
Fiya menghela nafas panjang, padahal dia sedang berada di perpustakaan yang ingin dia kunjungi tadi pagi. Dia tak sendiri, dia bersama Aldi, murid baru itu.
Sama dengan kejadian di waktu kedatangan Dimas, namun kini bukan dia yang mengajukan diri, namun atas perintah guru sendiri.
Fiya kini sedang mencari buku baru tersebut dan membaca sinopsis yang berbeda di belakang buku secara teliti, namun kejadian tadi membuatnya tidak merasa nyaman.
FLASHBACK ON
"Perkenalkan nama saya Aldi Bayu Kusumo. Panggil saja Aldi, pindahan dari SMA 3."
Pandangan semua siswa dan siswi tertuju ke arahnya. Guru hanya mengangguk dan tersenyum kecil.
"Silahkan duduk kembali. Oiya, karena kamu murid baru, kamu minta materi saja kepada Fiya, dia murid dengan nilai terbaik di kelas ini. Ibu harap kalian bisa bekerja sama."
"Iya, baik bu" jawab Fiya ramah.
"Oiya, Aldi kamu belum sempat berkeliling bukan? Sebaiknya kamu berkeliling dulu bersama Fiya."
"Oh... Baik bu."
"Loh bu, saya lagi?"
"Iya kamu, cepat sana pergi!!"
"Loh.. Kok ibu ngusir si bu.."
"Udah, jangan kebanyakan ngomong, sana keluar."
Fiya memutar bola matanya malas dan dengan cepat menutup bukunya kasar. Dia pun keluar dan disusul oleh Aldi. Aldi menarik tangannya dan Fiya pun terhenti.
"Jika kamu nggak mau, ya udah kita balik aja ke kelas."
"Aku mau banget Al, terimakasih ya. Ayo cepetan, aku ajak kamu langsung ke perpustakaan."
"Kirain kamu marah."
"Nggak, yuk cepetan."
Fiya pun menggandeng tangannya tanpa sadar, kemudian mereka langsung memasuki perpustakaan setelah mereka sampai.
FLASHBACK OFF
Fiya terbengong dan Aldi yang melihatnya pun mengguncang tubuhnya pelan. Fiya mendongak dan mulai gelagapan.
"Oh.."
"Kamu kenapa? Kok bengong? Udah nemu bukunya?"
"Ini, aku lagi cari. Kamu sendiri?"
"Aku lagi cari komik."
__ADS_1
"Kamu suka komik?"
"Hmm.." jawabnya sambil mengangguk.
"Udah ketemu?"
Aldi menggeleng. Fiya pun mengembalikan buku yang tadi di pegangnya di tempatnya lalu kembali menatap Aldi.
"Ikut aku sini."
Aldi hanya terdiam dan melirik kan matanya ke samping kanan dan kiri.
"Sini, ngapain diam.."
Aldi pun menurut dan mengikutinya. Kini mereka berada berada di barisan rak buku yang penuh dengan komik. Aldi langsung melihat kanan kirinya dan setiap rak dari atas hingga bawah.
"Wah.. Banyak sekali. Sekolah ini bagus juga fasilitasnya."
"Ya udah, aku balik lagi ke tempat tadi ya, kalau mau cari komik lain, rak sebelah juga ada. Aku tinggal bentar ya."
Aldi mengangguk dan mulai mencari buku komik. Fiya kembali ke tempat yang tadi lalu menunjuk dari atas hingga bawah rak dengan teliti. Dilihatnya setiap judul buku yang tertera di bagian samping, dan akhirnya dia menemukan sebuah buku yang ia cari. Ia ingin mengambilnya, namun tubuhnya yang pendek tidak bisa untuk menggapainya. Lalu seseorang datang mengambilkannya dan tak lain orang itu adalah Aldi.
"Buku yang ini kan?" tanyanya sambil menunjukkan buku tersebut.
Fiya mengangguk dan kemudian menerima buku tersebut dengan gugup. Dia mulai membaca di bagian belakang buku tersebut. Aldi yang penasaran pun juga ikut melihatnya.
"Kenapa kamu baca bagian belakangnya?"
"Maksud kamu, untuk membaca inti dari cerita tersebut agar kamu bisa menilai cerita itu sesuai dengan selera kamu atau tidak bukan?"
"Nah.. Itu yang aku maksud. Em.. Kamu.. Kamu sendiri udah dapat kan?"
"Udah Kok."
"Ya udah, kamu duluan aja duduk di meja, nanti aku nyusul ya. Aku sekalian mau cari beberapa buku lain."
Aldi mengangguk dan meninggalkan Fiya. Baru saja berbalik, Aldi di panggil oleh Fiya kembali.
