berakhir.
"Untuk kamu sahabatku yaa!!" Gumam Viona sambil melihat layar ponselnya.
Viona duduk sambil melihat isi galeri dalam ponselnya. Foto-foto yang dilihat waktu mereka ketaman bertiga. Awal Ray mengajak Viona dan Ainun.
"Maaf Ray, bukan aku menjauh tapi aku sedang berusaha untuk Istiqomah. Mungkin jika aku katakan ini didepanmu akan menertawakan ku karena aku hanya berhasil menjauh darimu tapi tidak dengan Ahmad" Batinnya.
Viona sadar dari lamunannya, "Ih, kenapa sih aku kayak gitu" Ucap Viona sambil menggelengkan kepalanya.
20 menit Viona menunggu Ahmad untuk menelepon tapi tak kunjung telepon juga.
"Apa ia tidur ya? Sudah lah kalau memang tidur mungkin capek" Ucap Viona lagi dan kembali merebahkan badannya sedangkan ponselnya ia simpan tidak jauh darinya.
🌺
Disisi lain, Ahmad baru saja selesai masak dan makan, setelah selesai baru ia akan kembali menelfon Viona.
Diraihnya ponsel yang ia simpan diatas meja makan lalu telepon Viona. Tiga kali menelfon belum ada jawaban juga.
"Apa sudah tidur, tapi tadi aku suruh tunggu" Gumam Ahmad, "telepon lagi, ini terakhir" sambungnya sembari menelepon.
__ADS_1
Samar-samar dari dalam telepon suara khas setengah sadar, "Siapa?" Tanya Viona tanpa salam terlebih dahulu.
"Assalamualaikum" Ucap Ahmad ditelepon.
"Hmmm, wa'alaikumussalam. Siapa?" Tanya Viona lagi setelah menjawab salam.
"Menelpon itu jam 8 bukan tengah malam atau sekarang udah subuh, iya?" Tanya Viona ditelepon itu membuat Ahmad tertawa.
"Aku udah bilang tadi, tunggu aku mau mandi dulu baru aku telepon balik. Gimana sih udah lupa" Ujar Ahmad ditelepon.
Viona mengumpulkan kesadarannya, dan mencoba membuka mata untuk melihat nama dilayar ponselnya.
"Kamu Mad?" Tanya Viona sedikit kaget.
"Siapa lagi, atau kamu kira orang yang ditemui di Hypermart?" Tanya Ahmad mencoba pancing Viona, karena selama ini Viona tidak pernah bahas tentang laki-laki.
"Eh bukan lah, dia itu teman Ray" Jelas Viona dan Ahmad sudah tau Ray yang Viona maksud.
"Oh, kita skip. Kenapa tadi menelfon?" Tanya Ahmad ditelepon itu.
Viona terlebih dahulu duduk sebelum menjawab pertanyaan dari Ahmad.
"Gini Mad, tadi mama aku tuh bilang mau jodohkan aku" Curhat Viona.
"Terus?" Tanya Ahmad penasaran.
"Aku syok dan udah bujuk berbagai cara tapi gak mempan. Kak Yesi malah dukung lagi keputusan mama, pasti mama pemikirannya itu benar karena didukung ke dua anaknya, iyakan?" tanya viona setelah cerita.
"Gak buruk-buruk amat sih menurutku, selagi cowok itu bagus agamanya. Kenapa tidak" Jawab Ahmad membuat Viona seketika badannya lemas mendengar itu dari sahabatnya.
"Sefrekuensi kalian ya, salah aku cerita ke kamu Mad" Viona jadi kesal dan menyesal telah sama Ahmad setelah mendengar responnya.
"Hahaha, dewasa dong udah mau dijodohin masih kayak anak kecil gitu" Ucap Ahmad setelah ia tertawa.
"Apa aku salah orang ya" Viona membatin.
Ahmad merasa Viona hanya diam, ia berinisiatif untuk bertanya lagi.
"Siapa laki-laki yang gak beruntung mau dijodohkan dengan kamu?" Tanya Ahmad lagi .
Mendengar itu Viona hanya diam saja, seakan dirinya tidak pantas untuk orang lain.
"Viona!" Panggil Ahmad setelah lama tidak direspon.
"Hmmm" Respon Viona.
"Siapa cowok yang mau dijodohkan dengan kamu?" Tanya Ahmad lagi.
"Kamu nanya, kamu bertanya-tanya. Ia benar, kamu bertanya-tanya karena penasaran" Ujar Viona dalam telepon membuat Ahmad yang awalnya ingin bicara serius kembali tertawa.
