Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
30. Fiya Sakit


__ADS_3

...Walaupun sedang tidak bersamamu, setidaknya aku bisa membuatmu bahagia dan tersenyum, serta memberikan kenyamanan walaupun dari kejauhan....


...~Satya Dimas Adriansyah ~...


___________________________


FLASHBACK ON


Seperti biasa Dimas mengantar Feni, tidak lagi mengantar Fiya karena lebih ada yang mempedulikannya.


"Sat, gue pengen ke taman dulu. Lo nggak keberatan kan?"


"Baiklah."


Dimas tidak merasa keberatan sekalipun juga karena Dimas sedang ada waktu luang. Diapun ke taman bersama Feni. Mereka duduk di sebuah bangku. Feni terus menatap ke arah langit yang pada saat itu sangat cerah.


"Sat.."


Dimas dengan reflek pun melihat ke arahnya tanpa menjawab apa-apa.


"Lo lagi marahan sama Fiya, atau lo cemburu karena Fiya ada yang ngedeketin."


"Maksud lo?"


"Jangan nutupin dari gue Sat. Lo sahabatnya pasti lo tau lebih sifatnya. Dan lo tau nggak Sat, dia terus cerita ke gue tentang lo, berandai - andai lo pindah ke sini lagi dan dia paling menunggu lo Sat. Dia juga pernah bilang, setelah lulus dari sini dia ingin melanjutkan universitas yang deket dengan rumah lo supaya dia bisa mampir ke rumah lo."


Dimas tersenyum kecil mendengar perkataan Feni.


"Sebegitukah dia merindukanku sehingga aku dibawa kedalam angannya?" batin.


Dimas pun menghela nafas panjang dan menatap ke arah langit yang kini sebagian tertutup awan.


"Gue denger percakapan lo sama Fiya setelah dari UKS, gue tau apa yang di maksud Fiya. Memang gue membuatnya di posisi yang tidak nyaman, sehingga gue harus menjauh sejenak agar dia nyaman. Walaupun bukan gue yang membuatnya tersenyum, tetapi gue harus bisa menjaganya walaupun dari kejauhan. Memang bener, kita berdua nggak marahan, cuma lagi jaga jarak aja."


Feni mengangguk angguk sambil mendengarkan penjelasan yang Dimas berikan.


"Terus, lo jadi ikut perekrutan anggota PMR kan?"


"Iya, gue akan ikut."


"Syukurlah."


Mereka pun mengakhiri percakapan dan meminta Dimas untuk mengantar Feni.


FLASHBACK OFF


...*****...


Dimas pun kembali ke kelas setelah perekrutan anggota baru selesai. Begitu pula dengan Aldi yang sudah duduk di bangkunya. Dimas pun memilih menidurkan kepalanya di meja dengan berbantalkan tangannya.


Tak lama Fiya dan Feni pun datang dan duduk di tempatnya masing-masing. Posisi Dimas dan Aldi masih sama, yaitu bertukar tempat duduk. Feni yang melihat Dimas memejamkan matanya pun mengguncang tubuhnya pelan.


"Sat, lo sakit?"


Dimas pun terbangun dan menghela nafasnya lalu mengangkat kepalanya yang sedikit terasa sakit.


"Nggak kok."


Tak lama guru pun datang untuk memulai mata pelajaran pagi.


"Emm.. Za, lo duduk belakang bentar, gue mau bicara sama Aldi."


"Iya boleh."


Fiya pun duduk di belakang dan diantara keduanya hanya saling terdiam.


...*****...


Pulang sekolah tiba, dan Fiya lebih memilih menggunakan taksinya. Dimas yang melihatnya pun heran dan menemui Aldi sejenak bersama dengan Feni.


"Fiya pulang sendiri?"


"Iya, gue ada urusan jadi nggak bisa nganterin, Fiya juga milih pulang menggunakan taksi ya udah kebetulan."


Aldi memakai helmnya dan kemudian menyalakan motornya.


"Ya udah, gue duluan."


