
Sesuai rencana, Ray pagi ini akan melihat keadaan bengkel setelah beberapa bulan ia tinggalkan, meskipun Alan selalu melaporkan keadaan bengkelnya tapi ia tetap ingin cek sendiri.
Ray membawa motor dengan santai, ia kangen dengan suasana disekitar bengkel.
"Viona" Ujarnya spontan diatas motor.
"Ahh gak mungkin dia ada disini" Batinnya.
Sampai bengkel, disana sudah ditunggu oleh karyawannya dan Alan. Ray turun dari motor.
"Apa kabar semuanya?" Tanya Ray.
"Baik bos, kalau bos sendiri?" Tanya para karyawannya itu.
"Seperti yang kalian lihat" Jawab Ray, dan mengalihkan pandanganya kepada Alan, "Lan keruangan aku" Lanjutnya.
Mereka ke ruangan, Alan kembali teringat Viona.
"Ra, apa gak kasih tau Viona kalau sudah dibengkel?"
Dengan menarik napas seakan sesak lalu ia keluarkan dengan kasar, setelah mendengar nama Viona.
"Buat apa?"
"Ra, gak rindu sama Viona?"
Ray tertawa getir, "buat apa kita berharap kepada orang yang sudah dimiliki orang lain Lan?"
Alan tidak mengerti, ia langsung menarik kursi dan duduk tepat depan Ray.
"Maksudnya, Viona udah punya pacar baru?"
Alan tidak percaya apa yang sahabatnya ucapkan tadi.
"Seperti itu"
"Bukan pacar, tapi suami Lan" Batin Ray.
Alan menatap wajah sahabatnya itu, ia iba padanya tapi mau bagaimana lagi, itu keputusan Viona.
"Sabar, kalau jodoh pasti bersama" Ujar Alan sambil menepuk pundak Ray sebelum ia mengangkat telepon.
"Siapa?" Tanya Ray.
"Sebentar" Jawab Alan lalu keluar dari ruangan Ray.
Alan menjawab telepon dari Viona, ia memilih menjauh agar Ray tidak dengar.
"Ada apa Viona?" Tanya Alan kepada Viona.
"Dimana Lan, bisa minta tolong gak?" Tanya Viona dengan sedikit panik.
"Kamu kenapa?" Tanya Alan dengan kembali masuk dalam ruangan Ray untuk mengambil kunci mobilnya.
"Ada orang asing yang kembali datang dibutik aku Lan, tolong aku please" Viona memohon kepada Alan.
Ia takut dengan orang asing tersebut. Pakaian yang ia kenakan menurutnya mengerikan serba hitam. Ia takut hanya mencoba tenang agar orang tersebut tidak curiga.
Ray yang masih menatap layar ponselnya langsung mengalihkan pandangan kepada sahabatnya.
"Siapa Lan?" Tanya Ray penasaran setelah melihat temannya itu mengambil kuncinya dengan buru-buru.
"Viona minta bantuan Ra" Jawab Alan, dan saat itu ponsel masih tersambung otomatis Viona mendengar Alan menyebut nama Ray.
Viona terdiam mendengar nama yang dirindukan itu disebut.
"Ternyata benar kata Gladis" Batinnya.
Ray mengikuti Alan yang meninggalkannya, "Kenapa Vio, Lan?" Tanya Ray terlihat panik setelah mendengar Viona minta bantuan.
"Ada orang asing" Jawab Alan sambil jalan.
"Ok, terus kenapa gak naik motor supaya cepat?" Tanya Ray lagi bingung melihat Alan lebih memilih lari kearah yang Ray tidak tau.
"Viona dibutik itu" Tunjuk Alan.
Alan meskipun panik mendengar Viona minta tolong tapi ia tetap menjawab pertanyaan sahabatnya.
"Sebenarnya siapa yang ganggu Viona?" Alan bertanya-tanya.
Ray pun lari mengikuti Alan, sampai dibutik ia tidak melihat Viona. Mata Ray celingak-celinguk mencari keberadaan Viona dengan panik.
"Lan, Viona tidak ada di butiknya" Ujarnya lagi.
"Tenang, mungkin dia bersembunyi" Alan menjawab asal sambil membuka semua pakaian yang digantung.
"Ruang ganti Lan" Ujar Ray lagi, itu satu-satunya tempat yang mereka belum periksa.
__ADS_1
"Benar" Alan dan Ray pun lari mencari ruang ganti butik itu.
