Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
8. -


__ADS_3

Satya Dimas Adriansyah


.


.


.


.


Aku kembali ke kelas. Pikiran ku melayang-layang hanya memikirkan Fiya. Dia sangat pucat, namun dia berusaha untuk tetap kuat. Aku menunggu waktu istirahat tiba. Sungguh sangat lama bagiku karena aku tak menikmati waktu pembelajaran kali ini.


Dan pada akhirnya, waktu yang aku tunggu pun tiba, aku hendak keluar dari kelas, namun guru memanggilku. Sungguh sangat menyebalkan jika waktu ku tertunda.


"Satya, bagaimana dengan keadaan Khanza tadi."


"Sepertinya baik bu, saya juga mau menengoknya nanti"


"Kamu di sini saja, ibu yang akan menemuinya"


"Iya bu"


Apalah dayaku, memang mungkin guru tak menyukai muridnya terlalu dekat, tapi apakah aku tidak boleh menjenguk temanku. Aku pun duduk, dan tak lama Feni datang sambil membawa kantong kresek.


"Di mana Fiya"


"Dia belum ke sini?"


"Memangnya dia kemana?"


"Dia bilang tadi mau ke WC"


Aku langsung pergi ke WC perempuan dan aku pun bertanya kepada siswi di sekitar.


"Permisi dek, liat kak Khanza nggak"


"Kak Khanza? Kurang tau kak"


"Ya udah terimakasih"


Bukan hanya satu tempat yang aku cari dan aku pun berfikir untuk ke atap. Aku langsung menaiki lift. Begitu dingin rasanya namun aku hanya bisa merasakan, tidak bisa melihatnya. Setelah pintu lift terbuka, aku keluar dan menaiki beberapa tangga untuk ke atap.


Aku melihat Khanza sedang terduduk lemas di lantai dengan nafas yang terengah-engah. Aku mendekatinya namun dia melarangku.


"Jangan mendekat"


Aku tak menghiraukannya dan membantunya berdiri. Namun dia menyingkirkan tanganku dan mana menatap ke arah depan dengan tajam.


Aku melihat sekeliling, dan aku tak tau dimana makhluk itu sekarang. Aku melihat arah pandang Fiya dan masih bingung ke arah mana aku melihat. Padahal aku ingin membantunya, dia terlihatbegitu kelelahan, tetapi karena tekadnya yang kuat membuatnya tak lemah, namun.. Bagaimana aku tau?


Kejadian dimana 8 tahun lalu terjadi lagi sekarang. Badannya dulu kecil namun mampu mengalahkan makhluk, sangat hebat dirinya. Dan kali ini pun aku hanya diam sambil menatapnya, karena hanya dialah yang bisa melakukan ini.


Dia berbicara, namun aku tak paham apa yang dia maksud. Aku juga sangat ingin membantunya, namun jiwaku yang tak seistimewa dirinya membuatku diam, tetap diam dan diam walaupun sebenarnya aku ingin berkata.

__ADS_1


Kedua tangannya di satukan dan sepertinya dia mengucapkan sebuah mantra, sekitar mungkin 2 menit, dia terhuyung dan aku pun memeganginya. Dia mengatur nafasnya yang terengah-engah.


"Akhirnya, aku menangkapnya"


"Bagaimana itu mungkin"


"Mungkin saja, kau tak tau apa yang terjadi sebenarnya"


"Maksud kamu? Siapa yang tadi kamu lawan? Makhluk apa itu"


"Dia adalah jiwa pendendam. Jiwa penuh kebencian dan ketidak percayaan. Jiwa penuh amarah dan keegoisan. Makhluk jiwa pendendam adalah makhluk yang membuat nyawa orang dalam bahaya agar orang itu bisa merasakan apa yang makhluk itu alami"


"Lalu apa alasan dia ingin mencelakaimu di sini"


"Kau tak akan pernah tau apa yang aku lihat. Sebenarnya di sini banyak arwah-arwah yang terkurung karena makhluk itu. Makhluk itu ingin mereka menemaninya. Namun sekarang aku melihat senyum mereka. Tunggu sebentar di sini"


Dia pun berdiri dan melangkah ke depan. Aku bingung, apakah ada makhluk lagi sekarang. Dimana?


Aku hanya memperhatikannya lagi. Dia berbicara seperti orang gila. Aku melihat gerak geriknya seperti sedang memegang tangan, namun... Ahh.. Sudahlah, aku terlalu banyak berfikir tentang dia.


