
..."Air yang keruh, akan indah apabila ditambahkan dengan pemandangan yang membuat air itu menjadi indah"...
...~Satya Dimas Adriansyah~...
_________________________________
Seharian Fiya bermain bersama dengan Bastian sambil mengajarinya belajar. Mama Ifa tersenyum saat mereka bersama. Mama Ifa membawakan roti dan juga jus untuk mereka berdua.
"Bastian, biarkan kak Khanza istirahat, dia kan masih sakit."
"Iya mah, aku tau kok." jawab Bastian.
"Nggak papa kok tante, yang penting Bastian seneng. Oiya, tante mau ke rumah sakit?" tanya Fiya.
"Iya, tante mau ke rumah sakit. Kamu di rumah saja sama Bastian, jangan keluyuran kemana-mana."
"Iya tante. Tante kaya mamaku aja."
"Anggap saja seperti itu. Ya udah, tante pergi dulu. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam." jawab Fiya dan Bastian bersamaan.
...*****...
Dimas sendiri pergi untuk berusaha mencari Aldi, namun usahanya sia-sia karena dia tidak meninggalkan jejak sedikitpun dari perumahan tua tersebut.
"Aarrgghh sial, kemana dia kabur. Akan bahaya kalau sampai dia kabur."
Dia pun memilih untuk kembali ke kamar Fiya. Dia melihat Farhan yang sedang mengamati Fiya yang menidurkan Bastian di kamarnya. Dan ia pun memilih untuk pergi kembali dari kamar Fiya.
"Melihatmu bahagia dan tersenyum adalah sebuah impian bagiku. Dan... Tetaplah tersenyum walaupun tidak bersamaku Fiya..."
Farhan ikut berbaring di samping Bastian dan mengusap rambutnya lalu mencium kepalanya dengan penuh kasih sayang.
"Bastian, kakak kamu sekarang udah sayang sama kamu. Diam-diam main bareng sama kita. Kalau kamu tau pasti seneng banget."
"Nggak sama aku juga dia tetep seneng karena di temenin kamu."
"Oiya, aku mau nanya satu hal. Kamu panggil aku Nindya, apa alasannya?" tanya Fiya.
__ADS_1
"Nindya, itu artinya kelebihan. Memang kamu adalah kelebihan yang menutupi segala kekuranganku. Jadi, aku memanggilmu Nindya."
"Ya, nggak gitu juga kali..."
"Kebanyakan orang panggil kamu Khanza, Dimas panggil kamu Fiya, kalau aku panggil kamu Fiya, itu kan panggilan Dimas, jadi aku panggil kamu Nindya."
"Oke baiklah. Terus, aku panggil kamu apa?"
"Terserah kamu aja."
"Liam... Aku panggil kamu Liam."
"Oke.." sambil mengacak rambut Fiya. "Aauuuhhh.." Farhan beraduh sambil memegangi bagian dadanya.
"Kenapa? Apanya yang sakit?" tanya Fiya khawatir.
"Aku nggak papa kok. Kamu mending juga istirahat, aku pergi sebentar ya..."
Fiya mengangguk dan berbaring di samping Bastian. Farhan juga membantunya merapikan selimutnya. Farhan tersenyum simpul sambil mengacak rambut Fiya dan Bastian, lalu meninggalkan mereka berdua.
FLASHBACK ON
"Aneh... Kenapa bisa sakit? Aku kan hanya arwah." batin Farhan.
Dia pun kembali berkelahi walaupun nyeri terasa di dalam dadanya.
FLASHBACK OFF
Farhan pun memilih pergi ke apartemennya sesekali mengatur nafasnya yang terasa sesak. Dia mengaturnya beberapa kali sambil memukul dadanya.
"Kenapa tiba-tiba sakit begini? Pertanda apa ini? Apa aku akan menghilang atau akan kembali?"
Farhan bermonolog dengan cemas, dan kemudian dia memilih untuk keluar menuju ke balkonnya. Melihat gelang yang tersemat di tangan kanannya dan mengelusnya.
"Bunga matahari." ucapnya pelan.
Dia teringat akan dirinya yang terbaring di rumah sakit dan kemudian dia pun memutuskan untuk mengunjungi dirinya sendiri di rumah sakit. Dia sangat terkejut karena tidak ada lagi yang mengawasi tubuhnya yang terbaring di rumah sakit. Sehingga dia pun sangat senang.
...*****...
__ADS_1
Dimas sendiri mengunjungi jembatan yang dia datangi saat memasuki raga Farhan bersama dengan Fiya. Dia menunduk sekejap dan kemudian menatap air yang ada di depannya.
