Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
79. Rumah Farhan 2


__ADS_3

Fiya menyuruh Farhan untuk membuntuti keluarga Jennie. Farhan menurutinya dan dia datang di saat Jennie sedan berdebat dengan orangtuanya.


"Apa yang papa sama mama bilang? Biarkan Farhan mati?" tanyanya yang sudah kehabisan kesabaran.


"Nggak sayang, bukan gitu..." ucap mamanya.


"Pokoknya, aku pengen hidup sama Farhan. Dia cinta pertama aku mah, pah... Jangan biarkan Farhan tiada. Aku ingin Farhan, hanya Farhan... TITIK." ucap Jennie dengan penuh emosi.


"Iya-iya, papa akan biarkan Farhan hidup, tapi kamu juga harus mendapatkan hartanya pula setelah dia sadar. Lebih baik kamu sekarang jenguk dia. Papa malas berdebat dengan kamu."


"Jangan sampai papa melakukan hal yang sama dengan apa yang papa perbuat kepada keluarga Arya. Kalau sampai papa melakukan hal yang sama kepada Farhan, Jennie nggak akan tinggal diam dan laporin semuanya." ancam Jennie yang kemudian langsung pergi ke kamarnya.


"Papa tidak akan melakukan itu Jennie... Jennie...." teriak sang papa memanggil nama Jennie. Sedangkan Jennie sendiri acuh dan naik ke kamarnya.


Farhan yang mendengarnya secara langsung tak percaya dengan kejadian yang di lihatnya secara langsung. Dia yang syok pun akhirnya kembali ke rumah Fiya.


...******...


Dimas dan Aldo sendiri pergi untuk memata-matai Aldi, karena mereka merasakan keganjalan yang muncul dalam diri Aldi. Mereka berdua sempat berkunjung ke rumah Aldo untuk memeriksa kamar Aldi, namun tak ada sesuatu yang mencurigakan di dalam kamarnya.


"Di dalam kamarnya, kita tidak menemukan apapun. Dan, sekarang apa yang harus kita lakukan?"


"Aku pun juga belum tau kak, sepertinya kak Aldi pandai dalam menyembunyikan sesuatu yang sekiranya tidak orang lain ingin ketahui."


"Memangnya apa yang membuatmu begitu yakin dengan kecurigaanmu dengan Aldi."


"Perasaan terkait dengan kematianku, aku merasa ada yang salah. Sikap dari kakakku yang berbeda terhadapku dan perlakuannya membuat perasaan ganjal di dalam diriku."


Tak lama pula, Aldi datang ke kamarnya. Mereka berdua lekas berteleportasi pergi dari tempat tersebut dan langsung berpindah ke rumah Fiya.


Fiya sedang sibuk memandangi gambar yang di gambar oleh Bastian. Sungguh membuatnya senang dan terus tersenyum. Fiya juga mengingat kata-kata yang diucapkan oleh Bastian kepada Arya.


"Gambar dari siapa itu?" tanya Dimas secara tiba-tiba.


Fiya langsung menyembunyikan gambar tersebut dari pandangan Dimas. Namun, Aldo lebih pintar dan langsung mengambil kertas yang di sembunyikannya tanpa sepengetahuan Fiya.


"Apa yang kamu sembunyikan?" tanya Dimas datar.


"Bu-bu-bukan apa apa kok."


"Nih kak."


Aldo memberikan kertas yang diambilnya dari tangan Fiya secara diam-diam. Fiya hanya bisa melongo, dan hendak mengambil kertas tersebut, namun Dimas lebih cekatan dari dirinya sehingga ia bisa menghindari tangkapan Fiya.


Fiya hendak terjatuh, dan tepat di hadapannya Farhan datang tepat pada saat Fiya hendak terjatuh di depannya. Alhasil, Fiya jatuh di pelukan Farhan.


Beruntunglah jantung Farhan tertinggal di raganya yang tergeletak di rumah sakit sehingga detak jantungnya normal bahkan tidak terdeteksi. Fiya mendongak dan Farhan menunduk. Tatapan mereka saling bertemu dan juga jantung Fiya tak karuan. Farhan yang tak merasakan apapun akhirnya membuatnya berdiri dan tersadar.

__ADS_1


"Lo kenapa bisa mau jatuh?" tanya Farhan.


Fiya mengabaikan pertanyaannya dan menengok ke arah Dimas yang sedang tersenyum melihat gambar yang di pegangnya. Fiya pun mengambil paksa gambar tersebut dari tangan Dimas dengan marah.


"Itu gambar siapa si? Jelek amat." ledek Dimas sambil terkekeh.


"Ini gambar dari adik Farhan. Dengan kedekatan gue dengan adik Farhan, bisa membuat kita jauh lebih mudah membantu Farhan. Dan maaf Dim, gue kasih tau Arya kalau tubuh Farhan ada yang jaga. Tapi gue nggak ngasih tau kalau nyawanya ada di sini sekarang."


