Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
106. Kebarakan


__ADS_3

Farhan bergegas menuju ke apartemennya setelah mendapat telepon dari sang pegawai apartemennya ketika dia memberitahukannya ada sebuah paket yang datang untuk dirinya.


Begitu ia sampai di ruangannya, dia mendapatkan sebuah kado tergeletak di tengah meja yang ada di ruang utamanya. Dia pun mengambil dan duduk di sofa.


"Siapa yang mengirimkannya, ulang tahunku masih dua hari lagi."


Dia langsung membukanya dan isinya adalah beberapa potong kertas dan secarik kertas utuh di dalamnya. Farhan lebih dulu membuka secarik kertas tersebut dan kemudian membacanya.


"Blok 13B pinggir sungai Nawai, maksudnya apa?"


Dia pun akhirnya mencari tau di dalam kotak kadonya lagi dan mendapatkan sebuah kertas foto yang tertelungkup. Ia penasaran dan membaliknya.


"Nindya?"


Dia terkejut dan berfikir keras tentang foto itu. Dia pun lekas keluar dari apartemennya dan melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke alamat yang tertera pada kertas tersebut.


Dia bertanya kepada beberapa orang yang melewati kawasan tersebut dan sampailah dia di sebuah tempat rumah tua. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung mendobrak pintunya.


"Farhan!!"


Fiya dan Arya sangat terkejut dengan kedatangan Farhan di tempat tersebut. Fiya langsung berdiri dari tempat dan Aldi yang melihatnya datang pun berdiri sambil tersenyum. Lagi-lagi pintu tertutup, dan energi Fiya rasanya seperti sudah terkuras banyak. Fiya merasa tubuhnya lemas dan tiba-tiba, dia pun ambruk.


"Fiyaaa!!" Dimas berusaha untuk melepaskan tali yang mengikatnya, namun tak semudah yang ia kira.


Arya yang di sampingnya lekas menopang tubuhnya dan Farhan pun juga langsung berlari ke arahnya, dan Aldi yang melihatnya hanya tersenyum dengan senang.


"Kamu apakan Nindya!!??" teriak Farhan.


"Aku tidak melakukan apapun, tenaga Dimas melemah, begitu pula dengan dia karena ada kekuatan batin yang memengaruhi mereka berdua."


"Farhan!! Jangan dengarkan dia.. Kamu harus membuat Fiya bangun... Kamu harus membuat sinar mataharimu bangkit kembali. Jangan percaya apa kata dia. Korbankan satu tetes darahmu untuk Fiya!!"


Farhan hanya bingung harus melakukan apa. Bingung dengan keadaan sekitar yang tidak terduga olehnya sama sekali. Korban? Satu tetes darah? Itu yang membuat beban di pikirannya sekarang.


"Farhan... Sadar.." Arya menepuk bahu Farhan.


Farhan menoleh ke arahnya dan kemudian bangkit berjalan ke arah Aldi dengan tatapan tajamnya.


"Kamu mau korban dan darah? Kamu mencari tumbal? Aku sudah siap untuk itu. Ambil nyawaku saja, aku tidak mau melihat Nindya melawanmu sendirian. Apabila ia bangkit, ia akan melawanmu lagi bukan? Itu akan membuat resiko lebih besar. Jadi, ambil aku saja."


Farhan membuka tangannya lebar untuk siap di korbankan. Aldi tersenyum dengan lebar.


"Jangan Farhan!! Kamu mau Fiya hidup dengan orang psikopat itu!! Bagaimana dengan Fiya nanti. Farhan!! Kamu harus berfikir bagaimana Fiya nanti. Kamu sudah tidak ada waktu... Farhan..."

__ADS_1


Farhan terus melihat ke arahnya dan Aldi pun mulai berlari menyerangnya dengan membawa sebuah pedang tajam.


"Farrhhaaannn!!!" teriak Dimas.


"SRRAANNGG" suara pedang seperti menyentuh persis tangannya dan darahpun mulai berjatuhan. Arya yang melihatnya kaget sekaligus khawatir.


Farhan pun langsung berlari ke arah Fiya dan meneteskan darahnya di mulut Fiya. Fiya hampir sadarkan diri dan Arya pun langsung merobek bajunya untuk menutupi luka Farhan.


Fiya membuka matanya dan tersadar lalu duduk sambil mengatur nafasnya. Fiya melihat Aldi secara tajam dan sangat menyeramkan.


"Lepaskan atau aku lawan!!"


"Baiklah, sini kalau berani!!"


Fiya pun mulai duduk secara silah dan mengucapkan sebuah mantra. Aldi pun juga mulai mengucapkan mantranya. Farhan dan Arya memilih untuk membacakan ayat kursi.


Terlihat makhluk-makhluk mulai berkeluaran dari sarangnya. Fiya masih tetap dalam keadaan yang sama. Rumah mulai bergoyang dan hampir roboh. Para makhluk pun juga sudah mendekati Fiya.


