Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
6. Momen di UKS


__ADS_3

Fiya di bawa ke UKS oleh teman-temannya. Langkah gerak kaki Fiya yang semakin melambat membuat Dimas ingin membopongnya. Dia benar membopongnya dan menjadi pusat perhatian para siswa yang keluar karena sebuah pagar besi yang berbunyi nyaring terjatuh dari atap.


Fiya memandangnya tak percaya, sedangkan Dimas hanya memperhatikan arah di depannya. Semua siswa hanya di buat melongo tak percaya.


"Eh, tuh si dukun kan. Dia sama orang tadi kan" tanya Bianka.


"Iya jelas lah"


"Duh baper banget"


"Gitu aja baper, udah yuk ah.. Sumpeg di sini"


Dimas terus berjalan tanpa henti sampai di UKS. Feni hanya mengikutinya dengan diam.


"Beruntung banget Khanza langsung dapet cowok coll, ahh.. Mantap.." batinnya.


Dimas meletakkan tubuh Fiya dengan perlahan lalu menutupkan selimut kepadanya. Dimas mengusap kepalanya dengan lembut.


"Kamu pasti lelah, kamu istirahat."


Dimas menengok ke belakang dan memperhatikan orang yang sedang berdiri menatap mereka dengan penuh keirian.


"Emm.. lo, siapa namanya"


Feni malah celingak celinguk tidak jelas, lalu menatap Dimas kembali.


"Gue?" tanyanya dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya lo, lo pikir siapa lagi. Setan yang ada di belakang lo."


Feny ketakutan dan sedikit melangkah ke depan.


"Yang bener lo, jangan takutin gue"


"Jangan kebanyakan ngomong. Lo jaga Fiya sebentar, gue mau beli sesuatu"


"Gue titip"


Dimas tak mempedulikannya dan langsung menutup pintu UKS. Dia pergi begitu saja dan langsung menuju ke kantin sekolah untuk membeli sesuatu. Setelah Dimas menutup pintu UKS dengan rapat Feni langsung duduk di samping Fiya.


"Uyy, udah sedeket itu"


"Udah deket sedari dulu"


"Yang bener Za, kok lo ngga pernah cerita ke gue tentang dia"


"Buat apa gue cerita ke lo. Yang ada lo naksir sama dia"


"Kalau lo bilang begitu, berarti lo naksir ke dia dong"


"Dia itu sahabat masa kecil gue, kami terpisah waktu kami duduk di bangku kelas 4 SD. Dia ke luar kota karena harus ikut ayahnya gitu"


"Oohh gitu, terus kenapa lo nggak bilang dia pindah ke sini"


"Acararanya bikin suprize gitu, dia nggak bilang ke gue kalau dia pindah, gue kaget banget waktu dia tau nama gue padahal gue belum ngenalin nama gue. Terus gue liat dalem dalem tuh wajahnya yang sedikit bengkak, terus gue sadar itu Dimas,, ehh.. Maksud gue Satya"


"Oohh, gara-gara muka dia lebam jadi lo nggak kenal ya, apalagi kalau dia oplas, uhhh.. Pasti lo kira penculik"


"Kayaknya si"


"Kalau udah gini, gue lebih baik mundur dong. Udah jadi milik orang lain, gue bisa apa. Kelihatannya juga dia orangnya setia"


"Bukan hanya kelihatannya, tetapi memang setia banget seperti namanya"


"Eleh, sok tau loh"

__ADS_1


Feni dan Fiya melihat ke arah pintu dan Dimas yang memasukinya. Dimas kembali sambil membawa dua buah kantong kresek. Feni melirik Fiya dan memilih berdiri.


"Lo kenapa Fen, kok lo berdiri"


"Gu-gue cari obat dulu, lo butuh obat kan Sat"


"Kebetulan, sana cariin"


Dimas duduk di samping Fiya. Fiya ingin duduk namun segera dibantu oleh Dimas.


"Terimakasih"


Fiya berucap tak lupa memberikan senyum manisnya. Dimas juga tersenyum kepadanya sambil membuka kantong kresek yang di bawanya.


"Nih nasi uduk, terus makan tuh baksonya. Ini minumnya. Nanti tinggal minum obat"


"Aku baik Dim, nggak usah repot-repot gini"


"Udah jangan kaku gitu, biasanya juga kalau di deket aku selalu teriak teriak"


"Ini suasananya berbeda Dim"


"Berbeda gimana, kan masih sama"


"Dimas.."


