Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
55. Kembali ke rumah


__ADS_3

Di rumah Fiya.


Semua orang khawatir karena Fiya tidak kunjung pulang. Orang tuanya juga menyempatkan untuk pergi ke kantor polisi tentang hilangnya Fiya. Dan dengan senang hati polisi tersebut membuatkan selebaran dan berita tentang hilangnya Fiya.


Orang tua Fiya mendatangi rumah Dimas yang sedang berduka di malam harinya. Mereka kaget saat melihat keluarga Dimas sedang berkemas di rumahnya.


"Loh, kalian mau kemana?" tanya mama Ova.


"Kami akan pindah lagi, percuma di sini. Banyak orang yang ingin mencelakakan keluarga saya. Terutama anak kamu itu." ucap mama Lastri dengan ketus.


"Khanza juga sedang hilang sekarang. Biasanya kamu lah yang paling mencemaskannya. Kenapa kalian berubah?" tanya mama Ova.


"Halah, anak kaya gitu kok di cemasin, nanti juga pulang sendiri. Yuk pah kita berangkat." ajak mama Lastri kepada suaminya.


Sintya yang sedari tadi hanya diam sebenarnya ikut mencemaskan keberadaan Fiya. Namun, karena paksaan orang tuanya yang menyuruhnya untuk menjauhinya, dia pun ikut menjauhinya.


Setelah keluarga Dimas pergi, mama Ova dan keluarganya pun pulang. Merasa hampa dan sangat bersalah yang mereka rasakan. Cemas dan khawatir terus memburu keluarga mereka.


"Yang sabar mah, kita akan berusaha besok lagi. Sekarang kita pulang, dan Mama istirahat." ucap papa Kenzo yang dijawab anggukan oleh mama Ova.


...*****...


Arya Eko Purnomo


.


.


.


Di sisi lain.


Aku, sedang tidur dengan nyenyaknya dan terpaksa harus bangun karena handphoneku yang berdering membuat mimpi indahku terganggu.


Aku mengucek mataku dan melihat ke arah handphone tersebut yang terdapat tulisan bos besar. Aku segera menempelkan benda pipih tersebut di telingaku setelah menggeser ikon hijau ke atas.


"Hallo Arya , ini gue. Tolong cari alamat Safiya Khanza Ayunindya sekarang juga, dan besok pagi harus nemu dimana alamatnya." ucap Farhan tanpa basa basi.


Seketika mata aku terbelalak mendengar nama tersebut. Nama yang tak begitu asing, namun selalu mendapat cuitan pedas dari Farhan.


"Khanza bos? Siapa dia?" tanyaku berpura-pura bingung.


"Dukun, udah cepetan cariin." ucap Farhan lagi.


Aku melihat jam yang terpampang di handphoneku. Tepatnya di sebelah kiri pojok layar handphoneku. Aku memegang kepalaku dan mengusap rambutku kasar.

__ADS_1


"Dukun? Siapa si bos? Kayaknya bos belum nyeritain semua deh ke gue." jawabku pura-pura tidak tau.


"Jangan pura-pura lupa deh, gue udah pernah nyeritain dia, yang selalu nyembuhin orang kesetanan di sekolah, termasuk gue dulu." ucap Farhan.


"Oohh dia bos, kenapa cari alamat dia bos?" tanyaku lagi.


"Nggak usah banyakan nanya, pokoknya cepet cariin dan sehabis subuh gue harus dapet infonya."


Farhan lekas menutup teleponnya. Aku hanya mengusap wajahnya kasar dan menghela nafas panjang.


"Jam 10, mau cari bagaimana dan dimana? Mau dapat informasi dari mana? Dan kenapa Farhan mencari alamatnya? Sungguh membingungkan."


Aku lekas beranjak dari tempat tidurku dan mengambil laptop yang ada di meja belajarku. Aku kaget saat melihat nama Khanza terdapat di penelusuran Internet. Aku pun mengkliknya dan mencari informasinya.


"Loh, bukannya ini yang tadi di bahas bos. Kenapa tanya alamat rumahnya? Apa hilangnya orang yang dimaksud Farhan ada kaitannya dengannya?" pikirku.


Dengan segera Aku mencari informasi yang sedetail detailnya tentang orang yang dimaksud Farhan.


...*****...


Keesokan harinya, Fiya bangun seperti biasanya dengan tampilan yang baru. Rambut di potong menjadi pendek. Dia memasak seperti biasanya untuk sarapan Farhan.


