
...Apabila masih bisa diperbaiki, kenapa harus mengulang.. ...
...~Farhan Liam Ma'ruf~...
______________________
Farhan berdiri di dekat jendela apartemennya sambil berusaha keras untuk terus mencerna perkataan Fiya dan ia juga mencoba mengingat hal-hal tersebut, namun semakin keras dia mencoba untuk mengingatnya, hanya membuatnya sakit kepala.
"Tok.. Tok.. Tok..." suara ketukan pintu membangunkannya dari lamunannya.
Farhan pun langsung mengambil remot yang ada di dekatnya dan mengarahkannya ke arah pintu. Setelah pintu terbuka, seseorang pun masuk dan tak lain adalah Arya.
"Ada apa lo panggil gue kesini?" tanya Arya.
"Bikinin gue teh dulu."
Arya menghela nafas panjang dan keluar lagi dari kamar Farhan untuk membuatkannya teh. Setelah ia kembali, ia langsung memberikan teh tersebut kepada Farhan. Farhan langsung meminumnya dan kemudian berjalan ke arah sofa diikuti oleh Arya.
"Apa yang akan kamu tanyakan?" tanya Arya.
"Tentang gelang ini. Bagaimana ini bisa ada di tangan gue saat gue bangun? Apakah ini jimat?" tanya Farhan tanpa basa basi.
"Itu dari Khanza, apa lo nggak inget. Lo yang minta."
"Kapan? Dan Bagaimana?" tanya Farhan tambah bingung.
"Di saat kamu masih koma. Jiwa lo yang memintanya waktu itu."
"Jiwa?"
"Iya, gue bahkan kaget saat bisa liat jiwa lo bergentayangan di depan gue. Fiya juga yang membukanya saat itu, lo nggak inget?" tanya Arya sekali lagi.
"Gue nggak percaya. Dokter bilang gue nggak hilang ingatan. Tetapi, kenapa semua itu gue ngak ingat sama sekali?" tanya Farhan kemudian.
"Mungkin jiwa otak lo belum menyatu dengan raga otak lo, jadi semua ingatan lo belum pulih sepenuhnya. Gue saranin, lo tanya-tanya aja sama Khanza. Lo yang paling deket sama dia. Dia bahkan rela melawan banyak makhluk agar lo tetap hidup. Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, padahal waktu itu dia sakit. Dia bahkan menangis saat melihat lo nggak sadarkan diri setelah kalian melawan makhluk. Dan... Masih banyak kenangan lain diantara mereka berdua. Kalian berdua juga mengubah nama panggilan kalian. Dia panggil lo Liam dan lo panggil dia Nindya. Waktu itu, gue juga sering melihat Khanza yang selalu tersenyum ketika bersama lo waktu itu. Dan.. Gue harap, lo segera mengingat semuanya agar lo bisa memeluknya kembali dengan hangat. Memberikan suport dan selalu ada bersama dia sebagai pengganti Dimas. Gue harus pergi dulu, gue masih banyak tugas di rumah yang harus gue kerjain."
Arya menepuk bahu Farhan dan langsung keluar dari kamarnya. Farhan kembali berfikir keras dan bayangan-bayangan buram kembali muncul dalam ingatannya.
"Aarrgghh... Semakin aku mengingatnya, aku hanya akan semakin sakit. Jadi, apa yang harus aku lakukan. Dan... Apa semua itu benar? Tidak ada cara lain untuk mengetahui kebenarannya sendiri."
...*****...
Sepulang sekolah, Fiya menunggu di halte bus untuk menunggu jemputan ke rumah Bastian. Namun, yang datang bukanlah orang yang ia maksud, melainkan adalah Farhan dengan mobilnya. Farhan menurunkan kaca jendela mobilnya dan membuat Fiya bingung.
"Masuk cepetan, supir lagi nggak bisa jemput lo."
__ADS_1
Fiya diam di tempat, dan Farhan membuka pintu depan dari dalam mobil. "Ayo cepet masuk."
Fiya memutar bola matanya malas dan langsung masuk ke dalam mobil. Farhan pun lekas melajukan mobilnya dari depan halte tersebut. Di dalam mobil, Fiya hanya cuek sambil melihat ke arah luar jendela.
"Selain restoran dan kebun binatang, tempat dimana lagi yang aku tidak ingat?" tanya Farhan sebagai pembuka pembicaraan.
"Banyak, ada taman, rumah sakit, rel kereta api, atap sekolah, dan terutama di balkon depan perpustakaan rumahku."
Farhan langsung memutar arah mobilnya dan membuat Fiya kebingungan.
"Eh.. Kamu bawa aku kemana?"
"Ke rumah kamu lah, kemana lagi."
"Aku mau ngajarin lesnya Bastian, bukannya pulang ke rumah."
"Sekali-kali bolos napa."
"Liam, plis jangan buat aku di posisi nggak jelas lagi."
"Aku bakal percaya kalau kamu nunjukin semua tentang apa yang kamu bicarakan denganku."
"Nggak ada yang perlu dibicarakan diantara kita berdua." ucap Fiya kesal.
"Kalau nggak ada yang di bicarakan, berarti semua yang kamu omongin selama ini semua kebohongan?" tanya Farhan yang juga ikutan kesal.
