
Safiya Khanza Ayunindya
.
.
.
Aku canggung semenjak kejadian ini. Aku tak bisa berfikir apa-apa sekarang. Namun, aku merasa Dimas berada di dalam diri Farhan. Perasaan yang sama, pelukan yang sama. Tetapi, apa itu mungkin?
"Emm.. Dukun... Lo kenapa bengong. Gue panggilin juga." ucap Farhan yang memanggilku dukun, namun aku tidak bergeming.
"Hedehhh... Khanza..." ucapnya malas.
"Kenapa?" tanyaku.
"Gue pergi ke tempat gym. Lo ikut kaga?" tanyanya.
"Lo ngajak gue, nggak mungkin kan? Gue milih tidur aja." ucapku dan beranjak berdiri dari sofa tersebut.
"Kaga boleh, kalau lo di sini, gue takut lo nekat. Lo tuh lagi depresi, gue khawatir." ucap Farhan.
"Lo khawatir sama gue? Lo siapa gue? Kalau gue mati ya lo nggak usah peduli sama gue. Biarin gue mati aja. Gue pengen cepet cepet ke surga biar bisa ketemu Dimas." jawabku dengan ketus.
"Tuh kan, ngomong lo ngawur banget. Tau ah.. Gue males debat sama lo." ucap Farhan.
Ucapannya membuatku kembali menangis dan aku pun berlari ke kamar dan mengunci pintu. Aku melempar kunci itu ke segala arah dan aku berbaring di atas ranjang sambil memeluk bantal.
Aku menangis sejadi-jadinya, tak peduli dengan suara gedoran pintu.
"Hiks.. Kenapa gue mesti idup si.. Hiks.."
Entah dari mana berasal, Farhan bisa masuk dan kembali memelukku. Sungguh, sekarang jantungku tak terkontrol. Dan sampai terdengar di telingaku. Begitu pun dengan air mataku yang bertambah deras mengalir di pipiku.
"Maafkan perkataan ku tadi, aku tau itu membuatmu terluka. Dan aku sangat-sangat minta maaf kepadamu."
Aku menangis di pelukannya. Tangannya yang begitu lembut mengelus kepalaku. Farhan melepaskan tangannya dan mengusap air mataku. Aku menyingkirkan tangannya karena rasanya sama seperti tangan Dimas yang mengusap air mataku.
"Maaf, sekarang aku perbolehkan tidur. Aku akan menemanimu." ucap Farhan.
Aku mengangguk dan berbaring. Farhan membantuku membenarkan selimut dan aku pun tertidur, walaupun ada sedikit rasa canggung.
...*****...
Satya Dimas Adriansyah
.
.
__ADS_1
.
Aku hanya menghela nafas, karena Farhan hanya diam tak merespon. Pikiran dan sikapnya yang dingin selalu membuatnya canggung dan terlalu banyak berfikir. Aku pun kembali masuk ke tubuhnya.
Aku mencari kunci cadangan di seluruh penjuru dan sudut ruangan tersebut. Aku berusaha semaksimal mungkin karena takut akan terjadi sesuatu dengan Fiya.
"Haduh... Nih anak gobl*k banget si. Kunci cadangannya dimana lagi? Lemot banget mikirnya, gimana nggak mudah di rasukin coba."
Di tengah keluh kesah ku, aku menemukan kumpulan kunci dan aku pun segera membuka pintu kamar tersebut dengan semua kunci yang aku temukan.
Hingga kunci yang ke sepuluh, akhirnya aku berhasil membuka kamar tersebut. Aku melempar kunci yang tersisa ke segala arah dan dia terbangun dari baringnya, dengan cepat aku berlari dan langsung memeluknya.
"Maafkan perkataan ku tadi, aku tau itu membuatmu terluka. Dan aku sangat-sangat minta maaf kepadamu." ucapku.
Aku mengelus kepalanya dengan lembut. Aku melepaskan tanganku dan mengusap air matanya yang mengalir deras di pipinya. Namun, dia malah menyingkirkan tanganku. Aku paham, memang perlakuan ku kepadanya selalu dia ingat, tanpa melewatkan sedikitpun.
"Maaf, sekarang aku perbolehkan tidur. Aku akan menemanimu." ucapku lagi.
Dia mengangguk dan berbaring. Aku membantunya membenarkan selimut dan dia pun tertidur. Aku pun keluar dari kamar dan ke tempat kembali semula Farhan sebelumnya dan kemudian aku keluar dari tubuh Farhan.
...*****...
Farhan Liam Ma'ruf
.
.
.
Aku pun berdiri dan menuju ke kamar. Aku bingung karena banyak kunci yang berserakan di depan kamar, dan tanpa pikir panjang aku membuka kamar tersebut dan melihat Khanza sedang tertidur dengan nyenyak.
Aku pun bernafas lega dan kemudian kembali ke depan kamar tidur. Aku memunguti kunci yang berserakan dimana-mana.
"Kenapa bisa berantakan?" pikirku.
