
Fiya pun diam dan menunduk. Fiya bingung harus melakukan apa sekarang. Dan, kebetulan Aldo datang ke atap rumah sakit.
"Kak Khanza."
Fiya pun melihat ke arahnya dan langsung memegang pundaknya.
"Aldo, kebetulan kamu datang. Em.. Bisakah kau mencari informasi tentang kecelakaan orang yang meninggal dan kepalanya menghilang?" tanya Fiya.
"Memang kenapa?" tanyanya bingung.
"Seperti biasa, kakak ada suatu misi." mata Fiya mengisyaratkan kepada orang berwajah tampan tersebut dan kemudian Aldo pun menganggukinya dan segera menghilang dari hadapannya.
"Kita membutuhkan satu orang lagi." pikir Fiya.
"Aku sudah berkenalan dengan beberapa arwah, apa itu membantu?" tanya Dimas.
"Aku butuh orang oke.. Orang...." ucap Fiya dengan penuh penekanan.
"Lo punya Aldi sama Feni kan?" pikir Farhan.
"Nggak mungkin beritau mereka sekarang." jawab Fiya.
"Arya mungkin bisa membantu." pikir Farhan lagi.
"Oiya Arya."
Fiya pun mengeluarkan handphonenya. Dia mencari nomor telepon di riwayat telepon dan menghubungi nomor Arya. Arya yang sedang bersantai di dalam kamar rumahnya dan sedang bermain game pun harus merelakan game yang dimainkannya dan mengangkat teleponnya.
"Ganggu aja nih orang.." gerutunya.
Tak perlu lama lagi iya pun menekan tombol hijau dan menempelkan benda pipih tersebut di telinganya.
"Hallo, siapa ya?"
"Ini gue Khanza. Gue perlu bantuan lo. Lo bisa bantuin gue kan. Gue butuh banget pertolongan lo nih..." pinta Fiya.
"Minta tolong apa?" tanyanya tanpa basa basi.
"Lo dateng aja ke rumah sakit dimana Farhan berada. Gue ada di atap. Sekarang lo harus OTW." pinta Fiya.
"Iya, gue ke sana sekarang."
Arya pun menutup teleponnya dan kemudian lekas memakai jaketnya dan mengambil kunci motornya.
Sementara itu, Fiya terduduk bersama dengan ketiga arwah tersebut. Tanpa ragu, Fiya menengok ke arah hantu tampan yang meminta bantuannya.
"Nama kamu siapa? Siapa tau, kami bisa mencari tau informasi melalui nama kamu?" tanya Fiya.
Namun sang hantu itu mengangkat kedua tangannya dan memberikan tanda silang. Fiya tak paham dan kemudian menengok ke arah Farhan dan Dimas.
"Dia tidak tau Fiya, kepalanya aja nggak ada, bagaimana bisa mikir." jawab Farhan.
"Terus bisa denger karena apa?" tanya Fiya penasaran.
Sang arwah tersebut memegang bagian dadanya. Fiya mengerutkan keningnya lebih bingung dengan apa yang di isyaratkan.
"Maksudnya gimana si?" tanya Fiya kemudian.
__ADS_1
"Suara dari hati Fiya." jawab Dimas.
Fiya pun melihat ke arahnya begitu pula dengan Farhan. Dimas tetap melihat ke depan dan melihat kota dari atap gedung rumah sakit.
"Sebenarnya, para arwah itu mengetahui isi hati kita. Mereka mendapatkan sinyal dari hati kita. Karena hati tidak bisa berbohong tentang perasaan."
"Jadi, kau bisa membaca hatiku?" tanya Fiya.
Dimas mengangguk dan tersenyum ke arah Fiya sambil mengedipkan matanya pula. Fiya pun tertunduk dan menghela nafas panjang.
"Kenapa makhluk bisa membaca hatiku dan aku tidak bisa membaca hati mereka. Yang aku tau hanyalah bisa melihat dan berkomunikasi dengan mereka." batin Fiya.
Sekitar 30 menit, Arya sampai di rumah sakit tersebut dan langsung naik ke atap untuk menemui Fiya. Perasaan tidak enak tiba-tiba menyerangnya dan dia pun melihat sekelilingnya.
"Ada apa Za? Ko tiba-tiba nelpon gue?" tanya Arya.
"Gue butuh bantuan lo."
"Bantuan apa?" tanyanya.
Fiya mengerutkan keningnya dan merasa terheran-heran melihatnya seperti kedinginan.
"Lo kenapa? Kok kaya kedinginan gitu. Padahal siang bolong begini loh."
"Gue ngerasa merinding di sini. Udah cepetan, minta tolong apa?" tanya Arya yang sudah penasaran.
"Gue minta tolong, lo cariin informasi tentang orang yang tewas dan kehilangan kepalanya. Entah itu kecelakaan atau hal lainnya." ucap Fiya tanpa basa basi lagi.
"Kenapa lo suruh gue cariin informasi itu?"
"Emang kenapa?" tanyanya bingung.