Aku berfikir percakapan nya dengan makhluk telah usai. Aku meraih kedua tangannya lalu memeluknya. Namun entah mengapa dia menolakku dan mendorong u.


"Isshh, ini sekolah, kita harus menjaga privat"


"Jelaskan kepadaku, siapa yang kamu selamatkan dan siapa jiwa Pendendam itu"


"Namanya Dilla, dia dendam pada orang yang di rundung. Dulu, dia menyiksa orang di sini, namun malah dia yang akhirnya menjadi korbannya sendiri. Arwahnya tidak terima dan akhirnya dia mengambil arwah orang yang di rundung agar dia bisa menyiksanya juga"


"Oohh, begitu rupanya. Kok ada yang seperti itu ya"


"Kamu kelihatan pucat, kita pulang saja"


"Aku nggak papa kok, udah ayo"


Dia menarik tanganku dan kami pun menuju ke kelas. Aku tersenyum kepadanya. Dia begitu kuat dari yang aku bayangkan.


Setelah sampai di kelas, aku duduk di sampingnya dan memberinya minum. Feni yang ada di belakang kami memberikan kantong kresek kepada Fiya.


"Makasih ya"


Dia menuangkan bakso tersebut di mangkuk karena dia lebih suka makan di mangkuk daripada langsung dari plastiknya. Aku terus memperhatikannya. Lalu dia juga melihatku.


"Kamu udah makan"


Aku jujur dan aku menggeleng. Dia memotong bakso dan memberikannya padaku. Aku menerimanya lagi pula untuk apa aku menolak rezeki bukan.


Teman-teman menyoraki kami. Namun aku tak mempedulikannya. Aku merebut sendok yang sedang di pegangnya dan mengambil bakso.


"Ehh.. Jangan dimakan semua, bagi dong. Kalau mau beli aja sana iisshh"


"Ini aja udah enak"


"Dimas..."

__ADS_1


Dia merengek dan akhirnya aku pun menyendokkan bakso ke mulutnya, dia ingin merebutnya namun aku jauhkan.


"Akk"


"Dimas Isshh.. Sini koh"


"Akk.."


Akhirnya dia membuka mulutnya dan menurutiku.


"Kalau kurang ke kantin bareng yuk, sekalian ngembaliin mangkuk"


"Sendiri aja sana, aku udah kenyang. Makasih"


"Ngambek"


"Udah ah.."


Dia pindah ke belakang dan duduk dengan Feni. Aku sungguh di abaikan, apa karena sikapku yang begitu berlebihan. Aku merasa bersalah dan aku pun keluar menuju ke kantin. Tiba-tiba ada yang membuntutiku.


"Satya, aku yang temenin ya, Khanza memang orangnya cuek seperti itu"


"Mending kalian kembali ke kelas, gue nggak perlu di temenin"


"Dia kenapa si, memangnya apa yang membuatnya marah. Sudahlah"


Aku tak sengaja melihat orang yang tadi pagi bertengkar denganku. Aku tak menghiraukannya dan mengembalikan mangkuk bakso itu.


"Pak, ini mangkuk yang tadi di pesan sama kelas IPA 1"


"Si Feni yang mesti pinjam mangkuk kok bisa ada di kamu"


"Iya pak, saya temennya"


"Oohh.. Kamu murid baru ya"


"Iya pak"


"Pantes aja rasanya asing. Ya udah terimakasih ya"


"Iya pak, saya balik dulu"


Saat aku berbalik, orang yang tadi pagi menghajarku sudah ada di belakang ku. Lalu ia pun berisik kepadaku.


"Kita bertemu di lapangan basket setelah pulang sekolah."


"Untuk apa"


"Datang saja, kalau kau tak datang kau adalah pengecut"


Dia sengaja menyenggol pundakku. Dan aku juga langsung meninggalkan kantin. Banyak yang memperhatikanku. Rasanya tidak nyaman, namun begitulah nasib orang yang tampan...


Tidak, aku sebenarnya tidak suka, namun aku harus mensyukurinya. Aku kembali ke kelas dan Fiya tengah duduk kembali di bangkunya sambil membaca buku.

__ADS_1


Namun, nasib sial tengah datang kepadaku. Aku ingin mengganggunya namun bel masuk lebih dulu dan tak lama guru juga datang ke kelasku.


//**//


__ADS_2