
Di hari berikutnya, Fiya dan Farhan memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama dengan Farhan di sore harinya. Mereka memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke pinggiran kota.
"Kenapa? Kok tiba-tiba ajak jalan-jalan. Ada masalah?" tanya Fiya.
"Nggak, sebelum aku kembali, aku ingin terus bersamamu. Membuat kenangan bersama untuk di lalui bersama."
"Kami belajar bucin darimana si... Aku bosen dengernya... Karena yang aku inginkan itu, bukti bukan sekedar janji."
"Baiklah, akan aku buktikan."
Farhan menarik Fiya masuk ke dalam restoran dan duduk di tempat yang tersedia. Fiya pun melihat menu makanan yang tersedia, begitu pula dengan Farhan. Tak lama seorang pelayanpun datang melayani mereka berdua.
"Permisi, mau pesan apa ya?" tanya sang pelayan.
"Emm.... Chiken parmesan, dua, jus Orange, dua dan milk shake juga dua."
"Baiklah, permisi."
Fiya mengangguk dan menaruh kembali menu makanan tersebut di atas meja.
"Kamu suka yang aku pesan kan?" tanya Fiya.
"Suka kok. Padahal tadi aku mau pesen sendiri. Kebetulan kamu udah perhatian, jadi aku nggak perlu bilang apa-apa."
"Memangnya dia bisa liat kamu." jawab Fiya sewot.
"Kalau nggak percaya, tanya aja sama pelayannya?"
Fiya memutar bola matanya malas dan memilih untuk menunggu sang pelayan mengantarkan makanan yang di pesannya sambil memainkan handphonenya. Farhan yang di cueki hanya bisa diam sambil melihat ke arah luar restoran yang ramai dengan lalu lintas di jalan.
Sekitar 15 menit, makanan yang mereka pesan akhirnya datang. Pelayan tersebut menaruh makanan tersebut di depan Farhan dan Fiya. Pelayan itu mengangguk kepada Fiya dan Farhan sembari membalasnya.
Fiya bingung karena Farhan juga turut membalasnya, dan dia pun menghentikan pelayan tersebut ketika ia hendak pergi dari hadapan mereka berdua.
"Permisi, apakah kamu melihat dia?" tanya Fiya sambil menunjuk Farhan.
Pelayan itu mengangguk. "Iya nona, memangnya kenapa?" Fiya melebarkan matanya kaget sambil menurunkan tangannya yang menunjuk Farhan.
"Ada apa ya non?" tanya sang pelayan lagi.
"Emm.. Eh... Emm.. Ti-tidak ada." jawabnya gugup.
"Kalau begitu saya permisi. Selamat menikmati.."
Pelayan tersebut mengangguk dan pergi dari hadapan mereka. Namun Farhan hanya tertawa kecil sambil memakan makanan yang ada di depannya.
"Kenapa? Aneh?" tanya Farhan.
"Bu-bukannya seperti itu. Ah.. Sudahlah.. Aku jadi lapar."
Fiya langsung memotong daging dan melahapnya. Farhan hanya menggelengkan kepalanya heran dengan sikap Fiya yang gugup.
Setelah mereka makan, mereka pun pergi dari restoran tersebut dan pergi ke jembatan dimana Dimas pernah mengajaknya ke jembatan tersebut melalui raga Farhan.
"Kamu ingat jembatan ini?" tanya Fiya.
"Nggak, memang kapan kita ke sini?" tanya Farhan balik.
"Hmm.. Pasti bukan asli kamu yang bawa. Kejadian itu udah lama. Oiya, tadi kenapa kamu memperlihatkan diri kepada pelayan itu?" tanya Fiya.
"Aku memperlihatkan diriku agar semua orang tau bahwa kamu tidak sendirian dan sedang bersamaku. Jadi, aku memperlihatkan diriku kepada orang yang memperhatikan kita saja."
__ADS_1
"Jadi seperti itu... Oiya, aku ingin ke rumah sakit menjenguk raga kamu dan memastikan apa raga kamu masih di awasi atau tidak."
Farhan mengangguk dan kemudian kembali berjalan menuju ke jalan besar dan memesan sebuah taksi menuju ke rumah sakit.
Fiya langsung membuka pintu dan dia kaget pun kaget, begitu pula dengan Farhan yang melihat begitu banyak makhluk menjaga tubuhnya. Fiya perlahan mundur dan terjatuh .
