Kekasih Pilihan Sahabat

Kekasih Pilihan Sahabat
20. -


__ADS_3

Di pagi harinya, Fiya sedang santainya berdandan di depan cermin. Mengoleskan sedikit bedak dan lipstik berwarna ringan, tak lupa juga memakai salah satu jepit rambut yang di berikan oleh Dimas.Sedangkan Dimas sudah menunggu di luar rumahnya. Mama Lastri pun keluar dan mendapatinya masih duduk di motor sambil memainkan helmnya.


"Loh Dimas, bentar ya, Fiya lagi siap-siap tuh di belakang."


"Iya mah, nggak papa kok. Lagian ini masih belum terlalu telat."


"KHANZAAA... DIMAS UDAH NUNGGUIN INI!!" ucap mama Ova sambil berteriak.


Tak lama pun Fiya keluar sambil menggerutu dan sambil mengecek isi di dalam tasnya.


"Iya mah, aku tau kok."


Tatapan Dimas fokus ke arah Fiya. Fiya menggunakan jepit rambut berwarna putih dengan motif polkadot berbentuk pita di sebelah kanan.


"Duh, anak mama cantik sekali. Kamu beli kapan?"


"Ini di kasih Dimas mah. Ya udah aku berangkat ya mah. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Fiya pun segera menaiki motor Dimas dan memakai helm yang diberikannya. Dimas pun menyalakan motornya.


"Mama Ova, kami berangkat dulu ya."


"Iya, kalian hati-hati. Ya.. Satya.. Jangan ngebut, bawa anak mama dengan hati-hati."


"Iya mah pasti."


Di jalan Dimas dan Fiya saling berbincang satu sama lain. Dan Fiya yang memperhatikannya pun bergumam sambil memandanginya.


"Momen dimana semua orang ingin seperti ini, momen momen yang selalu aku impikan untuk berdua dengannya terwujud. Tak ada halangan di antara kami berdua untuk saling dekat atau jauh. Rasanya memang kami berdua seperti pasangan, namun status kami saat ini hanya sampai tahap sahabat dan untuk selanjutnya aku hanya bisa berharap, kami lebih dari sekedar sahabat." batin.


...*****...


Di sisi lain, Aldo pun datang ke rumahnya. Dia melihat adiknya dan kakaknya sedang berpamitan untuk pergi ke sekolah.


"Mama, kami ke sekolah dulu ya."


"Iya, jangan lupa antar adik kamu. Jangan ngebut jangan ugal-ugalan, jangan sampe mama denger berita kamu di tilang atau apapun itu."


"Iya mah iya. Kami berangkat. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Tak lupa keduanya saling bersalaman dan Aldi melirik ke arah Aldo yang berada di tempatnya.


"Masih belum pergi ternyata." batin sambil tersenyum miring.


Setelahnya merekapun berangkat menuju ke sekolah masing-masing. Aldo masih diam di tempat sambil mengingat masa lalu dimana dia juga berpamitan untuk bersekolah.


"Semakin aku sering di sini, semakin sering pula aku akan sedih. Tak bisa hidup kembali dan bisa mencium tangan mama lagi. Kalau aku menampakkan diri mereka pasti akan takut kepadaku. Terlalu cepat aku pergi dari sini, namun aku tidak bisa mengubah waktu itu kembali. Sebaiknya aku pergi." batin.


...*****...

__ADS_1


Di sisi lain, Fiya dan Dimas sudah sampai di sekolah. Keadaan parkiran sekolah sudah ramai. Setelah Dimas memakirkan motornya, Fiya pun turun dan melepas helmnya. Sedangkan Dimas melepaskan helm dan jaketnya.


"Nih..."


"Rambut kamu berantakan."


Dimas merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Dia juga membenarkan posisi jepit rambutnya. Fiya terpaku dan jantungnya pun sudah tak karuan. Fiya tersadar saat Dimas menepuk kepalanya pelan.


"Mau di sini terus?"


"Ahh.. Ya nggak lah. Terimakasih banyak."


"Sama-sama, yuk ntar telat."


Fiya mengangguk. Dimas mengambil jaketnya lalu di taruh di lengan kirinya dan mereka berdua berjalan beriringan bersama. Saat di koridor sekolah, Aldi melihat Fiya dan Dimas sedang berbincang bersama.


"Khanza...."


Fiya dan Dimas pun menoleh bersama. Aldi sedikit mempercepat jalannya tanpa menoleh ke arah manapun.


