Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
76. Tujuan selesai


__ADS_3

..."Tetaplah baik hati, walaupun banyak orang yang menyakiti. Percayalah, ada orang yang diam-diam mendukung kebaikanmu."...


..."Gilang."...


_____________________


Arya bingung dengan keberadaan mereka di sebuah tempat tua dan hanya ada rel kereta api di depannya. Tak jauh dari jarak mereka juga terlihat stasiun tua. Mereka berada di sebelah palang pintu yang menghubungkan jalur rel kereta.


Kendaraan mereka tinggalkan di seberang jalan. Begitu Fiya keluar dari mobilnya, Fiya melihat ke sana dan kemari. Mata istimewanya beralih kepada stasiun kereta api tua tersebut. Arya yang melihat arah pandang Fiya hanya bingung karena tak ada apa-apa dimana Fiya melihat ke arah stasiun tua tersebut. Namun, lain di mata Fiya. Dia melihat kereta dan suasana stasiun yang ramai penuh dengan makhluk. Namun, ia segera menepisnya dan melihat ke arah lain dan kembali fokus dengan tujuannya kali ini.


"Khanza, kok kita kesini. Padahal gue belum cari tau informasinya." ucap Arya.


"Bodyguard gue lebih dulu beritau gue. Lo siap mental aja, jangan bengong dan lebih banyak berdoa ya..." perintah Fiya lembut.


"Lo bilang kek gitu gue jadi merinding." Arya mengelus tengkuknya.


"Dan, lo jangan kaget kalau gue ngomong sendirian. Dan, kalo lo mau tau alasannya, gue jelasin nanti kalau urusan ini udah kelar."


Arya hanya mengerutkan keningnya dan menatapnya penuh dengan keanehan.


"Lo waras." tanyanya.


"Gue waras, tapi kalau di mata orang yang mengerti. Kalau di mata orang kaya lo kebanyakan bilang gue nggak waras. Sini minggir dulu, jangan di tengah-tengah rel kereta, nanti ketabrak."


Arya menggelengkan kepalanya dan menurutinya. Fiya pun melihat ke arah Aldo dan langsung bertanya.


"Kira-kira, dimana letak kecelakaan itu terjadi?" tanya Fiya.


"Ya mana gue tau lah, cari tau aja belum.." protes Arya.


"Diem dulu, gue nggak bicara ama lo." bentak Fiya kesal.


Dimas hanya tersenyum, sedangkan Farhan juga ikutan kesal karena Fiya selalu diganggu oleh kesalahan pahaman yang dibuat oleh Arya, hingga akhirnya dia pun menjitak kepala Arya yang membuat Arya menoleh kebingungan. Fiya yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melihat Aldo.


"Dimana?" tanyanya sekali lagi.


"Kurang lebih jarak dua meter dari persimpangan di jalan kak. Kemungkinan kepalanya ada di sebelah selatan palang pintu ini."


Fiya melihat palang pintu tersebut dari atas hingga ke bawa dan akhirnya mereka pun berjalan kembali mengikuti Aldo. Arya yang sedari tadi hanya linglung dan kebingungan pun kembali mengikuti Fiya.

__ADS_1


"Dasar gadis aneh." batin Arya.


Baru berjalan beberapa langkah dari tempat tersebut, Fiya mendapatkan sebuah bayangan sekejap, dimana peristiwa kecelakaan itu terjadi. Fiya memejamkan matanya sejenak dan kembali membukanya. Lalu berlari hingga jarak sekitar 6 meter.


Fiya kelelahan kemudian berhenti untuk mengatur nafasnya. Dia melihat ke kanan dan kirinya. Fiya pun berjalan ke sisi kanan dan kirinya sambil mencari di sekeliling semak-semak. Arya yang bingung hanya melihatnya saja.


"Lo ngapain si?" tanya Arya penasaran.


"Lo coba bantu cariin sesuatu di sekitar sini. Senemu lo apa aja, ada yang kehilangan sesuatu di dekat sini, dan gue harus nemuin itu."


"Cari sesuatu di stasiun tua? Yang ada mah nemunya tengkorak kali." batin.


Arya hanya menggelengkan kepalanya dan kemudian ikut mencarinya di sisi sebelah kirinya. Baru saja Arya membuka semak-semak tersebut, yang dia lihat pertama kali adalah sebuah tengkorak yang sedang menganga tepat di hadapannya.


Otomatis Arya berteriak dan terjatuh. Fiya yang melihatnya langsung menghampirinya dan melihatnya yang duduk ketakutan sambil menunjuk ke arah dimana tengkorak itu berada sambil gemetaran.


