Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
12. Menolong Aldo


__ADS_3

Mereka pun menuju rumah sakit. Papa Brian mengendarai mobilnya, sedangkan papa Kenzo yang mengendarai motor Dimas. Dimas dan Fiya duduk di kursi belakang, awalnya Fiya menolak namun karena paksaan dari papanya jadi dia duduk di belakang.


Fiya sibuk memainkan ponselnya, walaupun hanya sekedar men-scrollnya. Namun, pada saat ini dia tidak bisa berbicara dengan Dimas sehingga dia hanya bisa diam. Dimas juga melihatnya. Dimas merasa bersalah karena sudah bertengkar dan membuat Fiya jengkel kepadanya. Dia pun mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sesuatu di aplikasi chat nya.


Fiya menyergit heran pada saat ada notifikasi dari Dimas. Dia meliriknya, namun Dimas sedang menatap ke luar jendela dan dia pun membuka chatnya.


Dimas ❣️


Maaf, sudah membuat kamu khawatir dan sedih. Jangan kesel lagi ya.. 😊


Fiya hanya memutar bola matanya malas dan membiarkannya. Dimas kembali melihat ponselnya dan hanya di baca yang ia dapat, sehingga dia mengetikkan sebuah kata lagi di ponselnya. Tak lama pesan itu masuk dan Fiya segera mengeceknya.


Dimas ❣️


Aku nggak mau ke rumah sakit, pulang aja yuk..


Dimas ❣️


Love you


Fiya meliriknya tajam, walaupun sebenarnya hatinya berbunga namun hasrat untuk marah tetap bertahan saat ini. Fiya pun mengambil ponsel Dimas.


"Kamu diem aja, nggak usah kebanyakan ngoceh"


"Memangnya ada makhluk Fi, siapa yang kamu suruh diem"


"Iya pah ada, makhluk ciptaan papa Kenzo sama mama Lastri Yang nyebelin banget. Basa bisanya datang ke sekolah cuma bisa buat pertengkaran."


"Nggak sopan Khanza"


Dimas hanya terdiam tak bisa menjawab, terlalu sakit jika dia harus menjawab omelan. Dimas memilih untuk diam daripada memperpanjang masalah. Papa Brian melirik


"Fiya.. Fiya.. Mungkin Dimas bertengkar karena alasan sesuatu, nggak mungkin ngamuk gitu aja. Benar kan Dim"


"Papa jangan panggil Dimas"


"Hahahaha... Yayaya, papa lupa. Yakan Sat"


Dimas mengangguk, sedangkan Fiya hanya mencebikkan bibirnya. Dimas ingin tersenyum, namun apa dayanya sekarang karena kedua sudut bibirnya yang masih sakit.


Merekapun akhirnya sampai di rumah sakit. Dimas langsung di bawa periksa, karena lukanya yang ringan, dia tidak di bawa ke UGD.


"Satya tidak perlu di rawat di rumah sakit, saya akan memberikan beberapa resep obat dan selep. Satya bisa di rawat di rumah." ucap sang dokter.


"Sekalian minta surat ijin tidak sekolah dok" ucap papa Kenzo.


"Oh ya bisa, sebentar ya"


"Kira-kira berapa lama anak saya istirahat ya dok"


"Sekitar 4-5 hari, saya akan tulis satu minggu di sini."


"Iya dok"


"Tapi jangan paksakan berangkat jika masih sakit"


"Baik dok" jawab Satya.


"Silahkan, ini resep obatnya, bisa di ambil di apotek di sini. Dan ini surat ijinnya."


"Baik, terimakasih dokter"


Mereka berdua pun keluar. Papa Brian dan Fiya yang menunggu di ruang tunggu pun berdiri.


"Bagaimana Satya" tanya papa Brian.


"Katanya nggak papa pa"

__ADS_1


"Syukurlah"


"Papa akan ambil obat dulu, kamu sama Khanza dulu di sini" ucap papa Kenzo.


"Papa"


Fiya lupa bahwa dia memanggil papanya dan papa Kenzo dengan panggilan yang sama sehingga keduanya melihat ke arah yang sama.


"Eh.. Maksudnya papa Brian."


"Oohh, ya sudah" Papa Kenzo pun melanjutkan langkahnya.


"Kenapa"


"Bantuin tuntun ke parkiran langsung aja, udah nggak ngapa-ngapain kan"


"Ya udah ayo"


Papa Brian dan Fiya merangkul tubuh Dimas, namun Dimas memberikan isyarat bahwa dia tidak apa-apa, namun Fiya tetap merangkul tubuhnya.


"Nggak papa Fiya, papa Brian ke parkiran aja" ucapnya lirih.


"Nggak usah bawel"


"Eh Khanza, papa mau ke belakang dulu. Kamu ke parkiran aja sama Dimas. Ini kunci mobilnya"


"Eh, tapi pa"


Papa Brian memberikan kuncinya kasar. Fiya kesal dan membawa tubuh Dimas sendiri dengan berat hati.


