
Esok harinya, semua kembali seperti semula. Kedua belah pihak, entah itu keluarga Fiya dan keluarga Bastian mempersilahkan mereka berdua untuk saling berkunjung dan bercanda tawa sekalipun juga menjadi guru les Bastian.
Di siang ini Fiya kembali bermain di taman bermain yang sama pada saat pertama kali mereka bertemu. Melihat Farhan merasa iri dengan Arya dan Bastian yang sedang asik bermain, Fiya pun merencanakan sebuah rencana untuk Farhan agar bisa dekat dengan Bastian.
"Kau ingin bermain bersama Bastian bukan? Ayo ikut aku. Jika aku memberi tanda kamu untuk masuk ke raga Arya."
Fiya menarik tangan Farhan hingga di belakang Arya. Arya yang sedang asik ya bermain bersama Bastian terhalang oleh Fiya dan akhirnya dia pun berhenti bermain.
"Bastian, pinjam kak Arya sebentar ya. Kakak mau hipnotis dia.. Liat nih.."
Fiya mengedipkan matanya kepada Farhan, dan dia mengerti. Begitu pula dengan Arya yang salah paham dengan maksud Fiya dan menganggap itu hanya lelucon untuk menghibur Bastian.Bastian merasa kagum dan kemudian memperhatikan Fiya yang mulai menghipnotis Arya.
"Dalam hitungan tiga detik, kamu akan menuruti perintah kami. Kita mulai.. Satu.. Dua.. Tiga..."
Di saat Arya bengong dan Fiya memberikan aba-aba, Farhan langsung masuk ke raga Arya.
"Coba deh, Bastian minta sesuatu ke kak Arya, pasti di turutin."
"Em...minta apa ya..." Bastian menaruh jari telunjuknya di dagunya dan mengetuk ngetuk sambil berfikir.
"Kak Arya, coba gendong Bastian di pundak kakak."
"Baiklah tuan." Arya berbicara mirip robot.
Fiya tersenyum dan Arya pun berjongkok, dengan cepat dan Bastian pun naik di punggungnya. Setelah naik, Arya lekas berdiri.
"Kita mau kemana tuan?" tanya Arya.
"Kita ke sana..." Bastian menunjuk ke arah depan dan Arya pun segera berlari di ikuti oleh Fiya.
Mereka tertawa bersama layaknya sebuah keluarga kecil. Dimas hanya bisa melihat mereka tertawa bersama. Aldo yang ada di sampingnya hanya bisa menepuk pundak Dimas untuk menguatkannya.
"Turun... Turun."
Bastian menepuk pundak Arya dan Arya pun menurunkan Bastian dan kemudian Arya kembali berdiri.
"Sekarang apa lagi Bastian?" tanya Fiya.
"Coba deh sekarang kak Khanza yang buat permintaan."
"Em... Apa ya..."
Fiya pun berpikir sejenak dan kemudian dia pun mendapatkan ide.
__ADS_1
"Kak Arya, beliin kita eskrim rasa vanila sama coklat ya.."
"Baik tuan putri."
Arya alias Farhan pun bergegas membelikan eskrim untuk mereka bertiga. Menggunakan uang yang ada di dompet Arya.
"Aarrgghh.. Ni anak kalau bawa dompet nggak bawa rekening, nanti repot." gerutunya.
"Ini mas kembaliannya."
Arya lekas menerimanya dan kembali memberikan mereka es krim. Bastian duduk di sebelah kiri Fiya, sedangkan Arya duduk di sebelah kanan Fiya.
"Kak Arya, aku punya permintaan lagi nih." tanya Bastian setelah menghabiskan eskrimnya.
"Permintaan apa sayang?" tanya Fiya.
"Cium kan Khanza."
Fiya sedikit kaget dengan permintaan Bastian.
"Nggak sayang, masa kak Arya nyium kakak si. Ya jangan dong... Yang lain ya jangan yang sepeda in..."
"Cup." Tolakan Fiya karena gugup dan tak memperhatikan Arya, memberikan peluang untuk Arya alias Farhan mencium pipi Fiya. Fiya langsung membeku sedangkan Bastian melompat kegirangan.
Fiya hanya bisa menggeleng, karena yang sebenarnya menciumnya adalah Farhan yang meminjam raga Arya sebagai perantara. Fiya hanya pasrah dan mengelus kepala Bastian.
"Bastian sayang, kalau takdir nggak akan kemana kok. Lebih baik sekarang kita pulang yuk..." ajak Fiya.
