
Dimas hendak ke atap untuk menemuinya, namun tiba-tiba dokter keluar. Bersamaan dengan itu, Aldo juga datang menemuinya.
"Kak.."
"Kebetulan kamu di sini. Cepat ke atap dan temani Fiya." ucap Dimas.
Aldo mengangguk dan lekas berteleportasi ke atap. Dimas hanya diam mendengarkan percakapan antara sang dokter dan orang tua Farhan.
"Pasien mengalami luka yang cukup parah di kepalanya, sehingga ia dinyatakan koma. Perkiraan sadar kami juga belum bisa memprediksi, jadi bapak dan ibu mohon bersabar. Pasien akan dipindahkan ke ruangan Cempaka no 13. Kalau begitu saya permisi, masih ada pasien yang harus saya tangani."
Dimas sungguh tak percaya Farhan koma, namun masih ada peluang Farhan hidup. Mama Ova dan papa Brian baru menyadari bahwa Fiya hilang. Dan mereka pun lekas meninggalkan tempat tersebut untuk mencari Fiya. Begitu pula Dimas yang langsung berpindah ke atap.
Di atap sendiri, Aldo menepuk nepuk pundak Fiya untuk menenangkannya. Tak sadar, arwah Farhan juga sudah melihatnya dari kejauhan. Sungguh, dia merasa sangat kasihan di buatnya.
"Kakak, sudah kak. Ini juga bukan salah kakak kan.." ucap Aldo.
Farhan menepuk pundak Aldo. Aldo kaget dan hendak mengucapkan namanya, namun Farhan langsung menaruh jari telunjuknya di bibirnya agar Aldo terdiam. Farhan pun memeluknya dari belakang, Fiya tambah menangis sejadi-jadinya sekaligus juga merinding.
Dimas yang melihatnya dari kejauhan juga turut sedih dan menangis. Tak menyangka Farhan pun menjadi dirinya yang menjadi arwah gentayangan dimana-mana terutama mengelilingi Fiya.
"Ini bukan salah lo, berhentilah menangis."
"Jangan meluk gue, lo udah bikin gue khawatir."
Fiya mengusap air matanya dan berbalik. Farhan sungguh kaget karena Fiya tau keberadaannya, padahal dia tidak memiliki raga.
"Lo bisa liat gue?"
Mata Fiya terbelalak, dan dia pun memegang tangan Farhan. Dia kaget saat melihat tangannya yang dingin dan sedikit pucat. Fiya kembali menunduk dan menangis. Fiya sungguh kesal dan dia pun memukul dada bidang Farhan.
"Lo kenapa harus mati si? Gue jadi ngerasa bersalah banget dan merasa orang yang di deket gue tuh kena malapetaka karena gue... Hiks.."
"Gue belum mati, gue koma. Yu know koma. Setengah nyawa gue ada di dalam diri gue dan setengah lagi berkeliaran." jawab Farhan.
Fiya tambah menangis, sungguh Farhan bingung harus melakukan apa, sehingga ia pun memeluk Fiya. Dimas yang tidak kuat melihatnya hendak pergi, namun Farhan melihatnya dan langsung berteleportasi ke hadapannya.
"Jangan pergi." larang Farhan yang sudah ada di depan Dimas.
__ADS_1
Dimas menengok ke arah Fiya yang tengah menangis. Dimas hendak pergi, namun Farhan mencegahnya dengan memegang pundak Dimas.
"Katanya kau sahabat setianya. Kau tidak perlu lagi sembunyi di raga gue yang terbaring lemas di rumah sakit ini. Sekarang lo harus menemuinya agar dia tenang."
Dimas pun mendongak dan melihat ke arahnya. Di pegangnya tangan yang ada di pundaknya lalu tersenyum.
"Gue sudah tiada di dunia ini. Lo yang masih memiliki raga, jadi lo harus bertahan. Tetap jaga Fiya untuk gue, karena lo juga manusia yang baik." jawab Dimas.
"Dasar pengecut. Lo ingin gue yang menjaga Khanza. Kenapa bukan lo sendiri, lo malah bersembunyi di raga orang lain yang masih bernyawa untuk menjaganya. Kalau lo berani lo harus hadapin dia. Lo liat dia sekarang, dia menangis sesegukan. Berapa lama lagi lo mau biarin dia menangis. Gue udah berusaha semampu gue, bahkan hingga nyawa gue terancam. Tapi, semua sekarang hanya ada di tangan lo. Dan jangan sampai lo menyesal."
"Gue bukan nggak mau jaga dia. Takdir gue adalah tiada. Lo yang masih mampu menjaga Fiya. Gue bukan ditakdirkan untuk Fiya. Dan gue mohon lo yang nenangin dia."
