
...Awal dari sebuah cinta adalah sebuah rasa benci. Jika awalnya ada cinta berujung menjadi benci....
...~Farhan Liam Ma'ruf~...
_____________________
Farhan Liam Ma'ruf
.
.
.
Aku di undang makan malam di rumah orangtuaku. Aku melihat sebuah mobil yang terparkir di depan rumah orang tuaku. Tanpa pikir panjang, aku pun masuk dan sudah ada keluargaku yang menunggu kedatangan.
Yang aku tidak suka juga adalah adanya keluarga Jennie yang juga ikut makan malam di rumah. Sungguh, lebih baik aku kembali ke apartemen daripada harus ada dengan dirinya.
"Sayang... Ayo makan.."
Ucapannya sambil bergelayut di lenganku yang membuatku risih. Aku pun menyingkirkan tangannya yang betah di lenganku. Aku pun berhasil menyingkirkan tangannya dan kemudian lekas duduk di samping kursi papaku.
"Sudah kumpul semua, yuk sekarang makan." ucap papaku.
Kami pun membalikkan piring yang tertelungkup di meja dan mulai menyendokkan nasi ke piring masing-masing. Seperti biasa, mamaku menaruh nasi dan lauk ke piring papa. Begitu juga dengan orang tua Jennie.
"Jennie, sebaiknya kamu juga ambilkan untuk Farhan." ucap mamaku.
"Iya mah.."
Jennie menurut dan kemudian menaruh nasi yang terlalu banyak di piringku dan membuatku sedikit marah.
"Itu terlalu banyak, sini biar gue ambil sendiri."
Aku merebut piring yang di pegang Jennie dan berdiri untuk mengurangi nasi dari piring dan kemudian mengambil lauk sendiri. Aku pun duduk dan melanjutkan makan.
Di tengah-tengah makan kami, tiba-tiba hujan. Memang nggak kaget si bagiku, karena daerah tropis cuacanya berubah-ubah. Namun, aku cuek dan melanjutkan makan.
Setelah kami makan, kami berpindah ke ruang keluarga. Kami menonton televisi bersama sambil berbicara mengenai bisnis tentunya. Jennie menyalakan televisi menggunakan remote, dan langsung terbuka. Begitu terbuka, televisi langsung menyiarkan berita tentang balap motor yang menewaskan seorang remaja.
"Farhan, sekarang kamu nggak boleh ikut balap motor lagi, kalau sampe papa tau kamu ikut balap motor, papa akan cabut semua fasilitas yang kamu pegang." ucap papaku kepadaku.
Aku hanya mengangguk. Aku hanya diam sambil memainkan handphoneku. Jennie yang terus aku acuhkan, menggangguku dan membuatku tidak nyaman.
Hingga hampir pukul 9 malam, hujan tak kunjung berhenti dan membuat ku jenuh, hingga aku memutuskan untuk pulang.
"Mah pah, semuanya. Aku pamit mau pulang, ada tugas yang harus aku kerjakan." ucapku berbohong.
"Tapi sudah malam, juga sedang hujan. Menginaplah di sini." ucap mamaku yang mencoba mencegahku.
"Nggak mah, aku pulang aja. Aku duluan, dan maaf tidak bisa mengantar kalian." ucapku dan meninggalkan ruangan itu tanpa salam.
Aku berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya karena hujan dan banjir yang mulai meninggi. Tiba-tiba, di tengah-tengah perjalanan, ada orang yang melintas dan terjatuh tepat di depan mobilku yang juga ikut terhenti.
__ADS_1
"Sial.."
Aku pun membuka mobilku dan segera menemui orang itu tanpa menggunakan payung. Aku mengguncang tubuhnya dan menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajahnya.
"Lah, dukun kok di jalan. Gue harus ngapain sekarang? Tinggalkah? Masa di tinggal hujan begini, kalau banjir dia tenggelam. Tapi bawa kemana, gue juga nggak tau rumahnya. Ahh... Tak ada cara lain."
Aku berbicara sendirian dan memutuskan membawanya ke apartemen ku. Aku terus fokus, namun di tengah-tengah perjalanan si dukun itu merintih.