"Butuh kursi roda"


Dimas menggeleng sambil menunduk.


"Ya udah jalan sendiri"


Fiya melepaskan tangan Dimas yang berada di pundaknya, namun Dimas terhuyung dan Fiya segera menangkapnya.


Dimas memegang tangannya untuk mencegah Fiya pergi. Fiya memutar bola matanya malas dan segera mengambil kursi roda. Setelah mengambil kursi roda dia pun kembali dan sudah tidak mendapati Dimas. Tak lama ponselnya pun berdering.


"Hallo"


"Aku sudah di parkiran"


"Dasar"


Fiya menutup telfonya dan mengembalikan kursi roda itu kembali ke tempatnya. Sangat dingin dari yang tadi. Sungguh membuatnya waspada, dia pun berbalik, namun dia teralihkan pada sesosok tubuh mungil yang sedang duduk di depan sebuah ruangan pasien. Bocah laki-laki sekitar umur 7 tahun itu menangis dan Fiya pun mendekatinya.


"Hei, kenapa?"


Bocah itu pun mendongakkan kepalanya. Fiya kaget, ternyata wajahnya pucat. Dia menengok ke kanan dan kirinya lalu menatap Fiya lagi.


"Kakak bisa melihatku?"


"Hmm.. Begitulah.."


Dia meraih pipi mungilnya dan mengusap air matanya dengan ibu jarinya.


"Jangan bicara di sini yuk, ikut kakak bentar"


Bocah itu menggeleng ketakutan, Fiya memegang kedua pipinya.


"Dingin" batin.


"Kamu takut? Kakak akan bantu kamu, semampu kakak"


"Benarkah"

__ADS_1


Fiya mengangguk. Anak itu pun berdiri dan memegang tangannya.


"Kita kemana kak"


"Ke rumah kakak yuk, soalnya di sini terlalu ramai, pasti kamu lihat kan"


Anak itu melihat sekeliling dan benar banyak yang berlalu lalang di depan mereka. Anak itu menatap Fiya lagi dan mengangguk.


Fiya menuntun anak kecil tersebut dan sampai di parkiran. Fiya membukakan pintu dan menyuruhnya masuk terlebih dahulu dan duduk di tengah. Fiya pun masuk lalu menyusul duduk.


"Kenapa kamu menjaga jarak Fi, lumayan jauh lagi"


"Nggak papa kok, ayo jalan pa. Dan kamu Dimas, diam di situ, jangan geser-geser"


Dimas mengerutkan keningnya lalu ingin meraba tempat di sampingnya dan segera di tepis oleh Fiya.


"Oohh"


Dimas paham dan memegang tangan sebelah kirinya dan terasa dingin.


"Papa Brian, jangan nyalain AC, dingin"


"Iya memang dingin, nggak kaya tadi"


"Kalian jangan kaget ya, memang aku bawa seseorang di sini"


Papa Brian mengerem mendadak dan membuat semuanya terhuyung ke depan. Papa Brian tidak suka jika Fiya membawa makhluk, apalagi jika mereka mengganggu.


"Bawa keluar sekarang"


"Papa, dia anak kecil yang masih belum tau apa-apa, kalau papa usir dia, aku juga ikut keluar"


Papa Brian lebih baik pasrah dan melajukan mobilnya lagi.


"Nama kamu siapa"


Dimas menoleh ke arahnya dan menjawab pertanyaan Fiya.


"Dimas"


"Bukan kamu"


"Aku Aldo kak" jawabnya.


Dimas hanya diam memperhatikan Fiya yang sedang berbicara sendiri di sampingnya, sedangkan ayahnya juga fokus menyetir sambil memperhatikan anaknya dari kaca mobil.


"Kenapa kamu menangis"


"Aku takut kak"


"Takut? Takut apa?"


"Aku takut sendirian"


"Lalu kamu bisa begini karena apa?"


"Entahlah kak, aku juga nggak inget. Aku tau-tau udah ada di rumah sakit dan aku sedang duduk di ranjang rumah sakit. Aku pikir aku bangun, semua orang menangis, lalu aku meraih wajah mamaku namun anehnya aku tidak bisa memegangnya bahkan menyentuhnya. Aku melihat ke samping kiriku, ternyata tubuhku tergeletak tak berdaya di atas kasur. Aku pun mencoba untuk memasuki tubuhku lagi, namun aku tidak bisa memasukinnya. Aku pun keluar dari ruangan itu dan benar, aku hanyalah arwah sekarang."


"Bagaimana mungkin kamu tidak ingat?"


"Iya kak, aku nggak inget, maukah kakak membantuku kenapa aku bisa tiada"


"Kakak akan bantu, namun kendalikan emosi kamu nanti, jangan sampai kamu berubah pikiran"


"Mengapa kak?"


"Kakak belum bisa kasih tau sekarang"

__ADS_1


Aldo pun mengangguk, Fiya pun memegang tangan kecilnya. Dimas hanya memperhatikan gerak-gerik Fiya.


//**//


__ADS_2