"Berpencar Lan" pinta Ray lagi.
"Viona, kenapa membuat aku panik seperti ini" Batinnya.
Dengan napas tersengal-sengal, ia menemukan ruangan yang sama persis seperti ruang ganti.
Ray mendekati dan mengetuk pintu ruangan tersebut tapi didalam tidak ada respon. Ia mencoba buka dengan mendorong pintu tersebut.
"Dikunci" Ujar Ray lagi.
"Lan, kesini" panggil Ray.
Viona yang didalam ruangan itu mendengar suara yang menurutnya tidak jauh dengannya.
Alan mendekati dan mengetuk pintu tersebut sambil memanggil nama Viona.
"Viona apa kamu didalam?" Tanya Alan.
"Viona, ini Alan" Panggilnya lagi.
Panggilan tersebut tidak ada sahutan dari Viona. Ia masih ragu dengan kalimat itu, ia teringat kepada ponakannya waktu kejadian disekolah.
Viona menutup telinganya, ia tidak mau mendengar suara itu.
"Tidak mungkin Alan secepat itu sampai.. Pergi... Pergi... Pergi.. aku takut" Lirih Viona dalam ruangan kecil itu sambil menutup mata dan telinga dengan kedua tangannya.
Ray menahan tangan Alan untuk kembali mengetuk pintu, ia menempelkan telinganya dan mendengar suara orang seperti sedang bicara dengan nada kecil.
Ray yakin itu Viona. Ia mengetuk pintu sekali dan memanggil nama Viona dengan lembut.
"Vio, buka pintunya ini Ray dan Alan" Ujarnya.
Viona kembali mendengar suara menyebut dirinya Ray dan Alan.
"Gak mungkin" Lirih Viona lagi.
Ray terus berusaha memanggil nama Viona tapi tidak ada respon sedikit pun dari Viona.
"Apa kita paksa buka aja pintu ini?" Tanya Alan.
"Jangan nanti Viona trauma, aku yakin Viona pasti buka pintunya"
Ray penuh yakin mengatakan itu. Alan pun langsung senyum mendengar penuturan sahabatnya.
"Fokus ya bro" Ujar Alan.
"Siapa yang gak fokus, kamu aja yang aneh" Jawab Ray kemudian kembali memanggil Viona.
"Vio buka pintunya, nanti aku traktir di restoran pertama kali kita makan dengan Ainun" Ujar Ray dan kali ini Viona dengar dan yakin itu bukan orang asing dengan sengaja mengaku sebagai sahabatnya.
"Vio"panggil Ray dan sekarang ia memilih untuk duduk depan pintu tersebut. Ia tidak peduli dengan pakaiannya akan kotor.
Viona membuka pintu, perlahan mengeluarkan sedikit kepalanya dan saat bersamaan Ray masih berusaha untuk mengetuk pintu itu. Karena posisi Ray duduk didepan pintu dan Viona dalam ruangan itu berposisi duduk sehingga pas mengetuk pintu, bukan pintu yang diketuk tapi malah kepala Viona.
"Aow" suara Viona.
Ray seketika kaget, yang awalnya menunduk langsung mengangkat kepalanya.
"Vio"
Ray kaget sedangkan Viona malah menatap Ray dengan kesal, beda halnya dengan Alan seperti kilat entah kemana perginya.
"Gak apa-apa kan?" Tanya Ray panik.
"Kamu gak diapa-apain kan?" Lanjutnya.
Viona menggelengkan kepala.
"Serius, aku panik ini" Ujar Ray lagi.
"Tapi memang seperti itu, untung aku cepat bersembunyi"
Ray menatap Viona lama sementara sang empunya tidak menyadari hal itu.
"Kenapa kamu selalu membuatku takut Viona?"
"Haa" Viona masih bingung.
"Kamu sudah berhasil" Ujarnya lagi.
"Ray ngomong yang jelas, supaya aku juga ngerti. Kalau kamu pakai bahasa batin aku gak ngerti" Ujar Viona membuat Ray mendekatkan tangannya ingin mengacak rambut Viona meskipun dibaluti kain karena gemas.
"Gak boleh Ray" Viona mengingatkan Ray.
"Maaf"
__ADS_1
Ray bangkit dari duduknya dan Viona pun sudah keluar dari ruangan itu.
Mereka bertiga duduk dikursi yang telah tersedia dibutik tersebut. Ray memuji butik Viona.