"Dimas... Aku.. Aku.. Benci... Padamu... Ku harap kau tidak tenang... Karena.. Kau meninggalkanku..." ucapnya terbata.
Aku menggeleng dan fokus kembali ke depan. Sesampainya di apartemen, aku langsung menggendongnya . Aku pun berhenti terlebih dahulu kepada resepsionis untuk menanyakan mengenai kamar kosong yang masih tersedia.
"Permisi, apakah masih ada kamar kosong." tanyaku.
"Maaf tuan, malam ini apartemen penuh." jawabnya yang membuatku kesal.
Aku pun terpaksa membawanya ke kamarku. Aku pun membaringkannya di sofa kamarku terlebih dahulu karena bajunya sangat basah. Tanpa pikir panjang, aku pun menelepon resepsionis.
"Hallo, tolong bawakan baju tidur untuk perempuan dan jangan lupa gantikan bajunya pula. Dan tolong datang dalam waktu 10 menit."
Aku langsung menutup teleponku tanpa mendengarkan jawaban dari resepsionis yang ku hubungi. Aku pun mengganti bajuku dan keluar kembali. Tak sampai 10 menit, resepsionis itu pun datang.
"Akhirnya kau datang juga, aku akan keluar. Lakukan semampu yang kau bisa. Aku yang akan bayar kamu pribadi." ucapku.
"Baik tuan."
Dia menurut dan aku pun keluar dari kamar kamarku. Aku memutuskan untuk memasak sebungkus mie untuk menghangatkan badan. Setelah aku selesai makan mie yang aku masak sendiri, resepsionis itu juga keluar.
"Bagaimana, sudah selesai?" tanyaku.
"Itu akan aku urus nanti." ucapku dan masuk ke kamarku. Tetapi langkahku terhenti karena dia berbicara lagi.
"Maaf tuan, tetapi ini bagaimana dengan pakaiannya yang basah?"
"Tolong cucikan sekalian. Saya akan transfer uangnya besok pagi sebelum berangkat ke sekolah."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi."
Resepsionis itu pun pergi. Aku pun masuk ke kamar dan memindahkan si dukun ke kasur. Tiba-tiba, dia menarik tanganku. Aku pun menoleh ke arahnya. Aku melepaskan tanganku paksa dan membuatnya kembali mengigau.
"Dim.. Dim.. Aku tau kau disini..."
Aku menggeleng karena bingung dan memutuskan untuk tidur di sofa yang tersedia. Aku tidak tidur dengan nyenyak karena aku biasa tidur di kasur yang empuk.
Tiba-tiba, handphoneku berdering, dan aku pun melihat notifikasi tersebut. Ternyata itu adalah telepon dari Jennie. Aku pun mengangkatnya dengan terpaksa, karena jika tidak dia akan terus menggangguku semalaman.
"Ada apa?" ucapku ketus.
"Lo inget berita kecelakaan tadi kan? Dimas meninggal." ucap Jennie yang membuatku kaget seketika.
"Apa kamu bilang? Dimas meninggal." ucapku karena kaget dan langsung terduduk.
"Iya, Dimas meninggal." ucapnya meyakinkan.
__ADS_1
"Jadi, itu sebabnya dia sangat sedih. Ehh.. Tapi kenapa gue peduli..." batin.
Aku memandangi si dukun tanpa sadar. Aku juga tidak mendengarkan pembicaraan Jennie, dan aku baru tersadar ponselku ternyata mati. Aku pun men-charge nya, dan memutuskan untuk tidur. Aku bangun lebih awal dari biasanya dan memutuskan untuk membuat nasi goreng. Setelahnya, aku hidangkan di meja kamarku dan memutuskan untuk mandi. Aku sengaja mandi terlebih dahulu agar nasi goreng itu sedikit lebih dingin.
Setelah aku keluar dari kamar ganti, aku kaget saat melihat dukun sudah bangun dan sedang memakan makanan ku. Otomatis aku pun membentaknya.
"Eh.. Makanan gue kenapa lo makan!!" teriakku.
Si dukun pun tersedak dan kemudian langsung minum air putih yang tersedia di sampingnya.
"Loh, setan Farhan. Kok lo di sini. Lo di syurga juga." ucap Fiya sambil meletakkan minumnya.