Farhan juga ikut duduk di meja makan menunggu makanan matang. Fiya masih dengan santainya menunggu sambil menerima informasi dari sahabatnya.


"Lo kok nggak mandi?" tanya Fiya yang tiba-tiba datang membawa makanan tepat di sampingnya.


"Lo mau bawa gue kemana? Lo mau nyulik gue, gue mau diapain?" ucap Fiya dengan nada yang cepat.


"Gue mau bawa lo ke hutan, terus gue cincang kaya kaya ayam, terus gue makan. Udah cepetan di makan, semakin lo isi semakin enak."


"Psikopat. Gue nanya serius." ucap Fiya.


"Iya, gue juga serius, cepetan makan." bentak Farhan yang membuat Fiya menciut.


Dengan terpaksa Fiya makan dan setelah selesai, dia segera mencucinya dan hendak ke kamar, namun Farhan lekas mencegahnya.


"Jangan bersembunyi, ikutlah aku." ucap Farhan.


"Kamu mau membawaku kemana?" tanyanya dengan mencoba melepaskan tangannya.


"G-ue khawatir lo terus depresi kalau cuma di sini. Gue mau lo ikut gue." ucap Farhan dengan tatapan memelas.


Dan Fiya pun menuruti apa perkataannya. Fiya turun mengikutinya dan menaiki mobilnya. Farhan dan Fiya meninggalkan apartemen besar tersebut.


"Lo nggak bawa gue ke sekolah ataupun rumah bukan?" tanya Fiya.

__ADS_1


"Lo liat kan, gue nggak pake seragam, apalagi lo. Mending lo diem, kalau lo ngomong lagi, terpaksa gue akan bungkam mulut lo sama lakban, kalau ada kotoran pup nya sapi." ancam Farhan yang membuat Fiya sedikit tersenyum.


"Galak banget jadi cowo."


Fiya pun diam hingga mereka sampai di rumah Fiya. Fiya yang menyadarinya, lekas membuka pintu dan berniat untuk kabur, namun Farhan menggenggam tangannya.


"Lo nggak boleh kaya gini. Lo harus inget masih ada orang tua lo yang menunggu kedatangan lo." ucap Farhan.


Tak lama, orang tua Fiya keluar dan langsung menemuinya.


"Khanza... Ya Allah Khanza...."


Mama Ova langsung memeluknya dan begitu juga dengan papa Kenzo.


"Mama kangen banget sama kamu, kamu kemana aja?"


Mama Ova tak dapat membendung air matanya. Dia juga mengusap kepalanya dan kembali memeluknya.


"Nak, terimakasih telah membawanya pulang." ucap papa Kenzo.


"Iya Om, kalau begitu saya langsung pamit." ucap Farhan.


Langkahnya terhenti karena papa Kenzo memegang pundaknya.


"Masuk dulu nak, atau kamu mau ke sekolah?" tanya papa Kenzo.


"Papa lupa hari, sekarang hari minggu." ucap mama Ova.


Fiya membelalakan matanya karena tak sadar sudah hari minggu. Dan papa Kenzo pun tersenyum karena malu.


"Ya sudah, sekarang mari kita masuk dulu." ucap papa Kenzo yang dijawab anggukan oleh ketiga orang yang ada di sampingnya.


Farhan juga ikut masuk karena paksaan dari papa Kenzo. Duduk di ruang tamu dan dibuatkan teh oleh mama Ova.


"Nak, kamu bertemu dengan Khanza dimana?" tanya papa Kenzo.


"Aku nginep di apartemennya pah, mah. Maaf ya, waktu itu Khanza buntu banget. Aku kepikiran papa sama mama akan membenci Fiya lagi..."


Fiya meneteskan air matanya sambil menunduk. Mama Ova yang mengerti Fiya trauma langsung memeluknya.


"Sudah sayang sudah. Itu bukan salah kamu. Mama paham sama kamu. Sebaiknya kamu istirahat di kamar. Dan kamu siapa namanya, sampai lupa tanya nama." ucap mama Ova.


"Saya Farhan tante, kalau begitu saya pamit om, tante." ucap Farhan.


"Iya, terimakasih sekali lagi."

__ADS_1


Farhan pun keluar dari rumah Fiya dan melesatkan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Fiya.


//**//


__ADS_2