"Kamu mau bikin aku mati?"
"Oke.. Oke.. Nindya... Eh.. Khanza.. Em.. Maksud aku Nindya. Aku minta maaf. Dan aku mohon jangan bikin aku bingung lagi dan jelasin semuanya secara detail."
Fiya langsung menatap ke arahnya dengan iba. "Baiklah, jika itu yang kamu mau. Aku juga berharap kamu bisa ingat semuanya kembali, karena tujuanmu ada satu yang belum terselesaikan." ucap Fiya kali ini benar-benar serius.
"Apa itu?"
"Kita bahas di rumahku saja. Oiya, aku akan menelepon orang tuamu terlebih dahulu bahwa aku tidak akan datang mengajar les Bastian."
Farhan mengangguk dan kembali melajukan mobilnya menuju ke rumah Fiya.
Sesampainya di rumah, mama Ova yang sedang memotong rumput bersama dengan para pembantunya di rumah kaget saat melihat sebuah mobil yang masuk ke pekarangan rumahnya.Mereka saling pandang satu sama lain karena ke kebingungan.
Begitu mobil berhenti, Fiya langsung keluar dari mobil tersebut dan membuat mama Ova bingung dan lantas langsung menghampirinya. Di susul dengan Farhan yang keluar dari mobil, juga membuatnya sedikit bingung.
"Loh Khanza, kamu nggak ngajar Bastian?" tanya sang mama.
"Nggak mah."
__ADS_1
"Em.. Maaf tante menyela. Aku dan Khanza mau belajar bersama dan karena Khanza pintar jadi, aku ingin belajar darinya."
"Ooh seperti itu. Ya udah, kalian langsung aja ke atas. Mobilnya tinggal di sini saja biar satpam yang memparkirkan."
Farhan mengangguk dan memberikan kunci mobilnya kepada satpam yang peka untuk memparkirkan mobilnya. Mereka berdua langsung menuju ke ruang perpustakaan Fiya.
Begitu mereka masuk, Farhan melihatnya secara seksama dan teliti hingga ke balkon. Fiya meletakkan tasnya dan melihat ke arahnya sambil tersenyum.
"Serasa tidak asing bukan? Aku tinggal dulu sebentar dan aku akan kembali lagi nanti."
Farhan mengangguk dan duduk di kursi yang kosong. Dia berdiri di pagar balkon dan melihat pemandangan dari atas atap.
"Farhan, dimana Khanza?" tanya mama Ova sambil membawakan camilan untuknya dan Fiya.
"Khanza sepertinya ke kamarnya tante."
"Baiklah. Ini kunci mobil kamu juga sudah di sini. Belajar yang rajin ya kalian berdua."
Farhan mengangguk dan Mama Ova pun lekas keluar dari ruangan tersebut. Dia berpapasan dengan Fiya dan mamanya hanya tersenyum kepadanya. Fiya lekas masuk ke ruang perpustakaan tersebut dan ia meletakkan tas yang ada di kursinya di bawahnya lalu duduk di kursi tersebut.
"Memangnya apa yang kamu akan bicarakan?" tanya Fiya.
"Aku ingin bertanya, apa yang kita lakukan di sini waktu itu dan apa tujuanku yang belum terselesaikan itu."
Fiya pun bangkit dan berdiri di sampingnya dan menghadap ke arahnya sambil sedikit mendongak.
"Kau bertanya tentang apa yang kita lakukan di sini bukan?" tanya Fiya.
Farhan mengangguk dengan yakin, dan Fiya pun berjinjit sambil mencium pipinya sekilas. Farhan sedikit kaget dan memegangi pipinya.
"Itu si belum apa-apa, suatu saat kamu akan mengerti jika kamu ingat. Dan masalah tentang tujuan kamu itu...." Fiya berhenti berkata sambil berfikir.
"Apa?"
"Ini tentang keluarga Jennie yang akan menurunkan derajat keluarga kamu. Entah apa yang kamu lakukan aku tidak tau, tetapi itu yang kamu katakan kepadaku waktu itu. Dan, kamu bahkan sudah hampir mendapatkan buktinya."
Farhan langsung memegang bahunya dan menatapnya dengan penuh pengharapan.
"Sebelumnya, aku tidak pernah memohon kepada seseorang. Tetapi kali ini, ini adalah masalah serius, dan... Aku mohon tolong bantulah aku untuk mengingat semua itu. Hanya kamu yang bisa membantuku dalam masalah ini. Dan... Sebenarnya aku juga samar dalam mengingat kejadian dimana aku kecelakaan waktu itu, namun mungkin trauma membuatku takut untuk mengingat semuanya. Bisakah kamu membantuku?"
Farhan memegang tangan Fiya penuh dengan pengharapan dan permohonan dengan tulus. Fiya tersenyum senang dan menggenggam tangannya.
"Baiklah, seperti janjiku kepadamu saat itu. Aku akan membantumu entah kamu hilang ingatan atau tidak, aku akan tetap membantumu. Sebaiknya, kita mulai lagi hari ini. Aku akan memanggil Dimas, dan mengulang semua kenangan itu lagi."
Mereka pindah ke kamarnya dan kemudian memanggil Dimas untuk bersama mereka sambil menikmati camilan dan menonton film hingga sore hari.
__ADS_1
//**//