Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
111. Epilog


__ADS_3

Safiya Khanza Ayunindya Pov


Aku mengarungi kisah hidupku yang panjang. Perjalanan dari waktu ke waktu yang tak mudah, ku lalui hingga sekarang. Pertemuan yang dulu ku anggap sebagai pertemuan hingga akhir khayat, berakhir terhalang oleh sebuah takdir maut yang akhirnya memisahkan aku dan Dimas. Hingga aku menemukan titik kebahagiaan bersama dengan Farhan.


Farhan, orang asing yang tidak ku kenal dan sangat ku benci, sekarang dia adalah orang yang paling aku butuhkan dan paling aku cintai. Aku tak menyangka, dia yang akan berperan sebagai pendampingku sekarang.


Dan Dimas, sekarang hanya bisa ku lihat sebagai bintang di atas awan. Kecil namun berharga seperti kenangan yang pernah di tinggalkannya. Ingin aku lupakan, namun semuanya terlalu berharga untuk di lupakan.


Semua yang terjadi di dunia memanglah hanya takdir Tuhan yang tau. Kita tidak bisa menebaknya, namun apapun pilihan Tuhan, itulah yang terbaik untuk dirimu.


Dan, tak terasa 7 tahun sudah, aku mendiami rumah sakit dari suamiku sendiri. Hahahaha... Kaget kan... Iya sekarang orang yang bernama Farhan Liam Ma'ruf sudah menjadi pendamping hidupku.


Aku berdiri di rumah sakit ini sambil melihat keadaan sekelilingku. Semakin ramai dan padat tak seperti dulu.


"Bu, ada pasien gawat darurat. Dan, semua dokter penuh sekarang." ucap seorang perawat yang tiba-tiba masuk ke ruanganku.


"Baik.."


Aku langsung menyambar jas putihku dan masuk ke ruang ICU. Begitu aku masuk, yang ku lihat bukan pasien gawat darurat. Tetapi pasien gawat rindu yang selalu mengganggu waktu istirahatku.


"Kebiasaan banget deh. Anak-anak sudah di jemput pulang belum?" tanyaku dengan tegas.


"Sudah sayang, sudah aku antarkan ke rumah."


Aku marah dan lekas masuk ke ruanganku sendiri diikuti oleh suamiku yang mencoba membujukku.


"Semakin hari kamu semakin sibuk. Aku jadi semakin merindukanmu."


"Kan aku dokter, setiap hari aku harus rawat pasien. Kamu cemburu sama pasien?"


"Aku cemburu karena mereka mendapatkan perawatan lebih dari kamu, sedangkan aku harus nunggu sakit dulu baru kami rawat aku." ucap Farhan manja.


"Ya ampun, suami aku belakangan ini kenapa? Tiap hari ketemu kok, nanti kalau Zea dan Zeo udah besar, aku akan alihkan ini ke Zea, baru aku bisa istirahat terus di rumah rawat kamu yang udah mulai tua."


"Jahat banget bilang suami sendiri tua, masih muda begini juga."


"Sudah jangan merengek di sini. Kamu balik lagi aja ke kantor dan aku mau urus ruang operasi."


Aku sibuk menyiapkan peralatan, namun Farhan selalu menggangguku.


"Aku baru datang, masa langsung kamu usir?"


"Muaacchh... Bawel. Dah sana ke kantor."


Aku terpaksa menciumnya dan langsung berlari keluar ruangan untuk menghindari Farhan yang mungkin akan mengejarku.


Setiap pulang dari rumah sakit, aku langsung menemui kedua anak kembarku Zea dan Zeo. Membuatkan makan malam dan membantu mereka belajar.

__ADS_1


Mereka cenderung menjadi anak yang pintar sepertiku, namun sifat keduanya berbeda. Zea mirip seperti, mungkin karena dia perempuan. Dan Zeo mirip seperti Farhan.


Setiap hari, mereka selalu bertengkar. Aku pun pusing di buatnya. Kadang aku dan Farhan lebih memilih untuk diam daripada menenangkan mereka berdua yang selalu bertengkar setiap saat.


Namun, yang membuatku merasa senang adalah ketika mereka saling membutuhkan satu sama lain. Mereka saling membantu, tertawa bersama dan sungguh membuat hari-hariku sempurna.


"Papa pulang..."


"Papa.." teriak Zea dan Zeo memanggil papanya dan langsung memeluknya ketika dia datang.


"Sudah belajar bukan?" tanya Farhan.


"Sudah dong."


"Pintar... Sekarang kalian ganti baju dan bersiap tidur."


