
Tak lama, Jennie pun terbangun sambil memegangi kepalanya yang sakit. Fiya hendak beranjak, namun tangan Aldi menghalanginya dan memerintahkan untuk diam di tempat.
"Kamu sini aja. Kamu pasti masih lelah. Cepat katakan apa yang harus aku lakukan."
"Biarkan aku melakukannya sendiri."
"Aku juga anak PMR sekarang."
"Kamu belum direkrut. Lebih baik diam."
"Hei.. Brisik banget.. Ngga tau apa ni kepala sakit banget. Kasih air dong." keluh Jennie.
Fiya menepiskan tangan Aldi dan kemudian dia berdiri, namun di halangi lagi oleh Dimas.
"Duduk, biar aku yang ambil."
Dimas menekan bahu Fiya untuk duduk dan kemudian Dimas yang mengambilkan minum untuk Jennie. Sementara itu, Feni lebih memilih untuk tidur karena lelahnya sehabis membantu Fiya walaupun hanya membacakan sebuah surat.
"Nih.."
Dimas memberikan minum dengan kasar hingga hampir tumpah, sedangkan Jennie hanya berdecih dan langsung meminum air itu hingga tandas.
"Eh.. Kok gue bisa di sini. Gue kenapa ya?"
"Lo kesurupan. Beruntung lo nggak kaya Bianka. Bianka sampe terbang ke langit-langit ruangan ini." jelas Dimas.
"Kok gue nggak inget ya. Duh..badan gue remuk semua. Nih gelasnya."
Dimas menerima gelasnya yang diberikan Jennie dengan kasar. Jennie membenarkan selimut dan kemudian memilih untuk tidur kembali. Dimas membiarkannya tanpa perdebatan dan menaruh gelasnya di meja samping tempat tidur yang tersedia. Dia duduk di samping Fiya. Tepatnya Fiya duduk diantara Aldi dan Dimas.
"Padahal banyak tempat loh di sini. Ngapain kalian berdua duduk di samping aku."
"Nggak papa." jawab mereka berdua kompak.
Fiya melihat mereka secara bergantian sambil mengerutkan dahinya bingung.
"Kalian berdua kenapa? Sana jauh-jauh, bahaya kalau deketan."
Aldi dan Dimas tak berkutik dan akhirnya Fiya yang beranjak dari tempat tidur, namun Aldi dan Dimas menarik kedua tangannya sehingga dia duduk kembali di tempatnya.
"Kalian berdua kenapa si? Seolah-olah kalian itu kakak gue, kemana-mana nggak boleh."
"Memang kamu punya kakak." tanya Dimas.
"Ya nggak, tapi aneh aja gitu. Udah ih.. Minggir.."
Fiya mendorong bahu Aldi dan Dimas sehingga mereka berduapun terpaksa duduk di kursi yang berbeda. Fiya yang melihatnya pun akhirnya beranjak dari ranjangnya dan menuju ke ranjang tempat Feni tidur. Dia memegang keningnya khawatir akan keadaannya yang baru pertama kali menghadapi orang yang kerasukan sampai terbang ke langit-langit.
Biasanya Feni hanya di pertemukan dengan hal biasa, namun pada hari ini mereka menghadapi hal yang begitu luar biasa. Semakin hari rasanya semakin banyak makhluk yang memberontak di tempat tersebut.
Dia terkejut saat menyentuh kening Feni yang panas. Dia langsung melihat ke arah Dimas dan Aldi yang sedang bersandar di kursinya dengan mata yang terpejam.
"Dimas, Aldi. Bantuin aku cariin sambetan."
Mereka berdua pun bangun dan melihat ke arahnya.
"Hah? Sambetan?" ucap mereka berdua bingung.
__ADS_1
"Kalian bukan anak jawa si, jadi nggak tau. Nih.. Dlingo sama bangle."
"Apa itu? Tanaman?" tanya Aldi semakin penasaran.
"Bukan, ya iya lah..Sudahlah, biar aku cari sendiri."
"Aku ikut." ucap Aldi dan Dimas bersamaan lagi sambil beranjak dari tempat duduknya.
"Terus yang jaga mereka bertiga siapa? Kalian kepo sama tanamannya atau mau ngawasin aku yang cuma jalan ke belakang UKS? Kalian ini. Kalian diam, nanti juga kalian tau."
Fiya pergi ke taman tanaman obat yang berada di belakang UKS. Dia yang membawanya saat pertama MOS di sekolah tersebut. Dia juga yang merawatnya, walaupun kebanyakan orang tidak percaya dengan hal tanaman tersebut, namun perintah kakek buyutnya dan obat turun temurun dari keluarganya membuatnya dia tak jauh dari tanaman tersebut.
Daun dlingo merumpun berbentuk lanset, keras, panjang meruncing dengan panjang mencapai maksimal 60 cm dan lebar hingga 5 β 6 cm. Dlingo memiliki rimpang rizhoma pada akarnya. Sedangkan bengle sendiri di ambil dari akarnya yang mirip seperti jahe, namun memiliki aroma yang khas dan berbeda.
Dia mengambil daun dlingo dan akar bengle dengan ukuran sedang. Lalu di cucinya dengan bersih. Dia pun kembali ke UKS. Sesampainya di UKS, Aldi dan Dimas mengikuti Fiya yang mengambil tempat untuk menghaluskan obat di lemari P3K dan menaruh dlingo dan bangle disana.
