Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
13.-


__ADS_3

Mereka pun akhirnya sampai di rumah Dimas. Masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Mama Lastri dan Mama Ova yaitu mama Fiya sendiri juga sedang berada di rumah Dimas. Mama Lastri begitu terkejut saat melihat anaknya sulungnya terluka. Mama Lastri langsung membawanya ke kamar.


"Bagaimana itu bisa terjadi oleh Satya?"


"Bentar, aku ijin ke kamar Dimas dulu, pasti mama Lastri sedang memarahinya sekarang"


"Jangan"


"Mama kaya nggak tau aja. Kamu tunggu di sini sebentar ya" ucap Fiya pada Aldo.


Aldo mengangguk. Mamanya bingung Fiya sedang berbicara dengan siapa lalu mama Ova pun bertanya kepada papa Brian.


"Dia bicara dengan siapa"


Papa Brian hanya mengangkat kedua bahunya. Mama Ova hanya mendengus kasar lalu duduk di samping suaminya. Di saat Fiya sampai di kamar Dimas, benar saja Dimas sedang di ceramahi oleh mamanya.


"Baru aja satu hari masuk udah bikin onar aja, kalau besok begini lagi kamu pindah sekolah"


Fiya dengan berat hati mengetuk pintunya lalu mama Lastri pun menengok ke arah sumber suara.


"Eh Khanza, kamu apa kabar"


"Alhamdulillah sehat ma, mama Lastri bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat mama sehat"


"Syukurlah"


"Khanza, bagaimana Satya bisa seperti ini?"


"Sebaiknya kita bicarakan di luar mah, Dimas biarkan saja dulu untuk istirahat"


"Ya sudah, awas kalau kamu macam-macam besok di sekolah"


"Dimas besok ijin mah, dia nggak bakal buat onar kok. Yuk mah, ikut Khanza sebentar"


Mama Lastri mengangguk dan berjalan sambil menuntun Fiya. Mereka sekarang duduk di ruang tamu.


"Apa yang sebenarnya terjadi Fiya" tanya papa Kenzo.


"Awalnya aku nggak tau pa, tapi tadi pagi waktu berangkat sekolah aku tuh papasan sama Farhan yang sering kerasukan itu, terus dia narik rambut aku karena rambut aku nggak sengaja kena dia. Terus tiba-tiba ada yang nolong aku, tak lain adalah Dimas, terus bertengkar dilerai guru. Siangnya juga mereka berantem lagi entah karena apa aku juga nggak tau"


"Nanti mama akan tanya"


"Jangan ma, Dimas biarkan dia istirahat dulu, dia nggak boleh banyak bicara. Kalau makan harus yang lembut, misalnya bubur atau yang berkuah. Terus minumnya pakai sedotan"


"Sering-sering datang ke sini ya Za, kan kamu yang tau semuanya"


"Insyaallah mah"


"Lastri, kami pulang duluan ya, soalnya udah sore"


"Ka Khanzaaaa"


Teriakan seseorang membuat mereka menoleh ke arah sumber suara. Ternyata tak lain adalah adik Dimas, Sintya.


"Sintya, kamu apa kabar. Habis dari mana?"


"Alhamdulillah baik kak, aku habis mandi"


"Oohh, sekolah di sini juga kan"


"Iya kak"


"Syukurlah"


"Oiya kak, di panggil kak Satya tuh di dalam"


"Mah pah, aku nemuin Dimas dulu"

__ADS_1


"Jangan lama-lama ya"


"Iya mah"


Fiya pun pergi ke kamar Dimas. Setelah dia sampai di dalam kamar Dimas, Fiya tidak menutup pintunya, hanya di beri celah sedikit.


"Ada apa?"


Dimas menulis sesuatu di sebuah catatan dan di berikan kepada Fiya.


Terimakasih, berkat kamu aku jadi nggak dimarahin. Ini juga aku titip surat ya buat besok. Aku nggak berangkat dulu.


Fiya tersenyum kecil lalu mengambil surat yang di taruh di atas tulisan tersebut. Dia pun mengangguk dan tersenyum.


"Terimakasih buat apa si Dim, nggak papa kok. Aku mau pulang, kamu istirahat saja di sini. Besok aku ke sini lagi"


Dimas mengangguk. Fiya pun langsung keluar dari kamar Dimas dan menyusul kedua orang tuanya yang sudah ada di luar.


"Mama, papa, aku pamit pulang ya"


"Iya, hati-hati"


"Assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Fiya dan keluarganya pun pulang. Aldo juga ikut pulang ke rumah Fiya. Begitu dia sampai, dia langsung mandi. Sementara Fiya mandi, Aldo hanya melihat sekeliling kamar Fiya.