Aku mencoba mengingat ingat tentang sebelumnya terjadi, namun yang ku dapat hanyalah diam di depan televisi.
Badanku menjadi terasa aneh dan sedikit merinding. Aku segera menepisnya dan tetap memunguti kunci tersebut. Aku sempat berpikir untuk meninggalkannya sendirian, namun bayang-bayang saat dia bunuh diri masih terus terngiang di kepalaku. Aku pun memutuskan untuk bermain game online di dalam kamar sambil menemaninya tidur.
Aku berjalan ke arahnya untuk memastikannya tidur. Aku memasukkan handphoneku di dalam saku bajuku yang berada di atas dada. Kemudian aku mengintip ke arahnya. Dan, handphoneku terjatuh dari sakuku dan terjatuh di sampingnya.
Aku bernafas lega, karena handphoneku tidak mengenai wajah ataupun kepalanya. Aku pun mencoba meraih handphoneku. Aku mendapatkamnya namun sialnya tanganku terkilir saat menopang tubuhku sendiri dan lebih sial lagi bibirku menyentuh bibirnya.
Dengan cepat aku bangun, dia dia juga menggeliat dan mengelap bibirnya. Sungguh, aku benar-benar canggung sekarang. Aku kembali duduk di tempatku semula dan memilih menonton televisi.
Sekitar dua jam, dia terbangun dari tidurnya. Aku hanya menengok ke belakang dan menonton televisi kembali.
"Udah bangun rupanya." ucapku.
__ADS_1
"Hmm.. Aku mau ngomong."
"Deg" jantungku tak beraturan. Sungguh, aku benar-benar canggung. Apa dia sadar, aku mencuri ciumannya? Apakah dia tau aku menodai bibirnya? Kira-kira aku orang ke berapa yang mencurinya? Pikiranku benar-benar berkecamuk hingga tak sadar dia sudah berada di sampingku.
"Han.." panggilnya yang membuatku kaget.
"Eh..Copet.." jawabku karena kaget.
"Lo kenapa si, aneh banget?" ucapnya dan duduk di sampingku.
"E-enggak papa kok. Ada apa manggil?" tanyaku sedikit gugup.
"Makasih ya untuk tadi, gue sedikit lebih tenang sekarang, berkat lo gue udah bisa ngontrol diri. Makasih banyak.." ucap Khanza.
"Emang gue nglakuin apa? Perasaan, gue nggak ngapa-ngapain?" ucapku bingung.
"Gue tau lo canggung masalah tadi, tapi gue nggak papa kok. Dan, gue nggak akan canggung lagi sama lo. Semua laki-laki itu sama, walaupun ada benci di dalam dirinya, namun masih ada hati nurani yang tersisa. Makasih atas bantuan lo." ucap Khanza lagi.
"Apa dia tau gue mendapat ciumannya, tapi aneh sekali. Dia nggak marah, atau jangan-jangan gue pria ke berapa nya, dan hanya itu cara menenangkannya, wah.. Si dukun nggak beres ini." pikirku.
"Gue mau masak dulu buat makan malam."
Dia beranjak dari tempat duduknya setelah aku mengangguk. Sekitar satu jam menunggu, Khanza memanggilku. Aku pun keluar dari kamar dan menemuinya di meja makan.
"Sudah matang, silahkan di makan, aku ke kamar dulu." ucapnya.
Aku mencegahnya pergi dan menariknya untuk duduk. Dia duduk di sampingku, aku pun berdiri untuk mengambil piring dan sendok untuknya.
"Lo juga makan, gue bukan majikan yang kejam. Lo makan, sekaligus temenin gue. Gue lumayan merinding." ucapku.
"Lo merinding, kok gue nggak ngerasain apa-apa. Perasaan gue biasa aja." ucapnya yang membuatku merasa tenang.
"Eh.. Gue tadi ngapain di kamar? Kok lo bilang makasih?" tanyaku bingung.
"Lo pura-pura nggak inget atau lo punya amnesia akut?" tanyanya.
Aku tak bergeming dan mengangkat kedua bahuku bingung.
"Udah lah, lupain aja. Intinya terimakasih." ucapnya yang malah membuatku semakin penasaran.
"Oiya, lo tau nggak, kok kunci cadangan gue berserakan dimana-mana?" tanyaku.
"Lo yang punya apartemen pasti lo lah yang ambil. Lo juga masuk kan ke kamar pasti dengan kunci itu, masa iya lo dobrak kan nggak mungkin. Lagipula kalau di pikir-pikir pasti harga pintu itu mahal, mana mungkin lo dobrak." ucapnya.
Aku semakin bingung dan masih terus berfikir apa yang terjadi dengan kunci-kunci itu. Karena seingatku aku tidak menggeledah lemari kunci cadangan tersebut.
"Ada yang tidak beres dengan diriku." batin.
"Bengong lagi, tadi nyuruh gue makan. Buruan makan, nanti keburu dingin." ucap Khanza dan aku pun menurutinya.
__ADS_1
//**//