"Dasar pengecut lo."
Farhan memukul Dimas. Fiya yang mendengar keributan langsung melihat ke arah pertengkaran tersebut dan langsung berlari menghampirinya. Fiya melihat Farhan yang terjatuh dan langsung menemuinya.
"Farhan, lo nggak papa."
Farhan hanya diam, dan menunjuk ke arah Dimas. Fiya melihat ke arah yang di tunjuk Farhan, namun tak ada apa-apa.
"Sial, dia kabur." umpat Farhan.
"Dia siapa?" ucap Fiya bingung.
"Dimas, arwahnya masih berkeliaran di sini. Dan lo harus cari dia."
"Di-Dimas..."
Fiya perlahan mundur, Farhan tak sadar bahwa Fiya sudah mendekati pagar atap. Dimas yang melihatnya hampir terjatuh lantas langsung menarik tangannya hingga terjatuh ke pelukannya.
"Hiks.. Hiks.. Dimas... Hiks.."
Dimas melihatnya dan mengusap kepalanya. Fiya mendongak dan kemudian duduk di lantai. Dia mengusap air matanya dan melihat ke arah Dimas yang samar karena terhalang air matanya yang membendung. Fiya melihatnya lebih jelas dan didapatinya adalah Dimas.
"Hiks... Dimas...."
Fiya memeluk tubuh dingin Dimas lalu melepaskannya dan memukul mukul bagian dadanya sambil menunduk.
__ADS_1
"Kau jahat... Kenapa meninggalkan ku seperti itu... Hiks.. Kau tega membuat aku menangis semalaman dan... Kau tega..."
"Kamu hendak bunuh diri bukan?"
Fiya mendongak dan kemudian melepaskan tangannya dari dadanya.
"Kau tau itu?"
"Aku memperhatikanmu dan Farhan beberapa minggu terakhir. Aku juga yang memasuki raga Farhan saat Farhan bengong. Aku selalu menemani malamu saat di rumah sakit, begitupun Aldo. Aldo mengetahuinya, namun aku menyuruhnya untuk merahasiakannya."
"Kau jahat, katanya kau sahabatku, kenapa kau pergi seperti ini. Jika aku benar-benar bunuh diri, aku pasti akan bergentayangan sepertimu saat ini."
Fiya merasa sangat bersalah dan kembali memukul dada Dimas yang sudah tidak bernyawa. Dimas sedikit tersenyum dan kemudian langsung memeluknya.
Farhan dan Aldo melihat mereka dari kejauhan. Tak lama berselang, orangtua Fiya menemukannya di atap yang tengah duduk sambil menangis. Fiya melihat ke arah mereka. Mama Ova yang juga melihatnya langsung berlari dan memeluk Fiya. Tentu saja Dimas menyingkir. Dan mensejajarkan dirinya dengan Farhan dan Aldo.
"Kenapa kamu ke sini? Kamu nggak papa?" tanya sang mama cemas.
"Iya mah nggak papa kok. Mending, sekarang kita pulang mah... Terlalu banyak kenangan yang dibuat di tempat ini."
Mereka mengangguk dan menyetujui untuk pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, Fiya hanya terbengong sambil memandangi lampu kota yang dilaluinya.
"Tidak mungkin bukan kalau aku cerita kepada orangtua ku bahwa arwah Farhan dan Dimas masih berkeliaran di sini. Apalagi Farhan yang meninggalkan raganya tergeletak di ranjang rumah sakit."
Begitu Fiya dan kedua orangtuanya sampai di rumah. Fiya tak langsung makan. Dia memilih untuk masuk ke kamarnya dan kembali melihat foto-fotonya bersama dengan Dimas.
"Kalian semua tega banget sih, sudutin gue di situasi yang rumit. Terlebih lagi lo Dim, gue kehilangan lo banget, dan kenapa lo baru muncul sekarang..."
Dimas dan Farhan juga Aldo mendengar semua perkataannya. Sungguh menusuk hati Dimas, sangat.. Sangat menusuk. Dimas pun mendekatinya dan memegang pundaknya.
"Lo jangan deketin gue. Gue benci lo."
"Maafin gue Fiya. Gue nggak bermaksud menyudutkan lo disituasi yang rumit. Percayalah semua akan berlalu. Gue minta maaf yang sebesar-besarnya ke lo."
Tanpa jawaban, Fiya langsung menuju ke kasurnya dan menenggelamkan wajahnya di bawah selimutnya tanpa mendengar perkataan apapun yang Dimas ucapkan.
//**//
__ADS_1