Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
43. Pemakaman


__ADS_3

Aldo lekas berteleportasi ke rumah sakit. Dia hanya berdiri bersandar dinding sambil menunggu kabar dari adik Fiya. Aldo melihat anak kecil yang berlari menghampirinya dan membuat Aldo kebingungan.


"Kak Aldo ya.." ucapnya kepada Aldo.


Aldo seketika membeku dan berfikir "Dia melihatku." Aldo pun hanya berdiri di depannya yang tinggi badannya tidak terlalu jauh dari Aldo. Sofiya berlari dan Aldo pun mengejarnya. Aldo menarik tangannya, rasanya sama-sama dingin dan lembut.


"Kamu Sofi adik kak Fiya bukan?" tanya Aldo.


"Iya, aku udah kaya kak Aldo sekarang." jawabnya lembut.


"Tapi kenapa kamu pergi." tanya Aldo.


"Kakak juga kenapa pergi?" Sofi balik bertanya.


Aldo hanya diam terpaku, dan hanya bisa menunduk.


"Kak, aku udah nggak bisa bertahan lagi. Mungkin, tugas Sofi hanya sampai di sini." ucap Sofi.


"Baiklah, ikut kakak sekarang, kita lihat keluarga kamu."


Aldo dan Sofi datang menuju ke depan ruang gawat darurat. Fiya tengah di peluk oleh Dimas. Aldo mendekati mereka dan Sofi memanggilnya dan membuat tangisannya terhenti.


Fiya memeluknya erat sambil menangis. Sofi melihatnya dan mengusap air matanya.


"Kakak.. Aku titip mama sama papa ya. Aku nggak mau buat mama sama papa nangis. Jaga papa sama mama ya di sini. Kakak juga jangan nangis ya." ucap Sofi.


Fiya memeluknya lagi begitu juga Dimas yang memeluknya dari samping dan tangan kanannya di berikan kelonggaran. Fiya tersenyum dan lebih mendekatkan tangan Dimas untuk lebih dekat dengan adiknya hingga menyentuh rambutnya.


Sofi melepaskan pelukannya dan begitu juga Dimas. Sofi berjalan di hadapan Dimas dan memperlihatkan dirinya kepada Dimas.


"Kakak melihatku kan, titip kak Fiya baik-baik ya. Aku sayang kakak." ucapnya sambil memeluk Dimas.


Dimas berdiri dan mengusap kepalanya. Tiba-tiba mama Ova keluar dari ruangan itu dan langsung menemui Fiya. Fiya belum sempat berkata, namun mama Ova mengguncang tubuhnya dengan keras.


"Kau melihat Sofiya bukan? Dimana dia?" tanya mama Ova sambil membentak.


Fiya melihat ke arah Sofiya dan Sofiya memberikan isyarat untuk tidak memberitahukannya kepada mama Ova. Fiya pasrah dan tertunduk serta menggelengkan kepalaku. Sofi yang melihatnya hanya bisa sedih karena tidak bisa membela kakaknya.

__ADS_1


"Kau bohong. Dimana dia? Suruh dia balik lagi ke tubuhnya .... Cepat." bentak mama Ova.


Fiya memegang tangan mama Ova dengan menahan tangis yang di bendungnya.


"Maaf mah, Sofi udah pergi. Aku nggak bisa menyuruhnya untuk kembali. Semua kehidupan dan kematian sudah berada di tangan Yang Maha Kuasa. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi selain pasrah dan ikhlas."


Mama Ova memukul pipi sebelah kanan Fiya. Tangis Fiya pecah seketika. Papa Brian dan Dimas mencoba menenangkan mama Ova. Dimas yang melihatnya juga merasa kasihan kepada Fiya, karena dirinya di salahkan.


Begitu juga dengan Sofi, dia sangat.. Sangat bersalah dan tidak bisa membela kakaknya.


"Maafkan aku kak.." batin.


"Dasar anak yang tidak berguna. Kau selalu membawa kesialan. Apa manfaatmu bisa melihat makhluk, sedangkan untuk mengembalikannya kau tidak bisa." ucap mama Ova dengan nada yang marah.


"Iya memang aku salah dan tidak berguna. Aku juga gagal menjaga adikku. Tetapi, aku bukan Tuhan yang bisa mengubah segalanya." jawab Fiya dengan tangisannya yang sudah pecah.