"Ini nih, Dlingo sama bangle."
Mereka berdua mengangguk paham dan kemudian merekapun mencium bau asing di sekitar mereka.
"Bau apa ini Za" tanya Aldi.
"Bau dari kedua tanaman ini. Menurut orang jawa biasa di sebut mitosnya, tanaman ini bisa menyembuhkan orang yang kesambet. Tau kan kesambet ?"
Mereka berdua hanya menggeleng. Fiya juga ikut menggeleng sambil menumbuk kedua tanaman obat tersebut sambil menjelaskan kembali.
"Kesambet itu seperti diganggu oleh makhluk. Namun berbeda oleh pandangan PMR sepertiku. Aku pun waktu itu mencari di internet tentang kandungan khasiat dari dlingo dan bangle ini. Dan ternyata khasiat yang terdapat di dalamnya itu masuk akal kalau dikaitkan dengan kesehatan."
"Maksud kamu" tanya Dimas penasaran.
"Ambil air dulu."
"Dlingo dan Bangle ini memiliki beberapa khasiat sebenarnya. Kandungan di dalam daun dlingo ini bisa meredakan peradangan atau demam, mengobati gangguan saraf, menyeimbangkan hormon dan membantu proses metabolisme. Selain itu, dlingo juga bisa menjadi obat penenang dan penyakit lainnya seperti asma, maag, gangguan ingatan, flu, dan amenorea."
"Memang pantes kamu jadi ketua PMR. Aku bangga." ucap Dimas dengan senyuman lebarnya.
"Diem dulu, mau di lanjutin nggak?"
Sebenarnya Fiya meleleh saat Dimas tersenyum lebar kepadanya, hingga dia memutuskan untuk menahannya.
"Silahkan, kami juga sedang belajar menjadi anggota PMR di sini." jawab Aldi.
"Bangle sendiri memiliki khasiat untuk mengatasi rematik, sebagai obat cacing, melancarkan proses buang air besar. Bangle juga memiliki kandungan amtioksidan yang tinggi. Bangle juga untuk penyakit kuning dan bisa juga menghaluskan kulit serta untuk
Antikanker dan Imunostimulan"
"Oohh begitu. Aku tanya nih Fi, setelah kamu mengetahui khasiatnya, masih percaya bisa buat orang kesambet ?"
"Percaya nggak percaya, namanya juga obat leluhur ya kan. Ya udah lah, terima aja dengan adat istiadat setempat. Kita yang berbhineka tunggal ika harus menghargainya. Em.. Tolong ambilkan saringan dan tiga gelas."
Dimas mengambilkan gelas dan Aldi mengambilkan saringan yang ada di dalam lemari P3K. Fiya menuangkan ramuan tersebut ke dalam tiga gelas lalu memberikan dua gelas kepada Aldi dan Dimas.
"Aku nggak kesambet Fi, kenapa di kasih ini?" protes Dimas.
"Jangan protes dulu. Aku minta tolong kasih ke Bianka dan Jennie juga. Isshh.."
"Ogah lah.."
__ADS_1
Fiya memutar bola matanya malas karena lagi-lagi mereka menjawab kompak. Dia pun terdiam dan kemudian menuju ke ranjang yang di tempati oleh Feni, lalu membangunkannya pelan.
"Fen, bangun... Fen..."
Feni terperanjat kaget dan menjerit. Fiya langsung memeluknya dan mengelus punggungnya.
"Istigfar Fen, Istigfar.."
"Astagfirullahal'azim..."
Feni tak hanya beristigfar sekali, dia berkali-kali Istigfar sampai sesak di dadanya terasa lebih ringan.
"Nih minum, baca bismillah dulu ya."
Feni mengangguk dan lekas meminumnya walau hanya dua teguk.
"Sambetan ya Za?"
"Iya, minum lagi."
"Tpi baunya."
"Nanti juga ilang."
Dia pun terpaksa meneguknya hingga tandas. Lalu menyerahkan gelas tersebut kepada Fiya.
"Permen Za."
"Duh nggak ada. Aldi atau Dimas, ambilkan air tolong."
Aldi pun dengan sigap memberinya air lalu di berikan kepada Feni.
"Dah.. Tidur lagi, bentar lagi sehat."
Bianka mengangguk lalu berbaring lagi hingga selimutnya menutupi dadanya. Dia beralih ke ranjang Jennie dan kemudian membangunkannya pelan. Jennie pun melihat ke belakang dan duduk di ranjangnya.
"Ada apa?"
"Nih minum."
"Euummmm.. Bau apaan ini" sambil menutup hidungnya.
"Minum kalau nggak mau kesambet lagi."
Jennie terpaksa meminumnya walaupun dengan sedikit mual. Fiya segera memberinya teh yang tersedia di samping tempat tidurnya.
"Nih minum.."
Jennie meminumnya dan mengembalikan lagi gelasnya lalu berbaring lagi di tempatnya. Dia pun beralih ke Bianka, sama seperti Jennie, namun dia tidak terlalu banyak menolak.
"Sudah, istirahat lagi."
Fiya pun beranjak dari tempat tidurnya, namun perkataannya membuatnya terhenti saat akan berjalan.
"Terimakasih"
Fiya menengok ke arahnya. Dia langsung membenarkan selimutnya dan berbaring kembali.
__ADS_1
//**//