
Pandangan mereka beralih kepada kedatangan seseorang yang tak lain adalah Jennie dan Bianka. Farhan pun berdiri dari tempat duduknya.
"Siapa yang menyuruh kamu langsung masuk?" tanya mama Ova dengan nada sedikit tinggi.
"Maaf tante, saya ke sini cuma mau menjenguk tante dan meminta maaf kepada tante."
"Pasti kamu kan yang melakukan hal ini?"
"Tidak tante, saya sedang bersama Farhan tadi, namun Farhan meninggalkan saya tante, begitu kan Ka?" Jennie menyikut Bianka.
"I-iya tante.."
"Ini tante, bunga buat permintaan maaf saya dan buah-buahan untuk Khanza, kalau Khanza sudah sadar."
Mama Ova menerimanya karena terpaksa dan kemudian menaruhnya di meja yang tersedia. Bersamaan dengan itu, Fiya menggerakkan tangannya dan terbangun dari tidurnya.
"Hhss.. Aduh.." suara serak Fiya membuat mama Ova langsung duduk di kursi yang ada.
"Mama.. Aku pasti di rumah sakit kan mah.."
"Iya sayang.."
"Aku ingin pulang.." dengan nada lemas Fiya mencoba duduk.
"Tidur, kamu masih sakit dan jangan membantah mama."
Fiya mengangguk, namun pandangan Fiya terlihat pada Jennie, Bianka dan Farhan.
"Kok kalian bisa ada di sini?" dengan bingung dan melihat ke arah mereka berdua.
"Farhan yang mengantar kamu ke sini dan Jennie serta temannya menjenguk kamu." mama Ova menjawab pertanyaan Fiya sambil mengelus pundaknya.
"Iya Khanza.. Gue minta maaf ya atas perlakuan gue ke lo." Jennie memegang tangan Fiya dan berbicara dengan nada berpura-pura memelas.
"Kalian pergi saja dari sini. Tempat ini berbahaya bagi orang-orang yang suka berpura-pura." jawab Fiya menakut-nakuti.
"Dan Farhan, gue juga terimakasih karena lo udah nganterin gue, tapi gue nggak mau hutang budi lagi sama lo. Lo juga sebaiknya pulang dan antar tunangan lo. Satu hal lagi, jangan pernah bantuin gue lagi, karena gue takut akan ada yang bilang hal buruk tentang gue." Fiya melihat ke arah Jennie dan Bianka.
"Dan Jennie, lo jangan salah paham sama gue. Kita berdua nggak ada apa-apa kok. Sebaiknya kalian pulang, karena tempat ini benar-benar nggak aman buat kalian." lanjutnya yang membuat mama Ova kaget.
"Maksud kamu apa Khanza?" tanya mama Ova.
"Aku akan jelaskan nanti." jawabnya santai.
"Apa Khanza tau sesuatu?" batin Farhan.
Jennie menggandeng lengan Farhan dan Bianka hanya membuntutinya dan keluar dari ruangan Fiya. Mama Ova yang melihat Farhan bingung hanya bisa menggeleng.
...*****...
Di luar ruangan, Farhan melepaskan gandengan tangan Jennie dengan kasar. Jennie merasa kesal dan jengkel kepadanya.
"Lo kok bisa kesini?" tanya Farhan ketus.
__ADS_1
"Gue lacak ponsel lo lah. Lo kenapa nolongin dia?" tanyanya balik ketus.
"Gue nggak tau, itu semua kebetulan." jawabnya.
"Kebetulan lo bilang.. Itu mustahil dan nggak mungkin. Lo jangan ngaco deh han!!" bentaknya.
"Gue nggak ngaco ataupun mengada-ada itu semua kenyataan. Entah lo percaya atau engga terserah."
Farhan meninggalkan Jennie dan Bianka. Jennie dengan geram mengepalkan tangannya.
"Atau lo udah suka sama si dukun itu?!"
Farhan terhenti sejenak dan kemudian menggeleng meninggalkan mereka berdua.
...*****...
Di dalam ruangan Fiya sendiri, mama Ova mengerutkan keningnya tanda bingung dengan pernyataan yang ia tadi katakan.
"Maksud kamu apa Khanza? Tunangan? Farhan sudah tunangan dengan gadis itu?" tanyanya.
"Iya mah, memang kenapa?"
"Dari Farhan, mama melihat sosok Dimas di dalam dirinya. Jujur, mama kecewa saat mendengar dia sudah bertunangan dengan Jennie, juga menurut mama mereka tuh nggak cocok. Dia sangat cocok dengan kamu."
Fiya menghela nafas dan mengelus tangan mamanya yang memegangi tangannya.
"Mamah, mama belum tau sebenarnya perlakuan Farhan sebelum ada Dimas bagaimana dan semenjak ada Dimas bagaimana."