"Fiya.." ucap Farhan yang langsung mendekatinya.
Farhan melihat ke arah dimana tubuhnya terbaring "Apa!! Bagaimana itu mungkin." Farhan kaget ketika dia melihat banyak makhluk yang mengelilingi sekitar tubuhnya. Mama Ifa yang sedang menjaganya pun teralihkan oleh suara jatuhnya Fiya.
"Loh Khanza, kenapa kamu bisa jatuh?" tanya mama Ifa.
"M-ma-mama Ifa... Se-sebenarnya... Ada yang menjaga tubuh Farhan, bahkan lebih dari satu."
"A-apa yang kamu bilang? Itu tidak mungkin. Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Mama Ifa sedikit takut.
"Maaf tante, aku baru ngasih tau bahwa aku sebenarnya indigo."
"INDIGO??"
Di saat yang bersamaan, keluarga Jennie datang. Mereka kaget karena tepat di depan pintu Fiya terduduk lemas di lantai.
"Loh Khanza... Ngapain lo di sini. Mau cari masalah lagi?" tanya Jennie dengan ketusnya.
"Gue harus menyelamatkan Farhan."
Fiya bangkit dan hendak berlari ke ranjang Farhan, namun tangannya langsung di pegang oleh papa Yuda dan mencegahnya masuk.
"Kamu tidak boleh masuk ke ruangan calon menantu saya." ucap papa Yuda penuh dengan kebencian.
"Omm.. Khanza mohon, hidup Farhan dalam bahaya sekarang. A-aku tidak bisa membiarkannya seperti ini. Om... Ku mohon..." pinta Fiya memelas.
"Dia akan dalam bahaya apabila di dekat kamu."
Di saat yang bersamaan, Arya datang dan langsung melepaskan tangan Fiya dari cangkeraman tangan papa Yuda.
"Kalau om nggak percaya, tanya sama Arya." Fiya melihat ke arah Arya. "Arya lihatlah ke dalam, ada berapa makhluk di sana?" tanya Fiya dengan serius.
Arya menurutinya dan melihat ke dalam. Dia langsung keluar dan merasa dadanya sangat sesak.
"Astagfirullahal'azim... 5 Khanza..." ucap Arya dengan ketakutan.
Semua orang kaget saat mendengar ucapan yang di lontarkan Arya sekaligus tak percaya dengan apa yang diomongkannya.
"Sejak kapan kamu jadi indigo?" tanya Jennie.
"Sejak kemarin karena aku yang minta." jawab Farhan.
Tak menunggu lama lagi, Fiya pun berlari, namun tangannya di pegang lagi oleh Jennie.
"Kamu boleh menyelamatkan Farhan, namun dengan satu syarat." pinta Jennie.
"Apa syaratnya?" tanya Fiya tanpa ragu.
"Jauhi Farhan." ucap Jennie singkat.
"Deg." terasa seperti tertusuk, namun dayanya yang bukan siapa-siapanya. Fiya selalu menganggap Farhan adalah sahabatnya dan kini harus di pisahkan kembali. Itu sungguh sangat berat bagi Fiya.
"Baiklah, aku akan menjauhinya. Lepaskan tanganku sekarang."
Jennie langsung melepaskan tangannya dan Fiya juga langsung masuk dan kemudian pintu langsung tertutup dengan sendirinya.
__ADS_1
"KHANZAAA..." teriak mama Ifa dan juga Arya bersamaan.
Di dalam ruangan tersebut, Farhan juga ikut masuk bersama dengan Fiya. Dingin begitu terasa di dalam ruangan tersebut. Fiya dengan sekuat tenaga mendekati ranjang Farhan.
"Kamu tidak bisa masuk sendirian Nindya." ucap Farhan khawatir.
"Tak apa, aku akan berusaha sendirian, lagi pula makhluk-makhluk itu ingin aku sendiri yang menghadapinya."
"Aku akan selalu berada di sisimu."
Fiya mengangguk dan kemudian duduk di samping ranjang Farhan sambil melantunkan ayat suci Al-Quran yang selalu di bawanya di samping Farhan. Di luar juga terdengar lantunan ayat yang di baca oleh Fiya, sehingga mereka juga mengikuti lantunan ayat suci yang di baca Fiya menggunakan handphone masing-masing karena tidak ada al-quran yang di bawanya.