"Hahaha, jujur perut aku sakit ini" Ungkap Ahmad dalam telepon itu setelah tertawa.
"Matiin saja Mad, dari pada sakit" Ucap Viona dingin.
Ingin cerita tapi Ahmad selalu menanggapinya dengan bercanda.
"Assalamualaikum Mad" Ucap Viona lagi lalu ia matikan sambungan telepon.
Viona langsung menonaktifkan telepon genggamnya, ia sengaja mengantisipasi saat Ahmad menelfon. Menarik selimut sampai kepala lalu ia tidur.
__ADS_1
Sedangkan Ahmad, yang ia kira candaannya tidak akan membuat Viona marah. Sekarang malah ketar-ketir setelah telepon mati. Ahmad menelfon berkali-kali tapi kontak Viona tidak aktif.
Ia mengirim pesan minta maaf lewat WhatsApp tapi centang satu.
Lama Ahmad menatap layar ponselnya dengan harapan Viona tiba-tiba aktif dan membuka pesannya. Namun, nyatanya itu hanya sebatas harapannya saja.
Ahmad merebahkan badannya diatas tempat tidur dan sekali-kali cek pesannya apakah sudah dibaca atau belum, tapi centang itu belum berubah jadi warna juga.
Ahmad memutuskan untuk tidur malam ini dengan harapan bangun pagi pesannya sudah dibaca.
Keduanya masuk didalam mimpi masing-masing.
🌺
Di kediaman Ray, ia sibuk periksa keuangan bengkelnya. Ray udah mengantuk tapi masih ada berkas lagi yang belum selesai diperiksa.
"Semangat Ray" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Beberapa menit laporan keuangan bengkelnya ia sudah periksa semua. Istrahat sejenak di kursinya sembari memejamkan mata sejenak.
Bersandar di kursinya itu tanpa merasa terusik sedikit pun membuatnya tertidur.
Ray mimpi dalam tidurnya kalau ia melihat seorang wanita berpakaian putih bak pengantin, begitu bahagianya perempuan tersebut dari pandangan Ray. Ia dekati tapi semakin didekati perempuan tersebut semakin jauh. Ia lari mengejar wanita tersebut, tapi wanita itu berjalan dengan anggun dan pelan tapi dipandangan Ray lebih cepat dibandingkan dirinya yang lari, sehingga semakin dikejar bukan mendekat malah menjauh.
"Hay tunggu, kamu mirip seseorang" Ucap Ray dalam mimpinya itu.
Perempuan tersebut menoleh dan memperlihatkan sebelah wajahnya dengan senyum terukir indah di bibirnya.
"Kamu mirip Viona" Ucap Ray lagi sembari teriak.
"Aku Viona, Ray" Jawabnya lalu ia melangkah meninggalkan Ray yang berada dibelakangnya itu.
Ray mengejar lagi, namun Viona masuk dalam mesjid.
"Tunggu, aku ikut" Ucap Ray lagi sambil melambaikan tangan ingin ditunggu.
Viona naik dua tangga mesjid lalu membalikkan badan melihat Ray yang berada dibawah tangga sambil mendongak melihat Viona.
"Bantu aku" minta Ray.
"Syahadat" Ucap Viona lalu menghilang begitu saja dipandang Ray.
Ray dalam mimpinya itu langsung celingak-celinguk mencari keberadaan Viona sembari memanggil Viona.
"Viona... Viona... Viona"
Panggilan ketiga Ray langsung terbangun dari tidurnya itu.
"Kenapa bisa saya mimpi seperti itu?" Ray bertanya-tanya dalam hatinya.
Dahinya berkeringat, "Syahadat, apa maksudnya?" Ray dibuat bingung dengan mimpinya sendiri.
Ray langsung ke wastafel mencuci mukanya terlebih dahulu, setelah itu ia menuju kamar untuk merebahkan badannya, meskipun demikian pikirannya melayang tak tentu arah.
"Kenapa aku mimpi aneh seperti tadi" Batinnya sembari mencoba memejamkan mata.
Mata terpejam namun pikirannya masih mencoba mencerna kalimat terakhir dari Viona lewat mimpi itu.
Ray membuat mata dan meyakinkan dirinya.
__ADS_1
"Ray itu hanya bunga tidur, jangan dipikirkan apalagi penasaran" Batinnya.
"Tidur.. tidur.. tidur" Ucap Ray seorang diri sampai tertidur.