FLASHBACK ON
Saat pertama kali masuk sekolah untuk hari pertama namun setelah MOS dan PTA. Fiya satu-satunya anak yang bisa melihat begitu angkernya sekolah yang ia tempati.
Makhluk-makhluk dengan tepat berlarian di depan matanya. Fiya tetap berjalan normal namun dengan menghindari makhluk yang akan menabraknya, hingga ada sesosok yang mengetahuinya.
Fiya melirik ke belakang dan langsung berlari hingga ke kelas dan langsung menutup pintunya. Fiya melihat sekelilingnya dan pandangan mata semua orang tertuju padanya.
"Lo kenapa? Di kejar setan atau gimana?" tanya seseorang laki-laki yang masih asing karena belum berkenalan.
"E-enggak papa..." jawabnya gugup.
Dia pun berjalan menuju ke bangku kedua dari belakang sendiri. Kemudian dia duduk lalu menidurkan kepalanya di atas meja. Tak lama ada yang menepuk bahunya dan menengok ke belakang.
"Hai.. " sapanya yang ternyata adalah Feni.
Feni memberikan tangannya dan Fiya melihatnya.
"Gue Feni." lanjutnya.
"Gue Khanza." menerima jabatan tangannya.
Dari situlah mereka berteman. Baru mereka berjabat tangan, mereka mendengar suara teriakan dari kelas sebelah.
Sontak semua siswa langsung berhamburan keluar dan menuju ke kelas sebelah, yang ternyata dari kelas IPA 1. Fiya dengan berani melewati orang-orang yang berkerumun dan melihat seorang siswa yang sedang kesurupan yang tak lain adalah Farhan.
__ADS_1
Farhan sedang ditangani gurunya, dan Fiya langsung mendekatinya walaupun di cegah oleh gurunya.
"Jangan mendekat!!" cegah sang guru.
Fiya tetap mengeyel dan mendekatinya lalu berjongkok dan memegang dagunya.
"Keluar dari tubuhnya sekarang juga!!" teriaknya.
Fiya yang membaca sebuah surah di dalam hatinya, langsung meniup mukanya dan dia tiba-tiba tersadar. Pandangan mereka lurus dan Fiya pun menepisnya sambil menepuk pipinya pelan.
"Lo udah sadar?"
Farhan melihat sekelilingnya dan melepaskan tangannya dari kedua gurunya. Dan di saat itulah Fiya langsung mendapat julukan sebagai dukun.
Di hari-hari berikutnya Farhan malah sering mengejek dan merundungnya. Mulai dari membulynya dan memberikan ancaman kepada Fiya, namun Fiya hiraukan karena rencananya selalu gagal karena makhluk yang memasuki dirinya.
FLASHBACK OFF
"Oohh, seperti itu, tetapi sekarang peduli sama kamu. Mungkin karena menyesal, namun dia tidak ungkapkan. Suatu saat pasti dia akan mengungkapkan isi hatinya kepada mu."
"Mana mungkin si mah, dia tunangan Jennie. Aku pun tak suka padanya, jadi sudahlah mah, suatu saat pasti aku menemukan seseorang yang lebih baik dari dia." sambil tersenyum.
"Tenang, anak mama kan cantik."
Senyumnya mengembang dan Mama Ova juga ikut tersenyum karena melihat anaknya sudah bisa tersenyum seperti sedia kala.
Perhatian mereka teralihkan pada saat Feni dan Aldi datang secara bersamaan. Feni langsung berlari kecil dan menyalami mama Ova, begitu juga dengan Aldi.
"Eh, lo nggak papa. Gue khawatir banget tadi, terus tiba-tiba lo ngilang di ajak Farhan sampe kami kehilangan jejak dan ternyata lo di sini."
Feni memeluk Fiya dan mengelus pundaknya.
"Gue nggak papa kok."
Aldi yang berada di samping Feni memberikan buket bunga untuknya.
"Maaf ya, aku telat nolongin kamu." dengan nada bersalah.
"Nggak kok. Udah si duduk dulu, nggak mungkin langsung pulang kan?"
"Iya.."
Mereka berdua pun duduk di kursi yang mereka ambil. Mama Ova mengambil pisau yang dipinjamnya dari rumah sakit dan mengupaskan mangga dan buah apel untuk camilan mereka.
"Kok Khanza bisa jatuh, itu kenapa?" tanya mama Ova.
"Aku salah menginjak tangga mah, dan akhirnya kebablasan sampe ke bawah, terus jatuh deh." jelas Fiya.
"Makanya kalau jalan jangan grasa-grusu jadinya nggak jatuh kaya tadi. Lain kali hati-hati."
Fiya mengangguk dan kemudian menyajikan buah-buahan yang dipotongnya kepada teman-temannya dan bersenda gurau hingga sore hari.
//**//
__ADS_1