
Farhan Liam Ma'ruf
.
.
.
Aku pulang dan bingung karena diriku sering mengalami hal-hal yang aneh. Entah sejak kapan, namun sering. Aku pun berdiri di depan cermin dan kaget saat baju yang aku pakai adalah baju biasa dan seragam... Seragamku kemana??
Aku bingung dan melihat ke tas ku, aku tak sadar tasku basah begitu pula dengan isi-isinya yang ikutan basah. Aku semakin bingung dan mencoba mengingat keras tentang apa yang terjadi pada diriku.
Hal yang terakhir aku ingat adalah berdiri melihat Khanza akan dijahili oleh Jennie dan Bianka, dan setelah kejadian itu aku berada di ruangguru.
Lalu...
Darimana bajuku berasal? Dan dimana aku mengganti bajuku? Seragamku dimana? Apa yang sebenarnya aku lakukan? Apa yang sebenarnya terjadi dengan diriku? Apakah aku harus tanyakan kepada Arya? Tetapi Arya sedang sekolah sekarang... Apa yang harus aku lakukan?
Aku memutuskan untuk mengganti bajuku dulu dan meletakkannya di ranjangku. Aku menopang daguku dengan tangan kananku sambil berfikir, dan tadi aku di ruang guru melakukan apa?
Sungguh, semua terjadi begitu saja dan secara kebetulan. Aku bingung dengan diriku sendiri. Tiba-tiba, handphoneku berbunyi. Aku melihatnya dan ternyata itu dari ayahku. Aku pun lekas mengangkatnya.
"Hallo papa, ada apa?" tanyaku.
"Kamu ke rumah papa sekarang, papa mau ngomong sama kamu." ucapnya singkat dan langsung mematikan handphonenya.
"Aarrgghh... Ada apa lagi sekarang."
Aku turun dan langsung melesat ke rumah papa dan mama. Ada Jennie juga yang menangis di pelukan mamaku, sungguh aku merasa tak suka melihatnya.
"Akhirnya kamu datang, sekarang duduk." perintah papa yang langsung aku turuti.
"Kenapa kamu tidak membela Jennie?" tanyanya terus terang.
"Membela? Maksud papa?" tanyaku bingung.
"Kamu kan tadi nggak bela aku di ruang guru, nggak mungkin kamu nggak inget." keluh Jennie.
"Bela? Maksudnya apa ini, siapa yang aku bela dan apa yang aku lakukan di ruang guru, aku tidak tau." jawabku jujur.
"Kamu membela si dukun itu bukan? Kamu menolong si dukun itu dan aku yang di salahkan, padahal aku tidak sengaja." Jennie dengan pura-pura menangis.
__ADS_1
"Menolong dukun? Ma-maksud kamu Khanza?" tanyaku memastikan.
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Maksud kalian itu apa? Aku benar-benar tidak tau dan tidak mengerti." keluhku yang semakin pusing.
"Lo nolongin dukun waktu gue nggak sengaja nyiram air dari lantai dua, lo ngelindungin dia dan mengantarnya pulang, aku lihat sendiri tadi. Lalu lo dateng ke ruang guru sama dukun terus lo bela dia dan lo nggak inget semua itu, itu mustahil." terang Jennie yang semakin membuatku tak paham.
"Aku benar-benar tak tau hal itu, dan guaku sedang pusing sekarang. Dan jika aku bela dukun syukurlah, memang kamu yang salah, kamu sengaja menyiramnya dan jika kalian ingin tau sifat calon menantu mama dan papa, itulah sifatnya di sekolah selalu merundung orang."
Aku segera bangkit dan langsung keluar dari rumahku. Kembali ke apartemen dan membanting diriku di atas kasur. Aku mencerna perkataan Jennie. Dan pikiranku sekarang, yang jelas tau kejadian sebenarnya adalah Khanza.
Aku bergegas keluar dan melesat ke rumah Khanza dengan motorku. Begitu aku sampai, aku melihatnya sedang menyiram bunga di depan rumah bersama dengan pembantunya yang sedang menyapu halaman.
"Farhan, ngapain lo ke sini?" tanyanya karena aku datang secara mendadak.
