Karena Amin Yang Sama

Karena Amin Yang Sama
61. Harapan Pupus


__ADS_3

Pagi ini Viona rencana kembali melihat gedung untuk butiknya seorang diri. Awalnya mengajak kakaknya tapi tiba-tiba mendadak ke sekolah Ainun, mengurus surat pindah putrinya. Ainun akan sekolah ditempat tugas ayahnya.


"Makin sunyi ni rumah. Kak Yesi ikut suami dan kak Rifal pindah kerja di kantor cabang" Gumam Viona seorang diri.


Sebelum pergi terlebih dahulu pamit kepada ibunya, "mam pamit cek gedung untuk butik nanti" Ucapnya dengan nada kurang semangat.


"Iya, hati-hati. Kenapa lesu?"


"Itu mam, kak Yesi bawa Ainun ketempat tugas suaminya"


"Gak masalah, sudah kewajiban kakakmu mendampingi suaminya"


"Iya, tapi maksud Vio setidaknya jangan bawa Ainun, Ainun disini saja bersama kita" Ujar Viona.


"Sunyi kan dalam rumah tidak ada Ainun ditambah Hamzah belum tentu datang dalam waktu dekat" lanjut Viona.


Ibu Heti berpikir sejenak, "Gimana kalau menikah secepatnya, jadi anak kamu dengan Ahmad disini. Gimana?" Tanya ibu Heti sambil memainkan alisnya.


"Jangan berpikir aneh deh mam, Vio pamit dulu ya" Pamit Viona lalu cium tangan.


"Assalamualaikum" Ujar Viona lagi.


"Wa'alaikumussalam, hati-hati sayang" Jawab Ibu Heti.


"Anak sekarang, bahas nikah langsung banyak alasan" Ujar ibu Heti lagi.


Sedangkan Viona, sekarang kembali menggunakan motor butut seperti biasa. 30 menit dari rumah sampai di gedung tersebut. Meskipun belum ada kesepakatan diantara kedua belah pihak tapi yang punya gedung memutuskan untuk merenovasi terlebih dahulu sebagai bonus karena sudah memilih tempat itu.


Viona sangat senang, dengan harga yang menurutnya lumayan murah ditambah bonus renovasi gedung.


Viona masuk didalam dan bertanya kepada bos para pekerja itu.


"Pak ini sudah berapa persen?"


"80% bu, dan kalau ibu ada kesempatan bisa rekomendasi warna ruangan supaya terlihat bagus nanti" Ungkapnya.


Viona makin senang dengar itu, "benar kah pak?" Tanya Viona yang masih belum percaya.


"Iya bu, nanti yang punya gedung ini ibu sendiri, jadi tidak masalah merekomendasikan warna supaya satu kali kerja"


"Boleh banget pak" Jawab Viona lagi.


"Sebenarnya siapa pemilik gedung ini, saya hanya komunikasi dengan pihak agen belum bertemu langsung dengan pemiliknya" lanjut Viona dalam hati, ia sangat penasaran dengan pemilik gedung ini.


"Terima kasih ya pak, aku pikirkan dulu warna ruangannya" Ujar Viona lagi.


"Baik bu" Jawabnya.


Setelah cek gedung, Viona berinisiatif untuk ke restoran Ahmad untuk makan eskrim. Ia sebenarnya tidak ingin kesana tapi eskrim direstoran itu menariknya kesana.


"Bodoh amatlah mau ditertawai Ahmad atau tidak yang penting makan eskrim dulu" Ujar Viona diatas motor yang sudah menuju restoran Ahmad.


Biasanya Viona sebelum pergi, akan menelfon Ahmad untuk memastikan eskrim, tapi sekarang ia akan tanyakan langsung ke waiter.


Tidak membutuhkan waktu lama, motor Viona sudah parkir di halaman restoran.


Masuk dan bertanya kepada waiter menanyakan eskrim seperti biasanya.


"Pak bos belum datang mbak Viona" waiter itu memberi tahu Viona.


Viona diam sambil mencerna kalimat itu, "maksudnya?"


"Gini mbak, eskrim itu khusus pak Ahmad buat sendiri"


"Terus?"


"Harus minta izin terlebih dahulu, kata pak bos eskrim tidak masuk didaftar menu"


"Terus selama ini?"


"Saya kurang tau mbak" Jawabnya lagi.

__ADS_1


"Terima kasih" Ucap Viona dan ia duduk terlebih dahulu dikursi restoran untuk istrahat sejenak sebelum balik.


