
Sore harinya, Fiya begitu juga keluarganya berkumpul untuk makan malam seperti biasanya. Fiya duduk di tempatnya, sedangkan Aldo sendiri duduk di samping Fiya.
"Mau?" tawar Fiya yang di jawab gelengan oleh Aldo.
"Khanza, kamu ini.. Mana ada yang tak kasat mata makan." ledek mama.
"Ih mah.. Makanan yang ada di kuburan itu buat mereka loh. Nah, Khanza kan juga mau ngamal jadi aku tawarin."
Papanya yang baru turun langsung menjewer telinga Fiya yang berbicara sembarangan.
"Ah.. Papa sakit.." keluh Fiya.
"Udah tau ada orang lain bilang kaya gitu."
"Ya maap papa. Udah yuk papa makan."
Papa Brian mengelus kepala Fiya dan kemudian lekas makan. Ketika Fiya hendak makan, tiba-tiba handphonenya berdering. Orangtua Fiya pun melihat ke arahnya. Fiya juga meletakkan sendok yang sempat di pegangnya dan lekas melihat orang yang meleponnya.
"Siapa?" tanya papa Brian.
"Nggak tau pah, nomor nggak di kenal."
"Coba angkat." perintah papa yang di jawab anggukan oleh Fiya.
Fiya langsung menggeser ikon hijau ke atas dan langsung menaruh benda pipih tersebut di telinganya.
"Hallo, siapa ya?" tanya Fiya.
"......"
"Iya, aku Khanza. Ada apa?"
"......"
"Apa??!! Kecelakaan!! Di rumah sakit mana?"
Fiya berdiri, begitu pula dengan Papa Brian dan Mama Ova yang juga ikut berdiri mendengar berita tersebut.
"....... "
"Aku ke sana sekarang."
Fiya langsung mematikan handphonenya dan melihat ke arah orang tuanya dengan panik.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya mama Ova panik.
Fiya hanya diam, dan air matanya menetes sambil menunduk. Mamanya bingung dan langsung menghampirinya dan mengguncangkan tubuhnya.
"Ada apa Fiya!!" bentak mamanya.
"Farhan mah.. Pah... Dia kecelakaan.. Hiks.."
"Jangan menangis, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang. Kalian bersiap. Bi Minah, tolong makanannya di simpan. Kami akan kembali nanti."
Pembantu mereka hanya mengangguk dan kemudian, mereka bertiga langsung naik ke mobil untuk menuju ke rumah sakit.
...*****...
Setelah Farhan mengantarkan Fiya ke rumahnya, dia pun lekas pulang. Farhan tak sadar, bahwa Aldi sedang mengawasinya dari jauh. Aldi sengaja menunggu di dalam mobilnya di suatu tempat yang sepi dan jarang di lalui keramaian. Setelah dia melihat motor Farhan dari kejauhan, dia pun lekas menyalakan mobilnya dan melajukannya dengan cepat menghantam motor yang dikendarai Farhan.
"Duuaaarrrr..."
Hantaman keras terjadi. Dimas yang melihat dari kejauhan sungguh tak percaya dengan kejadian yang menimpa Farhan. Begitu Aldi melewati Dimas, Aldi meliriknya, tanpa Dimas ketahui, karena kaca hitamnya yang di naikkan ke atas. Dimas pun lekas menghampirinya.
Sungguh, Dimas juga bingung harus melakukan apa. Tidak mungkin untuknya masuk ke raga Farhan yang terluka sangat parah. Dimas melihat sekelilingnya dan keadaan sangat sepi walaupun di siang hari.
Tak lama kemudian, seseorang lewat dan kemudian langsung berhenti. Orang yang mengendarai motor tua kemudian turun dan menghampirinya.
Orang itu lekas menelepon ambulan dan polisi untuk menangani kecelakaan yang terjadi oleh Farhan. Dan begitu ambulan datang, ia langsung di bawa ke rumah sakit terdekat.
Begitu mendengar kabar tersebut, Arya langsung datang ke rumah sakit. Keluarga Jennie juga datang begitu do kabarkan oleh keluarganya. Jennie menangis sejadi-jadinya di tempat.
"Ini semua gara-gara si dukun itu. Andai Farhan nggak pulang bersama si dukun itu, pasti hal ini tidak akan pernah terjadi!!"