"Hai Khanza.... Udah lama?"


"Nggak kok."


"Cantik sekali kamu hari ini."


Fiya tersenyum simpul begitu juga Aldi dan Dimas pun berdehem. Mereka pun menarik kembali senyuman tersebut.


"Yahh.. Masih cantikan aku kali." ucap Jennie yang tiba-tiba datang entah dari mana.


Dimas hanya memperhatikan kedatangan Jennie dengan tatapan tidak suka. Aldi pun melihat ke arah bawah dan melihat tali sepatu Fiya yang lepas.


"Oohh.."


Semuanya pun melihat ke arah Aldi. Aldi pun berjongkok dan membenarkan tali sepatu Fiya dan mengikatnya dengan kencang. Jennie hanya berdecih tidak suka. Setelah Aldi selesai membenarkan tali sepatu Fiya dia pun berdiri dan membenarkan tasnya yang hampir jatuh.


"Terimakasih."


"Ayo Fiya, sebaiknya kita ke kelas."


Dimas menggandeng tangan Fiya. Fiya pun menurutinya dengan tatapan bingung. Aldi hendak mengikuti mereka berdua, namun Jennie mencegahnya.


"Mau kemana? Udah di tinggal masih mau di kejar. Harusnya lo sadar."


Aldi muak dan dia pun menghempaskan tangan Jennie dengan kasar yang memegang pergelangan tangannya.


"Ya bagaimanapun caranya aku harus bisa mendapatkannya."


Dia pun meninggalkan Jennie begitu saja. Jennie menghentakkan kaki kanannya karena sebal.


"Kenapa mesti dukun itu si yang di perebutin." batin.


"Udah Jen, kan masih ada Farhan. Nggak perlu lagi mikirin si dukun itu." ucap Bianka.

__ADS_1


"Bagaimanapun, gue harus bisa celakain dia dan lo harus bantu gue."


"Ya kalau masalah itu si biasa, tapi kan.."


"Iya iya gue paham. Kalau berhasil gue belanjaiin."


"Kalau nggak berhasil?"


"Makanya usahain dulu."


"Terserah lo dah. Emang kita mau ngelakuin apa?"


Jennie pun berfikir sejenak dan kemudian membisikkan sesuatu kepada Bianka. Bianka mendengarkan sambil mengangguk ngangguk.


"Yakin kita mau ngelakuin hal itu?"


"Iya lah. Udah yuk ke kelas."


Jennie menggandeng lengan Bianka dan menuju ke kelas. Sementara itu Fiya dan Dimas sudah sampai di kelasnya begitu juga dengan Aldi yang sudah duduk di bangkunya masing-masing. Fiya pun menengok ke belakang dan Dimas juga memperhatikan ke belakang.


"Dimas, Aldi, Fany, nanti siang mau belajar kelompok lagi?"


"Boleh deh, mau dimana?" jawab Feni dengan semangat.


"Bagaimana kalau ke rumah Aldi?" pikir Fiya.


"Aku setuju aja, tapi yang punya rumah bagaimana? Setuju nggak?"


"Ke rumah Khanza aja." jawab Aldi.


"Dimas, bagaimana?"


"Terserah saja, aku ngikut."


"Ya udah ke rumah aku, besok gantian ke rumah Aldi. Bagaimana?"


"Baiklah, terserah kamu."


Fiya pun tersenyum lalu menghadap ke depan lagi. Bersamaan dengan itu guru juga datang untuk mengajar materi.


...*****...


Waktu istirahat, mereka makan bersama di kantin. Kali ini mereka memesan soto dan es teh. Dimas melihat Fiya yang duduk di sampingnya sedang makan namun terhalang oleh rambutnya. Dia pun mengeluarkan ikat rambut yang ada di sakunya.


"Nih pake."


Aldi dan Feni yang ada di depannya pun melihat ke arah mereka berdua. Fiya pun dengan cepat mengikat rambutnya lumayan tinggi, namun Dimas menariknya kembali dan mengikatnya lebih rendah. Aldi yang melihatnya pun menggenggam erat sendok yang di pegangnya. Feni yang melihatnya pun menepuk pundaknya.


"Aldi, dimakan sotonya sebelum dingin."


"Oh.. Iya.."


"Aku harus cepat melakukan sesuatu." batin.

__ADS_1


Dia pun makan soto lagi dan melihat ke arah lain.


//**//


__ADS_2