
Farhan berada dalam ruangan gelap. Tak ada cahaya sedikit pun. Tampak dari belakang ada yang menyinarinya. Dia berbalik dan menghalangi matanya dengan tangannya karena cahaya tersebut sangatlah terang. Sesosok manusia muncul dari cahaya tersebut dan menepuk pundak Farhan.
Farhan menurunkan tangannya dan melihat seseorang yang begitu familiar bagi dirinya. Sosok itu tidak tampak jelas di matanya namun Farhan merasa sangat dekat dengannya dan sangat mengenalnya.
"Kamu adalah orang yang baik. Jaga selalu dia untukku."
Sosok itu kembali menepuk pundaknya dan menengok kebelakang kembali kepada cahaya tersebut. Farhan mulai mengejarnya, namun tiba-tiba dia terjatuh.
...*****...
"Hahhhggghhh.... Huh.. Huh.. Huh..."
Farhan bangun dari tidurnya karena kaget dan nafasnya yang tak beraturan. Arya yang sedang duduk di sofa ruangan kamar seketika kaget dan langsung berlari ke arahnya.
"Lo nggak papa bos. Bos mimpi apa sampai keringatan gini?" tanyanya sambil melihat wajahnya naik turun.
"Air, gue haus.."
Arya langsung mengambil gelas yang ada tidak jauh darinya dan juga air yang tersedia. Setelah terisi, Arya langsung memberikannya kepada Farhan. Farhan menerimanya dan langsung diteguknya tanpa sisa. Farhan memberikan kembali gelas kosongnya dan mengusap kepalanya kasar.
"Lo mimpi apa di siang bolong gini bos?"
"Entahlah, gue nggak tau. Intinya, gue di datangi sama seseorang dan berkata, kamu adalah orang yang baik, jaga selalu dia untukku." jelas Farhan.
"Dia? Dianya siapa bos?" tanya Arya bingung.
"Gue juga nggak tau, siapa yang bilang gue juga nggak tau. Gue merasa pernah melihat orangnya namun aku tidak masuk siapa yang harus gue jaga."
Arya tampak mencerna kata-kata Farhan dan berpikir tentang mimpi Farhan.
"Dan, kebetulan lo ada di sini."
Farhan melihatnya dengan menghela nafas panjang. Arya yang melihat Farhan tampak gelisah langsung menepuk bahunya.
"Lo kenapa bos? Cerita aja kalau ada masalah.."
"Gue mengalami hal aneh belakangan ini. Gue kaya setengah sadar setengah enggak. Dan kadang gue ngerasa kalau raga gue ditinggali dua jiwa, yaitu gue dan entah siapa. Apakah itu mungkin?" tanya Farhan dengan kata-kata ragu nya.
"Maksud lo kerasukan bos? Memang hal aneh apa saja yang bos maksud?" tanyanya.
Farhan pun menjelaskan kejadian-kejadian yang menurutnya aneh. Arya pun mengangguk-angguk dan mencerna semua perkataan Farhan kepadanya.
"Lo nglakuin hal itu, tapi lo nggak inget dan nggak ngerasa lakuin hal itu? Aneh banget.."
__ADS_1
"Nah itu yang membuat gue bingung, gue jadi merasa punya dua jiwa dalam diri gue, tapi mana mungkin bisa si?"
"Lo jalani aja dulu, gue juga bantu cari jalan buat lo."
Farhan mengangguk dan memutuskan untuk membersihkan dirinya. Pikirannya juga kalut di dalam kamar mandi, dan tak fokus dengan apa yang ia jalani.
...*****...
3 hari berlalu
Sekolah telah usai dan Fiya memutuskan untuk pulang sekolah bersama dengan Feni dan Aldi menggunakan mobil Aldi. Namun, Fiya yang menuruni tangga pertama terpeleset sehingga jatuh dan terguling hingga tangga paling bawah.
"Khanza..." teriak Feni dan Aldi.
Farhan yang baru turun dari tangga yang berbeda dan sedang di gandeng Jennie, langsung menengok ke arah suara. Jennie menariknya, namun Dimas tak tinggal diam dan langsung masuk tubuh Farhan yang sedang tidak fokus.
Jennie yang bercerita di sampingnya langsung di hempaskan tangannya dari lengannya dan berlari menghampiri Fiya.
"Eh... Farhan... Farhan..." teriak Jennie.
Dia tak mempedulikannya, dan langsung memangku kepala Fiya dan menepuk-nepuk pipinya.
"Khanza.. Khanza..."
Aldi yang melihat Farhan menolongnya, seketika dia mengepalkan tangannya geram. Sedangkan Feni juga langsung mendekatinya.
Dimas yang meragai tubuh Farhan langsung mengangkat tubuh Fiya dan membawanya lari ke parkiran dan di masukkannya ke mobilnya karena tadi pagi dia bersama dengan Jennie dan memilih menggunakan mobilnya.
Jennie ikut berlari dan mengikutinya. Farhan hendak menutup pintu mobilnya, namun Jennie memeganginya.
"Kok lo ninggalin gue, gue ikut."
"Kaga lo pulang sana."