"Nggak papa, selagi itu keputusan yang terbaik. Aku akan selalu mendukung kamu. Semangat ngejalananin misi kamu. Kami akan selalu mendukungmu."


Fiya tersenyum dan kemudian menghadap kepada Farhan. Farhan sebenarnya enggan membahasnya karena itu juga akan membahayakan Fiya.


"Kenapa harus adik gue si Za. Dia itu ngrepotin tau.."


"Dia nggak ngrepotin. Dia hanya butuh kasih sayang. Semua anak kecil itu nggak seperti apa yang lo pikirin. Jadi, gue harap lo bisa ubah sikap lo dan menghargai adik lo. Dan, gue juga bisa ngebantu lo buat nyelesain masalah lo. Gue janji."


Fiya menatapnya dengan penuh pengharapan dan Farhan pun memeluknya secara mendadak. Fiya enggan untuk memeluknya sehingga ia mendorongnya.


"Apaan si?" keluh Fiya.


"Kaga ada. Gue laper, tolong siapin makanan buat kami dong."


Fiya memutar bola matanya malas dan langsung keluar dari kamarnya setelah menaruh gambar dari Bastian.


...*****...


Keesokan harinya, Fiya pulang sekolah pun langsung ke rumah Bastian. Aldi sempat melihatnya sedang terburu-buru dan hendak masuk ke mobilnya.


"Aku mau ke rumah orang penting. Aku pergi dulu ya..."


Fiya langsung masuk ke mobilnya dan bergegas keluar dari gerbang sekolah.


"Sebenarnya Khanza kemana? Kenapa akhir-akhir ini dia sibuk?" batin.


Feni melihat Aldi sedang memandangi mobil Fiya keluar dari gerbang. Feni pun langsung menepuk bahunya dan menyadarkannya dari lamunannya.


"Bengongin apa si?"


"Kaga ada, lo pulang sama siapa?" tanya Aldi.


"Gue naik taksi."


"Sama gue aja, biar irit."


"Boleh."


Feni tersenyum dan naik ke motor Arya. Seperti biasanya, Feni hanya diam membonceng Aldi.

__ADS_1


"Sepertinya akhir-akhir ini Khanza sibuk. Kamu tau dia kemana?" tanya Aldi.


"Aku nggak tau. Mungkin dia mau mempersiapkan sebuah acara. Biasanya kalau dia sibuk, dia ngadain sebuah kejutan."


"Oohh... Begitu..."


"Kenapa tanya?" tanya Feni penasaran dengan Aldi yang terus membahas Fiya.


"Nggak papa, em.. Kita makan siang dulu mau?" Aldi mengalihkan pembicaraannya.


"Boleh deh.." jawabanya tanpa pikir panjang.


...*****...


Fiya menghubungi Arya untuk menyuruhnya ke rumah Bastian. Arya yang paham maksud Fiya pun lekas ke rumah Bastian dan menunggunya di luar. Begitu Fiya sampai di rumah Bastian, Arya lebih dulu masuk ke rumah Bastian untuk menemuinya.


"Bastian." panggil Arya.


"Kak Arya." Bastian kegirangan dengan kedatangan Arya sehingga ia langsung memeluknya.


"Kakak baik hati itu mana kak?" tanya Bastian sambil melihat ke belakangnya.


"Belum ketemu Bas. Dan, gambar yang di berikan oleh kamu juga hilang. Maaf ya, nanti kakak akan berusaha bantu kamu."


"Yah.." keluh Bastian yang sangat kecewa.


"Tapi kakak ada hadiah buat kamu. Kamu jangan sedih dan coba sekarang tutup mata kamu."


Bastian mengangguk dan Fiya pun masuk setelah mendapat aba-aba dari Arya. Fiya berjongkok di depannya dan kemudian menaruh kertas gambar yang dibuat Bastian di depan wajahnya. Farhan yang membuntutinya hanya menggelengkan kepalanya tidak suka. Sedangkan Dimas dan Aldo tersenyum dengan kedekatan dan rencana yang Fiya buat.


"Bastian, coba sekarang buka mata kamu."


Bastian membuka matanya. Dan objek pertama yang ia lihat adalah gambar yang dibuat olehnya. Fiya menggeser kertas yang di pegangnya dan kemudian tersenyum lebar ke arahnya.


"Hallo Bastian..." ucap Fiya.


"Hah.. Kakak baik.."


Bastian yang sangat senang langsung memeluknya. Fiya juga membalasnya dan mengelus kepalanya, kemudian mencium keningnya.


"Kakak baik, kenapa ini bisa ada di kakak?"


"Ini dari..."


Belum sempat Fiya menjawab, seseorang memotong pembicaraannya dengan Bastian.


"Kenapa kamu bisa masuk ke dalam rumah saya?" ucap papa Wendi yang turun dari kamarnya.

__ADS_1


Arya, Farhan, Dimas, Aldo dan Fiya panik karena kedatangan papa Wendi secara tiba-tiba. Sungguh hal yang tidak mereka duga.


//**//


__ADS_2