Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
109. Perpisahan


__ADS_3

..."Ingatan mungkin bisa hilang, namun perasaan hati tidak akan pernah menghilang."...


...~Farhan Liam Ma'ruf~...


________________________


Setelah mengantar Fiya pulang, Farhan pulang ke apartemennya. Tak lama, Arya datang dan menemuinya.


"Farhan..." panggilnya.


Farhan membuka pintu apartemennya dan begitu Arya masuk dia langsung memeluknya sejenak dan melepaskannya.


"Aku sangat berterima kasih atas bantuan kamu yang mengungkap kasus ayahku selama ini. Dan... Sepertinya aku akan sibuk sekolah sekaligus menjadi pemilik perusahaan."


"Itu sudah menjadi hak milikmu sejak lama. Aku hanya ingin mencari kebenarannya dan karena tidak ingin terikat kontrak dengan keluarga Jennie yang sangat ambisius itu."


"Ada rencana pulang ke rumah?" tanya Arya.


"Iya ada. Besok aku akan pulang ke rumah."


Arya mengangguk senang dan merangkulnya hingga ke dalam.


"Sekarang kamu bersiap, aku akan traktir kamu hati ini."


"Jangan ke bar, ke cafe saja." pinta Farhan yang membuat Arya mengangguk.


"Aku paham sekarang, takut di marahin Khanza kan?"


Farhan mengangguk jujur dan kemudian lekas keluar dari apartemennya.


...******...


Keesokan harinya, Fiya pergi dengan Dimas sesuai dengan permintaannya. Mereka pergi ke sebuah taman bunga yang sudah Dimas janjikan sebelumnya. Pemandangannya yang begitu indah, membuat Fiya ingin berfoto di taman tersebut. Dimas dengan senang hati memotretnya dan Fiya juga beberapa kali berselfie dengannya walaupun tidak terlihat oleh kamera.


"Apa aku cantik menggunakan baju ini?" tanya Fiya.


"Iya cantik." jawab Dimas.


Mereka berdua berjalan berkeliling taman bersama dan menuju ke sebuah jembatan yang ada di taman tersebut. Fiya melihat ke sekelilingnya dan menghirup udara yang segar.


"Fiya, aku ingin mengatakan sesuatu hal yang sangat penting."


"Pasti masalah aku pergi ke luar kota kan? Tenang, aku tidak akan ke luar kota. Aku akan melanjutkannya di sini hingga lulus dan setelahnya baru aku melanjutkan kuliah di luar negeri."


"Bukan itu. Makanya dengerin dulu."


"Soal aku, dan ke indigoan kamu yang sudah mulai memudar dan bahkan akan menghilang untuk selamanya."


Fiya mengerutkan dahinya bingung. "Maksud kamu?"


"Kamu bisa lihat aku karena aku membacakan mantra indigo kepalamu, tetapi sekarang kamu hanya bisa lihat aku saja karena ke indigoan kamu sudah hilang."


"Aku nggak masalah dengan itu. Sudah cukup aku bisa melihat makhluk, cukup kamu saja yang aku lihat." jawab Fiya seperti tidak ada beban.

__ADS_1


"Tapi dengan begitu, itu artinya aku tidak bisa terus di sini Fiya, aku harus pergi. Apabila aku terus di sini, aku akan mengganggumu dengan Farhan."


"Nggak.. Kamu mau ninggalin aku begitu saja, terus... Aku curhat ke siapa nanti, aku mau pukul siapa nanti kalau aku lagi kesel?" tanyanya yang sebenarnya membuat hatinya sesak.


"Kamu harus terbiasa bercerita dengan Farhan, dia pria yang tulus."


"Aku tau tapi... Kenapa ke indigoan ku bisa hilang?" tanya Fiya.


"Waktu kita bertarung di rumah tua itu, kamu kehilangan tenaga dan semuanya itu di hisap oleh mantra Aldi. Begitu pula dengan ke indigoanmu itu yang membuat kamu kehilangan begitu banyak tenaga. Dan terpaksa, aku membaca mantra dari buku tua yang ada di kamar kamu."


"Jadi, kamu mengambilnya?"


"Iya, karena itu ada di atas lemarimu dan tak sengaja aku menyenggolnya hingga kotak itu terjatuh. Aku mengambilnya dan tak sengaja aku membacanya. Karena aku tertarik, aku pun mempelajarinya, dan ternyata itu berguna."


"Lalu, luka di tangan Farhan?"


"Iya, itu ada di dalam buku itu. Seseorang harus memberikan satu tetes darahnya apabila kekuatan indigonya sedang di tarik dan harus orang istimewa yang ada di dalam hatinya. Itu yang tertulis dalam buku itu, sehingga aku menyuruh Farhan untuk memberikan setetes darahnya, karena aku tau hanya dia yang ada di dalam hatimu saat ini. Dan aku tidak mengira ia akan memberikan darahnya dengan cara seperti itu."


