Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
40. Hari kemerdekaan


__ADS_3

Pulang sekolah, Fiya tak langsung ke rumahnya. Dia masih setia menemani Dimas paskibra untuk persiapan minggu depan. Dan dia juga pulang lebih sore karena Dimas berhenti latihan selama 5 hari pada saat tersesat di hutan.


Paskibra yang diikuti oleh beberapa siswa tinggi, gagah dan tampan, tidak segan segan para siswi juga rela menunggu mereka latihan hingga selesai. Hadiah juga di berikan kepada lelaki pujaan hati mereka. Kecuali kepada Dimas, karena beranggapan sudah dimiliki Fiya.


Sesampainya di rumah, Fiya langsung masuk ke kamarnya. Dimas juga mampir dan langsung duduk di ruang tamu. Fiya mengganti bajunya dan setelahnya mereka menuju ke meja makan untuk makan malam lebih awal.


Setelah makan malam, mereka berpindah lagi ke kamar Fiya dan bermain game. Fiya di kejutkan dengan Aldo yang sedang panik di kamarnya, seketika Fiya menghampirinya.


"Aldo, ada apa?"


"Kakak sebaiknya lihat adik kakak di kamar." ucap Aldo dengan panik.


"Memangnya kenapa?"


"Aku nggak bisa jelasin sekarang. Ayo kak cepat."


Fiya langsung turun, Dimas hanya bingung dan mengikutinya.


"Apa yang dibicarakan Fiya dan Aldo? Kenapa Fiya panik." batin Dimas.


Dimas hanya mengikuti Fiya dan mereka menuju ke kamar adiknya. Mereka melihat adiknya sedang kejang-kejang. Dia pun berlari ke luar rumah dan mengambil dlingo dan bangle, dia tumbuk dan segera mengoleskannya di dahinya. Fiya tak melihat makhluk di sisinya dan membuat Fiya bingung. Fiya mengecek dahi Sofi dan denyut nadinya.


Fiya mendekati telinganya dan mengucapkan sesuatu sambil menutup matanya. Ketika dia membuka matanya, ada makhluk menyeramkan yang dia lihat di hutan kemarin.


"Kenapa kau mengikutiku? , jangan ganggu adikku." ucap Fiya yang membuat semua orang di rumah waspada.


"Hihihi.. Karena kau merobohkan tempat tinggalku, inilah balasan untukmu."


"Tempat tinggalmu bukan di sini, tetapi di tempat yang indah. Aku tau kau marah, kau bisa cari tempat tinggal yang baru dan jangan ganggu kami."


"Tak ada cara yang bisa kau lakukan untuk mengusirku.. Hihihi.."


"Ada satu cara..."


Fiya mulai membacakan sesuatu. Makhluk itu mulai bereaksi. Fiya pun melawannya dengan sekuat tenaga sampai dia menghilang. Fiya terhuyung ke belakang dan dengan sigap Dimas menopangnya.


"Fiya, kamu nggak papa."


"Huh.. Aku nggak papa kok."


Sofiya pun menangis dan Mama Ova langsung membopongnya. Dimas yang melihat Fiya lemah pun mengambilkan air untuknya.


"Makasih."


Fiya langsung menerimanya dan meneguknya hingga habis.


"Kamu nggak papa Sayang." tanya mama Ova dan papanya yang baru saja pulang.

__ADS_1


"Nggak papa mah. Sebaiknya ajak Sofi main, kalau mau tidur di temani. Fiya ke kamar dulu." ucap Fiya dengan nada lemas.


"Dimas, tolong antar Fiya ke kamarnya ya."


Dimas mengangguk dan menuntun Fiya hingga ke kamarnya. Fiya di dudukan di ranjangnya dan Dimas pun mengelus kepalanya.


"Kalau butuh bantuan bilang, jangan di lakuin sendiri." ucap Dimas sambil mengelus kepalanya.


Fiya mengambil tangannya dan menggenggamnya.


"Aku nggak papa kok. Aku bisa, tenang aja."


"Bisa gimana, jamu sekarang pucat tuh. Pasti kehilangan tenaga banyak. Mau makan apa, aku bawain."


"Ada kamu aja udah buat aku semangat, aku nggak butuh apa-apa kok. Kamu duduk sini aja, jangan kemana-mana."


Dimas hanya mengangguk. Dia pun melepas sepatunya dan ikut berbaring di samping Fiya sambil menonton film dan memakan snack bersama hingga tak sadar Fiya sampai tertidur di pundaknya. Dimas tersenyum dan kemudian menidurkannya di ranjangnya lalu menyelimutinya. Dimas memakai sepatunya dan mengelus kepala Fiya, baru dia keluar dari kamarnya. Dimas menutup pintunya dan melihat Fiya tertidur pulas.


"Khanza sudah tidur." tanya mama Ova.


"Sudah mah, aku pamit pulang ya."


"Iya, kamu udah di jemput tuh sama mama kamu."


"Oohh, iya. Satya pamit ya mah. Assalamualaikum."