"Udah cepetan kita turun dulu. Lo bawa motor atau mobil??" tanya Fiya.
"Gue bawa motor."
"Ke rumah lo, nggak masalah kan?" tanya Fiya.
"Terserah lo.."
"Ya sudah, cepetan kita turun. Dalam hitungan tiga. Kita lari... Satu.. Dua..." Fiya menghitung sambil ancang-ancang lari.
"Eh.. Memang ada apaan?" tanyanya semakin bingung.
"Tiga...."
Fiya langsung berlari dan Arya tak ada pilihan lain selain mengikutinya berlari.
"Kenapa harus lari dah...." gerutu Arya.
"Kalau begini ceritanya, seharusnya dia yang datang ke rumah gue. Sama aja gue hanya bolak-balik." batin.
Begitu mereka turun, Fiya langsung masuk ke mobilnya dan memasang sabuk pengamannya. Arya yang berada di samping mobilnya pun mengetuk jendela mobil Fiya. Fiya melihat ke arahnya dan menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa lagi?" tanya Fiya seperti tidak merasa bersalah.
"Lo ngerjain gue atau gimana si?" protesnya.
__ADS_1
"Gue nggak ngerjain, nanti gue kasih tau."
Tepat di samping tempat duduk Fiya yang kosong, Aldo hadir secara tiba-tiba, namun tidak membuatnya kaget. Sedangkan yang lainnya, sudah duduk tenang di dalam mobil Fiya di kursi belakang.
"Ada informasi apa?" tanya Fiya kepada Aldo.
Arya yang masih di tempat bingung dan melihatnya dengan heran.
"Informasi apa? Gue kan belum kasih tau lo, lagipula juga gue belum cari." tanya Arya kesal.
"Bukan gue, tapi ke dia." Fiya menunjuk ke sampingnya.
Arya yang melihatnya sungguh bingung, karena tak ada apapun di sampingnya. Arya melihat dengan seksama dengan bingung.
"Nanti gue jelasin. Mendingan lo beliin gue pop ice rasa coklat terus taburin keju yang banyak kalau ada. Jika nggak ada, taburin messes aja yang banyak." perintah Fiya.
"Buat lo aja gitu?" tanya Arya.
"Gue peka walaupun lo nggak bilang. Makanya sabar dulu."
Fiya pun merogoh tas selempangnya yang di taruh di sampingnya dan memberikan dua lembar uang seratus ribuan.
"Nih dengerin, beli 4 aqua gelas, terus snack juga yang banyak biar bisa dimakan di rumah lo, terserah apa aja. Terus pop ice juga jangan lupa rasa coklat. Kalau lo mau, beli aja terserah lo dah.. Terus juga sosis bakar, sama sempol ya, bumbunya pisah aja. Jika masih lebih tuh duit, buat lo aja. Tapi, snack harus banyak loh."
"Iya tuan putri, saya akan segera melaksanakannya." jawab Arya dan langsung pergi meninggalkannya.
Fiya pun tersenyum dan menutup kaca mobilnya. Teman-teman yang ada di dalam mobil tersenyum karena permintaan Fiya yang sangat banyak. Kecuali dengan Farhan.
"Lo sengaja ngerjain temen gue?" protes Farhan.
"Nggak. Kalau gue yang turun, nggak bakalan selesai nih misi, keburu belanja mulu. Udah ah lupain... Aldo, ada informasi apa?" tanya Fiya beralih kepada Aldo.
"Menurut informasi yang aku dapat, empat tahun lalu ada kejadian mengenaskan yang terjadi di rel kereta api kak. Yang membuat korban kehilangan kepalanya. Hingga saat ini, belum ada yang bisa menemukan tengkoraknya kak." jawab Aldo.
"Kamu tau siapa nama korban?" tanya Fiya.
"Belum kak, mereka nggak tau." jawab Aldo.
"Rel kereta api jalur mana itu?" tanya Fiya penasaran.
"Rel kereta api tua yang sudah lama tidak digunakan kak. Konon katanya, disitu angker." jawab Aldo.
"Semoga aja nggak diganggu lagi. Mumpung masih siang, nanti kita kesana. Kamu tau kan dimana tempatnya?" tanya Fiya.
"Iya kak tau."
Fiya mengangguk dan kemudian melihat ke belakang. Dimas dan Farhan hanya menyimak apa yang Aldo dan Fiya bicarakan, dan mereka pun mengangguk bersama.
Tak lama, Arya kembali membawa dua bungkus kantong kresek besar. Fiya pun keluar dari mobil dan membukakan bagasi belakangnya.
"Kenapa harus di bagasi?" tanya Arya.
"Biar rapi. Udah cepetan ayo. Oiya, kita nggak jadi ke rumah lo. Lo. Ikutin gue ya, gue ada tempat lebih baik." ajak Fiya.
Arya hanya mengangguk dan kemudian mendekati motornya yang terletak tak jauh dari mobil Fiya. Setelah mereka siap, merekapun pergi ke lokasi yang Fiya tunjukkan.
//**//
__ADS_1