"Aldi.."
"Kenapa?"
"Boleh minta tolong ambilkan dua buku yang itu dan yang itu."
Aldi melihat ke arah yang di tunjuk oleh Fiya. Aldi mulai mengambil dan melihat ke arah Fiya lagi.
"Yang ini" tanyanya untuk memastikan.
"Iya, sama itu."
Aldi pun mengambilnya dan memberikannya kepada Fiya. Fiya menerimanya dengan senang lalu mendongakkan kepalanya lagi sambil tersenyum lebar.
__ADS_1
"Terimakasih."
"Baiklah, ada lagi?"
"Mungkin sudah cukup."
"Kalau ada hal lain, panggil aku."
Fiya mengangguk lalu pergi meninggalkan Aldi ke lemari buku yang lain. Dia memegang ketiga buku yang di pegangnya di depan dadanya yang tidak netral seperti biasa.
"Huh.. Nih jantung pengen copot atau gimana. Huh.. Akhirnya aku dapat nih buku. Lagian kenapa mesti buku yang bagus ada di atas si, Isshh... Sudahlah, lebih baik aku mencari buku yang bisa ku bawa pulang dan memberikannya kepada Aldi dan Dimas. Kenapa mesti mereka yang harus aku ajarkan? Dan kenapa aku nggak bisa cuek ke Aldi, padahal kalau sama Dimas rasanya selalu berantem? Ahh.. Sudahlah."
Setelah menggerutu sendirian, dia pun mencari beberapa buku pelajaran yang ia perlukan. Setelah merasa cukup, dia pun menuju ke meja dimana Aldi berada. Aldi mengerutkan dahinya saat Fiya datang membawa beberapa buku banyak ke depannya. Fiya meletakkan bukunya secara hati-hati karena takut buku itu terjatuh.
"Banyak sekali, ini buku yang kamu baca setiap hari?"
"Bukan, ini buku buat kamu dan Dimas."
"Dimas? Siapa dia?"
"Dia adalah murid baru beberapa hari yang lalu. Dia yang duduk di sampingku, beberapa hari ke depan dia tidak berangkat karena sakit. Dia bertengkar dengan Farhan, murid yang tadi pagi menjambak rambutku. Dan karena kejadian itu, tadi pagi akhirnya aku melerai kalian agar tidak terjadi masalah gara-gara aku lagi."
"Oohh, begitu rupanya."
"Hmm... Ini buku fisika, biologi, matematika, bahasa indonesia yang harus kamu pelajari. Dan empat buku ini akan aku antarkan ke rumah Dimas nanti sepulang sekolah. Minggu depan buku kalian akan di tukar lagi."
"Memangnya rumah kalian dekat?"
"Hmm.. Dia sekomplek denganku hanya berjarak beberapa meter saja dari rumahku. Dia juga adalah sahabatku." ucapnya sambil menggeser tempat duduk.
"Sahabatmu? Sejak kapan kalian mulai kenal?"
"Sejak kami masih kecil. Jadi, bisa di bilang dia adalah teman masa kecil, dan kami pun akhirnya bersahabat."
"Ada rasa saling ketertarikan?"
"Rasa itu memang ada, dan entah dia menyadarinya atau tidak aku tidak tau, tetapi tak mungkin jika salah satu diantara sahabat tak saling menyukai."
"Kalau begitu, bukankah kita bisa untuk saling bersahabat?"
Fiya tercengang mendengar kata-kata Aldi. Bagaimana tidak? Baginya sahabat adalah satu, tidak ada banyak layaknya teman. Bagi Fiya, sahabat berbeda dengan teman sehingga, dia merasa bingung kalau ditanya persoalan tentang sahabat. Namun, bukan Fiya namanya kalau tidak jujur, dia pun menetralkan jantungnya sambil merapikan buku di depannya.
"Maaf Al, bukannya aku nggak mau, tetapi menurut opini ku sahabat itu hanya satu tidak lebih. Sahabat adalah orang yang selalu ada dan mendukung di setiap keadaan, berbeda dengan teman. Teman terkadang hanya membutuhkan di saat saat tertentu dan hanya beberapa yang bisa bersedia untuk selalu bersama. Jadi, kau pasti paham apa maksudku."
"Baiklah, aku mengerti."
"Aku akan mencatat buku ini di daftar buku pinjaman, sini buku mu juga, sekalian aku yang tulis."
"Aku akan bantu bawakan."
Fiya mengangguk dan tidak menolak karena buku yang ia bawa memang lumayan banyak. Setelahnya, mereka pun membawa buku mereka di paper bag yang telah di sediakan.
__ADS_1
//**//