"Kamu nggak ngantuk Do, kamu sebaiknya tidur dulu aja"


"Nggak kak, lagi pula raga aku udah tidur selamanya kan"


"Aldo, kenapa kamu takut? Memangnya kenapa?"


"Aku belum tau kak, aku sendiri juga lupa kenapa aku bisa tiada


"Baiklah, jangan di pikirkan dulu, kamu tidur aja"


"Ikut kakak yuk, di sebelah kamar kakak ada kamar lagi"


"Tapi kak, aku takut merepotkan"


"Kamu tenang aja, nggak kok. Yuk ikut kakak, atau mau nembus aja biar cepat sampai"


"Aku ikut kakak aja"


"Ya udah ayo"


Fiya keluar dari kamarnya dan menuju ke kamar tamu sebelahnya. Aldo pun berbaring di kasurnya. Fiya menaikkan selimut sampai di lehernya.


"Sekarang kamu tidur, selamat malam"


"Selamat malam kakak"


Fiya kembali ke kamarnya dan mulai merebahkan dirinya.


*****


Keesokan harinya, di kamar Aldo.


Aldo berteriak di dalam kamarnya dan membuat Fiya sontak langsung ke kamarnya.


"Aldo, bangun Aldo"


Aldo pun terbangun dan langsung memeluknya.


"Sudah, sudah, kamu kenapa?"


"Nggak papa kak, cuma takut aja"

__ADS_1


"Yakin?"


Aldo mengangguk. Fiya pun merasa lega dan dia pun mengelus rambutnya.


"Ya udah, kakak mau mandi, habis itu kakak akan ke sekolah. Kamu mau ikut?"


Aldo menggeleng, Fiya pun tersenyum dan mengecup kepala Aldo. Dia juga mengacak rambutnya sebelum dia keluar, lalu tersenyum kecil kepadanya.


*FLASHBACK MIMPI ALDO *


Aldo sedang berada di rumahnya, dia kini sedang menonton tv di kamarnya. Tiba-tiba mamanya memanggilnya.


"Aldo, sini"


"Iya mah, kenapa"


"Ambilkan mama air di dapur, mama ingin minum"


"Iya mah"


Aldo pun menurut dan mengambilkan air untuk mamanya. Namun, di saat baru beberapa langkah, dia terjatuh. Mamanya yang melihatnya langsung panik dan segera menelepon papanya.


"Aldo, bangun nak bangun, kamu kenapa? Nak.. Bangun nak, tetap bangun ya, Aldo... Nak. Aldoooo"


*FLASHBACK MIMPI OFF*


"Ya sudah, kakak pergi dulu. Baik-baik di rumah"


Fiya pun keluar dan mandi di kamarnya, setelah sarapan, dia juga langsung berangkat ke sekolah.


"Andai saja Dimas nggak sakit, pasti aku udah lagi berangkat sama dia. Cepat sembuh Dimas." batin.


Di kamar Aldo, Aldo hanya termenung memikirkan tentang mimpinya tadi.


Apakah aku terjatuh di tangga? Kenapa aku bisa terjatuh? Aku harus pulang sebentar, namun jika kak Khanza mencariku bagaimana? Apakah aku harus bercerita kepada kak Khanza?


Kira-kira seperti itulah yang kini Aldo pikirkan. Dia pun terduduk diam di atas kasur.


Sementara itu, Fiya kini sedang di intrograsi oleh teman-temannya di sekolah.


"Kalian bisa diam nggak si"


"Satya dimana?"


"Dimas sakit, jadi dia nggak berangkat"


"Kok lo panggilnya Dimas si, waktu perkenalan aja dia suruh panggil aja Satya kok"


"Suka-suka gue lah"


"Dia sakit apa? Kenapa bisa sakit"


"Dia habis berantem sama Farhan"


"Dua orang ganteng saling berantem, waaooww"


"Dimas nggak berangkat, padahal aku bikin kue buat dia"


"Dia nggak suka kue"


"Darimana lo tau"


"Ya tau lah, udah sana jan berisik, duduk yang tenang di tempat masing-masing"


"Khanza, kalau dia berangkat suruh duduk sama gue ya"


"Enak aja, mana dia mau duduk sama lo" batin.


"Aahhh, udah sana brisik tau nggak, sekarang kalian pergi dari hadapan gue, sumpeg tau"

__ADS_1


Semua siswa pun bubar. Akhirnya Fiya bisa bernafas lega. Dia langsung menopang kepalanya di atas meja dengan tangan sebagai bantalnya.


//**//


__ADS_2