Setelah berkata seperti itu, Fiya langsung berlari dan pergi dari sana. Semua orang khawatir, begitu juga dengan mama Lastri.


"Dimas kejar, sebelum terjadi apa-apa sama Khanza."


"Sabar Sofi, kakak kamu pasti baik-baik aja. Kak Dimas pasti bisa mengejarnya."


"Aku lelah, aku pengen pulang."


Sofi dan Aldo pun berteleportasi ke rumah sendiri, karena keadaan di rumah sakit sangatlah kacau.


Dimas sendiri, masih berusaha mencari keberadaan Fiya. Dia melihat Farhan yang tengah membuka mobilnya, dan Dimas menghampirinya.


"Eh... Lo liat Fiya?" tanya Dimas sambil terengah-engah.


"Maksud lo dukun. Tadi ke sana." tunjuk Farhan ke arah yang di tuju Fiya.


Dimas langsung berlari lagi dan meninggalkan Farhan begitu saja. Farhan menggeleng dan mengemudikan mobilnya. Dimas terus berlari sampai ke halte bis. Dimas melihat Fiya tengah menangis dan langsung mengelus punggungnya. Dimas membujuknya dan menenangkannya lalu membawa Fiya pulang.


...*****...


Di sekolah, mulai ricuh tentang kematian adik Fiya. Sampai berita tersebut terdengar oleh Fany dan Aldi. Mereka berdua langsung menuju ke rumah Fiya sambil berboncengan. Fiya sudah terlihat lebih segar sekarang. Mereka datang saat Fiya sedang membagikan minuman.

__ADS_1


"Khanza." ucap Feni.


Fiya langsung memeluknya dengan satu tangannya. Rasanya ingin menangis, namun selalu ia tahan.


"Yang sabar ya Za." ucap Feni menguatkan.


Aldi juga menghampirinya, dan memegang kedua tangannya.


"Sabar ya Za, aku tau kamu pasti kuat."


Fiya hanya tersenyum dan mengangguk. Kemudian masuk ke dalam rumah lagi. Rumah Fiya sudah ramai oleh warga sekitar yang melayat ke rumahnya. Di bantu dengan Dimas mengatur semuanya. Bersama dengan RT dan RW setempat juga membantu segala yang harus dipersiapkan.


Tak lama jenazah Sofi datang ke kediamannya. Mama Ova dan papa Sofi masuk ke rumah. Keadaannya masih sama seperti kemarin. Mama Ova dan Fiya hanya saling terdiam, sapa pun juga tidak.


Pemakaman selesai pukul 9 pagi. Mama Ova pergi terlebih dahulu dari makam Sofi. Dimas, masih dengan setia menunggu Fiya. Fiya berjongkok dan menaburkan bunga dan menyiramkan air di atas makam Sofi.


Sofi pun tersenyum dan mendatangi Fiya. Di peluknya dengan erat sambil mengelus rambutnya. Fiya juga tersenyum kepadanya.


"Adek yang tenang ya di alam sana. Kakak hanya bisa mendoakan Sofi dari sini." ucap Fiya sambil memegang kedua lengannya.


"Iya, kakak juga baik-baik di sini. Tenang, kakak nggak kesepian kok. Masih ada kak Dimas dan yang lain. Ya udah, aku duluan ya kak. Kak Aldo, cepat menyusul aku ya kak. Dadah semua.. " ucap Sofi sambil melihat ke arah Aldo dan melambaikan tangannya kepada semuanya.


Fiya dan yang lain membalas lambaian tangan tersebut. Feni hanya mengikuti lambaian tangan Fiya yang entah ke arah mana karena dia tidak diperlihatkan sosok Sofi.


Setelahnya merekapun pulang ke rumah Fiya. Mereka duduk di ruang tamu dan keadaan rumah Fiya sekarang sepi, dan hanya beberapa orang yang berkunjung.


Fiya menyuguhkan beberapa makanan dan minuman untuk mereka bertiga dan ikut duduk di samping Feni.


"Kalian nggak ke sekolah?" tanya Fiya.


"Nggak, di sekolah ramai kabar adik kamu meninggal jadi kami ke sini." jawab Feni.


"Makasih ya kalian udah mau sempetin buat kesini. Nanti kalian di marahin orang tua kalian gimana?" tanya Fiya.


"Nggak papa, orang tua pasti ngertiin kok." ucap Feni dengan tenang.


//**//

__ADS_1


__ADS_2