
Safiya Khanza Ayunindya
.
.
.
.
Aku sangat kaget dan kenapa dia tau nama lengkapku. Apakah dia benar-benar peramal. Tapi mana mungkin, kalau dia peramal pun pasti dia tau apa yang terjadi pada diriku. Aku pun memaksakan diri untuk bertanya kepadanya.
"B-b-bagaimana kau tau nama lengkapku"
"Aku adalah seorang peramal. Kau adalah Safiya Khanza Ayunindya, anak yang memiliki kelebihan yang tidak di ketahui oleh semua orang"
Aku berfikir, sikapnya kepada ku sama persis dengan Dimas. Aku pun menatapnya lekat dan penuh pertanyaan.
"Tidak mungkin kau... "
"Apakah kau tak percaya jika aku peramal. Kau adalah anak indigo. Kau bisa melihat makhluk yang tak bisa ku lihat dengan mata biasa ku ini"
"Bagaimana mungkin kau bisa tau, selama ini aku tidak memberi tahu siapapun kecuali keluarga ku dan keluarga Dimas.... Haaaahhhh... Atau mungkin kau Dimas..."
"Haaaahhhh Dimas..... "
Aku sadar bahwa dia adalah Dimas. Iya.. Dia Dimas sahabat kecilku. Aku langsung memeluknya tak peduli jika ada yang melihat mereka di sekitar. Aku agak berjinjit karena dia sangat tinggi dari yang aku kira. Padahal dulu dia sangat pendek, bahkan tingginya sama denganku, namun dia sangatlah berbeda sekarang. Dia tak membalas pelukanku karena aku tak merasakan tangannya di punggung ku. Dia malah mendorongku pelan.
"Dia kenapa, aku tidak mungkin salah, dia Dimas" batin.
"Aku bukan Dimas, aku Satya"
"Iya, kamu Satya Dimas Adriansyah, di baju kamu juga ada namanya"
"Ya kali ini nama aku, kalau aku pinjam"
"Kan kalau, berarti kamu beneran Dimas, kapan kamu pulang"
"Tadi malam sekitar pukul 10"
"Jadi kamu yang bantu aku tadi pagi. Terimakasih banyak"
__ADS_1
"Aku akan selalu melindungi kamu mulai dari sekarang. Seperti aku melindungi kamu waktu kita kecil dulu"
Aku memberikan jari kelingkingku seperti waktu kami kecil dulu dan dengan cepat dia juga memahaminya dan membalasku. Sungguh rindu sekali rasanya dan aku sudah tak tahan lagi sekarang. Aku menangis sambil tertunduk tak dapat melihatnya lekat. Tiba-tiba dia menyelipkan rambut panjangku ke belakang telinga dan memegang kedua pipiku.
Jantung ku berdegup kencang. Aku menatap nya, dan kedua jari ibu Dimas mengusap air mataku yang terjatuh. Sungguh wajah yang kurindukan telah datang untuk menemaniku lagi.
"Hei jangan nangis, kamu bukan anak kecil lagi. Ini bukan waktunya untuk sedih. Kamu ingin mengajakku keliling ke sekolah ini atau menangis di sini sembari di lihat oleh makhluk itu"
"Disini lagi belum ada karena waktu sudah siang dan sebagian lorong sekolah terkena pancaran sinar, jadi nggak banyak"
"Jadi cuma kita berdua di sini"
"Begitu lah"
"Kita kemana sekarang"
"Kita mulai dari sini"
Aku berhenti menangis dan aku menjelaskan gedung sekolah yang besar ini kepadanya. Kami bercerita sekaligus tertawa bersama. Keadaan sekolah sepi, karena sedang ada kelas sekarang. Sungguh rinduku sangat tertuai sekarang, berdua bersama walaupun di tempat umum, tapi aku tak bisa membendung rindu itu. Aku menggenggam tangannya erat seperti dulu dia menuntunku.
Aku menjelaskan sembari memperhatikan ekspresinya. Sungguh membuatku bahagia. Sangat.. Bahagia. Tak ku sangka dia kembali lagi bersamaku kali ini.
"Fiya, aku ke kamar kecil bentar ya"
"Baiklah, aku tinggal sebentar"
Dia mengelus kepalaku. Aku tersenyum senang, kini dia sudah dewasa dan begitu tampan dari yang aku bayangkan. Sekarang sudah tak perlu chat lagi, jika ingin berbicara kita tinggal bertemu, dan sungguh menyenangkan.