Aldi meninggalkan mereka berdua dan kemudian Dimas dan Feni juga pulang. Di perjalanan, Dimas bingung dengan sikap Fiya belakangan ini.


"Ehm.. Emm.. Fen, menurut lo Aldi dan Fiya lagi ada masalah?"


"Menurut gue dari ekspresi dan jawaban Aldi nggak."

__ADS_1


"Langsung pulang kan?"


"Iya, pulang aja."


Dimas pun mengantar Feni sama seperti biasanya. Feni turun dari motor Dimas dan saat melewatinya, tiba-tiba dia tersandung batu dan Dimas dengan cekatan memegang tangannya untuk tidak jatuh.


"Hati-hati Fen, lo nggak papa kan?"


"Gue nggak papa kok. Terimakasih."


"Iya sama-sama. Gue pamit ya."


Feni mengangguk dan melihat Dimas pergi hingga menjauh dari rumahnya.


Begitu dia sampai di rumahnya, adiknya menyambutnya dengan penuh senyuman.


"Kenapa senyam senyum sendiri?"


"Mas tumben nggak sama kak Khanza?"


"Iya Sat, sudah beberapa hari dia nggak main ke sini. Kalian berantem?"


"Nggak kok mah, biasa aja. Aku ke kamar dulu ya mah."


"Iya sana, nanti turun lagi nganterin kue ini ke rumah Khanza ya."


"Kenapa nggak mama aja?"


"Katanya nggak marahan kenapa sungkan?"


"Iya mah, akan aku antar."


Dimas pun ke rumah Fiya setelah dia beristirahat sejenak dan mengganti bajunya.


"Assalamualaikum. Mama Ova."


"Wa'alaikumsalam. Nak Satya, mari masuk"


"Nggak mah, Satya masih ada urusan. Satya ke sini cuma mau nganter ini, di suruh mama tadi."


"Oohh, nggak mampir dulu. Fiya ada tuh si kamar."


"Biarkan dia istirahat mah, aku masih ada urusan, lain kali aja ya mah, maaf."


"Iya nggak papa."


"Wa'alaikumsalam."


Dimas tak lupa mencium tangan mama Ova dan kemudian meninggalkan rumah Fiya dengan kecewa. Dimas ingin sekali melihat Fiya, namun dia ragu untuk menemuinya.


......*****......


Keesokan harinya, Dimas melihat Aldi yang berjalan sendirian di koridor sekolah. Dimas pun berlari untuk mengejarnya.


"Fiya nggak sama lo?"


"Dia nolak, katanya dia sedikit terlambat."


"Oohh.. Begitu."


"Kenapa nggak sama lo lagi?"


"Nggak papa, akhir-akhir ini gue sibuk."


"Oohh.."


"Gue duluan."


Dimas pun meninggalkan Aldi sampai di kelasnya. Dimas menunggu Fiya, perasaannya mulai cemas dan khawatir. Feni pun datang dan langsung duduk di bangkunya.


"Lo liat Fiya?"


"Loh, dia nggak bilang sama lo?"


"Bilang apa?"


"Khanza nggak berangkat karena nggak enak badan."


"Sial."


"Kenapa?"


"Gue ada yang ketinggalan. Gue ijin, bilangin guru ya."

__ADS_1


Feni hanya diam di tempat dengan bingung. Dimas pun menggendong tasnya dan kemudian berlari keluar ke kelasnya. Aldi yang melihatnya berlari melaluinya hanya menggeleng heran. Aldi masuk ke kelasnya dan menghampiri Feni yang sedang duduk sendirian.


"Satya mau kemana?"


"Katanya ada yang ketinggalan."


"Oohh.. Begitu. Katanya Khanza sedikit terlambat, tapi kok belum sampai?"


"Kamu nggak tau, Khanza lagi sakit."


"Sakit? Dari kapan?"


"Nggak tau."


"Haisshh.."


Aldi juga hendak pergi dengan membawa tasnya, namun Feni memegang tangannya.


"Lo mau kemana?"


"Rumah Khanza."