Zea dan Zeo mengangguk dan lekas naik ke kamar mereka masing-masing. Aku tersenyum melihatnya, dan pandanganku teralihkan pada Farhan yang terlihat seperti kecapean. Aku langsung menerima tasnya dan memeluknya.


"Kenapa?" tanya Farhan.


"Kamu pasti lelah, masa pulang nggak di sambut baik-baik. Mas belum makan kan, mas mandi dulu habis itu ke ruang makan. Aku nunggu mas di sana."


"Memangnya kamu belum makan?"


"Belum, aku nunggu mas pulang sekalian nemenin anak-anak belajar."


Aku mengangguk dan lekas menuju ke meja makan untuk menyiapkan makanan yang masih hangat tersebut di meja makan.


...*****...


Aku selalu mengajarkan kepada anak-anak untuk selalu berziarah kubur ke makam orang-orang yang kita sayangi. Aku selalu mengajak keluargaku berziarah setiap hari jum'at.


"Mah, kenapa si mama selalu ajak kami ke makam?" tanya Zea.


"Mereka juga pernah hidup seperti kita. Mereka juga butuh doa dari kita. Kita tidak boleh membiarkannya. Dan senantiasa mendoakannya supaya dia tenang di bawah sana."


"Memangnya di bawah sana masih ada kehidupan mah?" tanya Zeo.


"Masih sayang. Namanya adalah alam kubur atau disebut juga alam barzah. Alam barzah ini adalah gerbang menuju ke akhirat. Dan perjalanannya masih panjang lagi nanti."


"Gunanya berziarah selain mendoakan apa mah?" tanya Zea.


"Agar senantiasa kita mengingat bahwa kita hidup hanya sementara dan senantiasa mengingat akan adanya kematian. Jadi, siap tidak siap harus yakin kematian itu ada."


"Ini makam siapa mah? Anak pertama mama ya? Kok kuburannya kecil kaya bayi?" tanya Zeo.


"Ini makam aunty kalian. Ini makam adik mama."

__ADS_1


"Oohh..."


Zea dan Zeo mengangguk paham dan lekas duduk di samping makam Sofiya.


"Hallo aunty, aku Zea." ucap Zea menyapa makam.


"Hallo aunty, aku Zeo."


"Aunty, sayangnya aku nggak bisa bareng sama Aunty, nggak bisa liat aunty. Aunty baik-baik ya di alam sana. Kami akan selalu mendoakan aunty..."


Kata-kata Zea membuat hatiku benar-benar merasa terharu. Aku menitikkan air mataku melihat mereka berdua mengobrol seperti melihatnya secara langsung.


Kemudian, kami pun berpindah ke makam sahabat masa kecilku yang tak lain adalah Dimas.


"Ini makam siapa mah?" tanya Zea.


"Mama udah pernah cerita ke kalian kan tentang sahabat masa kecil mama." Zea dan Zeo mengangguk.


"Ini adalah sahabat papa dan mama sewaktu SMA dulu. Dia yang memilih papa menjadi pacar mama dulu."


"Kalau uncle ini masih hidup, pasti mama nikah sama uncle ini kan."


Aku tertawa mendengarnya sedangkan Farhan yang ada di sampingku hanya pasrah di duakan.


"Mama tidak tau sayang. Yang tau semuanya hanya Allah yang mengatur segala kehidupan setiap orang di dunia. Maha takdir yang tau semua yang akan terjadi di dunia. Mama tidak bisa lagi menjawab ini sayang."


Zea dan Zeo kelihatan seperti berfikir. Dia melihat ke depan dan saling berbisik tidak jelas.


"Mah, uncle yang ada sana, bukannya uncle yang mama bicarakan tadi bukan?"


Zea dan Zeo menunjuk ke arah depan, sedangkan aku sendiri hanya diam membisu sambil melihat ke arah Farhan dengan penuh kebingungan.


"Di sana tidak ada siapa-siapa sayang." ucap Farhan sambil memegang bahu mereka berdua.


Aku pun mengeluarkan ponselku dan menunjukkan foto Dimas kepada Zea dan Zeo.


"Apa dia yang ada di sana?" tanyaku ragu.


Mereka berdua mengangguk dengan yakin. Sedangkan aku sendiri tak melihat apapun.


"Apa yang kalian lihat?" tanyaku penasaran.


"Uncle itu melambaikan tangannya kepada kita."


Aku kaget dan langsung melihat ke arah depan dengan bingung. Aku melihat Farhan sambil melongo dan kembali melihat ke arah depan dengan tatapan penuh dengan ketidak percayaan.


Tamat....

__ADS_1


//**//


__ADS_2