
Di pagi hari nya, Fiya dan teman-temannya kembali menyusuri hutan. Tiba-tiba ada anak kecil berumur sekitar 5 tahun berwajah pucat menggunakan jepit rambut merah dan rambut panjang sebahu meraih baju Fiya. Fiya melihat ke bawah dan kaget, lalu ia berjongkok untuk menyamakan tinggi badannya.
"Loh, kok kamu di sini." ucap Fiya.
Aldi, Dimas, dan guru olahraga mendekatinya. Aldi dan guru olahraga hanya bingung dengan Fiya yang berbicara sendirian.
Anak itu melihat Fiya dan menunjuk ke arah kanannya. Fiya hanya bingung dan melihat ke arah yang anak itu tunjuk.
"Kamu tau teman-teman kakak dimana?" tanya Fiya.
Anak itu mengangguk. Guru olahraga memegang tangan Fiya.
"Ada apa?" tanya guru olahraga.
Fiya hanya gelagapan bahwa dia lupa menyembunyikan bahwa dia bisa melihat makhluk tak kasat mata.
"Em.. Mungkin bapak belum tau, dan ini saatnya untuk tau, bahwa saya bisa melihat makhluk." ucap Fiya.
"Oohh begitu." ucap guru olahraga paham.
"Sudah aku duga" batin Aldi.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mengikuti anak kecil.
...*****...
Gilang bersama dengan Daisy dan ayu keluar melalui jendela yang tertutup oleh sandaran kayu. Mereka keluar secara berhati-hati melalui samping rumah tersebut.
Fiya dan yang lain akhirnya sampai di pondok yang ada di tengah hutan.
"Di sini mereka berada." ucap Fiya.
Anak itu mengangguk dan kemudian menghilang.
"Loh, dimana dia?" ucap Fiya sambil melihat sekelilingnya.
"Sebaiknya kita masuk, tapi kita harus berhati-hati." ucap Aldi.
Fiya dan yang lain mengangguk dan kemudian melihat dari celah-celah kayu.
"Ayo, kita masuk."
Mereka masuk secara perlahan dan bau busuk masuk ke dalam hidung mereka.
"Bau busuk apa ini." ucap Dimas dengan suara lirih.
"Ssstt..." ucap Fiya.
Mereka kembali berjalan dan melihat pak Alvin, Bagas dan Vella sedang makan cacing dan belatung serta darah yang diletakkan di mangkuk. Fiya langsung saja masuk dan mendorong meja tersebut.
"Hihihihihihihi... Ada tamu yang mengganggu makan siang ternyata." ucap nenek tua yang sudah berubah menjadi hantu menangis darah.
Fiya hanya terpaku, melihat wajah pucat dengan darah yang mengalir dari matanya. Aldi dan Dimas pun menghalangi Fiya. Tersadar Fiya yang melamun, guru olahraga membangunkan Fiya.
__ADS_1
"Khanza istigfar." ucap guru olahraga sambil mengguncang tubuhnya.
Fiya tersadar dan bersamaan dengan itu Gilang dan kedua teman-temannya datang.
"Kak Khanza." ucap Daisy dan Ayu secara bersamaan.
Fiya melihat ke-arahnya dan langsung memeluk mereka berdua.
"Kalian nggak papa."
"Iya nggak papa kak.... Tapi..." ucap Ayu gemetaran.
"Kalian tenang, perbanyak istigfar dan berdoa ya."
Mereka berdua mengangguk dan anggota PMR tersebut berlindung di belakang Fiya.
"Beraninya kalian mengganggu makan siangku, mereka belum sempat aku makan, tapi kalian menggangguku." ucap makhluk itu.
"Kalau berani, lawan kami dan pergi dari sini." ucap Dimas.
"Ada hak apa kalian mengusirku, ini rumahku dan tempat tinggalku. Kalian bertiga, cepat lawan mereka." Ucap makhluk tersebut kepada Pak Alvin, Bagas dan Vella.
Mereka menatap Fiya dan teman-temannya dengan tatapan kosong. Mulut yang penuh dengan darah dan kemudian langsung menyerang mereka.
"Baca Ayat kursi sekarang..." teriak Fiya.
Teman-teman Fiya membaca ayat kursi dengan seksama. Makhluk - makhluk yang ada di tubuh Pak Alvin, Bagas dan Vella terutama hantu tersebut meronta kepanasan. Hingga 100 kali mereka membaca ayat kursi tersebut, tidak membuat makhluk itu lengah.
"Panaaassss... Kalian tau Panaaassss..." ronta makhluk tersebut.
"Nyawa mereka tidak ada di sini... Hihihihihihihi... Aarrgghh... Pannnassss... Diaaammmm....!!!!" teriaknya.
Fiya masih terus berfikir, apa yang harus dia lakukan. Hingga dia teringat air yang masih tersisa di tasnya. Dia mengambil air dan membacakan mantra, dan tak lama dia cipratkan kepada Vella, Bagas dan pak Alvin sehingga membuat mereka pingsan.