"Eh Dukun, lo kenapa senyum-senyum sendiri. Jangan-jangan lo kesambet juga"
"Lahh Jennie kenapa dateng si. Nyebelin banget" batin.
"Diem lo, nggak usah ikut campur urusan gue"
"Terus kenapa"
"Kepo banget"
"Dasar dukun"
Jennie mendorongku dengan sengajanya. Kebetulan Dimas datang dan membantuku berdiri.
__ADS_1
"Kamu telah mendorongnya, apa itu benar"
"Siapa kamu"
"Sahabat Fiya"
"Sahabat Fiya, hahahaha... Orang seperti dia mana ada punya sahabat. Dipanggilnya Fiya lagi, kaga salah. Dia tuh selalu di panggil dukun. Atau jangan-jangan kamu murid baru ya. Dia itu selalu nyembuhin orang kerasukan. Lo nggak tau kan.. Hahahaha.. Daripada lo jadi kerasukan karena hantunya dia, mending lo jauhin dia deh."
"Dia sahabat masa kecil gue, dan lo nggak tau semua tentang dia. Gue yakin, sikap lo yang kaya gini ke orang lain, pasti lo banyak di ganggu makhluk. Entah itu si samping kanan atau pun kiri pasti ada. Ayo Dim, kita pergi"
Aku menggandeng tangan Dimas dan hendak pergi. Namun, omongan ku itu nyata, memang ada banyak makhluk di sekitarnya. Seketika dia melontarkan sebuah kata yang membuatku marah.
"Dasar dukun j*l*ng"
Aku mengangkat tanganku dan ingin menamparnya, namun Dimas menghalangiku dan memegang tanganku. Aku tak percaya dengan sikapnya. Apakah dia tergoda dengan Jennie, memang Jennie lebih cantik dariku tapi kata-katanya itu sudah benar-benar keterlaluan.
"Kamu nggak boleh menamparnya"
"Apa!! Apa kamu bilang. Aku punya hak karena dia keterlaluan denganku. Kenapa kamu menjadi seperti ini. Hiks... "
"Fiya... Safiya..."
Aku tak mempedulikannya dan aku berlari ke arah lift dan menuju ke atap. Aku berdiri di salah satu pembatas besi dan menangis di sana. Aku pun terduduk dan sungguh, aku tak mengira dia akan membelannya. Aku tak menyangka dia menyalahkanku. Aku menangis sambil memegang dadaku yang terasa sakit. Sungguh... Aku merasa hatiku sangat sakit. Tapi kenapa itu terjadi, dia hanya sahabatku.
Tak lama Dimas datang dan memelukku. Aku semakin menangis karenanya. Aku memaksakan diriku untuk keluar dari pelukannya dan akhirnya aku terlepas. Aku mundur dan menabrak pembatas besi. Aku hampir terjatuh karena pembatas besi itu roboh. Beruntungnya aku karena Dimas menarikku. Aku menimpanya, namun aku tak bisa menatap wajahnya. Aku pun menangis sejadi-jadinya di pelukannya dalam keadaan yang sama.
"Duduk dulu"
Aku menurutinya dan aku duduk tanpa menghentikan tangisanku. Dia memelukku lagi dan menenangkanku.
"Sudah jangan menangis, aku juga minta maaf. Aku berkata seperti itu agar kamu bisa mengendalikan emosi kamu. Jangan sampai makhluk-makhluk itu memasukimu juga dan siapa yang akan mengembalikan nyawamu nanti, karena kamu satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan itu"
Di saat seperti ini, sempat-sempatnya dia meledekku. Aku tak melepaskan pelukannya dan menangis. Tak lama, para guru dan siswa juga mendatangi atap. Dan atapun sudah ramai.
"Khanza, kamu nggak papa"
Tanya seseorang, entah itu siapa karena aku betah di pelukannya.
"Fiya, kita ke UKS sekarang. Yuk ikut aku"
Dimas memegang pundakku dan aku menurutinya. Aku juga di pegang oleh Feni yang sudah melihatku tak sanggup berdiri. Tak sengaja pandanganku melihat sebuah bayangan putih dan wajah yang sedikit pucat juga dengan tatapan kemarahan. Namun, aku tak mempedulikannya dan mengikuti gerak langkah temanku ke UKS.
__ADS_1
//**//