"Bentar lagi guru masuk."


Aldi dengan cepat menghempaskan tangan Feni dan langsung keluar dari kelasnya.


Di sisi lain, Dimas pun sampai di rumah Fiya melalui jalan tikus sehingga jarak yang di tempuhnya lumayan dekat. Dia langsung masuk ke dalam rumah Fiya dan dia kaget karena mama Lastri juga ada di sana.


"Mamah"


"Khanza sakit, kenapa kemaren nggak bilang sama mama?"


"Aku juga nggak tau Fiya sakit mah."


"Loh Satya, kenapa kamu nggak sekolah?" ucap mama Ova saat melihat Dimas rapi dengan seragamnya.


"Nggak papa Va, kebetulan Satya di sini, siapa tau Khanza mau makan. Sana Sat, coba kamu ke kamarnya bujuk dia makan. Mama ijin dulu sama guru kalau kamu nggak masuk."


Dimas pun mengangguk dan meletakkan tasnya di samping mamanya.


"Mama Ova, sini piringnya biar Satya yang bujuk."


Mama Ova memberikan nampannya kepada Dimas. Dan Dimas segera naik ke kamar Fiya. Dimas membuka pintu kamarnya pelan dan melihat Fiya berbaring membelakanginya.


"Aku bilang aku nggak mau makan."


"Katanya sakit, kamu harus makan."


Mata Fiya langsung terbelalak saat mendengar suara yang tidak asing terdengar di telinganya. Dia pun berbalik dan langsung duduk, namun tiba-tiba kepalanya terasa seperti berputar dan dia pun memegangi kepalanya. Dimas pun meletakkan nampannya di meja dan membantunya bersandar pada kepala ranjang.


"Makan ya, biar nggak pusing lagi."


Fiya menggeleng.


"Mata kamu bengkak, kamu habis nangis."


Fiya tetap menggeleng. Dimas pun menghela nafas panjang dan mengambil bubur yang berada di nampan tersebut lalu menyendokannya ke mulut Fiya.


"Nih.. Akk."


Fiya menggeleng dan mendorong sendok itu pelan. Dan menatap matanya dengan kecewa.


"Apakah aku harus sakit terlebih dahulu agar kamu datang ke sini? Apakah aku harus sakit dulu supaya kamu deket sama aku lagi? Dan apakah aku harus sakit terlebih dahulu agar kau menemui ku?"


Air mata Fiya yang tertahan pun menetes dan Dimas yang melihatnya merasa bersalah karena telah menjauhinya. Dia pun mengusap air matanya yang menetes dengan ibu jarinya, namun Fiya menghempaskannya.


"Kenapa Hah? Kenapa kau menemui ku.. Hiks.. Kenapa?.. Aku bukan sahabat mu..hiks.."


Fiya memukul dada Dimas, dam Dimas pun memeluknya.


"Maafkan aku Fiya, aku tau apa posisi mu, dan aku pun mencoba menghargaimu agar kau nyaman."


"Dasar bodoh hiks.. Aku tidak mau jauh darimu lagi.. Hiks.."


"Pukul saja aku, tapi tolong jangan marah kepadaku."


"Bagaimana aku bisa marah kepadamu? Hiks...Bagaimana.. Hiks.."


"Maafkan aku, maaf.. Aku janji tidak akan menjauhimu lagi."


Fiya pun memeluknya dan menumpahkan air matanya di dada Dimas. Dimas mengelus kepalanya dan punggungnya.


"Hentikan dulu air matamu, jangan menangis lagi. Aku disini sekarang, kalau ada apa-apa bilang supaya aku tidak menjauhi mu lagi. Makan dulu, kalau tidak besok aku pindah ke luar kota lagi."

__ADS_1


Ancaman sederhana Dimas membuat Fiya mengangguk dan memakan bubur itu dengan suapan Dimas. Mereka tak menyadari kedatangan Aldi di depan pintu. Aldi yang ingin masuk pun terpaksa harus kembali ke bawah.


//**//


__ADS_2