"Gue mau bicara sama lo."
"Ya udah, masuk dulu." jawabnya sambil meletakkan wadah penyiram tanaman.
Khanza hendak masuk, namun tangannya langsung aku cegah. Dia melihat tangannya yang di pegang oleh ku. Aku mengikuti arah pandangnya dan langsung melepaskannya.
"Nggak, di rumah aja, gue males jalan-jalan sekarang."
Aku pasrah dan mengikutinya masuk. Aku mengikutinya sampai di ruangan yang terdapat televisi besar di kelilingi dengan sofa yang berwarna coklat dan meja serta karpet yang berada di tengah.
"Lo duduk aja di situ, gue ke belakang bentar."
Aku mengangguk dan membiarkannya pergi. Dari luar, mama Khanza datang dan langsung menemuiku, aku berdiri dan menyalaminya.
"Tante." aku sambil tersenyum.
"Kamu lagi, baju kamu baru dijemur, paling nunggu besok keringnya. Oiya, Khanza dimana?" tanya mama Khanza kepadaku.
"Katanya dia di belakang tante."
"Ya sudah, kamu duduk dulu. Tante akan bawakan sesuatu untuk camilan kamu."
Aku hanya mengangguk dan kembali duduk. Baru saja mama Khanza akan melangkah. Khanza sudah kembali membawakan dua gelas susu dan camilan.
"Alhamdulillah, anak mama perhatian. Ya udah, mama ke atas dulu. Kalian bicaralah."
__ADS_1
Khanza mengangguk dan kemudian meletakkan nampannya di meja. Aku pun duduk dan dia juga.
"Nih minum dulu." ucapnya.
Aku pun minum, namun rasanya tidak seperti susu pada umumnya aku melihat susu tersebut. Dan melihat Khanza dengan bingung.
"Lo kenapa? Nggak enak? Ini susu yang lo minum tadi pagi loh." ucap Khanza.
Aku hanya mengerutkan keningku bingung.
"Emang ini susu apaan?" tanyaku.
"Ini susu jahe yang lo minum tadi pagi. Kata mama gue lo suka banget sama susu jahe terus kalau ke sini buatin aja gitu. Dan karena kebetulan lo dateng lagi dan susunya masih, aku panasin dan gue kasih lagi ke lo."
"Sejak kapan gue suka susu jahe?" tanyaku.
"Ya kaga tau lah, kata mama gue aja waktu di kasih susu jahe langsung habis sama lo."
"Masa sih?"
Aku tambah pusing dengan pernyataannya. Dan aku sungguh bingung sekarang hingga aku merasa pusing saat memikirkannya. Aku pun memijat pelipisku yang sedikit cenat-cenut.
"Lo pusing, tinggal minum aja, lo akan lumayan sedikit sembuh. Juga kan lo suka."
Karena aku tak mau membuatnya curiga, aku pun terpaksa meminumnya hingga habis. Aku meletakkan gelas kosong itu di meja dan langsung bersandar kursi.
"Mau lagi?" tanyanya.
"Aku mau jus." pintaku.
"Bentar, gue buatin. Kalau laper makan aja tuh camilan. Ada banyak."
Khanza pun bangkit dan meninggalkanku. Aku bersedekap sambil melihat gelas kosong bekas wadah susu jahe yang diminumku. Pikiranku semakin kalut tak karuan karena tak ada sedikitpun ingatan yang tertinggal di dalam pikiranku.
"Apa yang terjadi dengan diriku?" batin.
Aku terus berada di rumah Khanza hingga aku tidak dapat menemukan petunjuk yang aku inginkan. Hingga tepat setelah makan siang, aku memutuskan untuk pamit dan pulang.
Aku terus memikirkan kejadian tentang meminum susu jahe dan sejak kapan aku suka susu jahe? Aku meminumnya hingga tandas, meminum satu teguk saja membuatku mual, bagaimana bisa aku habiskan satu gelas. Apa yang terjadi dengan diriku? Aku merasa aneh belakangan ini? Dan apa penyebabnya itu bisa terjadi?
//**//
__ADS_1