"Sekarang hanya kamu yang tersisa... Allahhu Akbar.." ucapnya sambil menyeramkan air kepadanya hingga membuatnya menghilang.
Merekapun berhenti membaca ayat kursi, namun masih ada dua penghuni yang menghadang mereka. Makhluk tinggi dengan badan yang berwarna hitam serta makhluk berwarna hijau dengan mata merahnya menatap mereka penuh amarah.
"Apa yang harus kita lakukan Khanza?"
"Di hutan ini tidak terdengar kumandang Adzan, jadi untuk kalian laki-laki, kumandang kan adzan di sini."
Mereka mengangguk dan mengumandangkan adzan secara serempak dan membuat makhluk itu merasa kepanasan. Setelah adzan selesai, para makhluk itu akhirnya menghilang, namun bangunan tua itu mulai roboh. Mereka lekas keluar sambil membawa pak Alvin, Bagas dan Vella yang masih pingsan keluar dari pondok tua tersebut.
Di saat menuju ke pintu keluar, ada kepala busuk jatuh dari atas mereka dan membuat Daisy dan Ayu berteriak. Fiya melihat ke atas dan melihat mayat-mayat yang di gantung terbalik dan setengah membusuk, bahkan ada yang sudah menjadi tengkorak.
"Inailaihi wainna ilaihi raji'un." ucap Fiya kaget.
"Sudah, cepat ayo kita keluar."
Fiya menenangkan mereka dan kemudian segera keluar dari pondok tersebut dan melewati beberapa mayat yang berjatuhan dan akhirnya mereka keluar dengan keadaan selamat.
"Alhamdulillah... Akhirnya kita selamat." ucap Fiya.
__ADS_1
Guru olahraga dan Dimas yang merangkul pak Alvin, meletakkan nya dengan hati-hati. Aldi yang menggendong Bagas juga sama, begitu pula Gilang yang membopong Vella meletakkan mereka dengan hati-hati.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang."
"Mereka sebentar lagi akan sadar. Nyawa-nyawa mereka belum menemukan tempat yang pas untuk kembali kalian tunggulah sebentar lagi."
Fiya kembali mengambil daun dlingo dan bangle yang tersimpan di tas yang di bawa Aldi dan kemudian menumbuknya di sebuah batu lalu mengambil tutup termos dan memberinya sebuah air. Membacakan doa dan diminumnya, sisanya dia berikan kepada teman-temannya.
"Kalian minum satu teguk ya, kalau kalian mual keluarkan saja."
Yang pertama Fiya berikan adalah kepada Dimas, kemudian dia oper kepada Aldi dan hingga guru olahraga. Sisanya dia oleskan pada orang yang pingsan.
Setelah selesai, Fiya melihat teman-temannya dan guru olahraga yang seperti menahan mual.
"Kan aku udah bilang, kalau mual, keluarkan saja, yang terpenting ada zat yang masuk ke tubuh mereka."
Mereka semua langsung berdiri dan berlari ke segala tempat yang tersisa lalu memuntahkan semuanya dan kemudian kembali ke tempat semula.
Fiya yang diam hanya menyipitkan matanya dan kemudian lekas mengganti air tersebut dengan air yang tersisa di termos kecil. Tak lama pak Alvin pun sadar dan bangun dari pingsannya.
"Alhamdulillah, pak Alvin sadar."
"Loh, kalian ada di sini." ucap pak Alvin.
"Iya, sudah pak. Oiya pak, saya masih silakan ini, di minum ya pak, kalau mual keluarkan saja."
Pak Alvin hanya menurut dan meminumnya, baru dia memberikan wadah tersebut kepada Fiya.
"Jangan kaget ya pak.." teriak Fiya.
Pak Alvin terus mengeluarkan isi di perutnya yang melihat darah keluar dari mulutnya, sungguh membuatnya lemas dan tidak berdaya saat itu. Fiya yang melihat pak Alvin terduduk lemas langsung menemuinya.
"Da.. Da.. Darah..."
Pak Alvin kembali pingsan dan dengan sigap Fiya menopang kepalanya, dengan cepat Aldi dan Dimas membantunya dan memindahkannya. Aldi menutup sisa tersebut dengan daun dan tanah dan berkumpul lagi.
"Sekarang kita kembali." ucap Aldi.
"Jangan, kita harus mengurus jenazah itu, dan di kuburkan di tempat yang layak." ucap Fiya.
Tiba-tiba para polisi datang dan berlari ke arah mereka.
"Kalian anak SMA bukan?" tanya polisi tersebut.
"Oohh.. Iya pak, kami mengadakan kemah di hutan seberang." ucap guru olahraga.
"Syukurlah kalian selamat, sudah 5 hari kalian tidak ditemukan." ucap polisi tersebut.
"Apa!! 5 hari." ucap Fiya dan teman-temannya kompak.
"Iya." ucap polisi tersebut.
Mereka hanya bingung dan saling menatap satu sama lain tak percaya apa yang mereka lewati.
__ADS_1
//**//