Fiya yang melihatnya pun akhirnya membuka semak-semak yang ditunjuknya dan dia melihat dia langsung menutup matanya sambil beristigfar.


"Astagfirullahal'azim."


Arya pun meneguk salivanya kasar dan memberanikan diri untuk ikut melihatnya.


"Iya, sekarang lo istigfar dulu dalam hati. Jangan liat ke belakang, cukup geser diri lo aja ke sebelah kiri. Lo ngerti kan?"


Arya mengangguk sambil ketakutan dan mengikuti arahannya. Hantu tersebut menampakkan badannya kepada Arya, Arya hendak berteriak, namun Fiya langsung membungkamnya.


"Lo tenang dulu, nanti gue jelasin. Perbanyak istigfar aja, tapi inget dalam hati aja..."


Arya mengangguk walaupun panik dan takut menghampirinya. Fiya pun melepaskan tangannya dari mulutnya. Keringat Arya bercucuran dari dahinya. Menyaksikan seorang hantu memasang kepalanya sendiri. Begitu terpasang, tengkorak itu terjatuh dan menghilang bagaikan debu, sedangkan hantu tanpa kepala tersebut menemukan wujudnya dan menjadi arwah yang cukup tampan seperti yang diperintahkan Fiya sebelumnya. Karena raganya sudah kembali utuh, dia pun bisa berbicara.


Arya yang tadinya ketakutan melongo dengan kejadian yang dilihatnya secara langsung. Hantu tersebut tersenyum ke arah Arya dan mendekatinya. Arya sendiri masih ketakutan dan ragu, sehingga ia perlahan berjalan mundur.


"Nggak usah takut. Aku mau ucapin terimakasih atas bantuannya karena membantuku mencarikan kepalaku yang hilang. Dan maaf telah merepotkanmu."


Arya hanya mengangguk dan kemudian arwah tersebut melihat ke arah Fiya yang sedang tersenyum ke arahnya.


"Udah selesai sekarang. Kamu yang tenang di atas sana."


"Makasih, kamu memang orang yang baik. Oiya, namaku Gilang, aku pamit." ucap sang arwah tersebut.

__ADS_1


"Iya sama-sama, aku Khanza. Bahagia selalu di atas sana."


"Terimakasih pula untuk kalian. Dan kau... Kembalilah dan selesaikan tugasmu, dan temuilah aku di surga."


Dimas yang paham mengangguk. Sang arwah tersebut tersenyum sambil melambaikan tangannya kepada mereka lalu menghilang dari hadapan mereka yang juga melambaikan tangannya kepadanya.


"Akhirnya, tugas gue selesai hari ini."


Fiya pun bernafas lega dan meninggalkan Arya. Arya yang melihat Fiya meninggalkannya begitu saja langsung mencegahnya pergi.


"Jelasin ini semua." bentak Arya yang menghalangi jalannya.


"Ya nanti lah.... Masa iya gue ceritain disini, yang ada di dengerin hantu juga. Karena lo udah bantu gue, lebih baik kita ke rumah lo sekarang, makan camilan yang gue beli tadi."


Arya pun memberi jalan untuk Fiya dan lekas mengikutinya setelah Fiya melaluinya. Kini Fiya yang membuntuti Arya ke rumahnya.


"Menurut kalian, apa gue harus bilang kalau ada arwah lo?" tanya Fiya.


"Mending jangan dulu, kalau cuma Aldo nggak masalah." larang Farhan.


"Mengapa begitu? Arya bisa bantu gue untuk nyelamatin lo dari makhluk itu." jawab Fiya.


"Jangan sekarang dulu, yang ada nanti Arya akan khawatir. Mengapa tidak kau minta bantuan saja kepada Feni dan Aldi." larang dan pikir Arya lagi.


"Kalau Feni, gue takut dia trauma lagi. Kelihatannya dia kuat, namun sebenarnya tidak. Dan Aldi bisa saja bantu gue, dan gue akan memberitahunya sesegera mungkin."


"Sebaiknya jangan Aldi." Dimas angkat bicara.


"Kenapa?" tanya Fiya.


"Entahlah, tetapi aku berfikir untuk tidak memberitahukan ini kepadanya terlebih dahulu." ucap Dimas.


"Iya kak, jangan dulu." larang Aldo juga.


"Baiklah kalau begitu, terserah kalian saja. Aku hanya akan menuruti apa kata kalian." ucap Fiya pasrah.


Fiya pun kembali melajukan mobilnya lebih cepat. Dan kembali mengikuti arah jalan motor yang dibawa Arya.


//**//

__ADS_1


__ADS_2