Kenangannya tergambar jelas di atas air sungai yang mengalir tersebut. Dia juga sesekali tersenyum melihat kenangan-kenangan yang di buat bersama dengan Fiya.
Namun, yang hanya ia lihat sekarang adalah masa lalu yang tidak akan pernah terulang di masa depan. Semua waktu yang dia lalui hanya sebuah bayangan dari masa lalu dan tidak akan pernah terwujud lagi di masa depan.
Dimas menghela nafas panjang sambil menatap langit yang akan menjadi tempat tinggalnya di masa depan nanti. Belum ada bayangan dia akan bagaimana di sana, namun tempat tujuan selanjutnya setelah urusannya dengan Fiya selesai adalah kembali ke atas langit.
Merasa dirinya di panggil, dia pun pergi ke suara yang terdengar di dalam hatinya dan pergi ke apartemen Farhan. Dimas berjalan ke arahnya yang duduk di pinggiran ranjang.
"Ada apa kamu memanggil?" tanya Dimas.
"Ragaku sudah tidak ada yang menjaga lagi. Apakah aku harus kembali?" tanya Farhan ragu.
"Kembalilah jika kamu mau, kamu harus berjuang lagi mempertahankan Fiya. Aku tau kamu sedikit ragu bukan, karena Fiya masih terikat denganku dan aku pun belum pergi dari dirinya. Namun, perlu di ketahui, Fiya adalah orang penyabar dan tau apa artinya masa lalu. Aku adalah masa lalu yang tidak akan pernah bisa menjadi masa depannya. Kamu harus memegang Fiya dengan erat agar selalu di sisimu. Aku mendukung kalian."
"Emm... Sebaiknya, aku ingin bersama Fiya dulu beberapa hari. Baru aku kembali setelahnya. Jika aku kembali sekarang, itu akan menyusahkan bagi diriku untuknya agar terus bisa dekat dengan dirinya."
"Baiklah, terus semangat memperjuangkan Fiya. Fiya juga pasti akan terus memperjuangkanmu. Selalu jadi pelindung untuknya dan selalu jaga dia."
Dimas menepuk bahu Farhan untuk menguatkan dirinya. Namun, yang sebenarnya terjadi dirinya juga terluka karena harus mengiklaskan Fiya menjadi milik orang lain.
Kini, hari-harinya terasa semakin sepi. Sesekali dia juga mengunjungi makan Aldo, karena Aldo juga membantu Dimas terhindar dari cairan yang membuatnya bisa menghilang dari dunia ini.
"Terimakasih Aldo, berkat dirimu aku masih bisa menjaga Fiya. Dengan susah payah ku, kita bersama membantu Fiya untuk selalu bahagia, terutama kamu yang dari awal selalu menjaganya dengan setianya. Memberinya semangat dan juga solusi ketika aku masih bersembunyi. Aku berterima kasih kepadamu. Tenang di alam sana, dan kakak akan segera menemuimu. Dukung kakak juga dari sana, sejujurnya kakak merasa kesepian karena sudah tidak ada kamu yang selalu menemani kakak. Kakak pamit ya.." Dimas mengelus batu nisan Aldo dan kemudian berdiri meninggalkan makam Aldo.
...*****...
Di sore harinya, Fiya memilih untuk pamit dari rumah Farhan karena merasa dirinya sudah sembuh dan sangat teringin masuk kembali ke sekolah.
"Kamu yakin pulang sekarang? Kamu pergi karena nggak betah di rumah tante ya.." ucap sang mama Ifa.
"Maaf tante." Fiya meraih tangan mama Ifa. "Bukannya seperti itu. Aku nyaman banget di sini tante. Di perlakukakan seperti anak sendiri, itu adalah sebuah keberuntungan. Dan tante tenang kok, aku udah sembuh berkat Bastian yang juga ikut merawatku. Aku sangat senang tinggal di sini. Mama Ifa juga boleh panggil Fiya semau tante, aku pasti akan datang kok."
Mama Ifa tersenyum lebar dan mengelus pipi kirinya dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang.
"Terserah kamu saja kalau kamu mau seperti itu, tante nggak bisa ngelawan kamu. Kamu jaga diri baik-baik ya di rumah, jangan lupa minum obat."
Fiya mengangguk dan kemudian berpamitan sekaligus bersalaman kepada mama Ifa dan juga Bastian. Kemudian, ia pun meninggalkan pekarangan rumah Bastian sambil melambaikan tangannya.
__ADS_1
//**//