Dimas dan mamanya pun pulang. Mamanya sengaja membawa jaket untuknya untuk menutupi seragam yang di pakainya walaupun itu kaos olahraga yang di pakai untuk latihan tadi.


...*****...


Hari 17 Agustus datang, Fiya dan Dimas berangkat terpisah karena memiliki tugas masing-masing. Fiya memilih 15 anggota PMR untuk berjaga di sebuah lapangan besar tempat upacara dilaksanakan.


Fiya memilih anak-anak yang mendapat sertifikat minggu lalu. Ada yang di tempatkan di pos kesehatan dan juga ada yang berjaga di lapangan. Beberapa petugas di beri walkie-talkie untuk menerima dan memberi informasi kepada Fiya dan Feni.


Anggota PMR menggunakan seragam PMR beserta dengan slayer PMR wira. Fiya dan Feni sendiri memakai almamater putih seperti dokter dan penanda mereka berdua ketua dan wakil PMR.


"Kak Fiya masuk... Kak, ada yang pingsan."


"Baik, di bagian mana?"


"Barisan kelas 12"


Fiya pun mengalihkan ke pos kesehatan dan anak-anak tersebut seger membawa tandu dan membawa seseorang yang pingsan. Dimas dan pasukan lainnya tengah bersiap masuk dan membawa bendera merah putih. Fiya yang berada di belakang merasa penasaran dan mencoba melihat Dimas dari belakang.


"Ih.. Lo kan udah liat latihannya."


"Ya kan nggak liat waktu pake seragam paskibra."

__ADS_1


"Pindah ke tempat tinggi yuk."


Fiya mengangguk dan mencari tempat yang lebih tinggi. Pandangan Fiya fokus kepada Dimas, sedangkan Feni melihat pandangan Fiya yang begitu berbinar. Walaupun jauh, namun Fiya tak pernah lepas pandangannya kepada Dimas.


Setelah upacara selesai, Fiya melihat ke posnya dan ada beberapa siswa yang berjatuhan. Fiya pun melihat kondisi mereka. Guru menyiapkan kotak makan untuk yang sakit dan juga Fiya serta anggotanya.


Tak lama Dimas datang ke pos yang beratap tenda tersebut, lalu duduk di salah satu ranjang pasien yang kosong. Tak lama anggota Fiya ada yang datang membawa pasien. Fiya yang melihatnya langsung menarik Dimas dan membiarkan anggota untuk meletakkan pasiennya di sana.


"Ini bukan tempat kamu. Sana balik sama anggota kamu."


"Kan aku udah selesai. Tinggal tugasku sebagai PMR sekarang."


"Apaan, nggak ada dong. Tetep pake itu sampe pulang. Fen, fotoin kita berdua yah.. Teman-teman, titip pasien sebentar."


Anggota Fiya mengangguk dan Feni. menggiring mereka berdua ke luar dari tenda tersebut. Feni memotret mereka berdua menggunakan kamera, tak lama Aldi juga menyusul mereka dan ikut berfoto. Feni menyuruh seseorang untuk memotret mereka.


Usai berfoto mereka berpindah ke tenda dan melihat beberapa orang yang sudah pulang. Beberapa anggota juga tengah membereskan peralatan. Fiya dan yang lain juga ikut membantu. Setelahnya, Fiya duduk dan melihat foto-foto yang tadi dia ambil.


"Eh Fi, lo tau nggak.."


"Nggak, kan lo nggak bilang."


"Dengerin dulu."


"Hmm.."


"Lo sama Dimas bikin gue keringat sama drakor descendants of the su tau.."


"Nonton lagi aja."


"Lo tuh nggak peka banget si."


"Memang tentang apa?"


"Cowoknya tentara, ceweknya dokter....uh.. Sweet banget deh..."


Fiya tak menghiraukannya dan memilih untuk mengemasi barang-barangnya dan juga tendanya. Lalu mengembalikan ranjang pasien ke sekolah terdekat. Dia juga memasukkan peralatan yang dibawanya di mobilnya. Setelahnya dia berkumpul di lapangan bersama.


"Pertama, saya ucapkan terimakasih kepada kalian yang sudah mau bekerja keras hari ini. Tetap semangat ya buat tahun depan, terus bekerja sama seperti ini hingga lulus mendatang. Sebagai ucapan terimakasih, kakak di beri rejeki dari pembina untuk kita makan siang, bagaimana kalau kita ke restoran sekarang. Kalian bisa?" tanya Fiya.


"Bisa..."


"Ya sudah, kalau begitu kita berangkat sekarang, tetapi sebelum berangkat, sebaiknya kita berfoto bersama dulu bersama dengan dua kakak istimewa kita yang menggunakan seragam paskibra, yuk.."


Mereka berfoto bersama dengan bantuan seseorang mereka berfoto ria tanpa mengenal pangkat. Baru setelahnya mereka menuju ke restoran terdekat untuk makan siang.


//**//

__ADS_1


__ADS_2