Papa Wendi langsung melihat ke arah Arya. Arya yang diam hanya bingung di tempat.
"Arya, kamu punya nomor si dukun? Em.. Maksudnya orang yang pulang bersama Farhan siang ini??" tanya papa Wendi.
"Nggak om." jawab Arya.
"Sekarang, kamu cari nomornya kalau nggak alamatnya sekalian. Dan suruh dia datang ke sini."
Arya mengangguk dan melaksanakan tugasnya. Dia langsung pamit dan lekas melakukan tugas yang diperintahkan oleh papa Wendi.
Arya dengan sekuat tenaga mencari nomor telepon Fiya melalui data yang diperoleh dari nomor telepon yang tersimpan di handphone Farhan yang rusak akibat kecelakaan yang dialaminya.
Dia mendata handphone Farhan dan melihat satu kontak yang diberi nama "mama Khanza" tertera di salah satu kontak handphonenya.
__ADS_1
Dia pun menyecrolll kembali ke atas dengan teliti dan pelan hingga menemukan nama Khanza di kontaknya. Arya tentunya terheran-heran dengan nama kontak tersebut.
"Sejak kapan kiranya Farhan menyimpan kontak Khanza?" batin.
Akhirnya, dia pun segera menekan angka nomor telepon Fiya dengan handphonenya tanpa pikir panjang lagi.
"Hallo, siapa ya?" tanya Fiya dari seberang.
"Hallo, aku Arya teman Farhan. Ini benar Khanza bukan?"
"Iya, aku Khanza. Ada apa?"
"Farhan kecelakaan tadi siang. Dan sekarang dia koma."
"Apa??!! Kecelakaan!! Di rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Manggala. Dan sekarang masih di rawat di ruang ICU."
"Aku ke sana sekarang."
Setelah telfon dengan Fiya berakhir, Arya kembali lagi ke rumah sakit. Semua orang masih berada di depan ruang ICU. Dimas sendiri, masuk ke dalam ruang ICU untuk mengawasi Farhan.
Tak lama, Fiya dan keluarganya datang. Dimas pun turut keluar secara diam-diam. Begitu Fiya dan keluarganya datang. Keluarga Farhan dan Jennie langsung melihat ke arahnya dengan tatapan tidak suka.
Terutama dengan Jennie. Jennie melepaskan pelukannya dari mamanya dan langsung berjalan cepat mendekati Fiya.
"Plaakk."
Suara keras menghantam pipi kanan Fiya hingga merah. Fiya tak bisa menahan rasa sakit sehingga dia juga langsung menangis sambil memegang pipinya. Mama Ova memeganginya yang hendak terhuyung.
"Gara lo, Farhan jadi masuk rumah sakit sekarang. Gara-gara pulang bareng lo, lihat, apa yang terjadi sama Farhan sekarang!! Dia terbaring lemah di sana karena ketularan sama nasib buruk lo, dan membuatnya menjadi celaka. Atau bahkan, lo sengaja buat dia jadi tumbal dukun lo. Ngaku lo!!" ucapnya sambil berteriak.
Fiya melihat ke arahnya, dan mama Ifa juga tak tinggal diam. Dia menarik Fiya dan menampar pipi kanannya. Mama Ova tak tinggal diam dan balik arah menampar mama Ifa.
"Putriku tidak bersalah. Semua yang terjadi adalah takdir. Putriku juga tidak menggunakan dukun seperti yang kalian katakan. Yang kalian katakan itu semuanya salah dan fitnah. Ayo Khanza, sebaiknya kita pergi." ajak mama Ova.
Fiya yang tadinya diam pun melihat ke arah mereka sambil menangis dengan derasnya.
"Aku ingin melihat Farhan. Tolong, izinkan aku untuk bertemu dengannya satu kali saja.." pinta Fiya.
"Tidak, sebaiknya kamu pergi dari sini. Saya papanya saja tidak setuju jika kamu melihat putra saya. Jika kamu menemui putra saya lagi, pasti akan ada musibah bersar lagi nanti!!"
Papa Wendi menolak mentah mentah permintaan Fiya. Kedua orangtuanya pun tak tinggal diam dan berdebat di tempat tersebut, Fiya sungguh tak tahan dia disalahkan sehingga ia berlari. Dia sempat terjatuh, namun bangkit kembali menaiki lift untuk menuju ke atap.
__ADS_1
//**//