"Dimas..." panggil Fiya lirih dengan matanya yang berkaca-kaca.


"Huhh... Sudahlah.. Kenapa?"


"Dimas.... Apabila kamu membaca buku itu, itu artinya aku.... Aku harus siap kehilangan kamu. Karena di buku itu tertulis, siapapun akan pergi dan perpisahan itu juga akan terjadi."


Dimas tersenyum dan mengangguk. Fiya menitikkan air matanya. Dimas masih tersenyum dan langsung memeluknya dengan erat.


"Tidak masalah, kamu juga sekarang tidak perlu melihat makhluk lagi. Kamu sudah bebas sekarang."


"Tapi, aku mohon jangan sekarang.." pinta Fiya.


"Aku tidak ingin kamu pergi."


"Aku akan pergi Fiya, tetapi namaku akan tetap terukir di hatimu. Berbahagialah.."


Dimas mengusap air mata Fiya dan kemudian mengelus kepalanya. Dimas melihat Farhan yang sedang mencari-cari seseorang.


"Oh.. Itu Farhan.."


Dimas mengangkat tangannya ke arah Farhan. Farhan yang langsung melihatnya lekas berlari dan menuju ke arahnya.


"Loh, Nindya kamu di sini? Dan kenapa kamu menangis?" tanya Farhan.


"Hiks... Hiks... Hiks..."


Farhan ragu untuk memeluknya, Dimas paham dan memberikan isyarat untuk memeluknya. Farhan pun lekas memeluknya dan mengusap kepalanya untuk menenangkannya.


"Sssttt... Sudah... Tak perlu di tangisi... Hmm.."


"Farhan, giliran kamu yang harus menjaganya. Jangan buat aku tidak tenang di alam selanjutnya. Tetap jaga dia. Apabila ada masalah, tangani dan selesaikan secara baik-baik, jangan saling meninggalkan. Fiya..."


Fiya melepaskan pelukannya dari Farhan dan mengusap air matanya yang masih tersisa. Dimas meraih tangan Fiya dan tangan Farhan lalu menggandengkannya.


"Berbahagialah kalian berdua. Fiya tetap semangat belajar hingga lulus. Jangan saling melupakan dan tetaplah saling mendukung dan melengkapi. Aku pamit... Sampai jumpa apabila ada kesempatan. Baju kalian cocok, semoga cocok hingga akhir khayat kalian.. Aku pergi."

__ADS_1


Fiya tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada Dimas, begitu pula dengan Farhan. Dimas pun menghilang menuju ke arah sebuah cahaya dan Fiya akhirnya bisa bernafas dengan lega.


"Nindya, lihat aku."


Fiya melihat ke arahnya dan menepuk bahunya. "Aahhh..." Farhan mengeluh sambil mengelus pundaknya.


"Kenapa aku di pukul?" tanya Farhan.


"Karena sekarang kamu yang hanya bisa aku pukul."


Farhan tersenyum sambil mengelus pipinya yang sedikit basah.


"Oh ya.. Sebentar."


Farhan merogoh sesuatu di sakunya dan membuat Fiya bingung. Tak lama, dia pun mengeluarkannya dan memperlihatkannya kepada Fiya.


"Apa itu? Cincin?"


Farhan mengangguk dan kemudian menyempatkan cincin di jari manis Fiya. Fiya tersenyum dan kemudian melihatnya.


"Ini maksudnya apa?"


"Apabila kamu pergi, semua orang yang mendekatimu akan tau kalau aku sudah memiliki seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya."


"Kita masih SMA.."


"SMA atau tidak, tetap sama kamu."


"Bucin terus, dah yok jalan-jalan."


"Ke rumah mertua asik kali ya..." pikir Farhan.


"Masih lama Farhan Liam Ma'ruf, jangan halu mulu..."


Farhan menggandeng tangan Fiya dan berlarian di sekitar taman bersama dengan Farhan. Mereka menaiki sepeda untuk berkeliling dan tak lupa mengambil foto bersama di tempat tersebut.


Dari jauh mereka melihat Feni dan Arya sedang di pinggir pantai, dan mereka berdua akhirnya mendekatinya.


"Diam-diam ternyata ada yang lagi kencan juga." ucap Fiya.


"Khanza.. Kenapa kamu di sini?" tanya Feni gugup.


"Mengucapkan salam perpisahan dengan seseorang." jawab Fiya.


"Perpisahan?" tanya Arya bingung.


"Ehem.. Perpisahan sekaligus menyatukan seseorang."


Fiya melihat Farhan dengan tersenyum lebar dan masih tetap menggandeng nya dengan erat. Farhan menarik tangan Fiya dan berlari di pinggir pantai. Mereka pun terhenti dan saling pandang satu sama lain.


"Aku mencintaimu." ucap Farhan.


"Aku juga mencintaimu." jawab Fiya dengan senyum sumringahnya.

__ADS_1


//**//


__ADS_2