"Hehehe.. Udah dimakan tuh nasinya."


"Bagaimana bisa aku memakan semua ini"


"Akan aku bantu"


"Hei, bagaimana bisa kalian melupakanku. Dan kau Dimas..."


"Isshh, Satya, kalau mau pacaran inget tempat, ini sekolah"


"Gue bantuin makan ini dulu"


"Buat gue nggak ada"


"Tuh di kantong kresek"


"Dim, kamu sendiri gimana?"


"Gue udah kenyang ketika liat kamu"


Fiya terdiam sesaat, dan jantungnya begitu cepat. Itulah yang ia rasakan setiap Dimas berkata manis kepadanya bahkan jika hanya berbataskan jarak sekalipun. Di tengah Fiya terbengong, bu Vina


"Khanza, kamu nggak papa" ucap bu Vina.


"Iya bu, nggak papa kok, beruntung ada Satya di sana"


"Alhamdulillah, kamu udah makan"


"Ini bu lagi makan kok, dibeliin sama Satya tadi"


"Syukurlah, kalau belum baik di sini saja dulu. Kalau nggak kuat mending pulang"


"Nggak bu, nggak papa kok, cuma pusing sedikit"


"Ya sudah, kalau ada apa-apa bilang saja ya, ibu mau ngajar lagi"


"Iya bu, terimakasih"


Bu Vina menatap Dimas yang sedang memperhatikan mereka berdua.

__ADS_1


"Satya, ngapain kamu di sini, ini UKS perempuan"


"Iya bu, sa-saya mau ambil anduk kecil buat kompres luka saya yang masih sedikit sakit. Di UKS putra bau semua bu"


"Ini pasti ulah anak PMR yang nggak nyuci. Kalau begitu cepatlah, kalau merasa lukamu semakin parah, kamu minta ijin pulang dan istirahat di rumah"


"Iya bu, terimakasih"


"Ibu keluar dulu"


Fiya, Dimas dan Feni mengangguk. Feni hanya menatap kepergian bu Vina.


"Eh, mana obatnya"


"Ini"


"Cariin juga yang tadi gue bilang sama bu Vina"


"Isshh, gue pembantu apa di sini. Gue emang anak PMR, tapi tuh si dia juga PMR"


Feni menunjuk Fiya, Dimas pun melihat ke arah Fiya yang sedang makan nasi uduknya.


"Kenapa kalian melihat ku seperti itu"


"Sudah lupakan, kamu makan semuanya, aku nggak tega kamu di rawat di sini, lebih baik kita pulang"


"Bilang aja mau dua duaan"


"Gue nggak kaya gitu Fen, lo ke kelas aja sana, nggak usah banyak alasan pake minta minta kain segala."


"Baiklah, aku ke kelas dulu"


Dimas mengacak rambutnya lalu memegang pundaknya. Fiya tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.


"Emm.. Lo siapa namanya"


"Gue?"


"Bukan, setan yang ada di belakang lo"


Feni celingak celinguk lagi. Fiya hanya menggeleng terhadap sikap Dimas yang sering menjahili orang.


"Dimas, jangan nakutin orang begitu emangnya kamu bisa liat makhluk. Lagian lo juga Fen, kenapa lo polos banget percaya sama dia begitu aja"


"Gue paling takut yang namanya hantu Za, makanya kalau bahas masalah hantu sedikit bulu kuduk gue berdiri"


"Maafin dia ya Fen, dia suka gitu"


"Tenang aja"


"Oohh, nama lo fenfen"


"Namanya Feni"


"Oohh, Feni. Feni, tolong jaga Fiya buat gue ya, gue ke kelas nanti bu Vina marah lagi"


"Siap tuan Satya, akan saya laksanakan dengan senang hati. Saya akan menjaga nyonya Fiya dengan sebaik mungkin"


"Apaan si lo"


"Gue ke kelas. Cup"


Dimas mengacak rambutnya dan tak lupa mencium puncak kepala Fiya. Fiya merasa panas dengan perlakuan Dimas. Dimas pun meninggalkan UKS dan menuju ke kelasnya.


//**//

__ADS_1


__ADS_2