Terus mendekat.. Terus mendekat karena desakan mantra Aldi. Semakin dekat makhluk, mereka semakin kewalahan dengan mantra yang Fiya gunakan. Penopang atap mulai berjatuhan.


Farhan mulai panik dan terus melihatnya. Serangkaian kejadian diingatnya secara beruntun karena rasa panik yang menyalaminya.


"KUN.. FAYAKUN..!!!" teriakan Fiya membuat kaca rumah itu pecah dan mantra Aldi pun mulai terkalahkan. Dimas juga lepas dari ikatan mantranya tersebut. Fiya sendiri langsung pingsan tak berdaya. Lilin yang masih menyala membuat sekitarnya mulai terbakar.


"Khanza bangun.." ucap Arya pula.


"Sebaiknya kita bawa dulu Fiya keluar. Sebelum rumah ini terbakar."


Perintah Dimas langsung mereka turuti. Farhan langsung membopong Fiya lalu mencari jalan keluar dari rumah tersebut yang mulai terhalangi. Tak lama, Fiya bangun dari gendongan Farhan.


"Liam... Selamatkan pula orang tua dari anak-anak di luar." ucapnya lirih.


"Ini berbahaya Nindya.."


"Kalian tenang, aku yang urus ini. Aku akan baik-baik saja karena aku makhluk, kalian jangan khawatir. Dan kalian cepatlah keluar."


Arya dan Farhan mengangguk. Fiya ingin berbicara namun rasanya tak mampu dan memilih tetap diam. Warga sekitar yang melihatnya juga mulai berdatangan ke tempat tersebut dengan heran.


Dimas mulai mencari di seluruh penjuru ruangan tersebut dan membuka pintu itu satu per satu. Dia pun naik ke lantai atas dan mendengar seseorang yang berteriak. Dia langsung menuju pintu yang tertutup rapat dan memindahkan barang-barang yang menghalangi pintu tersebut dengan usaha yang keras.


Dia terlupa bahwa pintu itu terkunci oleh sebuah mantra dan ia pun akhirnya membacakan mantra yang pernah ia baca. Begitu pintu terbuka, mereka semua kaget dan langsung turun mengikuti arahan dari Dimas.


"Kalian bisa keluar langsung dari sini. Maksudnya berteleportasi?" tanya Dimas.

__ADS_1


Mereka menggeleng dan akhirnya tak ada cara lain untuk keluar dengan manual. Dan butuh waktu lama pula untuk mempelajari hal berteleportasi dalam keadaan yang menegangkan.


Arya, Fiya dan Farhan mulai keluar dari rumah tersebut. Dan seorang warga pun menolong mereka bertiga. Fiya mulai di turunkan dari gendongan Farhan dan mengibaskan tangannya di depan mukanya untuk memberikan sebuah udara.


Dimas masih berusaha untuk keluar dan melihat ke sekelilingnya untuk mencari Aldi. Orang-orang yang paham makhluk Dimas menggeleng dan memerintahkan untuk tetap mencari jalan keluar. Namun, saat ia hendak berjalan, kakinya terasa berat dan tidak bergerak. Dimas melihat ke arah kakinya dan melihat tangan Aldi yang memegang kakinya.


"Aldi!!"


"Tolong aku..." pinta Aldi.


Para makhluk yang lainnya membantu Dimas terlepas dari cangkeraman tangan Aldi. Dan menariknya keluar dari rumah tersebut dengan paksa.


Arya dan Farhan melihat ke dalam lalu Dimas dan para orang tua tak kasat mata keluar. Arya yang melihatnya akhirnya bisa bernafas lega.


"Tuan, apakah masih ada orang di dalam?" tanya sang penduduk.


"A..di." Fiya bergumam lirih.


Farhan langsung mendekatkan telinganya di mulut Fiya dan mendengarkan apa yang dikatakannya.


"Al.. Di.."


Farhan memahaminya dan meletakkan kepala Fiya di pangkuan salah satu penduduk. Farhan bangun dan hendak berlari ke arah rumah yang sudah terbakar namun Arya dan Dimas mencegahnya untuk masuk.


"Berbahaya Farhan!!"


"Aldi.."


"Sudah terlambat.. Dia pasti sudah menjadi abu bersamaan dengan arwahnya."


Farhan memahami kata-kata Dimas dan melihat rumah itu sudah mulai terbakar sepenuhnya. Di kelilingi oleh warga sekitar yang sedang sibuk menyirami rumah besar tersebut.


"Tuan, ambulan dan pemadam kebakaran sudah sampai, sebaiknya bawa nona tersebut sebelum terlambat."


Farhan langsung menggendongnya dan melihat ke arah Fiya sekejap.


"Tangan kamu sakit."


"Nggak papa, dia lebih sakit daripada aku."


Farhan langsung membawanya lari menuju dimana ambulan menunggunya dan sedang mempersiapkan peralatan. Farhan pun masuk ke dalam mobil sambil menggenggam tangan Fiya dengan erat hingga menuju ke rumah sakit.


//**//

__ADS_1


__ADS_2