Aku yang mendengar omongannya yang ngawur langsung menyelentiknya.
"Ah aduhhh.." rintihnya.
Aku berdiri tepat di depannya dengan menggunakan pakaian seragamku yang rapi.
"Surga.. Surga... Gue belum mati ya, ini apartemen gue. Udah numpang, makan makanan orang segala, sana lo masakin buat gue." ucapku sambil membentak karena kesal sehingga membuatnya menangis.
"Eh.. Pake drama nangis segala. Sana masak sendiri." ucapku tambah tidak suka.
"Lo kenapa mesti selamatin gue? Kenapa lo nggak ngebiarin gue di jalanan dan kedinginan biar gue mati. Hiks.. Kenapaaaaa... Hiks.. Kenapaaaa..." ucap dukun sambil menangis.
"Gue udah nggak kuat lagi idup di dunia ini. Hiks.. Gue... Hiks.. menjadi merasa serba salah terus di sini.. Hiks... . Lo malah selamatin gue.. Hiks... Gue nggak mau idup... Lagiiiiii...." lanjutnya.
Aku hanya bingung dengan perkataan si dukun yang menangis sambil sesegukan. Aku pun menutup kedua telingaku dengan kedua tanganku.
"Lo aja nggak mau gue di sini... Hiks... Gue memang merepotkan..hiks.. , gue nggak ada tempat... Hiks.. yang tepat di dunia ini....hiks...Nggak ada temen, nggak punya saudara....hikss...di jauhi keluarga gue sendiri. Di benci temen-temen gue...hiks.. , terus gue idup buat apa..hikss... Mending gue mati..." ucap si dukun dengan serius karena berputus asa.
Tiba-tiba, si dukun berlari menuju balkon. Aku pun tak tinggal diam dan mencengkeram tangannya dengan kuat.
"Lo nggak boleh nekat.. Dasar gila.." umpat ku.
"Gue memang gila... Hiks.. Gue emang nggak waras.... mending lepasin gue sekarang...hikss..."
Dia menangis histeris sambil memberontak dan mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan ku.
"Lo bisa berpikir positif nggak si, kalau lo mati di sini, bisa-bisa apartemen ini anggker kemudian bangkrut gara-gara lo. Lo mau bikin keluarga gue menderita, terus doain lo masuk neraka... Dan.. Nggak bisa ketemu sama Dimas di surga." ucapku dengan bijak.
Tiba-tiba, dia lemas tak berdaya. Dia tak mampu lagi berdiri dan kemudian terduduk lemas di lantai. Tangisannya tambah keras membuat ku sedikit merasa iba.
"Mending lo duduk, lo lanjutin makan. Gue mau masak lagi tapi gue udah telat. Kalau lo mau berangkat sekolah, mending lo pulang gue antar." ucapku yang di jawab gelengan oleh Fiya.
"Kalau nggak mau, lo tetep di sini. Gue takut lo nekat bunuh diri, terus gue yang harus repot-repot urusin khasus lo. Udah bangun cepetan..." Aku menyarankannya.
Aku menarik tangan si dukun dan dia pun melepaskan tangannya lalu berjalan kembali ke arah sofa sendiri.
"Lo berangkat aja. Oiya, maaf ya, beberapa hari ini gue numpang di sini. Kalau gue udah ngerasa baik, gue pulang ke rumah dan membayar tagihan apartemen ini. Dan, sebagai balasannya dulu, gue mau jadi pembantu pribadi lo beberapa hari sebelum gue membaik." ucap si dukun dengan nada sedikit lirih.
"Terserah lo aja, gue nggak maksa, selagi lo nggak mencoba bunuh diri di apartemen gue. Gue berangkat dulu. Inget, jangan macem-macem. Lo mau ganti baju, itu di paper bag, semoga aja muat." ucapku sambil mengangkat jari telunjuknya mengarah ke arah paper bag.
Si dukun mengangguk dan aku pun keluar dari apartemenku. Pikirkanku juga tidak tenang, karena takut dia akan nekat saat aku tidak ada. Aku pun menemui resepsionis dan memerintahkannya untuk mengawasinya, dan memberikan upah semalam. Setelah semua beres, aku pun berangkat ke sekolah.
__ADS_1
//**//