"Gue pulangnya gimana?" tanyanya dengan nada manja.
"Taksi banyak, nggak usah manja."
Farhan langsung menutup mobilnya dan memundurkannya dengan arahan tukang parkir sekolah, lalu di klaksonnya sebagai ucapan terimakasih dan dia langsung meninggalkan sekolahnya tersebut.
Sesampainya di rumah sakit, Fiya langsung di bawa ke UGD. Dimas yang meragai tubuh Farhan langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan nomor orang tua Fiya yang diingatnya.
"Hallo tante ini Dim.. Maksudnya Farhan. Khanza jatuh dari tangga dan sedang di rumah sakit sekarang."
__ADS_1
"Khanza jatuh, sekarang kamu di rumah sakit mana?" jawabnya dengan kaget.
"Rumah sakit Tiara tante."
"Tante akan ke sana sekarang."
Farhan menutup teleponnya dan begitu ia tutup, tak lama dokter keluar dari ruang UGD tersebut.
"Perwakilan atas nama saudari Safiya Khanza Ayunindya." panggil sang dokter.
"Saya dok, saya temannya satu sekolah."
"Keluarganya belum datang?" tanyanya.
"Belum dok."
"Pasien mengalami luka di kepalanya dan akan di pindahkan di ruang rawat inap. Segera hubungi keluarganya dan jenguklah di ruang rawat inap. Kalau begitu saya permisi."
Farhan mengangguk dan mengikuti ranjang Fiya yang di dorong ke ruang rawat inap. Dia kembali mengeluarkan ponselnya dan memberitahukan kamar tempat Fiya akan di rawat.
Farhan yang tak lain adalah Dimas menggenggam erat tangan Fiya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dan kepala yang berbalut luka. Dia menciumnya dan mendapatkan bau harum tangannya yang lembut.
Seutas senyum menghiasi wajah Farhan, padahal itu bukan dirinya yang sebenarnya dan dia juga mengelus kepala Fiya dan mencium keningnya.
"Andaikan ini mulutku yang sebenarnya, tanganku yang sebenarnya dan ragaku yang sebenarnya, aku tidak akan membiarkanmu terluka seperti ini. Tidak akan membiarkanmu terbaring lemas di atas ranjang ini yang pasti sangat membuatmu tidak nyaman. Aku juga sebenarnya tidak rela harus merelakan kamu bersama orang lain, namun, diriku hanyalah arwah yang sekarang hanya bisa memandangmu dan meminjam tubuh orang lain agar bisa membantumu. Cepatlah sehat, kasihan tubuh yang sekarang aku tempati."
Dia menunduk dan langsung keluar dari tubuh Farhan. Farhan yang tersadar langsung melihat kedepannya dan celingak celinguk ke samping kanan kirinya dan hampir ke seluruh ruangan. Dia melihat bajunya dan tersadar dia sudah berada di rumah sakit.
"Syukurlah ada kamu Farhan, jika tidak ada kamu mungkin Fiya akan terluka parah." ucap mama Ova secara tiba-tiba.
"Fiya?" batin.
Dia langsung melihat orang yang ada di depannya dan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Fiya. Farhan menjadi sangat gugup dan kaget saat menyadarinya. Mama Ova yang di sampingnya hanya tersenyum melihatnya. Lalu dia pun mengelus pundaknya.
"Perlakuan kamu terhadap Khanza , mengingatkan tante tentang sosok Dimas yang selalu ada di samping Khanza. Menjaganya selalu dimanapun Khanza berada. Mama dan keluarganya sangat dekat karena persahabatan mereka semenjak kecil, namun kejadian yang menimpa Dimas seketika membuat keluarga kami hancur, saling membenci dan saling tak mengasihani." Mama Ova melinangkan air mata. Farhan yang melihatnya juga merasa sedih, namun mama Ova segera menghapus air matanya.
"Ngomong-ngomong, kamu tau nomor handphone tante darimana?" tanya mama Ova.
"E-em.. Itu dari ponsel Khanza tante, tapi karena Khanza sepertinya tidak punya pulsa, kalau lewat telepon Whatsaap nanti malah kelamaan dan akhirnya Farhan menyalin nomor tante."
"Oohh... Kalau dulu waktu tante nanya Dimas, saat tau nomor tante dan tentunya papanya Khanza, dia sengaja menghafalnya. Dan hal itu juga mengingatkan tante kepada Dimas. Banyak sekali kenangan yang di buat bersama keluarga kami, terutama kepada Fiya yang pada saat itu langsung syok saat mendengar kabar Dimas sudah tiada. Dan karena syoknya itu di tambah dengan mama Dimas menamparnya membuatnya begitu terpukul dan memilih untuk kabur dari rumah sakit. Dan saat pertama kali kamu membawa Fiya pulang ke rumah, mama melihat diri Dimas ada di dalam diri kamu, namun menurut tante itu tidaklah penting" terangnya panjang lebar.
Farhan pun berfikir tentang hal yang di ceritakan oleh mama Ova dan kedatangan seseorang membuat pikiran Farhan seketika lebur dan melihat ke sumber suara.
__ADS_1
"Farhan..."
//**//