Suara tersebut terdengar hingga ke dalam ruangan dan makhluk-makhluk tersebut juga sudah mulai kewalahan, dan ini adalah kesempatan untuk bertanya dan mengusir makhluk-makhluk tersebut dari sisi Farhan.
"Kenapa kalian ada di sini? Kalian suruhan siapa? Apa belum kapok dengan lantunan ayat ini?" tanya Fiya dengan kesal.
"Ini belum ada apa-apanya bagi kami." jawab salah satu makhluk.
"Tidak bisa di biarkan jika terus seperti ini."
Fiya pun nekat melawannya begitu juga dengan Farhan yang ikut membantunya. Semakin keras lantunan ayat yang di baca orang-orang di luar semakin lemah pula makhluk yang mereka lawan. Terdengar dari luar suara benda-benda yang berjatuhan.
Dan setelah dua jam lamanya, hanya tinggal dua makhluk lagi di dalam, dan pertarungan juga belum usai. Fiya terkena pukulan sang makhluk hingga ia terjatuh. Farhan yang berhasil merobohkan salah satu makhluk langsung menuju ke arahnya.
"Nindya... Nindya... Kamu harus bertahan." teriak Farhan sambil membangunkan Fiya.
Makhluk tersebut pun tak tinggal diam. Dia berusaha mencekik raga Farhan. Farhan merasa dadanya tambah sakit. Dan monitor di ruangan tersebut pun mulai berbunyi. Para penunggu pasien dan beberapa dokter yang mendengar keributan langsung menuju ke sumber suara dan ikut melantunkan ayat suci Al-Quran.
Fiya berusaha bangun dengan tenaga seadanya dan langsung menghalangi sang makhluk tersebut menyentuh raga Farhan.
"Lepaskan!! Lepaskan dia!!" teriak Fiya.
Semua orang yang ada di luar panik dan mencoba mendobrak pintu tersebut, namun usaha mereka sia-sia karena kekuatan makhluk tersebut yang begitu kuat.
"Yang di luar tetap tenang!! Baca kembali ayat suci itu ceppaattt!!!"
Merekapun duduk kembali dengan tenang, mereka memilih melantunkan surat-surat yasin. Tenaga Fiya yang terkuras banyak membuatnya terbanting ke tembok dengan keras.
Fiya berusaha untuk bangun, namun usahanya sia-sia. Farhan yang sedang sakit pula berusaha untuk menguatkannya. Dimas yang baru saja datang, langsung masuk ke dalam dan membantu melawan makhluk tersebut.
"Nindya.. Bertahanlah.. Kamu harus tetap sadar." ucap Farhan.
"Liam, semoga kita bisa bertemu lagi."
"Nindya, kamu harus bertahan. Dan bantu aku untuk selalu mengingatmu di masa depan. Aku mohon, bantu aku mengingatmu jika aku bangun.. Dan kembali mengingat masa-masa yang kita lalui."
Fiya mengangguk dan kemudian pingsan di tempat bersamaan dengan Dimas yang berhasil melumpuhkan makhluk tersebut. Dimas mengatur nafasnya yang terengah-engah dan kemudian langsung menuju ke arah Fiya yang pingsan.
"Fiya.. Bangun... Fiya bangun... Fiya..." teriak Dimas yang berusaha membangunkan Fiya.
Tak terdengar suara keributan, merekapun masuk dan pintu pun bisa di buka. Mereka langsung masuk dan melihat Fiya tergeletak di atas lantai dan ruangan yang berserakan. Satu dokter dengan sigap memeriksa Farhan dan satu dokter lagi memeriksa keadaan Fiya.
"Cepat, bawa dia ke ruang UGD." ucap dokter yang menangani Fiya.
Arya dengan sigap membopongnya dan membawanya dimana Fiya di suruh oleh sang dokter. Dimas yang hendak ikut Arya keluar terhenti.
"Bagaimana dengan keadaan putra saya dok?" tanya mama Ifa.
"Syukurlah, dia baik-baik saja. Tidak terjadi apapun padanya. Dan keadaannya juga semakin membaik."
Keluarga Farhan dan Jennie merasa lega dengan pernyataan sang dokter, begitu pula dengan Dimas. Dimas yang sudah selesai dengan urusannya di ruangan tersebut langsung berpindah menuju ke ruangan dimana Fiya berada.
__ADS_1
//**//