"Apalagi Ahmad yang dia sembunyikan dari aku, terlalu banyak rahasia. Sok misterius" Batin Viona.


"Apa aku ke minimarket aja kali cari eskrim" Viona mulai menimbang-nimbang dalam hati, "mana panas lagi diluar" sambungnya dalam hati.


"Uuhhuaa" Viona menghembuskan napas dengan kasar.


"Makan cumi bakar dan udang kayaknya enak, udah lumayan lama juga datang makan disini" Gumam Viona.


Viona memanggil waiter dan waiter pun datang.


"Ini menunya mbak" Ucapnya sambil memberikan daftar menu.


"Makasih mbak, seperti biasa saja" Ujar Viona tanpa melihat daftar menu.


"Yang apa saja itu mbak?" Tanya waiter itu.


"Cumi bakar dan udang" Ucap yang melayani Viona selama ini tiba-tiba datang.


Seketika Viona senyum, "ya Allah sudah lama kita ketemu, duduk disini seperti biasa temanin aku makan" Ujar Viona.


"Maaf mbak Viona sepertinya gak bisa" tolaknya dengan halus.


"Kenapa, takut Ahmad?, Nanti kalau dipecat kerja saja di butikku" tawarnya kepada waiter restoran Ahmad.


"Ekhem, butik belum jadi sudah mau ambil karyawan orang" Ucap seseorang dari arah belakang keduanya.


Waiter dan Viona membalikkan badan ingin melihat siapa yang sudah berani masuk diobrolan mereka.


"Maaf pak, saya pamit dulu" Ucapnya lalu pergi dengan buru-buru.


Viona menatap Ahmad dengan malas, "duduk Mad, ada hal serius"


Ahmad penasaran karena selama ini Viona kalau cerita meskipun serius tapi pasang muka santai dan disela-sela bercerita Viona selalu ketawa, intinya wajah Viona tidak pernah memasang wajah serius saat cerita.


"Apa?"


"Oke" Ahmad pun duduk tepat depan Viona.


"Kenapa eskrim direstoran mu ini harus lapor dulu baru bisa ambil?" Tanya Viona penasaran dan sebenarnya kesal karena kedatangannya disini makan eskrim tidak terpenuhi.


"Itu tergantung aku" jawab Ahmad santai.


"Disini aku pemilik resto, jadi suka-suka aku. Emang kenapa?" Tanya Ahmad pura-pura tidak tahu maksud dari pertanyaannya tadi.


"Tidak, wah sepertinya pesanan aku udah datang" Ujar Viona sambil bertepuk tangan senang, "hebat lho chefnya" Puji Viona lagi.


"Sehebat-hebatnya chef disini lebih hebat lagi yang punya restoran" Ujar Ahmad memuji dirinya sendiri.


"Untung sahabat" Ucap Viona sebelum menyantap makanannya.


Sedangkan disisi lain, Ray berinisiatif untuk menemui Ahmad sebelum kembali ke Korea. Ray menggunakan mobil Alan karena ia ke restoran Alan menggunakan motor dan ia simpan disana.


Sampai direstoran Ahmad, Ray menanyakan waiter bernama Ahmad.


"Maaf, apa yang bernama Ahmad yang kerja disini masuk siang ini?" Tanya Ray.


Seluruh karyawan disitu tidak tau tentang penyamaran Ahmad dulu selain waiter yang melayani Viona setiap datang.


"Maaf mas, disini tidak ada pelayanan yang bernama Ahmad"


"Masa sih, dia kerja disini" Ujar Ray lagi, "apa aku yang lupa, tapi masa iya aku salah restoran" Batin Ray.


"Tapi disini ada yang bernama Ahmad?" Tanya Ray lagi, ia yakin Ahmad selalu ada di restoran ini.


"Iya, pak Ahmad bos kami, tapi sekarang ada tamunya. Mereka duduk disana" tunjuk waiter itu lagi.


"Ok makasih" Ucap Ray lalu pergi. Ray pergi hanya untuk memastikan Ahmad sahabat Viona atau bukan.


Ray dengan melangkah pelan dan dari jauh ia sudah tau kalau itu Viona dan Ahmad orang yang ia kenal karena Viona.

__ADS_1


Ray duduk tidak jauh dari kursi Viona dan Ahmad. Ray menajamkan pendengarannya. Bukan tidak mau menghampiri hanya saja ia ingin memastikan apa benar mereka sahabat atau lebih, karena naluri Ray mengatakan kalau Ahmad itu ada rasa pada Viona.