"Tapi aku ada permintaan lagi kak. Kak Arya, gendong kak Khanza sampai ke mobil. Kasihan kak Khanza kecapean."
Arya melihat Fiya dan tak perlu lama lagi, Arya berjongkok di depan Fiya.
"Jangan, kasihan kak Aryanya juga cape." alasan Fiya sebagai penolakan.
"Tak apa tuan putri."
Fiya pun mengalah dan naik di punggung Arya hingga di samping mobil. Setelah sampai, dia pun menurunkan Fiya.
"Sudahkan... Sekarang kita pulang."
"Eh.. Kak Aryanya belum di kembaliin."
"Oiya... Dalam hitungan satu, dua, tiga. Kembali seperti semula."
__ADS_1
Farhan pun keluar dari tubuh Arya dan tersenyum ke arah Fiya. Arya pun kembali sadar dan merasakan raganya pegal-pegal.
"Yuk, sekarang kita pulang."
Bastian mengangguk dan menggandeng tangan Fiya. Sedangkan Arya hanya mengikuti mereka tanpa bertanya sedikitpun.
"Kak, tahun baru besok liburan ke kebun binatang ya kak." pinta Bastian pada saat perjalanan pulang.
"Tentu saja sayang. Em... Menurut kamu, lebih baik kakak yang di hipnotis atau yang nggak?" tanya Fiya yang duduk di sampingnya.
"Yang di hipnotis kak. Soalnya, aku jadi inget kak Farhan saat kak Arya di hipnotis. Dan aku berharap aku bisa dekat dengan kak Farhan."
"Sabar sayang, kakak akan mencoba membantu kamu pula. Kamu sabar ya sayang."
"Oke kakak"
Tak sadar mereka telah sampai di rumah Bastian. Dan orang tua Bastian pun langsung menyambut kedatangan Bastian.
"Mah.. Kak Khanza tadi bisa hipnotis kak Arya..." cerita Bastian kepada mamanya.
"Oh ya.. Bagaimana itu?" tanya mama nya penasaran.
Fiya tersenyum melihat celoteh Bastian yang semakin hari semakin bersemangat. Papa Wendi yang melihatnya tersenyum dan kemudian mendekati Fiya.
"Khanza, karena kamu telah membahagiakan anak saya, ini sebagai upah kamu selama satu bulan lamanya." Papa Wendi menyerahkan amplop coklat kepada Fiya.
"Tidak usah om. Aku hadir dan memberikan kebahagiaan dengan ikhlas dan tidak perlu imbalan untuk melakukan semua itu. Om ambil saja, walaupun saya tau rejeki itu tidak boleh untuk di tolak, namun sebaiknya berikanlah untuk orang yang lebih membutuhkan. Itu lebih baik."
"Kalau begitu, ambil ini dan berikan ini kepada pihak yang membutuhkan. Anggap saja saya meminta bantuan kamu."
"Iya om baik. Terimakasih banyak ya om. Kalau begitu saya permisi sebelum malam tiba."
Papa Wendi mengangguk dan Arya dengan setia mengantarkannya. Sebelum pulang, Fiya meminta Arya untuk membeli beberapa amplop untuk di berikan kepada orang yang membutuhkan. Arya salut dengan sikap Fiya yang begitu amanah dan murah hati. Siapapun yang dekat dengannya pasti akan jatuh hati, begitu pula dengan Arya. Namun yang Arya pikirkan saat ini adalah Fiya masih terikat dengan masa lalu, sehingga ia memilih untuk diam tanpa menggenggam Fiya.
Setelah tugasnya selesai, ia pun mengantarkan Fiya ke rumahnya. Dia pun pergi setelah berpamitan dengan orang tua Fiya. Setelahnya, dia sendiri pulang ke rumahnya sambil mengingat Fiya.
Dia duduk di balkon rumahnya sambil menikmati kopi buatannya sendiri. Dia teringat perkataan Bastian tentang bunga matahari yang melambangkan kepribadian Fiya. Sesekali dia tersenyum saat mengingat perkataannya.
"Bagaimana anak sekecil itu bisa tau tentang bunga matahari. Dia bahkan lebih romantis dari lelaki pada umumnya. Ini pasti karena ada gen dari Farhan." gumamnya.
Dia pun kembali menyeruput kopi buatannya sambil melihat ke arah matahari yang sudah mulai tenggelam.
//**//
__ADS_1