"Bagus butik kamu Vio"
"Iya, aku baru masuk dibuat terkesima dengan perpaduan warnanya. Baru aku rekomendasikan warnanya ternyata pemilik gedung ini udah pilih warna" Jelas Viona.
"Tapi bagus kan, sesuai selera aku juga sih sebenernya" Lanjut Viona sembari senyum seakan sudah lupa dengan kejadian yang menimpanya.
"Iya, memang bagus perpaduan warnanya" Timpal Alan, sebelum ia kembali dikejadian awal yang membuatnya penasaran.
"Viona kenapa bisa didatangi orang yang kamu tidak kenal?" Tanya Alan ingin tau.
Viona menaikkan pundaknya, "gak tau Lan, aku juga bingung, tapi...." Ucapnya ia gantung sambil menunjuk Ray dan Alan.
"Apa?" Tanya Alan dan Ray bersamaan.
"Ada teman baik aku makanya aku aman, hehehe" Jawaban itu sebenarnya bukan yang diinginkan Ray dan Alan.
"Kok bisa, hal seperti ini kamu masih bisa tertawa" Ray heran dengan Viona yang sudah senyum-senyum.
"Ini serius Viona" Timpal Alan.
Viona memperlihatkan luka bagian kakinya.
"Nih"
Ray dan Alan dibikin pusing oleh Viona.
"Itu luka" Ujar Alan.
"Kenapa bisa kamu luka?" Tanya Ray lagi.
"Ini gara-gara mobil yang tiba-tiba lambung motor aku, jadi jatuh deh" jawabnya santai.
Ray terlebih dahulu menghela napas, "Viona hidup itu tidak sesantai kamu, ini bahaya"
"Ada satpam kok" Jawab Viona lagi.
"Terus kenapa tadi gak panggil satpam?" Tanya Alan lagi.
"Ya Allah, kenapa masih ada perempuan yang menghadapi masalah sesantai ini, meskipun nyawa sendiri taruhannya" Batin Alan heran.
"Satpamnya jaga disebelah" Jawab Viona, "aku tuh sengaja pilih lokasi ini, kan ada Ray dan teman-teman jaga Vio. Masa sahabat gak bisa jaga sahabatnya sendiri" sambungnya.
"Omong kosong dari mana itu Viona, bukan seharusnya yang jaga kamu itu suami sendiri bukan orang lain" Ray tidak tega mengatakan itu tapi bagaimana bisa ia move on jika Viona terus seperti itu.
"Maaf Vio aku harus tegas" Batinnya lalu ia menunduk.
"Siapa yang sudah menikah?, bukan kamu yang sudah menikah diam-diam di Korea" Viona mengeluarkan unek-unek yang ia tahan selama ini.
"Kamu jahat Ray, hari bahagiamu saja tidak memberitahuku" Lanjutnya.
Alan mendengar itu bingung karena ia tidak pernah mendengar kabar Ray ataupun Viona akan menikah, kenapa sekarang mendengar kata suami.
"Prahara apa nih?" Tanya Alan sedikit bercanda, ia ingin mencairkan suasana.
"Lan, tolong diam lah" Pinta Viona dengan lembut.
"Diam Lan" Ujar Ray dengan tegas.
"Terserah kalian berdua, aku memilih duduk disana" tunjuk Alan diluar butik itu lalu ia pergi
"Aku belum menikah Ray"
"Bukan kamu dijodohkan dengan Ahmad?"
Viona langsung menatap Ray dengan ragu-ragu, "tau dari mana?"
"Sebelum ke Korea aku sempat ke restoran Ahmad. Disana kalian bahas perjodohan itu" Jelas Ray.
"Aku juga gak tau kalau yang dijodohkan dengan aku itu Ahmad" Jelas Viona apa adanya.
"Pasti tidak lama lagi kalian akan menikah?"
"Aku aja gak tau Ray, Ahmad itu sahabat aku"
Viona dibuat bingung dengan perjodohan itu, Ahmad adalah sahabatnya sejak SMA, masa ia harus menikah dengan sahabatnya sendiri.
"Apakah benar-benar sudah melupakan aku Viona?" Tanya Ray lagi.
"Aku sudah berusaha untuk meyakinkan kamu, kalau aku serius tapi kamu malah menerima perjodohan itu" Lanjutnya.
Viona terdiam mendengarnya dan Ray menatap diluar butik lewat kaca polos butik tersebut.
"Viona kamu tidak apa-apa?" Tanyanya dengan panik.
__ADS_1