"Ini udang aku udah habis, apa eskrim sudah habis?" Tanya Viona.


"Aku tanya waiter tadi, katanya eskrim harus izin dulu sama kamu. Itu niat jual atau hanya pajangan doang?" Lanjutnya.


"Itu gak ada di menu, jadi tidak semua bisa pesan eskrim" Jawab Ahmad dengan serius.


"Hahaha, terus aku setiap datang bisa pesan eskrim, gimana ceritanya?"


"Karena kamu beda dengan yang lain" Jawab Ahmad lagi membuat Viona tersedak air mineral yang ia minum.


"Ini tisu" Ujar Ahmad sambil menyodorkan kotak tissue.


Ray mendengar itu bohong jika dirinya tidak terbakar api cemburu.


"Sudah ku duga dari dulu, tapi dia tidak tau kalau Viona sudah dijodohkan dan mungkin sudah menikah" Batin Ray yang masih duduk mendengarkan pembicaraan keduanya.


"Mad, apa gak bisa perjodohan itu dibatalkan?" Tanya Viona dengan hati-hati.


"Maaf Mad, sekali lagi aku minta maaf" Lanjut Viona.


"Kenapa kamu suka mainkan hati laki-laki Vio, saat kami berharap dengan mudah mengeluarkan kata-kata itu"


"Tapi kan kita sahabat Mad, dan aku yakin kamu juga gak mau kan?" Tanya Viona lagi.


"Dan aku gak mau menyakiti hati perempuan yang kamu suka Mad. Takut karma, merusak hubungan orang" Lanjutnya lagi.


"Tunggu, Viona dijodohkan dengan Ahmad dan Ahmad sudah punya pacar" Batin Ray, "Sedikit lega hati ini, masih ada kesempatan" Sambungnya dalam hati.


Ahmad ketawa mendengar ucapan Viona sedangkan Viona menatap Ahmad dengan bingung.


"Hee, benar kan?, jangan buat aku jahat dimata pacarmu Mad" Ungkap Viona lagi.


"Pacar aku kan kamu"


"Waktu makan malam itu aku mengaku bilang kita pacaran, itu boongan Mad. Rencana mau menyelamatkan diri dari perjodohan, ternyata malah membuat mama senang" Tutur Viona.


"Mad eskrim, pelit amat sih dengan sahabat sendiri" Ujar Viona lagi.


"Iya, tunggu. Sabar!" Ujar Ahmad sambil memanggil waiter.


"Eskrim seperti biasa ya" Ujar Ahmad setelah waiter datang.


"Dua ya" Pamit Viona kepada Ahmad.


"Ok" Ahmad setuju.


"Mad, menurut mu perjodohan ini gimana?, Jujur sama ibu kamu kalau sudah ada wanita yang kamu cintai dan aku akan jujur juga sama mama" Usul Viona lagi.


"Aku tidak mungkin melukai hati ibu Vio, apalagi itu keinginan ibu untuk aku segera menikah"


"Maka dari itu Mad, supaya kita itu menikah dengan orang yang kita cintai" Jelas Viona.


"Aku tanya kamu mau menikah dengan orang yang kamu cintai atau menikah dengan orang mencintai mu?" Tanya Ahmad kepada Viona dengan tatapan serius.


"Zina mata Mad, melihat ku seperti itu" Tegur Viona.


"Vio aku serius, jadi tolong jawab dengan serius juga"


"Ok" jawab Viona dengan memperbaiki posisi duduknya, "kok aku deg degan Mad Jawabnya" lanjut Viona.


"Hahaha, gitu aja deg degan belum pertanyaan lain. Jawab saja tapi sesuai kata hati ya" Ujar Ahmad lagi ingin tau jawaban sesungguhnya dari Viona.


"Aku memilih orang yang mencintai aku. Benar kan?" Tanya Viona dengan senyum hambar takut salah dan ditertawakan oleh Ahmad.


Ahmad mengangguk sembari senyum dan menatap Viona dengan tatapan lembut. Tatapan itu belum pernah Viona lihat selama mereka sahabat.


"Berarti keputusan aku tidak salah untuk mempercepat pernikahan kita" Ujar Ahmad membuat Viona seketika syok dengarnya.


Ray mendengar itu tidak kalah syok dibandingkan dengan Viona, hanya Ray tidak bisa melihat ekspresi bahagia atau sedih Viona.

__ADS_1


"Tuhan. Sekarang aku dengar secara langsung kalau mereka akan segera menikah" Batin Ray lagi dan pergi meninggalkan tempat itu.


__ADS_2